Oleh: enewsletterdisdik | November 10, 2009

Sekolah Tahan Gempa Dibangun di Padang

Sekolah Tahan Gempa Dibangun di Padang
BIAYANYA RP17 MILIAR

sman1pdg

Gbr. Maket Gedung SMAN 1 Padang, Tahan gempa

Padang, Singgalang, Gedung SMA Negeri Padang bertaraf internasional dan mampu menahan goncangan gempa 10 Skala Richter sekalipun, Selasa (10/11) ini dilakukan peletakan batu pertamanya. Gedung yang terletak di Jl. Belanti Raya Lolong ini, hingga selesai menghabikan biaya Rp17 miliar. Gedung ini juga berfungsi sebagai shelter (tempat penampungan) dari ancaman tsunami, serta mempunyai helly pad (landasan helikopter).

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 10, 2009

Bukan Columbus, Tidak Pula Cheng Ho

Bukan Columbus, Tidak Pula Cheng Ho

Oleh : Jalius HR.

Jalius HR. Dosen FIP Univ. Negeri Padang

Tulisan ini sengaja saya sampaikan untuk para pendidik atau para guru yang mengajar di sekolah. Menurut hemat saya, tulisan ini dapat dijadikan sebagai dasar logika atau cara berfikir memahami suatu berita atau analisa bacaan. Semoga ada manfaatnya, selamat membaca……..

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putra Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang lalim itu seorang penolong pun.” ….Al-Maidah; 72.

Ayat  Al-quran tersebut sengaja saya kutip bukan dalam rangka menafsirkan pesan yang terkandung didalamnya. Akan tetapi kutipan tersebut akan saya gunakan untuk landasan atau boleh juga sebagai panduan untuk bernalar atau berfikir. Yang akan dijadikan sebagai panduan atau acuan adalah “adanya pengakuan orang terhadap Isa as sebagi Tuhan, padahal Isa as mengatakan  sembahlah Allah ….Tuhanku dan tuhanmu “.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 6, 2009

UPAYA PEMBASMIAN KORUPSI DI NEGERI ENTAH-BERENTAH

UPAYA PEMBASMIAN KORUPSI
DI NEGERI ENTAH-BERENTAH

Oleh : Mochtar Naim *)

Mochtar Naim

I

SEBUAH kunjungan studi telah dilakukan oleh 14 orang anggota DPD-RI ke negara bagian Queensland, Australia, pada bulan Agustus 2006 yl. Kunjungan beberapa hari dari rombongan di bawah Wk Ketua DPD-RI Dr La Ode Ida ini disponsori oleh Ausaid dan Griffith Univ, Brisbane. Yang menjadi obyek studi adalah bagaimana pemerintahan Queensland telah berhasil menumpas korupsi yang sempat merebak bagaikan virus ke dalam sistem pemerintahan, baik di lingkungan eksekutif, legislatif maupun yudikatif, di samping juga publik, terutama rekanan bisnis yang menjadi mitra dan pemasok keperluan logistik pemerintahan.

Ternyata pendekatan yang dipakai relatif sederhana, namun sistemik, sistematik, integral dan komprehensif-menyeluruh. Ada tiga pendekatan yang dipakai.

Satu, jelas melalui jalur hukum (judicial approach). Hukum yang telah cenderung disalah-gunakan dan disalah-tafsirkan diluruskan dan ditegakkan kembali tanpa kecuali dan tanpa pandang bulu. Yang bersalah, siapapun, diadili dan dihukum sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku. Sistem kontrol diperketat dan sanksi diperberat. Tidak sedikit pejabat dari kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif yang dicopot dan dipenjarakan setelah ketahuan korupsi.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 5, 2009

Sebaiknya Setiap Guru Harus “Penyabar”

Sebaiknya Setiap Guru Harus “Penyabar”

Oleh : Jalius HR.
Dosen FIP Universitas Negeri Padang
(Tausiah dan Tanggapan dari Artikel “Pentinganya Berjiwa Besar Bagi Guru”)

Jalius HR. Dosen FIP Univ. Negeri Padang

Pada komentar terdahulu saya mengatakan bahwa berjiwa besar saja tidak cukup. Sebab apa, teori-teori tentang berjiwa besar berbagai versi yang saya baca dalam buku-buku notabenenya tidak ditulis oleh orang Indonesia saya menarik nuansanya, bahwa konsep berjiwa besar kalau bisa diamalkan maka akan menjadikan kita sebagai “orang yang tinggi hati”.

Tapi sebaiknya setiap guru harus “penyabar” itulah sikap sudah memadai untuk dunia dan alhirat. Selanjutnya ada baiknya kita membaca kutipan di bawah ini, Selamat membaca……….

…..” Sabar adalah pilar kebahagiaan seorang hamba. Dengan kesabaran itulah seorang hamba akan terjaga dari kemaksiatan, konsisten menjalankan ketaatan, dan tabah dalam menghadapi berbagai macam cobaan. Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagi seluruh tubuh. Apabila kepala sudah terpotong maka tidak ada lagi kehidupan di dalam tubuh.” (Al Fawa’id, hal. 95)

Pengertian Sabar

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Sabar adalah meneguhkan diri dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, menahannya dari perbuatan maksiat kepada Allah, serta menjaganya dari perasaan dan sikap marah dalam menghadapi takdir Allah….” (Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 24)

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 4, 2009

Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru

Pentingnya Berjiwa Besar Bagi Guru

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Marjohan, M.Pd., Guru SMAN 3 Batusangkar

Profesi guru dapat dikatakan sebagai profesi pelayanan di bidang jasa, sama halnya dengan orang yang bekerja di bidang kesehatan, atau di bidang jasa lainnya. Orang orang yang bekerja dalam bidang jasa bekerja sesuai dengan moto yang dianut oleh instansi mereka, sebagai contoh “Kami melayani anda dengan senyum, kami melayani anda dengan sepenuh hati, Kepuasan pelanggan adalah komitmen kami, dan lain-lain”. Namu sebagian guru ada yang telah melupakan motto mereka-tut wuri hadayani, sebagai konsekwensinya mereka cenderung mengajar sesuka hati, atau sesuai dengan kata hati saja. Barangkali karena mereka cuma banyak berhubungan dengan manusia kecil- anak didik, yang mungkin tak perlu pelayanan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 4, 2009

Kolaborasi Guru dan Dosen Dalam Penelitian

Kolaborasi Guru dan Dosen Dalam Penelitian

Oleh : Wijaya Kusumah

WIJAYA KUSUMAH, Motivator, Trainer, Pembicara Seminar dan Workshop Tingkat Nasional. Sering diminta menjadi pembicara di bidang ICT dan PTK. Penelitiannya banyak yang telah membuahkan Hasil dan hampir setiap tahun mengikuti lomba karya tulis ilmiah guru. Wijaya Siap membantu para guru di bidang Penelitian dan ICT. hub sms. 0815 915 5515

Guru adalah orang yang mengajar di sekolah sedangkan dosen adalah orang yang mengajar di perguruan tinggi. Begitulah biasanya orang membedakan antara guru dan dosen secara sederhana. Tetapi sebenarnya guru dan dosen sama-sama orang yang menyampaikan ilmu yang dikuasainya untuk para peserta didik. Bila di sekolah peserta didik disebut siswa, dan bila di perguruan tinggi peserta didik disebut mahasiswa.

Guru dan dosen adalah pekerjaan yang sangat mulia. Mereka berusaha membimbing para peserta didiknya agar mampu menguasai kompetensi yang diharapkan. Dengan begitu sangat penting peran mereka dalam dunia pendidikan kita, khususnya dalam keberhasilan guru dalam pembelajaran di sekolah. Namun, sangat disayangkan peran dan fungsi mereka seolah-olah terlihat berjalan sendiri-sendiri. Tak terjadi kolaborasi antara guru dan dosen. Padahal banyak yang akan dihasilkan dalam bidang pendidikan bila guru dan dosen berkolaborasi. Begitu banyak khasanah ilmu pendidikan yang belum ditemukan.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 4, 2009

Sudahkah Mengevaluasi Cara Belajar Siswa Berbakat Anda?

Sudahkah Mengevaluasi Cara Belajar Siswa Berbakat Anda?

shutterstock Ilustrasi: Apakah di lingkungan belajar Anda diperkenankan mengatakan, bahwa membuat kesalahan adalah kesempatan baik untuk belajar bersungguh-sungguh?

JAKARTA, KOMPAS.com – Mengevaluasi suatu mutu pendidikan banyak

dipengaruhi oleh proses mendidik yang terkait erat kebutuhan mengembangkan dan membina bakat tertentu, yaitu keberbakatan kreatif, pada anak didik.

Namun, untuk mengevaluasi berbagai instrumen yang diperlukan dalam mengkaji

keberbakatan tersebut perlu ditetapkan pendekatan untuk mengakses keberbakatan itu sendiri.

Menurut Conny R.Semiawan, pemerhati pendidikan dan Guru Besar Tetap Fakultas Psikologi UI, salah satu instrumen penting untuk mengevaluasi efektifitas lingkungan belajar anak berbakat adalah dengan menggunakan daftar pertanyaan yang mencakup cara/metode penting dari para pengelola dan guru yang menyiapkan lingkungan belajar tersebut.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 2, 2009

Pilihan Ganda “Menjerumuskan” Siswa Sulit Menyampaikan Gagasan

Pilihan Ganda “Menjerumuskan”
Siswa Sulit Menyampaikan Gagasan

Jakarta, Kompas – Pembiasaan evaluasi atau tes dengan soal-soal pilihan ganda dari tingkat SD hingga perguruan tinggi dinilai ”menjerumuskan” siswa. Kondisi tersebut mengakibatkan siswa hanya kuat menghafal, sedangkan kemampuan menalar dan menerapkan ilmu pengetahuan sangat rendah.

Soal-soal pilihan ganda juga mendorong siswa untuk menebak jawaban tanpa berpikir terlebih dahulu serta lebih membuka peluang terjadinya ketidakjujuran. Oleh karena itu, dalam aspek penilaian atau evaluasi siswa oleh guru, perlu digalakkan penggunaan item uraian.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 1, 2009

Saatnya Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan

Saatnya Belajar Dengan Cara Yang Menyenangkan

Oleh : Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan M. Pd.

Dalam abad ke 21 ini sudah ada ribuan atau puluhan ribu sekolah, di persada ini, mulai dari tingkat rendah sampai ke tingkat yang lebih tinggi, dibangun sebagai tempat untuk untuk mendidik generasi muda agar mereka bisa menjadi bangsa yang bermartabat. Sekolah itu sendiri coraknya ada tiga, yaitu sekolah formal, informal dan non formal. Sementara rumah itu dengan eksistensi ayah dan ibu juga dapat dianggap sebagai sekolah pertama bagi anak dalam memahami kehidupan dan menguasai life skill (keterampilan hidup).

Kemudian bagaimana cara pandang anak-anak yang belajar di sekolah tersebut ?, Tentu saja juga bervariasi. Ada anak yang memandang sekolah sebagai tempat penyiksaan, karena mereka dipaksa melakukan latihan demi latihan dengan ancaman dan tekanan dari bapak dan ibu guru di sekolah. Ada yang memandang sekolah sebagai penjara, karena terpenjara dari pagi hingga sore sehingga kehilangan waktu untuk menjelajah di sawah dan dimkebun. Kemudian juga ada yang memandang sekolah sebagai pabrik otak. Karena disana ada unsur input/ masukan, proses dan output atau produk, dan anak anak didik dipandang sebagai benda dan siap untuk dilatih dan dilatih melulu tanpa memahami apa dan bagaimana hakekat belajar itu sendiri. Idealnya semua anak musti memandang sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk transfer ilmu agar berubah menjadi manusia yang lebih beradab. .

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | November 1, 2009

Mandiri Utopia Belaka

Mandiri Utopia Belaka

Oleh Jalius HR

Jalius HR, Dosen FIP UNP

Bila saya membaca, menganalisa  dan memahami persoalan manusia sebagai makhluk sosial, fikiran saya menjadi cerah karena konsepnya sangat realistis. Tapi bila saya membaca persoalan manusia tentang konsep  mandiri , penalaran saya kehilangan arah, karena saya tidak menemukan realitasnya. Maka tulisan berikut merupakan sebuah anekdot yang menggugat. Mungkin ini adalah sebuah utopia belaka.

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).( Al-Ahzab. 4 )

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 31, 2009

Bila Bersekolah Hanya Untuk Untuk Mencari “Ranking Satu”

Bila Bersekolah Hanya Untuk Untuk Mencari “Ranking Satu”

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan M. Pd.

Pendidikan adalah tanggung jawab masyarakat dan pemerintah. Dewasa ini banyak orang tua telah memperlihatkan partisipasi mereka dalam memajukan pendidikan atau Sumber Daya Manusia (SDM) dengan cara mendukung pendidikan anak-anak mereka. Pemerintah juga mendukung peningkatan kualitas pendidikan melalui lembaga pendidikan atau sekolah, mulai dari pendidikan rendah sampai pendidikan tinggi, mendirikan sarana pendidikan, merenovasi sekolah yang kurang layak, melatih guru-guru dan aparat pendidik, menyediakan fasilitas dan beasiswa untuk meraih jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Banyak orang tua yang sudah menunjukan kepedulian terhadap kualitas pendidikan. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan dana yang besar untuk memilih sekolah yang berkualitas bagi putra dan putri mereka. Sekolah sekolah berlabel seperti “sekolah unggul, sekolah internasional, sekolah akselerasi, sekolah percontohan, sekolah plus, dan label lain” pasti diserbu dan daftar tunggu untuk tahun berikutnya sudah dicarter, terutama bagi mereka yang berduit dan peduli pula pada pendidikan bermutu.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 30, 2009

Mendidik dan Membina Karakter Anak Sejak Dini

Mendidik dan Membina Karakter Anak Sejak Dini

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan M. Pd

Bagaimana karakter bangsa Indonesia di mata bangsa-bangsa di dunia ? Pasti umumnya mereka mengatakan bahwa bangsa Indonesia ramah-tamah dan suka tolong -menolong, gotong royong. Sekaligus bahwa adalah ciri khasnya. Namun coba baca dan ikuti berita yang ada pada elektronik dan media massa cetak dewasa ini. Ternyata banyak orang kita yang suka berkelahi, korupsi dan saling memaki. Malah kadang-kadang ada siswa dan mahasiswa yang senang tawuran. Ini menandakan pendidikan dan pembinaan karakter di rumah dan di sekolah, prosesnya, kurang memperoleh perhatian penuh. Sebelum deteriorasi- pemburukan- karakter terjadi, maka guru dan orang tua musti peduli untuk mendidik dan membina karakter anak.

Membina dan mendidik karakter, dalam arti untuk membentuk “positive character” generasi muda bangsa ini. Agar positive character terbentuk, maka anak perlu dilatih melalui pembiasaan “mandiri, sopan santun, kreatif dan tangkas, rajin bekerja, dan punya tanggung jawab”.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 28, 2009

Posisi M Yamin dalam Sejarah Indonesia

Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke 81

Posisi M Yamin dalam Sejarah Indonesia

Oleh : Asvi Warman Adam
( Sejarawan LIPI )

Mohammad Yamin adalah tokoh terpenting dalam perumusan Sumpah Pemuda. Ikrar yang disusunnya telah mengilhami perjuangan bangsa selanjutnya, bahkan tetap menjadi perekat persatuan sampai saat ini.

Sebetulnya bagaimana posisi Yamin dalam sejarah Indonesia? Pada majalah Tempo edisi khusus 16 Januari 2000 tertulis secara eksplisit, “Pakar sejarah Taufik Abdullah menempatkan Yamin sebagai sejarawan terbesar abad ini.” Mungkin Prof Dr Taufik Abdullah hanya berbasa-basi tentang kehebatan Muhammad Yamin, tetapi barangkali pernyataan itu ada benarnya juga. Timbul pertanyaan, besar dalam hal apa?

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 28, 2009

Sang Bunda dan Sang Bayi (Untuk Para Pendidik dan Pembelajar)

Sang Bunda dan Sang Bayi
(Untuk Para Pendidik dan Pembelajar)

Oleh: M Apud Kusaeri, Dipl.Rad. SPd. MSi.

Suatu hari Rasulullah SAW ditanya oleh sahabatnya: “Ya Rasulullah, kepada siapa aku harus berbakti paling baik?”Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”,tanya sang sahabat kembali. Jawab Rasul: “Kepada ibumu”‘ “Lalu?”, tanya kembali sang sahabat, kembali Rasul menjawab: “Kepada ibumu” Sang sahabat bertanya kembali “Lalu?”, jawab Rasul “Kepada ayahmu”. Demikianlah, sebuah perkataan / hadits yang singkat tetapi berdasarkan perenungan yang panjang akan makna hakiki seorang ibu. Perenungan ini pula yang menggerakkanku menulis kolom ini.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 26, 2009

Appenscholen (Sekolah Beruk)

Appenscholen (Sekolah Beruk)

Oleh: Suryadi
(Dosen dan Peneliti di Universitas Leiden)

Judul artikel ini bukan mengada-ada. ”Appenscholen” (Sekolah Beruk) ditulis oleh seorang Belanda bernama J Jongejans dalam majalah Onze Aarde (Bumi Kita) tahun ke-12 (1939): 254-56. Ia mengunjungi Sumatera Barat akhir 1930-an, mengagumi alam dan masyarakat Minangkabau, dan tampaknya tapasek pula ke Pariaman. Salah satu yang amat menarik perhatian Jongejans adalah penggunaan beruk (monyet) untuk memetik buah kelapa. Ia merasa kagum kepada orang Pariaman yang dengan telaten mampu mengajari anak-anak beruk yang ditangkap dari rimba sedemikian rupa hingga binatang liar itu akhirnya bisa berkomunikasi dengan manusia dan dapat dimanfaatkan untuk memetik buah kelapa di pohonnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 26, 2009

Iqra’ !

Iqra’ !

Oleh: Yudhistira ANM Massardi *)

I. Belajar

“Dewasa ini, kaum muslim terpangkas dari tradisi intelektual mereka, dan, konsekuensinya, kaum muslim kehilangan etos pengetahuan maupun landasan moral dan intelektual mereka.” Padahal, “Pesan Islam dimulai dengan sebuah buku (Al-Qur´an): sebuah buku yang mengandung visi moral dan kebaikan yang luar biasa.”

Itulah gugatan sekaligus tangis Khaled Abou El Fadl yang diungkapkannya dengan getir dalam Musyawarah Buku (2001).

Harus diakui, setelah mengalami zaman keemasan, terutama sepanjang abad ke-8 hingga abad ke-13, peradaban Islam mengalami kemerosotan luar biasa. Kehancurannya secara fisik ditandai dengan pembantaian manusia dan penghancuran buku-buku oleh Hulagu dan bala tentara Mongolnya yang membinasakan Baghdad pada 1258. Sesudah itu, umat Islam terbenam dalam kegelapan akibat kebodohan, fanatisme, dan perang saudara. Kondisi itu, berlangsung hingga sekarang.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 26, 2009

Kota Surabaya Bantu Korban Gempa Padang

Kota Surabaya Bantu Korban Gempa Padang,
Siswa SD, SMP, SMA, SMK se Kota Surabaya
Menyumbang Kota Padang Rp 1,6 Miliar

Rumah Gadang Minang di Surabaya

SEBAGAI wujud kerjasama dua kota kembar (sister city) antara Kota Padang dengan Kota Surabaya, saat terjadi gempa yang meluluhlantakkan Kota Padang, warga kota Surabaya ikut memberikan bantuannnya.

Perhatian Walikota Surabaya, Drs.H.Bambang DH cukup manakjubkan. Sehari setelah terjadi gempa, langsung pada tanggal 1 Oktober 2009 melakukan kordinasi dan kerjasama dengan organisasi perantau Sumatera Barat, Gebu Minang Jawa Timur yang berkantor di Surabaya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 23, 2009

Tangan di Atas dan Tangan di Bawah Jangan Salah Tafsir

Tangan di Atas dan Tangan di Bawah
Jangan Salah Tafsir

Oleh : Jalius HR

Jalius HR

“Sebuah peringatan bagi para pengemis dihembuskan. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, mengeluarkan fatwa haram mengemis. Tindakan meminta-minta itu dinilai sebagai hal yang dilarang agama karena dapat merendahkan pribadi seseorang. Fatwa ini pun didukung MUI Pusat. “Tangan di atas itu lebih mulia daripada tangan di bawah. Dalam pengertian, Islam tidak menyenangi orang yang meminta-minta”, kata Ketua MUI Pusat, Umar Shihab, di Jakarta, Selasa (25/8).” (Liputan6.com)

Dari kutipan diatas ada sebuah ungkapan yang perlu dikeluarkan dari tempat berdomisilinya dan kita jadikan menjadi milik semua orang, yakni ungkapan tangan di atas dan tangan di bawah. Ungkapan tersebut berasal dari sepotong hadis rasulullah, lengkapnya adalah sebagai berikut; Dari hakim Ibnu Hazm Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: ” Tangan yang di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan yang di bawah (penerima); dan mulailah dari orang-orang yang banyak tanggungannya; dan sebaik-baik sedekah ialah yang diambil dari sisa kebutuhan sendiri, barangsiapa menjaga kehormatannya Allah akan menjaganya dan barangsiapa merasa cukup Allah akan mencukupkan kebutuhannya.” Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut riwayat Bukhari.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 23, 2009

MOHAMMAD NUH Targetkan Perbaikan Infrastruktur Sekolah

MOHAMMAD NUH Targetkan Perbaikan Infrastruktur Sekolah

MOHAMMAD NUH Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas)

MOHAMMAD NUH Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) pada Kabinet Indonesia Bersatu II, menegaskan dirinya akan menargetkan perbaikan infrastruktur sekolah pada 100 hari pertama.

“Pada 100 hari pertama saya menjabat saya akan memulai perbaikan sekolah rusak atau bocor,” kata Mohammad NUH, kepada Antara di Jakarta.

Ia menjelaskan, selain perbaikan sekolah rusak di masa 100 hari pertama menjabat dirinya akan melakukan sejumlah hal. Yang pertama adalah melanjutkan program pendidikan tahun 2009 yang belum tuntas dan sudah ditetapkan pada pemerintahan menteri sebelumnya.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 22, 2009

Mengoptimalkan Pendidikan Di Rumah

Mengoptimalkan Pendidikan Di Rumah

Oleh: Marjohan M.Pd
Guru SMAN 3 Batusangkar

Marjohan M. Pd.

Pendidikan adalah kata yang amat sering diperbincangkan orang di seluruh dunia, Itu karena pendidikan sangat menyentuh dan menentukan nasib dan kualitas bangsa itu sendiri. Selama ini banyak orang beranggapan bahwa pendidikan itu adalah tanggung jawab sekolah. Maka kalau ada kata pendidikan, lantas yang terbayang adalah gedung sekolah- TK, SD, SMP, SMA, MAN, SMK, terus Akademi, Universitas dan perguruan tinggi lainnya. Anak-anak yang pintar di sekolah berasal dari rumah yang orang tuanya sangat peduli dengan pendidikan. Maka pendidikan di rumah dengan orang tua sebagai pendidik dan motivator sangat menentukan kualitas pendidikan bangsa yang besar ini.

Demikianlah, orang tua memegang peran yang sangat penting dalam memajukan bangsa lewat mendidik dan memajukan anak-anak mereka sendiri. Orang tua tidak perlu harus tahu dengan matematik, bahasa asing (Inggris, Arab, Jepang), akuntansi, fisika dan lain-lain, namun mereka mampu menciptakan generasi yang bernas melalui model, motivasi dan semangat yang mereka pompakan pada anak sepanjang waktu. Mereka juga perlu belajar bagaimana menjadi orang tua yang cerdas terhadap anak-anak mereka sendiri. Mereka perlu, terlebih dahulu memahami mengapa dan bagaimana anak dalam pertumbuhan dan perkembangannya. Tidak memahami pertumbuhan dan perkembangan anak telah membuat jutaan orang tua di dunia ini menjadi salah didik. Maka agar tidak salah didik, carilah informasi tentang mendidik anak.

Baca Lanjutannya…

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 21, 2009

Buku : SCHOOL HEALING

Judul Buku : School Healing
Pengarang : Marjohan M.Pd
Penerbit : Pustaka Insan Madani, Yogyakarta
Tahun Terbit : Oktober 2009
Ukuran : 14,8 x 21 cm
Halaman : 240

Marjohan yang saya kenal adalah salah satu guru “langka” yang tidak tenggelam dalam tugas kesehariannya di kelas saja. Dia patut diteladani dalam hal kreativitas, kerajinan memperluas wawasan, perhatiannya terhadap dunia pendidikan dalam arti dan lingkup yang lebih luas.

Membaca buku ini, kita mendapat gambaran beliau adalah seorang yang optimis sekaligus realistis. Saya menduga dan sekaligus berharap jika dunia pendidikan kita mempunyai cukup banyak guru seperti Marjohan, maka salah satu “penyakit” pendidikan kita akan terobati. Kita memerlukan lebih banyak guru seperti dia.

Dunia pendidikan kita sebetulnya menderita berbagai penyakit yang lebih parah dari sekadar penyakit yang disebabkan FLU Burung, Babi, dan Kuda. Bacalah berbagai tulisan Marjohan agar kita mendengar dari guru, tangan pertama di sekolah yang ‘kepalanya tidak terpuruk saja di kelas’. Dia bercerita tentang berbagai problem pendidikan dan menawarkan ‘obat-nya’!

(Drs. Fekrynur, M.Ed. Co-Moderator pakguruonline@yahoogroups.com)

Tentang penulis:

Marjohan, M.Pd. adalah Guru SMA Negeri 3 Batusangkar sekaligus penulis freelance pada koran Singgalang, Mingguan Canang, dan E-newsletter (Situs Departemen Pendidikan Sumatra Barat). Ia pernah terpilih menjadi Guru Teladan Kabupaten Tanah Datar sekaligus Guru Teladan Provinsi Sumatra Barat.

Oleh: enewsletterdisdik | Oktober 18, 2009

GURU BARU BERSIAP-SIAPLAH JALANI PROGRAM INDUKSI

GURU BARU BERSIAP-SIAPLAH JALANI PROGRAM INDUKSI

Oleh:  Zita Meirina

Seleksi menjadi guru baru ke depan akan lebih diperketat seiring dengan banyaknya kasus malpraktik yang dilakukan oleh guru akibat rendahnya kemampuan guru melakukan penyesuaian diri pada lingkungan sekolah.

“Kita sudah dengar banyaknya kasus bullying atau berupa tindakan yang membuat seseorang merasa teraniaya yang dapat dilakukan antara lain oleh guru kepada siswanya di lingkungan sekolah sehingga siswa merasa terancam, ketakutan dan sebagainya sehingga tindakan guru tersebut dapat dikategorikan sebagai malpraktik,” kata Kepala Subdit Program Direktorat Tenaga Kependidikan Depdiknas, Abi Sujak.

Baca Lanjutannya…

Tulisan Sebelumnya »

Kategori