Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Maret 15, 2008

Memajukan Pendidikan Islam Kita Perlu Belajar dari Masa Lampau

Memajukan Pendidikan Islam Kita Perlu Belajar dari Masa Lampau

Oleh : Ns. Masmuri, S.Kep *)

Sejarah pendidikan Islam erat kaitannya dengan sejarah Islam, karena proses pendidikan Islam sejatinya telah berlangsung sepanjang sejarah Islam, dan berkembang sejalan dengan perkembangan sosial budaya umat Islam itu sendiri. Melalui sejarah Islam pula, umat Islam bisa meneladani model-model pendidikan Islam di masa lalu, sejak periode Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama-ulama sesudahnya. Alih-alih sejarah menyebut bahwa sebelum muncul sekolah dan universitas, sebagai lembaga pendidikan formal, dalam dunia Islam sesungguhnya sudah berkembang lembaga-lembaga pendidikan Islam non formal, diantaranya adalah masjid.

Masjid pada masa Nabi bukan hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga sebagai tempat “menyiarkan” ilmu pengetahuan pada anak-anak dan orang-orang dewasa, disamping sebagai tempat peradilan, tempat berkumpulnya tentara dan tempat menerima duta-duta asing. Bahkan di masa Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah, masjid yang didirikan oleh penguasa umumnya dilengkapi dengan berbagai macam fasilitas pendidikan seperti tempat belajar, ruang perpustakaan dan buku-buku dari berbagai macam disiplin keilmuan yang berkembang pada saat itu. Sebelum al-Azhar didirikan di Kairo, sesungguhnya sudah banyak masjid yang dipakai sebagai tempat belajar, tentunya dengan kebijakan-kebijakan penguasa pada saat itu.

Kemajuan Pendidikan Islam Masa Lampau

Islam mengalami kemajuan dalam bidang pendidikan, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah. Pada saat itu, mayoritas umat muslim sudah bisa membaca dan menulis dan dapat memahami isi dan kandungan al-Quran dengan baik. Pada masa ini murid-murid di tingkat dasar mempelajari pokok-pokok umum yang ringkas, jelas dan mudah dipahami tentang beberapa masalah. “Pendidikan di tingkat dasar ini diselenggarakan di masjid, dimana al-Quran merupakan buku teks wajib.” Pada tingkat pendidikan menengah diberikan penjelasan-penjelasan yang lebih mendalam dan rinci terhadap materi yang sudah diajarkan pada tingkat pendidikan dasar. Selanjutnya pada tingkat universitas sudah diberikan spesialisasi, pendalaman dan analisa.

Dengan demikian, kurikulum yang dikembangkan dalam pendidikan Islam saat itu, yaitu : pertama, kurikulum pendidikan tingkat dasar yang terdiri dari pelajaran membaca, menulis, tata bahasa, hadist, prinsip-prinsip dasar Matematika dan pelajaran syair. Ada juga yang menambahnya dengan mata pelajaran nahwu dan cerita-cerita. Ada juga kurikulum yang dikembangkan sebatas menghapal Al-Quran dan mengkaji dasar-dasar pokok agama.

Berikut sebuah riwayat yang bisa memberikan gambaran tentang kurikulum pendidikan pada tingkat dasar pada saat itu. Al Mufadhal bin Yazid menceritakan bahwa pada suatu hari ia berjumpa seorang anak-anak laki dari seorang baduwi. Karena merasa tertarik dengan anak itu, kemudian ia bertanya pada ibunya. Ibunya berkata kepada Yazid: “…apabila ia sudah berusia lima tahun saya akan menyerahkannya kepada seorang muaddib (guru), yang akan mengajarkannya menghapal dan membaca Al-Quran lalu dia akan mengajarkannya syair. Dan apabila dia sudah dewasa, saya akan menyuruh orang mengajarinya naik kuda dan memanggul senjata kemudian dia akan mondar-mandir di lorong-lorong kampungnya untuk mendengarkan suara orang-orang yang minta pertolongan…”.

Kedua, kurikulum pendidikan tinggi. Pada pendidikan tinggi, kurikulum sejalan dengan fase dimana dunia Islam mempersiapkan diri untuk memperdalam masalah agama, menyiarkan dan mempertahankannya. Akan tetapi bukan berarti pada saat itu, yang diajarkan melulu agama, karena ilmu yang erat kaitannya dengan agama seperti bahasa, sejarah, tafsir dan hadis juga diajarkan.

Pada Akhirnya: Kita Harus Belajar

Pada akhirnya dapat disimpulkan bahwa kemajuan yang pernah dicapai Islam dalam pendidikan, terutama karena sistem pendidikan Islam yang diterapkan pada saat itu dilakukan secara bertahap. Mengutip pendapat Ibn Khaldun: “Mengajarkan ilmu pengetahuan kepada murid akan berhasil apabila dilakukan secara bertahap.” Sungguh, pendidikan Islam di Indonesia akan maju kalau bangsa ini mau menengok dan belajar dari kemajuan-kemajuan pendidikan Islam di masa lampau, terutama kemajuan pendidikan yang dinikmati pada masa Dinasti Abbasiyah. Nabi Muhammad SAW juga merupakan suri teladan dalam mengurai model-model pendidikan.

Tujuan pendidikan Islam yang selalu ditekankan oleh Nabi Muhammad SAW, sahabat dan ulama-ulama sesudahnya adalah membentuk pribadi muslim seutuhnya, yang tercermin dalam tata berfikir, berkehendak maupun berperilaku. Selanjutnya peserta didik perlu diberikan kebebasan dalam mempelajari berbagai macam disiplin ilmu yang mereka perlukan dalam menapak kehidupan. Semua itu pastinya dilakukan dengan bertahap. Selanjutnya untuk mendukung uraian ini, penulis mengutip pandangan Ibn Sina yang berpendapat bahwa mendidik anak, seharusnya dimulai dengan mengenalkan dan mengajarkan Al-Quran, setelah itu syair-syair, terutama yang menceritakan keutamaan budi-pekerti, memuji ilmu pengetahuan, mencela kebodohan, menyuruh hormat kepada ibu dan bapak, berbuat baik dan menghormati tamu. Sesudah itu, anak diarahkan untuk mempelajari sesuatu sesuai dengan tabiatnya dan kesanggupannya. Wallahu’alam.***

*) Penulis adalah Peminat Studi Agama. Dosen AKPER YARSI Pontianak

Sumber : Pontianak Post

————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

About these ads

Responses

  1. Wah hebat sekali

  2. hai ibu,,, terus lah berprestasi,, bktikan bahwa orang sambas adalah orang yang berprestasi….

  3. Ok banget pemikiran anda, namun apa bukan lebih baik tolong anda jelaskan tentang bagaimana pendidikan sejak zaman nabi trus sampe pada waktu sekarang dan tolong diambil kesimpulan yang dapat di ambil dari suatu sejarah itu….mungkin itu bisa lebih bermanfaat……!Bagaimana????????????

  4. wah aquwh kurang paham……
    aktualisasinya dari masa ke masa itu bagaimana?????????????

  5. Nksh msukannya mlalui tulisn ni ……
    mntap…..
    tinggl realisasinya….

    mhon kritik n sarannya y

    http://adrianestih.wordpress.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: