Wakasek MTsN Model Padang Mareta Sari SPd Kembalikan Percaya Diri Siswa
Sekulerisasi pendidikan, membuat sekolah agama dianggap sebagai sekolah alternatif, tidak menjadi prioritas bagi calon siswa baru. Padahal, diperlukan intelegensi tinggi untuk sekolah agama, sebab dari segi mata pelajaran, sekolah agama lebih banyak dibandingkan sekolah umum.
Namun paradigma tersebut terlanjur melekat di kalangan masyarakat, sehingga tidak ayal sebagian siswa sekolah agama juga memiliki pemikiran yang sama. Hal tersebut merusuhkan pikiran Mareta, sebagian besar siswanya tidak percaya diri.
Hal tersebut terlihat dari bahasa tubuh mereka, saat berjalan kepala cenderung tertunduk, apalagi kalau bertemu dengan siswa sekolah umum. Dalam setiap pertemuan dengan siswa, Mareta yang mengawali profesi sebagai guru 21 tahun lalu, selalu menganjurkan siswa untuk berdiri dengan kepala tegak, menatap masa depan lebih cerah, tidak perlu minder, sebaliknya justru harus bangga mereka mendapatkan pendidikan agama.
“ Rupanya selama ini mereka salah persepsi, selain memang cenderung tidak percaya diri, mereka menganggap berjalan dengan kepala tegak, merupakan bentuk kesombongan diri. Setelah saya jelaskan bahwa berjalan dengan kepala dan leher tegak namun menundukan dagu, merupakan bahasa tubuh yang harus dilakukan siswa, sebab tingkah seperti itu sekaligus memupuk rasa percaya diri,” ujarnya.
Tentunya bahasa tubuh tersebut tidak hanya cukup untuk memupuk rasa percaya diri, Mareta bersama majelis guru berupaya meningkatkan kepercayaan diri siswa lewat peningkatan intelegensi. Ide cemerlangnya kembali muncul saat melihat siswa yang memiliki intelegensi tinggi menyatu dalam satu kelas bersama siswa dengan intelegensi standar dan sedikit dibawah standart.
Siswa cerdas tersebut, biasanya cenderung bosan dengan materi pembelajaran yang menurut mereka hal yang biasa, namun bagi siswa lainnya sangat sulit. Kondisi tersebut menurutnya yang membuat bakat-bakat siswa cerdas tidak terasah, sebaliknya siswa dengan intelegensi dibawah standart cederung malu bertanya, sebab mereka melihat teman-teman lainnya sudah mengerti.
Alumni Pendidikan Kimia IKIP inipun mengusulkan kepada kepala sekolah, agar siswa dikelompokan berdasarkan tingkat intelegensi siswa, agar sistim pembelajaran lebih optimal. Usu lannya disambut baik sang kasek, bahkan kasek pun menyatakan dukungan terhadap usulannya.
Maka setiap kelas pun dibagi berdasarkan tingkat intelegensi siswa, siswa cerdas disatukan kedalam dua lokal, siswa standar juga dimasukan ke dalam dua lokal, hal yang sama juga direalisasikan bagi siswa yang memiliki kemampuan di bawah standar atau kelas remedial. Guru pun dikelompokan berdasarkan tingkat kesabaran dan strategi cara mengajar. Guru-guru yang memiliki kesabaran tinggi dengan intelegensi yang tinggi ditempatkan di kelas remedial.
Sehingga guru tersebut dapat sabar menerangkan kepada siswa hingga siswa mengerti dengan materi pembelajaran. Sebaliknya guru dengan tingkat profesionalismenya tinggi serta selalu haus ilmu ditempatkan di kelas unggul, sehingga mampu menuntaskan keingintahuan siswa yang memang cara berfikirnya cenderung kritis. Untuk kelas standar, guru yang dipilih memiliki motivasi dan semangat tinggi serta memiliki komitmen untuk memajukan siswa, agar mereka dapat mencapai kelas unggul.
Agar siswa kelas remedial tidak merasa minder dengan status kelas mereka, Mareta menempatkan kelas siswa tersebut secara acak. Tidak selalu kelas nomor awal merupakan milik kelas unggul, seperti kelas IX 2, biasanya di sekolah lain merupakan kelas unggul tetapi di MTsN Model justru kelas standar.
“Berkat bantuan teman-teman majelis guru, ide tersebut ternyata cukup efektif, akhirnya kami dengan mudah menemukan siswa berbakat dengan mudah. Biasanya siswa kelas unggul selalu terpilih mewakili sekolah untuk lomba bidang akademik, sedangkan kelas standar biasanya mereka memiliki kemampuan bidang ekstrakurikuler. Mereka juga mewakili sekolah untuk lomba-lomba ekstrakurikuler. Sedangkan siswa standar saat ini sudah mulai dapat melompati untuk memasuki kelas unggul, saya yakin semua siswa memiliki kelebihan, tinggal cara kita mengapresiasi mereka” ujarnya.
Tidak ayal, sejak beberapa tahun terakhir, MTsN Model Padang mewakili Kota Padang bahkan Sumbar, untuk berbagai lomba dan mendapatkan juara. Seperti juara umum Lomba MIPA Se Sumatera yang diselenggarakan UNP. Juara 2 Lomba Fisika Se Sumatera serta juara II Lomba Fikih se Sumbar dan beragam prestasi lainnya. “Ini berkat kerjasam tim guru, saya hanya menfasilitasi” ujarnya merendah [Padang Ekspres]



















tRm ksh,,tRm ksih,,tRm ksih…
hany i2 yg dpt aq ucpkn kpd klwrg bsr MTsN MODEL PADANG.
brkat guru2 yg sll sbar menghdpi smw tingkh laku qmi..baek yg brksan atopn yg krang brknan d hti guru2..aq prwkilan tmand2 mengcpkan mhon maaf sbsar-bsarnya..mdah2n d thun ne lu2z 100%
amin y robbal alamin
Oleh: fitrah on Juni 1, 2009
at 8:19 am
thanks for all buat MTsN Model Padang yg th3 b3st..
Oleh: riska on Juni 14, 2009
at 7:52 am
I Like that MTSN model, tapi ada satu yg gak bisa ku terima sejak dulu,,, muridnya diluar kebanyakan yang cuek
Oleh: iwid on Juni 30, 2009
at 9:06 am
Assalamulaikum w.w.
Salamuntuk seluruh guru-guru MTsN Model Padang. Seluruh keluarga besar MTsN Model di Indonesia, harus dapat membuktikan bahwa guru dan siswa MTsN Model tidak kalah dengan guru dan Siswa SMTP. Sukses selalu untuk MTsNModel Padang
Oleh: Najwan A.Shamad on Juli 24, 2009
at 11:02 am
Luar biasa situs yang sudah dikembangkan di madrasah semoga kita terus berusahan mengembangkan madrasah kita kita lebih maju di indonesia. diisam,ping itu kami keluarga besar MAN Rukoh Kota Banda Aceh turut berduka cita atas musibah yang menimpa saudara kami di dunia pendidikan di kota padang beberapa minggu yang lalu. harapan kami semua agara seluruh civitas MTsN model Padang dapat tegara mengahadapi musibah ini dan tetap bersemangan mengemban tugas sebagai pendidik dalam usaha mencerdaskan anak-anak bangsa khususnya dari kota Padang. salam saya selaku kepala MAN Rukoh Kota Banda Aceh ke seluruh civitas MTsn Model Padang. di MTsN Model ada teman saya guru Matematika bu Rita samapaikan salam saya, trims
Oleh: Ihsan on Oktober 23, 2009
at 1:30 am