Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 5, 2010

Tahun Hijrah dan Kekeliruan Umat

Tahun Hijrah dan Kekeliruan Umat

Oleh : Jalius HR

Jalius HR. Dosen FIP Univ. Negeri Padang

……..”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab.”……. (Al-Quran surat Yunus ayat 5)

Tiap tahun masyarakat kita selalu memperingati atau menyambut “tahun baru” ada tahun baru Hijriah dan ada pula tahun baru masehi. Saya pernah menerima kiriman dari kerabat kerja E- Newsletter Disdik Sumbar ini ucapan “Selamat tahun baru Islam”, tapi sayangnya tidak pada tahun baru masehi, ada apa ?

Tahun Hijriah disebut juga Tahun Qomariyah, adalah sistim penanggalan Islam yang didasarkan atas peredaran bulan [qomariyah]. Penamaan yang lebih populer adalah ‘Tahun Hijriah’. Karena awal tarikh hijriah dihitung dari hijrahnya Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam, dari Mekah ke Madinah. Sedangkan sistim penanggalan yang didasarkan pada waktu perputaran bumi mengelilingi matahari disebut sistim penanggalan Syamsiah atau disebut juga kelender Masehi. Karena didasarkan pada awal kelahiran Isa Almasih. Nama bulan yang di pakai adalah Januari s/d Desember.

Yang dianggap hari hijrah ialah hari tanggal 8 Rabi’ul Awwal – 20 September 622M. Penetapan tahun Hijriah dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Tepatnya pada tahun ke-empat ia berkuasa, yakni hari Kamis, 8 Rabi’ul Awwal 17 H.

Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622 M. Menurut perhitungan, tarikh islam kira-kira 11 hari lebih singkat dari tahun menurut perhitungan peredaran matahari. Sedikit informasi untuk menghitung bagaimana tahun hijriah (H) bertepatan atau sebaliknya dengan tahun masehi (M) maka dapat dipakai rumus M = 32/33 ( H+622 ) atau sebaliknya H = 33/32 (M-622).

Penjelasannya tentang sistem penanggalan tahun Qomariah dan syamsiah diatas cukup baik dan jelas. Namun demikian ada kekeliruan yang cukup fatal, yakni pernyataan kebanyakan orang-orang islam tentang:

…..”Tarikh Islam mulai dihitung dari tanggal 1 Muharram, yaitu 15 Juli 622″….

Pernyataan ini tidak memiliki dasar hukum yang kuat, hanya ketetapan yang bersifat emosional dan tidak logis.

Pada hal Allah sudah menjelaskan dalam al-quran surat Yunus ayat 5

……..”Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia tentukan perjalannya, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan hisab.”…….

Ayat tersebut sangat jelas mengandung kedua sistem perhitungan penanggalan dan perhitungan tahun yang telah di uraikan di atas, yakni sistem “qomariah” dan sistem “Syamsiah”. Sangat keliru lagi kalau perhitungan kalender masehi tidak tidak diakui termasuk kedalam sistem perhitungan kalender orang Islam.

Kedua sistem perhitungan tanggal dan tahun sangat berguna dalam kehidupan muslim. Sistem penanggalan masehi dapat digunakan untuk menentukan perhitungan iklim dan musim (misalnya). sedangkan sistem penanggalan Qomariah sangat penting untuk menetapkan jadwal-ibadah (misalnya).

Makna ayat al-Quran tersebut jangan dipilih hanya satu sistem saja. Coba anda bayangkan dalam kehidupan sehari-hari sepanjang masa, hampir semua muslim dewasa ini mencatat tanggal lahir dan sistem administrasinya menggunakan kalender masehi. Itu apa maknanya ? Suka atau tidak itulah ketentuan Allah, baik dalam firmanNya maupun dalam ciptaanNya.

Berfikir, dan berfikir kembali adalah pelita hati !

Banyak maaf.
Wassalam

Jalius.HR
di Lubuk Buaya Padang.

About these ads

Responses

  1. Waalaikumussalam, wr. wbr.
    Pak Jalius Yth

    Artikel yang Bapak tulis diatas menarik sekali.

    Menurut hemat kami yang keliru adalah kebanyakan umat Islam tidak tahu dengan penanggalan tahunnya, dan jarang mengucapkan serta kirim kartu ucapan selamat tahun baru yang mereka punyai sebagi muslim.

    Ada perbedaan makna dari dua tahun baru, dimana Tahun baru Hijriyah selain telah ditetapkan sebagai penggalan Islam juga mengingatkan kita kepada sejarah risalah Nabi Muhammad Rasulullah SAW dalam menyampaikan wahyu Allah atau ajaran Islam, dan hakikinya menyuruh kita untuk meningkatkan kualitas amal keduniaan dan keakhiratan.

    Sedangkan tahun Masehi adalah miliknya pengikut Almasih, yang telah dipepulerkan oleh penjajah Belanda sewaktu menjajah negeri kita, yang peringatan penuh dengan acara hura-hura.

  2. ————————
    الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
    ——————-

    Wssalam
    Jalius

  3. ————————
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَ حْمَةُا تُهُ اللهِ وَبَركَا تُهُ
    —————————–

    Keliru Juga

    Betul sekali perkiraan E-N, bahwa …”kebanyakn kaum Muslim tidak tahu dengan penanggalan tahunnya”…Sudalah lupa dengan penanggalan kalender Hijriah tidak pula mengakui penanggalan sistem syamsiah atau kalender masehi. Pemakaian kalender masehi dikokohkan kenapa pengakuannya tidak ?

    Setelah saya membaca tanggapan yang diberikan oleh kerabat kerja E-N terhadap “tahun Hijriah dan Kekeiruan Umat” saya merasa sangat heran. Ada dua hal yang mengherankan saya;

    Pertama, pokok fikiran dari artikel tersebut tidak difahami dengan baik, yaitu pengakuan terhadap sistem syamsiah (solar sitem) sebagai dasar perhitungan waktu atau sistem kalender. Karena sudah jelas dasar hukumnya, baik berdasarkan ayat Al-Quran maupun berdasarkan realitas di alam raya. Bahkan penggunaanya dalam kehidupan sehari-hari sangat bermanfaat bukan ?

    Bagaimanapun tida ada alasan untuk tidak menerima dan mengakuinya. Sama juga dengan alat ukur “centi meter” dan “inchi”. Karena orang islam (di Indonesia misalnya) menggunakan cm, maka cm di “akui”sebagai alat ukur. Sedangkan inchi digunakan oleh orang non muslim untuk mengukur tinggi dan tingkar perut babi lantas inchi “tidak diakui” sebagai salah satu alat ukur, apakah begitu ?

    Pada awal tahun baru hijriah “disi dengan acara” berzikir bersama dan menghisab diri itu bagus, atau mengenang peristiwa hijrahnya Nabi Saw, sebagai penyadaran umat. Itukan soal bentuk amal yang dilakukan. Bentuk amal itu bisa saja bermacam-macam bentuk dan jenisnya. Tentu saja yang kita harapkan adalah bentuk amal soleh.

    Demikian pula halnya dengan awal tahun masehi, seharusnya kan bisa pula “di isi dengan acara” yeng bersifat amal soleh. Tidak diisi dengan acara “hura-hura”. Kalau diisi dengan acara hura-hura sepertinya orang non muslim itulah yang keliru, dewasa ini kan itu yang banyak dilakukan oleh sebagian kaum muslim. Bukan saja diawal tahun baru “masehi” pada waktu yang lainpun muslim tidak juga dibolehkan berhura-hura.

    Kedua, mungkin banyak orang muslim yang lupa bahwa Al-masih adalah bahagian dari nama nabi kita Nabi Isa, yakni Al-masih ‘Isa ibnu Maryam. Tercantum dalam Al-Quran surat Ali Imran ayat 45…”(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu (dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah),”….. Kenapa harus pula ikut-ikutan mengingkari bersama kaum Nasrani ? Yang perlu ingatkan adalah bahwa Nabi ‘Isa tidak sama dengan Yesus dan kristus di kalangan kaum Nasrani. .

    Karena tahun masehi (masehi berasal dari kata al-masih) dimulai semenjak tahun kelahiran Nabi Isa as maka tidak ada salahnya kita juga memperingati riwayat hidup Nabi Isa as seperti memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Atau menggali fakta sejarah bagaimana penyimpangan-penyimpangan di zaman pengikut-pengikutnya.

    Kalau muslim mau meninggalkan “acara hura-hura” dan menggantinya dengan “acara amal soleh” itulah sikap yang terpuji. Kalau muslim mau memulainya setiap tahun baru masehi itu akan menjadi sutu kemajuan, bisa juga dianggap sebagai inovasi dan akan menjurus kearah perkembangan Islam. Tapi kalau tidak mau mengakui dan tidak pula mau mengisinya denga acara amal soleh akan menjadi kerdilah pemahaman tentang Islam. Beraati juga termasuk bahagian memperkokoh ketertinggalan dalam memahami dan mengamalkan Al-Quran.

    Terakhir jangan lupa bahwa esensi tulisan saya adalah pengakuan terhadap sistem perhitungan waktu berdasarkan Syamsiah (solar sistem ) sangat penting.
    Sedangkan bentuk acara-acara tiap awal tahun pilih saja mana yang suka dan sesuaikan dengan ketentuan Al-Qoran dan sunah.

    Banyak maaf
    Wassalam
    Jalius.HR

    • Waalaikumussalam, wr. wbr.

      Benar apa yang Pak Jalius sampaikan, persoalannya bukan kami tidak mengakui Kalender Masehi, tapi hanya menjelaskan pertanyaan mengapa kerabat e-Newsletter hanya menyampaikan ucapan selamat tahun baru Islam saja. Hal ini dalam rangka memasyarakatkan dan bangga dengan apa yang kita punyai, agar kita sebagai muslim untuk tidak tahu menahu saja dengan apa yang kita punyai.

      Untuk sama-sama kita ketahui bahwa tidak ada perintah yang tercantum dalam Al-Qur’an dan Hadis dalam pemakaian penanggalan.

      Tapi, Muhammad Rasulullah SAW, telah menyampaikan baik secara nyata ataupun tersirat bahwa harus ada perbedaan antara muslim dengan yang bukan muslim, seperti tanda masuk waktu sholat yang ditandai dengan “Azan” atas usul dari Billal bin Rabbah, bukan dengan lonceng dll, dan juga perbedaan dalam menghormati hari Assyura, kalau Yahudi berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram) saja, maka Muhammad Rasullah SAW memerintahkan puasa pada hari ke 9 dan ke 10 atau hari ke 10 dan ke 11 dan atau hari ke 9, 10 dan 11.

      Demikian pula diwaktu Khalifah Umar bin Khatab, menulis surat tanpa tanggal (kepada Shohabat Musa Al As’ari Gubernur Kuffah) dan mendapat balasan dengan isinya sbb:

      “KATABA MUSA AL AS’ARI ILA UMAR IBNUL KHOTHOB. INNAHU TAKTIINA MINKA KUTUBUN LAISA LAHA TAARIIKH.”

      Artinya: Telah menulis surat Gubernur Musa Al As’ari kepada Kepala Negara Umar bin Khothob. Sesungguhnya telah sampai kepadaku dari kamu beberapa surat-surat tetapi surat-surat itu tidak ada tanggalnya.

      Maka dengan peristiwa tsb, diambillah kesepakatan untuk menetapkan penanggalan buat Islam berdasarkan perputaran bulan (Qamariah), dalam hal ini tidak mengingkari bahwa pertanda-pertanda waktu berdasar perputaran matahari yang tercantum dalam ayat-aya Al-Qur’an yang Bapak Jalius sampaikan tidak diakui, bahkan perputaran matahari menjadi dasar untuk menentukan waktu sholat, imsyak dan berbuka puasa, dll.

      Adapun nama-nama bulan beradasarkan kalender hijriyah sudah diperkenalkan oleh Allah SWT di didalam Al-Qur’an seperti bulan RAMADHAN (ayat perintah untuk berpuasa di bulan Ramadhan) dll.

      Wassalam, banyak maaf.
      Redaksi

  4. sebenarnya saya lebih cenderung dngan apa yang ditulis di artikel dialamat berikut ini

    http://memen.wordpress.com/2009/12/28/rahasia-bulan/

    jadi memang bulan dan matahari sbg tanda waktu tp penetapannya beda2..

  5. Terim’s love for his comments, this is a new friend, He came from Bahrain. Another time we longer dialogue. Come to Padang.

    Oh yes orbit the sun is different from the distribution month. that’s what makes the difference calculation.
    Unfortunately, people are now in ignorance. ability berfikirnya highly shackle with dogma.
    Demian only temporary.
    Wassalam
    Jalius HR

  6. Saya sangat senang dengan artikel Bapak Jalius ini, sebab sangat Rational dan Ilmiah,……Senin sore yang lalu, tepatnya tanggal 24 Desember 2012 saya menonton ceramah di TV Lokal Pontianak, seorang Ustaz menyatakan bahwa Tahun Masehi Bukan Milik Islam…..saya terperangah,….sebab seingat saya yang awam dalam Ilmu astronomi tersebut bahwa perhitungan Tahun Masehi /disebut juga Tahun Syamsyiah berdasarkan Perhitungan Bumi Mengelilingi Matahari…….. Bumi bergerak mengelilingi Matahari Atas Qudrat Allah sehingga terjadinya Perhitungan satu Tahun Syamsyiah atau 1 tahun Masehi.

    Singkatnya bahwa dengan perhitungan Tahun Syamsyiah atau Tahun Masehi maka ummat manusia di dunia ini dapat membuat pleaning kehidupannya, seperti di wilayah Indonsia dan sekitarnya ketika menghadapi nusim Kemarau Panjang yang biasa terjadi di bulan Mei, Juni, Juli, Agustus, dan ketika berada di musim Penghujan dan air pasang di sekitar bulan September, Oktober, November dan Desember, dan Di Musim Panca Roba, di Januari Februari, MAret, April

    sehingga dengan kalender masehi/Syamsyiah itu maka terjadi pula tradesi dan kebiasaan Musim Tanam Padi yang secara rutin pada bulan bulan yang didasarkan pada perhitungan Tahun Masehi atau Tahun Syamsyiah.
    Pelaut dan Nelayan harus berhati hati jika ingin melaut di Bulan bulan Oktober, November, dan Desember karena Air Pasang dan Gelombang Besar dan Hal Ini Rutin terjadi di setiap Tahun…….

    Setiap Warga harus menyimpan air bersih di musim hujan untuk menghadapi musim Kemarau yang secara rutin terjadi di bulan bulan juli, agustus,…..

    Kesimpulan : Bahwa Islam Memang harus memiliki Izzah (harga diri) dengan selalu menggunakan perhitungan Hijriyah dan membiasakannya dalam pencatatan semua peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya,,,,,,paling tidak sebagai pertanda Kemuliaah buat pelaku peristiwa tersebut…..Misalnya seseorang Lahir di Bulan Ramadhan penuh berkah dan , Meninggal di bulan Ramadhan konon katanya mendapat Syahid……

    Lantas Perhitungan Tahun Syamsyiah Atau Tahun Masehi juga sangat luar biasa besar manfaatnya untuk melakukan pleaning kehidupan Ummat manusia karena pertemuan musim satu dangan musim yang lain dapat diprediksi dan mendekati kepastian, sehingga mempermudah Pengusaha Pertanian membuat usaha pertaniannya lebih berhasil dalam panen nantinya dlll

    Sukses Pak Jalius, Saya Tunggu Karyanya lagi.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: