Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 19, 2010

HENTIKAN PROGRAM SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)

HENTIKAN PROGRAM SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL (SBI)

SEKOLAH BERTARAF INTERNASIONAL ADALAH PROGRAM YANG SALAH KONSEP DAN 90% PASTI GAGAL

Oleh : Satria Dharma
Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI)

MENGAPA PROGRAM SBI HARUS DIHENTIKAN?

Satria Dharma Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI)

Jika kita cermati ternyata program SBI ini mengandung banyak kekurangan mencolok. Alih-alih menghasilkan kualitas bertaraf internasional kualitas pendidikan kita justru akan terjun bebas.Mengapa? Ada beberapa kelemahan mendasar dari program SBI ini

KONSEPNYA LEMAH

• Pertama, program ini jelas tidak didahului dengan riset yang mendalam dan konsepnya lemah. Dengan menyatakan bahwa SBI = SNP + X, maka sebenarnya konsep SBI ini tidak memiliki bentuk dan arah yang jelas. Tidak jelas apa yang diperkuat, diperkaya, dikembangkan, diperdalam, dll tersebut. Jika konsep ini secara jelas menyatakan mengadopsi atau mengadaptasi standar pendidikan internasional seperti Cambridge IGCSE atau IB, umpamanya, maka akan lebih jelas kemana arah dari program ini. Dengan memasukkan TOEFL/TOEIC, ISO dan UNESCO sebagai “X” juga menunjukkan bahwa Dikdasmen juga tidak begitu paham dengan apa yang ia maksud dengan “X” tersebut. Sampai saat ini tak ada satu pun petunjuk apa yang dimaksud dengan “X” tsb.

SALAH MODEL

• Kedua, Dikdasmen membuat rumusan 4 model pembinaan SBI tersebut yaitu : (1) Model Sekolah Baru (Newly Developed), (2) Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada (Existing School), (3) Model Terpadu, dan (4) Model Kemitraan. Padahal kalau dilihat sebenarnya hanya ada dua model yaitu Model (1) Model Sekolah Baru dan Model (2) Model Sekolah yang Telah Ada. Dua lainnya hanyalah teknis pelaksanaannya saja. Dari dua model tersebut Dikdasmen sebenarnya hanya melakukan satu model rintisan yaitu Model (2) Model Pengembangan pada Sekolah yang Telah Ada (existing School) dan tidak memiliki atau berusaha untuk membuat model (1) Model Sekolah Baru. Anehnya, buku Panduan Penyelenggaraan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) yang dikeluarkan sebenarnya lebih mengacu pada Model (1) padahal yang dikembangkan saat ini semua adalah Model (2). Jelas bahwa sekolah yang ada tidak akan mungkin bisa memenuhi kriteria untuk menjadi sekolah SBI karena acuan yang dikeluarkan sebenarnya ditujukan bagi pendirian sekolah baru atau Model (1).

Sebagai contoh, jika sekolah yang ada sekarang ini diminta untuk memiliki guru berkategori hard science seperti Matematika, Fisika, Kimia, Biologi (dan nantinya diharapkan kategori soft science-nya juga menyusul) menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, atau memiliki tanah dengan luas minimal 15.000 m, dll persyaratan seperti dalam buku Panduan, maka jelas itu tidak akan mungkin dapat dipenuhi oleh sekolah yang ada. Ini ibarat meminta kereta api untuk berjalan di jalan tol!

Sebagai ilustrasi, sedangkan guru bahasa Inggris di sekolah-sekolah ‘favorit’ kita saja hanya sedikit yang memiliki TOEFL > 500, apalagi jika itu dipersyaratkan bagi guru-guru mata pelajaran hard science. Maka itu jelas tidak mungkin. Ini berarti Dikdasmen tidak mampu untuk menerjemahkan model yang ditetapkannya sendiri sehingga membuat Dikdasmen berresiko gagal total dalam mencapai tujuannya.

SALAH ASUMSI

• Ketiga, konsep ini berangkat dari asumsi yang salah tentang penguasaan bhs Inggris sebagai bahasa pengantar dan hubungannya dengan nilai TOEFL. Penggagas mengasumsikan bahwa untuk dapat mengajar hard science dalam pengantar bahasa Inggris maka guru harus memiliki TOEFL> 500. Padahal tidak ada hubungan antara nilai TOEFL dengan kemampuan mengajar hard science dalam bhs Inggris. Skor TOEFL yang tinggi belum menjamin kefasihan dan kemampuan orang dalam menyampaikan gagasan dalam bahasa Inggris. Banyak orang yang memiliki nilai TOEFL<500 yang lebih fasih berbahasa Inggris dibandingkan orang yang memiliki nilai TOEFL > 500 . Singkatnya, menjadikan nilai TOEFL sebagai patokan keberhasilan pengajaran hard science bertaraf internasional adalah asumsi yang keliru. TOEFL lebih cenderung mengukur kompetensi seseorang, padahal yang dibutuhkan guru sekolah bilingual adalah performance- nya, dan performance ini banyak dipengaruhi faktor-faktor non-linguistic. TOEFL bukanlah ukuran kompetensi pedagogik

KETIDAKPAHAMAN

• Keempat, penggagas ide ini nampaknya juga tidak paham bahwa tidak semua orang (terutama guru PNS!) bisa ‘dijadikan’ fasih berbahasa Inggris (apalagi mengajar dengan menggunakan bahasa Inggris) meskipun orang tersebut diminta untuk tinggal dan hidup di negara yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa sehari-hari. Sebagai ilustrasi, bahkan masih banyak guru-guru kita di daerah-daerah yang belum mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan fasih dalam mengajar! Sebagian dari guru kita di tanah air ini masih menggunakan bahasa daerahnya dalam mengajar meski tinggal dan hidup di lingkungan yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar. Hal ini menunjukkan bahwa adalahtidak mungkin ‘menyulap’ para guru hard science agar dapat fasih berbahasa Inggris (apalagi memperoleh nilai TOEFL>500 seperti persyaratan dalam buku Panduan Penyelenggaran Rintisan SBI tersebut) meski mereka dikursuskan di sekolah bahasa Inggris terbaik.

KEMUSTAHILAN

Berdasarkan pendapat para guru bahasa Inggris senior susah sekali untuk menjadikan orang dewasa yang tidak berbahasa Inggris sama sekali untuk menguasai bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari apalagi untuk meminta mereka untuk mentransfer konsep pengajaran dalam bahasa Inggris. Jadi untuk mengubah guru yang tidak berbahasa Inggris untuk mengajar dalam bahasa Inggris dengan mengirimkan mereka ke institusi/kursus bahasa Inggris yang terbaik sekalipun adalah HAL YANG MUSTAHIL. Ini menyangkut teori otak juga dimana Bahasa akan mudah dipelajari oleh otak dari usia dini 0-6 tahun. Di usia 6-12 untuk mempelajari suatu bahasa akan memakan waktu lebih lama dan sulit, sedangkan diatas 12 tahun lebih sulit lagi untuk menguasai suatu bahasa.

KEGAGALAN KOMUNIKASI

• Kelima, dengan penekanan pada penggunaan bahasa Inggris sebagai medium of instruction di kelas oleh guru-guru yang baik kemampuan penguasaan materi, pedagogi, apalagi masih struggling in English jelas akan membuat proses KBM menjadi kacau balau. Program ini jelas merupakan eksperimen yang berresiko tinggi yang belum pernah diteliti dan dikaji secara mendalam dampaknya tapi sudah dilakukan di ratusan sekolah yang sebetulnya merupakan sekolah-sekolah berstandar “A”. Program ini sangat beresiko. Ratusan sekolah-sekolah berstatus Mandiri yang diikutkan program ini beresiko besar untuk mengalami kekacauan dalam proses KBM-nya. Berharap target yang tinggi dari guru yang tidak kompeten (atau kompetensinya merosot karena harus menggunakan bahasa asing) adalah kesalahan yang sangat fatal. Resiko kegagalannya sangat besar untuk ditanggung. Program SBI ini bakal menghancurkan best practices dalam proses KBM yang selama ini telah dimiliki oleh sekolah-sekolah Mandiri yang dianggap telah mencapai standar SNP tersebut.

PROGRAM“SBI” TELAH GAGALDI MALAYSIA

• Keenam, Negara Malaysia telah lebih dahulu membuat program semacam ini dan program “SBI” di Malaysia telah GAGAL. Pengalaman negara Malaysia dengan program pengajaran sains dan matematik di sekolah-sekolah di Malaysia dengan menggunakan bahasa pengantar bhs Inggris[disebut PPSMI] yang telah dimulai sejak tahun 2003 akan dihentikan pada 2012 nanti karena dianggap GAGAL. Dari satu hasil riset skala besar yang melibatkan pakar dari sembilan universitas negeri di Malaysia dan lebih dari 15 ribu siswa, PPSMI ini memang tidak menghasilkan apa yang diharapkan pencetusnya. Yang bisa survive hanya sekolah yang berada di kota besar dan sekolah berasrama di kota; jenis sekolah lainnya nyaris tanpa ampun terjadi degradasi penurunan mutu. Jadi alih-alih akan meningkatkan mutu pembelajaran Matematika dan IPA yang terjadi justru sebaliknya. Jadi sungguh salah besar jika kita justru akan mengulangi kesalahan yang dilakukan oleh negara Malaysia.

KESALAHAN ASUMSI (LAGI)

• Ketujuh, kritik paling mendasar barangkali adalah kesalahan asumsi dari penggagas sekolah ini bahwa Sekolah BERTARAF internasional itu harus diajarkan dalam bhs asing (Inggris khususnya) dengan menggunakan media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD . Padahal negara-negara maju seperti Jepang, Perancis, Finlandia, Jerman, Korea, Italia, dll. tidak perlu menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar jika ingin menjadikan sekolah mereka BERTARAF internasional.Sekolah kita pun sebenarnya tidak perlu harus mengajarkan materi hard science dalam bhs Inggris supaya dapat dianggap bertaraf internasional. Kurikulumnyalah yang harus bertaraf internasional atau dalam kata lain tidak dibawah kualitas kurikulum negara lain yang sudah maju. Jadi fokus kita adalah pada penguatan kurikulumnya. Penguatan kemampuan berbahasa Inggris bertaraf internasional bisa dilakukan secara simultan dengan memberi pelatihan terus menerus kepada guru-guru bhs Inggris yang mempunyai beban untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam berbahasa Inggris. Selama ini siswa-siswa kita yang melanjutkan pendidikannya di luar negeri tidak pernah diminta untuk mempunyai persyaratan berstandar Cambridge, umpamanya. Jika mereka memiliki tingkat penguasaan yang tinggi dalam bidang studi dan mereka mampu memiliki kompetensi berbahasa Inggris yang baik maka mereka selalu bisa masuk ke perti di luar negeri. Bukankah selama ini mereka tidak pernah ditest masuk dengan menggunakan materi Matematika, Fisika, kimia, Biologi, dll dalam bhs Inggris? Lantas mengapa mereka harus dilatih sejak awal untuk memahami materi bidang studi tersebut dalam bhs Inggris (oleh guru yang tidak memiliki kompetensi memadai untuk itu)?

PROSES, DAN BUKAN ALAT

• Kedelapan, Penekanan pada penggunaan piranti media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD juga menyesatkan seolah tanpa itu maka sebuah sekolah tidak bisa bertaraf internasional. Sebagian besar sekolah hebat di luar negeri masih menggunakan kapur dan tidak mensyaratkan media pendidikan mutakhir dan canggih seperti laptop, LCD, dan VCD sebagai prasyarat kualitas pendidikan mereka. Program ini nampaknya lebih mementingkan alat ketimbang proses. Padahal pendidikan adalah lebih ke masalah proses ketimbang alat.

PENDIDIKAN BERMUTU BUKAN HANYA UNTUK ANAK CERDAS BERBAKAT

• Kesembilan, kesalahan mendasar lain adalah asumsi dan anggapan bahwa Sekolah Bertaraf Internasional hanyalah bagi siswa yang memiliki standar kecerdasan tertentu. Sekolah yang bertaraf internasional dianggap tidak bisa diterapkan pada siswa yang memiliki tingkat kecerdasan rata-rata. Ini juga mengasumsikan bahwa SNP (Standar Nasional Pendidikan) hanyalah bagi mereka yang memiliki tingkat kecerdasan ‘rata-rata’. Ini adalah asumsi yang berbahaya dan secara tidak sadar telah ‘mengkhianati’ SNP itu sendiri karena menganggapnya sebagai ‘tidak layak’ bagi siswa-siswa cerdas Indonesia. Lantas untuk apa Standar Nasional Pendidikan jika dianggap belum mampu untuk memberikan kualitas yang setara dengan standar internasional? Ini juga paham yang diskriminatif dan eksklusif dalam pendidikan dan menganggap kecerdasan intelektual yang menonjol merupakan segala-galanya sehingga perlu mendapat perhatian dan fasilitas lebih daripada siswa yang tidak memilikinya.

SBI = PEMBOHONGAN PUBLIK

• Kesepuluh, dengan program SBI ini Depdiknas memberikan persepsi yang keliru kepada para orang tua, siswa, dan masyarakat bahwa sekolah-sekolah yang ditunjuknya menjadi sekolah Rintisan tersebut adalah sekolah yang ‘akan’ menjadi Sekolah Bertaraf Internasional dengan berbagai kelebihannya. Padahal kemungkinan tersebut tidak akan dapat dicapai atau bahkan akan menghancurkan kualitas sekolah yang ada. Dan ini adalah sama dengan menanam “bom waktu’. Masyarakat akan merasa dibohongi dengan program ini dan pada akhirnya akan menuntut tanggungjawab pemerintah yang mengeluarkan program ini.

MENCIPTAKAN KESENJANGAN SOSIAL

• Kesebelas, Program SBI ini di lapangan ternyata menciptakan kesenjangan sosial pada siswa. Program SBI menjadikan sekolah yang mengikutinya menjadi eksklusif dan menciptakan kastanisasi karena hanya bisa dimasuki oleh anak-anak kalangan menengah ke atas. Tingginya pembiayaan yang dikenakan pada orang tua siswa membuat sekolah-sekolah SBI ini tidak dapat dimasuki oleh anak-anak dari kalangan bawah. Akibatnya terjadi kesenjangan sosial di sekolah. Sekolah publik TIDAK boleh berprilaku seperti sekolah swasta.

KOMERSIALISASI PENDIDIKAN

• Keduabelas, Salah satu kritik terbesar dari masyarakat tentang SBI ini adalah bahwa program ini telah memberi legitimasi kepada sekolah untuk melakukan komersialisasi pendidikan. Pendidikan diperdagangkan justru oleh pemerintah yang seharusnya memberikan pelayanan pendidikan kepada rakyatnya secara gratis dan juga bermutu. Komersialisasi pendidikan ini adalah pengkhianatan terhadap tujuan pendirian bangsa dan negara. Saat ini sekolah-sekolah publik RSBI bahkan telah menjadi lebih swasta dari swasta dalam memungut biaya pada masyarakat.

APA ITU ‘BERTARAF INTERNASIONAL’?

Sebagai pamungkas dari kritik saya atas program ini dengan ini saya sampaikan bahwa program ini sudah ngaco berat sejak dari UU-nya. UU yang mencantumkan tentang program ini harus di judicial review. Coba perhatikan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas pasal 50 ayat (3) yang berbunyi, “Pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan, untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan yang bertaraf internasional.” Perhatikan baik-baik istilah satuan pendidikan yang bertaraf internasional tersebut dan coba tanyakan pada siapa saja di Kemendiknas apa sebenarnya yang dimaksud dengan satuan pendidikan yang bertaraf internasional tersebut. Istilah ini tidak pernah dikenal sebelumnya dan tidak jelas apa acuan, kriteria dan apalagi rujukan akademiknya. Istilah ini muncul begitu saja dari langit dan dimasukkan ke dalam UU Sisdiknas.

APA RUJUKAN AKADEMIK ‘SNP + X’?

Apakah sebenarnya satuan pendidikan yang bertaraf internasional itu? Apakah kalau menggunakan bahasa Inggris, berbasis IT, berfasilitas wah, dlsbnya maka sekolah tersebut bisa disebut satuan pendidikan yang bertaraf internasional? Apa rujukan akademik yang digunakan ketika menyatakan bahwa sekolah yang begini dan begitu adalah ‘bertaraf intenasional’? Apa rujukan ilmiah yang digunakan ketika merumuskan bahwa SNP + X = bertaraf internasional? Apakah jika standar yang kita gunakan itu sama atau setara dengan standar yang digunakan oleh negara-negara OECD, umpamanya, maka itu akan membuat satuan pendidikan kita menjadi ‘bertaraf internasional’? Apa sebenarnya yang ada dalam benak si pembuat UU ketika ia memasukkan istilah ‘bertaraf internasional’ tersebut?

BERTARAF INTERNASIONAL UJIANNYA NASIONAL?

Lagipula, bukankah sangat ganjil jika sebuah UU Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) tiba-tiba memunculkan sebuah istilah ‘bertaraf internasional’ tersebut? Mau dimasukkan ke mana dan dengan konstelasi bagaimana sebuah sistem pendidikan yang ‘bertaraf internasional’ bisa dianggap sebagai pamuncak dari standar dalam sebuah Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)? Alangkah ganjilnya jika sebuah sekolah yang bertaraf INTERNASIONAL tapi kemudian masih harus mengikuti sebuah UJIAN NASIONAL!

Tidak mungkin sekolah harus mempersiapkan siswa untuk mengikuti DUA SISTEM UJIAN yang berbeda (nasional dan internasional) karena itu SANGAT MEMBERATKAN guru dan siswa serta tidak bermanfaat.

APA GANTINYA?

Program SBI jelas salah konsep, tidak sesuai dengan semangat nasionalisme, dan tidak sesuai untuk semua kalangan. Untuk itu bangsa kita hanya memerlukan SATU standar yaitu SSN (Sekolah Standar Nasional) yg bermutu tinggi dan GRATIS. Pemerintah perlu mengembangkan SSN menjadi sebuah standar pendidikan yang terbaik yang bisa dicapai oleh bangsa Indonesia. Kita tidak memerlukan LABEL ‘internasional’ untuk dapat bersaing dengan bangsa-bangsa lain

HENTIKAN PROGRAM SBI

Mari kita hentikan program SBI yang konsepnya asal-asalan ini karena justru akan merugikan kualitas pendidikan kita. Program ini tidak akan mungkin berhasil meski diguyur dengan dana seberapa pun dan dalam jangka waktu berapa pun karena memang sudah SALAH DESAIN dan juga telah TERBUKTI GAGAL di negara lain. Dalam prakteknya program SBI ini juga mengkhianati rakyat kecil yang justru lebih membutuhkan pendanaan dan perhatian yang lebih besar ketimbang anak-anak cerdas kita. Anak-anak cerdas kita SELALU bisa menunjukkan kehebatan maupun kompetensinya di mana pun dan kapan pun tanpa harus dijadikan ‘gladiator’ di sekolah.

Jakarta, 19 Juli 2010

Sumber: Catatan Satria Dharma di FB

About these ads

Responses

  1. mau dibawa kemana pendidikan di negara ini, sertifikasi saja sudah acak2an dan ini ditambah lagi SBI….

  2. seperti bertambah beban bagi kami guru di sekolah sbi,maupun rsbi…kemampuan komunikasi bahasa inggris kadang tidak membuat anak didik mengerti apa yang kita ajarkan…malah menjadikan mereka bingung…apalagi bila terjadi kesalahan ucapan dari kami….

  3. Sejalan dengan pemikiran Pak Darma. Yang paling penting dibenahi adalah proses KBM, kemampuan paedagogi guru-guru di Indonesia, serta di penuhinya fasilitas sekolah yang mencukupi. Ketiga hal ini dahululah yang harus distandarkan dengan sebuah standar nasional. Menurut hasil riset yang baru saja saya lakukan di sebuah kota di sumatera bahwa guru bersertifikasi pun ternyata belum pantas dikatakan layak ‘certified’ karena belum memiliki teaching practice dan pedagogy skill yang baik. Masih guru konvensional dan tidak menunjukkan manfaat dari program sertifikasi tersebut.

  4. Saya menganggap, RSBI adalah sebuah kemasan iklan yang menyesatkan, dan masyarakat sudah terpengaruh iklan tsb. untungnya yang masuk ke Sekolah RSBI adalah anak2 orang kaya dan dgn seleksi yang ketat tentunya mendapatkan input siswa yang bagus. tapi, saya cemas,
    - RSBI adalah sekolah Eklusive?
    - ini dapat melunturkan budaya dan kepribadian bangsa?
    - siswa2 RSBI akan kurang mampu beradaptasi pada lingkungan yang keras.

  5. Saya gembira pak Satria Dharma telah mau menurunkan langsung tulisannya di atas di forum ini. Mudah-mudahan hal ini menjadi bahan kajian bagi para pengambil kebijakan, untuk kemudian mengambil kebijakan bijak.

    Untuk skop kecil di daerah, kami jauh-jauh hari di tahun 2006 telah mengingatkan peserta pelatihan: ‘pembelajaran MIPA SMA Bilingual’ — cikal bakal RSBI, untuk tidak memaksakan diri mengajar dengan bahasa Inggris.
    Memaksakan diri artinya. guru meninggal tujuan pembelajaran MIPA hanya karena mau tampil dalam bhs Inggris dalam PBM, padahal kemampuan bhs Inggris gurunya, maaf, masih di bawah standar. Saya punya sahabat di kota Malang yang anaknya keluar dari sekolah RSBI untuk pindah ke yang non RSBI; padahal anak dia adalah penutur bhs Inggris yang cukup fasih, karena dia dibesarkan di Australia.
    Komentar si anak: bahasa Inggris gurunya bagus…, tapi saya tidak paham…!

    Saya mendukung pendapat Sdr Satria Dharma dan Harris Effendi, walaupun sebagai staf kantoran, saya sudah cukup sering ditugasi pimpinan untuk ‘membina guru RSBI’ dalam berbagai kegiatan.
    Marilah ita smua berpikir untuk menagmbil pilihan yang bijak…; bukankah, pikir itu pelita hati?

  6. Sudahkah p’ Darma yg terhormat menurunkan tulisannya berdasarkan hasil penelitian? apakah memang tidak terjadi peningkatan mutu di sekolah RSBI? Logis saja seandainya ndak ada peningkatan mutu di sekolah RSBI tidak akan ada orang tua yang memasukkan anaknya ke sekolah RSBI. Orang tua siswa saat ini bukan lah orang bodoh tanpa melihat fakta dan kenyataan, bahkan banyak orang tua di sekolah RSBI itu para intelektual dan pejabat terpandang, logis saja kalo mang ndak ada terjadi peningkatan mutu guru dan mutu siswa di RSBI maukah para orang tua mengeluarkan uang lebih dari sekolah biasa? kenapa arang tua dan siswa berbondong2 dan berduyun2 untuk dapat di terima di RSBI melalui serangkaian tes yang berat? bukankah banyak sekolah pilihan lain? kenapa RSBI yang di serbu peminat. seperti yang dikatakan p’ Satria Darma mari kita bicara dengan fakta dan data, jangan hanya melalui opini aja.

    Hakikat dari semua perubahan dalam duania pendidikan adalah bagai mana meningkatkan mutu pendidikan dengan berbagai cara dan jalan. salah satunya adalah dangan sekolah RSBI menuju SBI.

    Benarkah RSBI dan SBI tidak meningkatkan mutu pendidikan ? mari kita cari data dan faktanya, dan jangan beropini.

    Terimakasih, wassalam
    Desmalinda

    • Saya tentu tidak akan bicara kalau tanpa data dan fakta. Seperti yang saya sampaikan bahwa program bilingualisasi ini TELAH GAGAL di Malaysia. Nama programnya adalah PPSMI dan bahkan telah dimulai sejak 2003 tapi dianggap gagal dan justru membuat kualitas pendidikan di Malaysia merosot.
      Selain itu program ini telah diteliti oleh peneliti seperti Hywel Coleman, John Clegg, dan A. Kustulasari. Coleman bahkan menuliskan tulisan yang ‘nylekit’ dengan judul “Indonesia’s ‘International Standard Schools’ : What are they for?”
      Untuk apa SBI itu?
      Saya bahkan BELUM PERNAH membaca adanya data dan fakta yang menunjukkan keberhasilan program ini. Jika Anda memilikinya mohon disampaikan di media ini atau bisa langsung pada saya. Jangan segan-segan kalau memang ada data dan fakta yang mendukung keberhasilan program SBI ini.

  7. betul apa kata bu desmalinda…

    Benarkah RSBI dan SBI tidak meningkatkan mutu pendidikan ? mari kita cari data dan faktanya, dan jangan beropini.

    saya setuju!!!

  8. Terima kasih K’ Septi dukungannya, mang itu yg kita perlukan saat ini,
    Ada ide peningkatan mutu pendidikan harusnya kan kita dukung, kalo terjadi kelemahan kan harus kita evaluasi dan perbaiki bukannya di bubarkan.
    Jangan pandai hanya mengkritik dan beorasi, tp ndak ada tindakan nyata untuk memperbaharui mutu Pendidikan di negri ini.
    Coba cari data dan fakta RSBI dan SBI ndak meningkatkan mutu pendidikan, coba berikan solusi lain untuk peningkatan mutu pendidikan. dan iringi dengan tindakan nyatanya, jangan memberikan teori lagi, kalo ber teori semua orang bisa lakukan.

  9. Lam kenal, hemat saya sepanjang konsep itu baik dan tidak memberatkan pihak lain bahkan merugikan pihak lain, go head aja, karena pada dasarnya kita hidup ini untuk fastabiqul khairat. thanks

  10. saya setuju atas tulisan dari pak Darma , tapi memang harus dikdukung dari data yag valid, sebaiknya dilakukan penelitian ke arah sana supaya persoalan, RSBI ini bisa selesai, karena pengalaman di sekolah yang melaksanakan RSBI guru, belum sepenuhnya mampu melakukan apa yang disyaratkan dalam pembelajaran bilingual, semoga ini jadi PR buat kita semua untuk memajukan Pendidikan di Indonesia.

  11. komentar untuk ibu Desmalinda: Anda betul, kebanyakan orang tua yang memasukkan anaknya kesekolah RSBI itu orang berada dan berpendidikan tinggi. Tetapi mereka tidak punya waktu banyak untuk berpikir mendalam tentang makna pendidikan dan mencari informasi cukup ketika memilihkan sekolah untuuk putra-putri mereka. Saya mengajar di sekolah SBI dan siswa-siswa saya meneliti motivasi orang tua mengirim anak mereka ke sekolah ini hasilnay adalah mayoriats orang tua bahkan tidak tahu apa sesungguhnya kriteria sekolah bermutu itu. Sebagian besar melihat dari fasilitas termasuk silau dengan hadirnya guru bule.

  12. Saya senang membaca tulisan Pak Satria Darma dan juga tulisan ibu Desmalinda.
    Pak Darma melihat RSBI dari arah atas dari skop indonesia…namun ibu darma cuma melihat RSBI hanya untuk skop kota padang….
    Yang jelas RSBI kan cuma label…bisa menjadi Berstandar Internasional atau bertarif Internasional

  13. Saya salut dengan tulisan Pak Satria Darma, opininya luar biasa orang seperti beliau sangat diperlukan untuk mengkritisi ,,,,lha siapa lagi kalau bukan Pak Satria Darma, kalau kebijakannya yang menyulitkan rakyat kecil opo kita nunut terus…. biaya pendidikan membengkak?, akses pendidikan terbagi dua sekolah kaya dan sekolah miskin, apa ini yg dimaksud dengan kualitas?ada pembagian kasta dalam pendidikan di indonesia, satu bukti yg saya sampaikan bahwa data otentik yang saya dapatkan dari teman saya yang mengajar di SBI, banyak keluhan….. dan jujur dia mengeluarkan uneg2nya kalau mengajar di SBI proses pembelajaran tak lg bilingual tapi daerahngual….dan ini yang terjadi karena siswa kurang mengerti !!, al hasil bukan lagi SBI tapi Sekolah bertaraf Indonesia…ha…ha…ha

  14. wacana menarik. Bisa jadi bahan pertimbangan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: