Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 4, 2010

Pemberdayaan Profesi Guru Melalui Karya Ilmiah

Pemberdayaan Profesi Guru Melalui Karya Ilmiah

Oleh Drs. MARIJAN
(Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta)

Drs. Marijan Guru SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta dan Anggota KGI Kulon Progo DIY

GURU merupakan pilar penting dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Artinya sekali pun perangkat lunak dan keras diusahakan keberadaannya secara  maksimal, apabila guru ditelantarkan ibarat memberi garam air laut, tak ada gunanya. Oleh karena itu guru harus diberdayakan seoptimal mungkin, jika ingin meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu terobosan meningkatkan kualitas guru dengan menggiatkan karya  ilmiah kepadanya.

Asumsi bahwa kemampuan  melakukan  karya ilmiah sebagai indikator kualitas guru, selama ini masih dibenarkan. Guru yang mampu melakukannya tentu mempunyai jangkauan wawasan jauh ke depan. Sedangkan peningkatan kualitas guru identik dengan peningkatan wawasan ke depan guru itu sendiri. Namun penelitian Prof. Dr. Saidihardjo (1993) dalam Suroso (2002) menunjukkan bahwa  85% guru-guru SMP dan SMA  kesulitan menulis karya ilmiah, menulis buku, dan menuliskan laporan hasil penelitian.

Kalau kita cermati beberapa kendala memang membelit guru pada umumnya. Kendala-kendala itu antara lain: Pertama, sebagian besar belum pernah melakukan kegiatan karya ilmiah. Karena belum pernah melakukan kegiatan ini mereka banyak yang kurang memahami seluk beluk metodologi dan tata tulis laporan hasil penelitian maupun karya ilmiah yang lain. Minimnya pengetahuan dasar mengenai kegiatan karya tulis ini jelas tidak akan  melahirkan motivasi untuk melakukannya. Sehingga wajar apabila karya ilmiah merupakan kegiatan yang sangat sulit untuk dilakukannya.

Kedua, terbenturnya faktor ekonomi. Semua orang tahu,  gaji guru tidak membuat silau si tukang batu sedangkan anak dan istri di rumah menunggu. Keadaan yang demikian ini memaksa guru mengais terobosan baru untuk menopang ekonomi keluarga. Ada yang nyambi sebagai tukang ojek, peternak, petani, pedagang dan lain-lain yang menuntut pembagian pikiran dan kesempatan di samping tugas-tugas sebagai guru.

Akibatnya guru terlalu sibuk bekerja selain tugas guru. Guru kurang banyak  membaca baik ilmu pengetahuan maupun berita. Padahal gemar membaca  merupakan modal awal dalam kegiatan karya ilmiah. Kekurangjelian guru mencari permasalahan-permasalahan pendidikan yang perlu diteliti dan ditulis adalah dampak kurangnya membaca dalam keseharian. Hal ini disebabkan dua kemungkinan yang membelitnya yaitu tak ada dana untuk membeli bahan bacaan ( buku, majalah, tabloid,dan koran ) atau tidak ada kesempatan untuk membaca.

Ketiga, beban tugas administrasi guru yang berlebihan. Di samping mengajar di depan kelas, guru masih diwajibkan membuat seabrek tugas administrasi seperti prota, promes, RP, SP, evaluasi, analisis hasil evaluasi, catatan harian yang semuanya itu akan menyita waktu untuk memikirkan kegiatan karya ilmiah tersebut. Guru seakan-akan ditelikung oleh tugas-tugas yang demikian banyak.

Keempat, mahalnya kegiatan pembimbingan karya ilmiah. Oleh karena mahal untuk ukuran guru maka jarang guru yang bersedia mengikuti kegiatan ini. Lebih mengecewakan lagi kegiatan pembimbingan guru jarang diadakan. Dan tidak mustahil guru-guru tidak pernah menerima pembimbingan karya ilmiah. Padahal kegiatan pembimbingan mestinya dilakukan secara suka rela, rutin, dan merata. Dalam kegiatan pembimbingannya pun  pemadatan  teori sering dilakukan dan sebenarnya sangat perlu dihindari.

Kelima, terhalang opini publik yang menganggap hanyalah seorang guru. Kegiatan karya ilmiah oleh guru sering tidak dihargai publik. Karya ilmiah  guru yang dikirimkan ke penerbit harian umum sering tak mendapat tempat. Padahal tentang seluk beluk siswa di sekolah lebih memahami dan pembahasannya pun sering lebih pas serta mudah diterima masyarakat. Namun apabila permasalahan itu dibahas pula oleh seorang doktor,  tulisan  guru terbuang di bak sampah penerbit. Keadaan yang demikian ini juga ikut menyebabkan timbulnya rasa bosan menulis  bagi seorang guru di media masa.

Keenam,  adanya isu hasil penelitian atau karya ilmiah yang dinilaikan di Depdiknas (bagi guru golongan IVa – IV b) tidak menggembirakan. Ada hasil penelitian yang tidak mendapat nilai.  Isu yang demikian ini jelas tidak mendorong/memotivasi guru-guru yang belum melaksanakan penelitian karya ilmiah.

Kualitas  pendidikan

Berbicara tentang kualitas pendidikan sesungguhnya tidak bisa melepaskan keberadaan serta peranan guru. Hanyalah sekolah dengan guru-guru berkualitas tinggi yang dapat menghasilkan lulusan berkualitas. Seperti dikemukakan Mukhtar (2003). Tanpa guru berkualitas tinggi  mustahil kiranya sekolah meluluskan siswa berkualitas baik. Untuk itu kiranya tak ada keraguan lagi bahwa kualitas guru perlu ditingkatkan seiring dengan perkembangan jaman. Pemerintah pun melalui Kep. Mendiknas No.013/U/2002 mengupayakan menjamin kalitas dan kelangsungan pembinaan karir guru, maka menetapkan angka kredit jabatan fungsional guru dalam penelitian dan karya ilmiah. Peningkatan dimaksud meliputi wawasan ke depan, kejelian terhadap permasalahan pendidikan, serta penemuan strategi pembelajarannya melalui kegiatan penelitian dan karya ilmiah.

Dengan menengok berbagai kendala di atas peningkatan kualitas pendidikan  melalui pemberdayaan guru melalui karya ilmiah perlu segera direalisasikan di lapangan. Untuk itu guru perlu diakrabkan dengan kegiatan penelitian dan karya ilmiah dalam suasana baru yang lebih kondusif. Suasana yang menggugah para guru untuk menumbuhkan minat menulis, bersemangat dan mantap meneliti serta tidak bosan terhadap kegiatan semacam ini.

Suroso (  2002 ) memberikan anjuran tentang langkah-langkah yang perlu dilakukan guru  dalam menumbuhsuburkan kegiatan  berkarya ilmiah : 1) Guntinglah informasi yang ditulis wartawan berkaitan dengan seminar, pernyataan pejabat dan tokoh penting, sosialisasi peraturan dan perundangan, bahkan kontoversi berbagai pendpat. Dari informasi tersebut penulis dapat menyikapi informasi itu untuk dipahami dan dijadikan bahan opini,  2) Sususnlah butir-butir pemikiran atas apa yang telah dibaca untuk memperoleh solusi, pemecahan dan saran-saran. Untuk membiasakan menulis seyogyanya para guru mempunyai buku harian yang dapat digunakan untuk mencatat berbagai peristiwa sebagai bahan tulisan, 3) Banyaklah membaca buku agar kaya akan teori untuk memperkuat argumen dalam tulisannya, 4) Tuangkan ide-ide yang ada dalam tulisan dengan memperhatikan struktur bahasa, logika bahasa, susunan kalimat, bentukan kata, pemakaian ejaan dan tanda baca yang baik. Apabila akan dikirimkan ke penerbit hendaknya jumlah halaman tidak melebihi 6 halaman dengan  spasi ganda dalam kertas kuarto dengan ukuran huruf 12 untuk Time Roman dan  5) Revisilah tulisan yang telah  jadi sekurang – kurangnya dua kali agar lebih teliti sebelum dikirimkan ke sebuah penerbit.

Dalam kaitannya penggiatan karya ilmiah guru, langkah yang perlu ditempuh pemerintah adalah : Pertama, meningkatkan kepedulian Depdiknas terhadap kegiatan  karya ilmiah guru. Kepedulian ini dapat diwujudkan  dalam berbagai bentuk misalnya pemberian dana untuk penelitian, pembimbingan, serta kearifan menyisihkan dana lain untuk kegiatan penelitian dan karya tulis.

Pembimbingan dari Depdiknas dan PGRI hendaknya lebih sering dilakukan. Jika perlu entah itu guru inti, instruktur, kepala sekolah maupun pengawas mempunyai tugas  membimbing karya ilmiah bagi guru-guru yang ada dalam tanggung jawabnya. Sedangkan kearifan menyisihkan dana lain misalnya dana kegiatan penataran, evaluasi,pengayaan, MGMP bisa diperkecil dan sebagian untuk memperbanyak frekuensi pembimbingan atau pelatihan penelitian dan karya tulis.

Kedua, memfungsikan lembaga guru yang ada untuk memberdayakan  kegiatan karya ilmiah. PGRI adalah organsasi  induk guru, hendaknya  mengupayakan peningkatan kualitas anggotanya. Perlu membudayakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya pengembangan profesi guru misalnya seminar wawasan ke depan bagi guru, penelitian ilmiah tentang pendidikan, pengkajian terhadap masalah pendidikan yang ada di lingkungan. MGMP juga merupakan organisasi  guru, hendaknya tidak terkesan pada kegiatan yang   sifatnya rutinitas dari tahun ke tahun. Perlu mengambil waktu untuk karya ilmiah.

Ketiga, hubungan Depdiknas dengan media massa perlu dipererat. Depdiknas dapat bekerja sama dengan media massa untuk menyediakan ruang opini khusus bagi guru. Atau untuk lebih menggairahkan potensi menulis opini  tentang pendidikan yang notabene termasuk karya ilmiah popular (KIP) di media massa perlu diadakan semacam lomba bagi guru. Dari sini  tulisan guru akan mendapat tempat yang layak. Jika penerbit merasa kurang diuntungkan honorarium penulis bagi guru diatur tersendiri, dalam arti lebih rendah daripada penulis senior.

Jika langkah tersebut dapat diwujudkan saya yakin para guru akan termotivasi, terdorong dan bersemangat melakukan kegiatan karya ilmiah. Berawal dari inilah wawasan guru akan selalu ditingkatkan dan kegemaran  membaca sebagai prasyarat menulis dirasakan menjadi suatu kebutuhan hidup.

Kegiatan karya ilmiah sangat relevan dengan konsep kurikulum berbasis kompetensi dan manajemern berbasis sekolah. Guru yang telah akrab dengan kegiatan karya ilmiah  niscaya akan mengimbaskan ketrampilannya kepada peserta didik. Siswa yang dididik meneliti dan menulis oleh guru yang sudah berpengalaman tentang dunia kepenulisan akan bersemangat meneliti dan menulis. Gilirannya akan tercipta generasi masa depan yang trampil meneliti dan pandai menulis. Itulah hakekat pendidikan  yang berwawasan pembentukan keunggulan peserta didik

About these ads

Responses

  1. salam Pak Marijan, kebetulan ketemu dengan rekan Jogja di blog ini, makasih banget sharingnya :) Memang di tengah kesibukan, menulis karya ilmah mampu meningkatkan kapasitas para guru, termasuk ngeblog juga :) salam

  2. Bagus tulisannya Pak Marijan. tq


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: