Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 4, 2010

Kualitas Guru Rendah, Benarkah ?

Kualitas Guru Rendah, Benarkah ?

Oleh Drs. MARIJAN
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

MENGAPA kualitas guru rendah ?  Pertanyaan seperti ini tak henti-hentinya muncul  di benak penulis. Di akhir renungan, penulis mengatakan betapa tidak adilnya masyarakat menilai guru. Guru dituding sebagai biang kerok penyebab rendahnya kualitas pendidikan. Sebagai contoh, bila didapatkan siswa bersikap tidak menggembirakan atau NEM-nya rendah spontan guru dipaksa menerima tudingan pertama sebagai tidak berhasil mendidik  dan mengajar. Namun jika didapatkan siswa sukses, orang tua mereka bergegas merebut kesempatan untuk segera mengaku  bahwa anaknya berhasil

Ini pertanda bahwa profesi guru dipandang masyarakat dengan sebelah mata. Secara diam-diam atau terang-terangan masyarakat menilai guru sekarang kurang berkualitas. Guru sekarang tidak dapat diteladani, tidak menghasilkan siswa yang disiplin, santun, hemat, berpikir kreatif dan berwawasan ke depan. Pendek kata guru sebagai keranjang sampah ketidakberhasilan pendidikan. Dalam keadaan demikian guru diberi label kurang berkualitas.

Sesungguhnya kualitas guru kita beragam, ada yang tinggi, cukup dan memang banyak yang rendah. Mengapa banyak yang berkualitas rendah ?  Pertama, nilai UAN digunakan sebagai tolok ukur penilaian guru. Baik masyarakat awam maupun yang bergelut dalam dunia pendidikan dengan mantap mengindentikkan  banyak sedikitnya  jumlah kelulusan dalam suatu sekolah  dengan kualitas gurunya.

Sebagai bukti masyarakat memberi nilai plus kepada guru-guru sekolah favorit. Agaknya masyarakat lupa  bahwa input  sekolah favorit  merupakan hasil seleksi  dari anak-anak berkualitas, sehingga walau terlepas dari proses pembelajaran di dalamnya, tidak mustahil  mereka pun menjadi siswa yang berkualitas. Beruntunglah, guru yang mengajar di sekolah favorit  karena mendapat serpihan kebahagiaan dari kualitas otak siswa mereka.

Kalau kita simak secara nasional, jumlah sekolah yang ada di pelosok jauh lebih banyak  dibandingkan dengan yang ada di kota.  Padahal dengan segenap keterbatasan yang ada, sekolah di pelosok sulit sekali melahirkan seorang  siswa dengan nilai UAN tinggi. Akibatnya dapat ditebak, rata-rata kualitas siswa secara nasional rendah. Dominasi kualitas siswa yang rendah inilah yang lalu dihubungkan  dengan kualitas guru-guru mereka.

Kedua, tidak ada kaderisasi guru berkualitas. Apabila di pelosok            (kualitas siswanya rendah) ada guru yang berkualitas cepat-cepat dipindahtugaskan ke sekolah yang telah  maju/ berkualitas. Ini berarti guru-guru yang  berkualitas dikumpulkan di pusat perkotaan. Kebijakan seperti ini diartikan sebagai pemenuhan  kepentingan sekelompok kecil namun menganaktirikan kepentingan kelompok besar, yaitu sekolah-sekolah di pedesaan. Mestinya guru yang berkualitas tersebut difungsikan sebagai kader di sekolah pelosok tempat ia mengajar dan tidak perlu dipindahtugaskan. Apabila kebijakan seperti ini terus – menerus dilakukan dapat dipastikan guru-guru di pelosok berkualitas rendah selama-lamanya.

Ketiga, pemerintah tidak tegas  menentukan letak akar penyebab rendahnya kualitas guru. Pengakuan  diri secara objektif dari instansi pendidikan yang terkait tidak pernah kita dengar. Penilaian masyarakat mengenai kurang berkualitasnya guru sebenarnya merupakan pukulan keras  yang menonjok Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan ( LPTK ) sebagai pencetak guru. Sayangnya LPTK dengan enteng berdalih bahwa mahasiswa mereka tidak berkualitas karena sebagian besar berasal dari pelosok atau mahasiswa buangan. Mahasiswa pun tidak mau diam, mereka lalu memvonis guru SMA yang dianggap tidak berkualitas. Guru SMA pun kebakaran jenggot, lalu menuding para siswa bahwa sejak masuk memang kurang berkualitas.

Pemerintah dalam hal ini depdiknas adalah institusi yang menghasilkan kebijakan – kebijakan guna  penyelenggaraan pendidikan. Guru berjalan mengikuti rel kebijakan. Turun naiknya  dan lika-likunya  gerbang kereta pendidikan sebenarnya tergantung konstruksi dan kondisi rel kebijakan yang terpasang. Sayangnya masyarakat umum tak mau tahu kebijakan – kebijakan pendidikan seperti apa yang dihasilkan oleh depdiknas.

Upaya yang dilakukan depdiknas adalah dengan menggembleng guru melalui pengikutsertaan  mereka pada pelbagai pelatihan, penataran, simposium, seminar dan lain sebagainya. Tetapi hal ini dirasakan kurang membuahkan hasil yang signifikan bila ditinjau dari besarnya dana yang digunakan. Memang benar bahwa upaya-upaya tersebut kurang efektif dalam rangka memotivasi guru untuk meningkatkan kualitas mereka di lapangan.

Jadi bagaimana merangsang guru agar mau meningkatkan kualitasnya ?  Beberapa hal berikut layak disimak .Pertama, pemerintah hendaknya mengoptimalkan anggaran pendidikan guna meningkatkan kualitas pendidikan termasuk kualitas guru. Adapun bentuk-bentuk upaya yang ditempuh untuk meningkatkan kualitas guru adalah hendaknya berani mengubah kebijakan yang menyatakan guru harus membuat seabrek  administrasi diubah dengan pembuatan laporan kegiatan keberhasilan pembelajaran. Apalah artinya administrasi guru bagi perkembangan siswa jika dibuat secara  fiktif di rumah ?  Apalah artinya administrasi guru yang sangat rapi jika guru itu sebenarnya tidak disenangi murid-muridnya dan nilai UAN dari mata pelajaran yang diampunya jeblok ? Hampir tidak ada sinkronisasi antara kualitas guru dan kualitas siswa dengan keberadaan administrasi guru seperti yang selama ini dibangga-banggakan  oleh pengawas. Laporan keberhasilan pembelajaran ini bisa dilombakan oleh depdiknas dalam lingkup kabupaten. Jika perlu bukti keikutsertaan lomba digunakan sebagai syarat kenaikan pangkat  sekalipun bukan sebagai  pemenang.

Saya berpendapat, dana  yang selama ini disediakan  untuk  mengadakan berbagai penataran dapat dialihkan untuk kegiatan lomba keberhasilan guru mengajar. Dana yang hanya mandeg di berbagai tingkat birokrasi pendidikan sebenarnya cukup untuk merangsang  langsung guru-guru yang konon jumlahnya sangat besar ini.

Kedua, pemerintah berani menyediakan dana dan tempat untuk karya tulis bagi guru. PGRI, LPMP, dan PPPG dapat difungsikan sebagai pembimbing guru dalam memahami dan melakukan karya tulis ilmiah. Guru harus yakin bahwa yang berhasil menulis karya ilmiah dalam bentuk laporan  hasil penelitian atau karya tulis ilmiah popular senantiasa terangsang untuk meningkatkan kualitas. Ia akan merasa malu  sendiri jika tulisannya banyak dibaca orang tetapi tidak meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Selanjutnya dalam persyaratan naik pangkat  pada segala golongan  bagi guru hendaknya ada karya tulis. Ini wujud upaya pemberian rangsangan agar guru meningkatkan  kualitas yang meliputi  adanya peningkatan wawasan strategi  pembelajaran, keluasan penguasaan materi ajar dan kepedulian terhadap generasi masa depan.

Ketiga, mengubah cara pandang pemerintah maupun masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dan eksistensi guru, dari pandangan yang menganggap pendidikan bukan masalah penting menjadi pendidikan sebagai asset yang maha penting dalam menghadapi ipteks dunia yang berkembang pesat.

Pentingnya pendidikan berkaitan dengan eksistensi guru. Karena itu membicarakan pendidikan pasti tak bisa mengesampingkan guru. Guru adalah tenaga profesional yang dalam kerja mereka memerlukan media informasi sebagai sumber ilmu dan pengetahuan. Media-media itu dapat diusahakan dengan cara membeli. Konsekuensi pemerintah adalah menaikkan gaji guru. Kebijakan seperti ini kiranya dapat berperan sebagai motivator eksternal bagi guru dalam menggeluti profesi mereka. Motivator internal yang datang dari hati guru tidaklah cukup apabila tidak dibarengi dengan motivator eksternal berupa gaji.

Di Jepang dan Amerika Serikat yang dikenal sebagai negara maju  bahkan  termaju, anggaran belanja negara untuk bidang pendidikan termasuk gaji guru sangat tinggi. Jasa dan status guru sangat dihargai. Jangankan kopral, seorang jendralpun menunduk hormat kepada guru-guru SD yang mengajar anak-anaknya. Nah, seberapa anggaran pendidikan di negari kita ? Pertanyaan ini patut kita renungkan bersama. Adakah rasa hormat seorang kepala desa , camat,bupati hingga presiden kepada guru SD yang mendidik anak cucu mereka ?

Dengan menyimak contoh di atas hendaknya cara pandang terhadap guru, ditingkatkan. Dalam jangka panjang diharapkan guru bergeser menjadi sebuah profesi yang didambakan oleh generasi muda. Hal demikian bisa terwujud apabila gaji guru menarik bagi generasi muda. Alhasil, nantinya generasi muda yang berotak encer  akan termotivasi untuk menjadi guru. Dan jika hal ini terwujud, guru-guru di masa depan adalah kumpulan insan yang berkualitas dan berdedikasi tinggi.

Langkah selanjutnya adalah kebijakan yang mengarahkan beban mengajar guru sesuai dengan disiplin ilmu yang dimiliki . Tentu tidak akan berhasil baik bila seorang guru lulusan D III PKK diberi beban mengajar fisika, guru lulusan D II seni tari harus mengajar  matematika. Sesuatu yang kemungkinan keberhasilannya kecil namun dipertahankan tentu akan membawa dampak kurang kualitas lulusan  maupun gurunya itu sendiri. Data di lapangan masih menunjukkan bilangan yang tidak sedikit mengenai  ketidaksesuaian disiplin ilmu guru dengan beban materi yang diajarkan.
——-
Download artikel ini versi file word document (*.doc), [klik disini]

About these ads

Responses

  1. guru maju , guru yg mau terbuka pd perubahan, terus menggali informasi dan mengaplikasikan dalam profesinya…, walau tidak semua mau dan punya kesempatan untuk itu,…., jadi guru berkwalitas memang tidak diam saja,bergerak, berusaha, apresiatif pada sekitar, kreatif…, terus dan terus, pd prinsipnya , bagaimana siswa nya betul 2 jd orientasi guru untuk selalu berusaha memajukan dirinya…

  2. salam
    pak, mau tanya apa artikel ini boleh dimuat di media kami, tabloid wartakesra.
    salam

    • Pak Shom, silahkan dimuat di media (Tabloid) Bapak dan di mohon cantumkan penulis dan sumbernya (link)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: