Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 10, 2011

Sekolah Unggul

Sekolah Unggul

Oleh:  Prof. H. IRWAN PRAYITNO
Gubernur Sumatera Barat

Banyak warga mengeluh dan khawatir telah terjadi krisis moral, terutama pada generasi muda. Angka kemiskinan dan pengangguran terus meningkat. Kriminalitas dan kasus amoral ramai mencuat ke permukaan dalam taraf yang sangat mengkhawatirkan. Ada apa, apa yang salah?

Salah satu faktor penting yang membentuk karakter manusia adalah pendidikan, baik formal di sekolah maupun informal di rumah dan lingkungan mereka.

Seorang lulusan SLTA berarti telah melewati masa pendidikan di sekolah formal minimal selama 12 tahun. Tamatan Perguruan Tinggi (S1) telah melewati masa pendidikan formal sekitar 17 tahun. Sudahkah pendidikan selama 17 tahun tersebut bisa dikatakan berhasil?

Secara sederhana, ada dua kata kunci keberhasilan pendidikan, yaitu mampu menghasilkan lulusan yang cerdas dan berakhlak mulia. Kedua kata kunci tersebut harus selaras dan seimbang. Banyak lulusan pendidikan kita yang cerdas tapi tidak beraklak mulia. Maka muncullah kasus korupsi, penipuan, penyalahgunaan wewenang, perkosaan dan berbagai kasus kriminalitas.

Ada juga kelompok yang memiliki akhlak mulia, tapi tidak cerdas. Akibatnya mereka tidak mampu bersaing di lapangan pekerjaan dan memanfaatkan peluang. Mereka lalu jadi penganggur, miskin dan tak punya masa depan. Kondisi ini pada akhirnya bisa pula berujung pada kasus kriminalitas dan moral.

Agar sekolah mampu menghasilkan lulusan yang cerdas, maka guru harus melakukan proses belajar dan mengajar secara serius. Mutu dan fasilitas pendukung sekolah harus ditingkatkan sehingga proses belajar mengajar bisa dilakukan secara optimal. Pemerintah telah berupaya meningkatkan fasilitas pendidikan melalui sejumlah program dan juga berbagai upaya untuk meningkatkan mutu guru. Kesejahteraan guru juga telah ditingkatkan.

Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan di atas, insya Allah sekolah-sekolah akan mampu menghasilkan siswa-siswa yang cerdas. Sumbar sangat potensial sebagai penghasil siswa cerdas dan berprestasi di kancah nasional, tak perlu diragukan lagi.

Lalu bagaimana dengan aspek akhlak mulia? Aspek ini memang perlu perlakuan khusus. Karakter akhlak mulia tidak bisa dibangun dengan hanya metode kognitif (hafalan). Siswa bisa saja sangat hafal Rukun Islam, tapi belum tentu ia bisa mengamalkannya, belum tentu ia telah melaksanakan shalat, puasa dan lainnya.

Karakter akhlak mulia hanya bisa dibentuk melalui metode afektif dan psikomotorik. Pengetahuan yang diberikan tidak hanya sekadar hafalan, tetapi juga dengan praktik dan upaya perubahan sikap serta tingkah laku.

Selain itu yang paling penting adalah guru harus mampu menjadi model (contoh dan tauladan) bagi siswa. Bagaimana mungkin siswa diajar disiplin jika guru sendiri tidak disiplin? Bagaimana mungkin guru mengajarkan kebersihan jika guru sendiri membuang sampah sembarangan? Akhlak mulia lebih mudah ditularkan melalui model (contoh tauladan).

Sekolah unggul adalah salah satu solusi untuk mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak mulia. Di sekolah unggul siswa yang memang memiliki kecerdasan menonjol difasilitasi secara khusus sehingga kelebihan yang mereka miliki bisa diaktualisasikan secara optimal.

Karena menggunakan metode boarding school/full day school, ditunjang oleh karakter guru dan fasilitas sekolah yang memadai, misi membangun karakter akhlak mulia melalui sekolah unggul tentu bisa diwujudkan.

Idealnya minimal setiap kabupaten dan kota di Sumatra Barat memiliki satu sekolah unggul. Keberhasilan sekolah unggul sudah dibuktikan oleh SMA 1 Padang Panjang misalnya, dan sejumlah sekolah lainnya di Sumatra Barat lainnya. Siswanya tidak hanya cerdas dengan menorehkan sejumlah prestasi di tingkat nasional dan internasional, tapi juga berakhlak mulia yang terlihat dari sikap dan tingkah laku mereka.

Dengan demikian, insya Allah potensi generasi muda Sumatra Barat bisa teraktualisasikan, baik kecerdasan mereka, maupun akhlaknya. Suatu saat nanti kita yakin cita-cita untuk menuju masyarakat madani, adil dan bermartabat bisa tercapai. Insya Allah. (*)
————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

About these ads

Responses

  1. seharunya bukan hanya guru sebagai contoh teladan, tapi kita semua hrs berada didepan sebagai tokoh. tapi banyak pejabat tidak lagi jadi tokoh. tapi toko tempat berjual beli jabtan.

    • saya setuju,bahkan anda tidak mengira kalo ada guru yg kerjanya keluar masuk hotel melakukan tindakan asusila nginap bersama pacarnya,dan terus ga berhenti walau sudah menikah.tidak jera walau kena penyakit kelamin.pelit kepada istri dan anak,susah memberi nafkah.berfikir hanya untuk meminta dan tidak mau memberi.karena menganggap wanita menerima harta pusaka sedang laki-laki tidak.ingin hidup bebas,tanpa ikatan,perempuan dipandang rendah.
      saya harap pendidikan d sumatera barat berawal dari penghargaan terhadap wanita,dan kembali menghormati wanita seperti yang dilakukan Rasulullah.perubahan yg dilakukan oleh buya hamka sebaiknya terus diperjuangkan.berapa banyak laki-laki sumatera barat meninggalkan anak istri di kampung sementara di rantau orang dia menikah laki dan mengabaikan istri dan anaknya.ini merupakan suatu PR buat gubernur.tolong ditindak laki2 yg tidak bertanggungjawab,saya amati kebanyakan dari SUMBAr(walau aada beberapa dari daerah lain)

  2. Assalamualaikum Bpk Gubernur, saya kira bukan saja di sekolah unggul visi sekolah
    ‘cerdas dan berakhlak mulia”diterapkan. Tetapi perlu diterapkan di seluruh sekolah di Sumbar ini Pak, karena untuk penerapan itu tidak perlu biaya mahal. Hanya membutuhkan kemauan dan komitmen untuk melaksanakannya. Karena memang sudah seharusnya setiap sekolah menciptakan anak-anak yang cerdas dan berakhlak mulia.
    Terima kasih
    DIWARMAN
    http://diwarman64.blogspot.com (GURU BATUSANGKAR)

    http://64diwarman.wordpress.com

  3. Dear Bpk Irwan
    betul masyarakat dan juga anak sekolah butuh model. Apalagi kalau orang-orang yang berkualitas yang berada di menara gading (di kampus, di kantor, di pusat penelitian) semuanya berani turun ke bawah dan berbincang bincang.
    saya masih ingat, ketika kecil, kalau buya Hamka ke Payakumbuh, beliau singgah ke mesjid ansharullah dan kami berduyun- duyun datang untuk mendengar petuah beliau.
    tapi sekarang orang orang hebat kalau turun cuma lewat protokol dan lewat seminar, musti bayar, kepintaran dan pituah dibisniskan lewat seminar. pantasan model teladan tak kesampaian.
    Pak Irwan cobalah ajak orang orang pintar dan cerdas turun lagi ala buya Hamka langsung ke mesjid…. insyaallah mesjid jadi ramai dan teladan akan saling menular

  4. Prof yang terhormat,
    Menurut saya tidak hanya guru yang berperan untuk pendidikan anak2 kita tetapi juga orang tua, tokoh2 kita, pemimpin2 kita, Negara hukum kita dijalankan dengan baik. Sebagai contoh : anak2 SMP belajar 3 tahun… tapi nasibnya ditentukan hanya waktu UAN yang 3 atau 4 hari. Disini anak, bahkan dengan orang tuanya berusaha dengan cara apapun untuk lulus dan nilai baik…. Kenyataannya sering… sehari-harinya nilainya jelek…. tapi waktu UAN nilainya 10…. mengalahkan yang anak2 cerdas lainnya….. Ya Allah…. bagaimana generasi penerus kita nantinya… kalau dibiarkan terus seperti ini ?
    Trima kasih….

  5. [...] Baca lanjutannya dan komentar anda di: http://enewsletterdisdik.wordpress.com/2011/02/10/sekolah-unggul/ [...]

  6. mungkin kalau banyak rekan yang se alur dengan pola pikir bapak Gubernur sumatera barat, namun saya berniat menyoroti sekolah unggul dari sisi yang berbeda. semua sekolah dengan kurikulum agama di dalamnya, pasti ada muatan moral untuk membina anak didik agar punya akhlak mulia. adapun muatan kurikulum lain mengasah anak didik untuk bidang psikomotorik, hingga estetika. semua sekolah indonesia pasti seperti itu.
    Sekolah unggul adalah sekolah yang dikembangkan sebagai :
    1. center of excellent,
    artinya sekolah dijadikan pusat untuk kesempurnaan / kebaikan. disitu anak
    dididik, dibina dan diasuh agar memiliki moral yang excellent, mampu
    membedakan baik buruk, mengerti hukum serta taat menjalaninya.
    2. center of change,
    artinya sekolah dijadikan pusat perubahan. sekolah di dayakan agar dapat
    mengarahkan masa depan anak agar mampu menjadi generasi yang digdaya,
    mampu lebih baik dari pendahulunya, mampu merubah indonesia ke tahap
    lebih baik dari sebelumnya, mampu dalam tehnologi yang lebih baik dan
    seterusnya.
    3. dan center of power.
    artinya sekolah merupakan daya yang dibentuk untuk menjadi pusat bagi
    kekuatan bangsa untuk penyediaan asset sumber daya manusia terbarukan
    yang siap menerima tanggung jawab.
    namun itu semua BELUM CUKUP. sekolah hanyalah sebuah lembaga diantara integritas elemen masyarakat / negara. sekolah perlu dukungan. baik masyarakat, pemerintah maupun dunia usaha. Tiga elemen ini menjadi kunci keberhasilan lembaga sekolah dapat memujudkan visinya dan misinya sebagai sekolah Unggul.

  7. Saya setuju dengan pak Gubernur, pak Marjohan, Wahyu Widodo dll.
    Namun saya mau berkomentar beberapa hal sebagai berikut.

    Akhir-akhir ini, memang semakin sulit kita mendapatkan pemimpin yang merakyat.
    Sebahagian orang-orang besar, (baca: pemimpin di disdikpora) sering hanya tampil dalam berbagai acara pembukaan saja; bicara panjang lebar dengan segala teori normatif sampai hadirin ‘kuap’, kemudian dia pergi. Sepeninggal si bapak, peserta seminar atau pelatihan kembali kepada hal yang dulu juga. Paling banter mereka mencoba mereka-reka apa, yang tadi, diinginkan si pejabat — lebih kurang, dan sering banyak kurangnya.

    Tentang “sekolah unggul Sumatra Barat” yang ada di Padang Panjang, sampai dimanakah keterlibatan para pejabat di Propinsi dalam pembinaannya?
    Saya dengar: seminggu setelah kepala sekolah-nya kembali dari memimpin delegasi, dalam usaha menjalin kerjasama dengan Canning College di Perth, Desember 2010 lalu, dia dicopot…!
    Adakah pihak Pemprov mempertanyakan ini kepada Pemko Padang Panjang?

    Mungkinkah pertukaran kepala sekolah yang terkesan mendadak itu bahagian dari: school as the centre of change…? Yaitu memulai dari menukar kepala sekolahnya terlebih dahulu? Bukankah kepala sekolah unggulan dan kepala sekolah RSBI telah diatur dengan aturan yang jelas, agar sesuai standar?

    Saya melihat, dalam era otoda ini, di mana-mana kabupaten dan kota telah terjadi pertukaran kepala sekolah dengan kriteria dan alasan yang tidak jelas. Seakan-akan ‘jabatan’ yang diemban oleh guru dengan tugas tambahan sebagai pimpinan sekolah ini telah seperti jabatan politis. Takm ubahnya seperti jabatan camat, dan kepala SKPD, di kabup[aten dan kota.

    Kalau ini semuanya dibiarkan berkelanjutan, masih mungkinkah hasil pendidikan yang baik bisa diwujudkan? Apa perasaan para pendidik di sekolah mencermini semua ini?

    Fekrynur,
    Pengawas Sekolah Madya, di Disdikpora Prov Sumbar.

  8. dear pak fekrynur.

    saya sangat setuju dengan bapak, buktinya adalah salah satu dari sekolah SLTA di sumbar kususnya tanah datar yang berpredikat unggul. semenjak digantikan kepala sekolahnya juga dengan alasan yang kurang jelas. sekarang SLTA unggul itu sudah tak jelas lagi prestasinya. sekarang tidak ada lagi prestasi yang menonjol di SLTA itu. padahal slta itu sama sama didirikan dengan tujuan berprestasi bersama dengan smp unggul daerah itu. bahkan kabarnya smenjak bertukarnya kepala sekolah sma unggul itu, mutu soal-soal ujian nya pun mulai kalah dengan sekolah yang bukan unggul didaerah itu.
    saya termasuk siswi smp unggulnya, saya jadi khawatir dengan potensi pendidikan di tanah datar. karena seharusnya smp unggul di suatu daerah rayonnya sma unggul di daerah itu. tapi kalau pilihannya yang seperti ini (sma unggul tidak unggul lagi sementara sekolah lain tidak memadai) maka berkemungkinan besar para siswa-siswi cerdas akan meninggalkan daerah kami, suatu daerah sumbar akan bisa menjadi daerah dengan pendidikan tertinggal. karena tidak ditemukan lagi siswa-siwi yang potensial.

  9. dear pak fekrynur.

    saya sangat setuju dengan bapak, buktinya adalah salah satu dari sekolah SLTA di sumbar kususnya tanah datar yang berpredikat unggul. semenjak digantikan kepala sekolahnya juga dengan alasan yang kurang jelas. sekarang SLTA unggul itu sudah tak jelas lagi prestasinya. sekarang tidak ada lagi prestasi yang menonjol di SLTA itu. padahal slta itu sama sama didirikan dengan tujuan berprestasi bersama dengan smp unggul daerah itu. bahkan kabarnya smenjak bertukarnya kepala sekolah sma unggul itu, mutu soal-soal ujian nya pun mulai kalah dengan sekolah yang bukan unggul didaerah itu.
    saya termasuk siswi smp unggulnya, saya jadi khawatir dengan potensi pendidikan di tanah datar. karena seharusnya smp unggul di suatu daerah rayonnya sma unggul di daerah itu. tapi kalau pilihannya yang seperti ini (sma unggul tidak unggul lagi sementara sekolah lain tidak memadai) maka berkemungkinan besar para siswa-siswi cerdas akan meninggalkan daerah kami, suatu daerah sumbar akan bisa menjadi daerah dengan pendidikan tertinggal. karena tidak ditemukan lagi siswa-siwi yang potensial. oleh karena itu saya mohon pertanggung jawaban pemerintah


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: