Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 25, 2011

Dzikir Syarat Utama menjadi Pendidik Profesional

Dzikir Syarat Utama menjadi Pendidik Profesional

Oleh : Dedi Suherman S.Ag
Guru SDN 1 Jati Kec. Batujajar Kab. Bandung Barat

I. Pendahuluan

Mengawali artikel ini, terlebih dahulu penulis akan memaparkan kata kunci pada judul  tulisan ini yaitu kata Dzikir, Pendidik dan Profesional.

1. Dzikir berasal dari kata dzakara (arab) artinya ingat atau sadar, lawan dari kata nisyan artinya lupa atau tidak sadar.

2. Pendidik ialah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator dan sebutan lain yang sesuai dengan kehususannya, serta berpartisifasi dalam penyelenggaraan pendidikan. (UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas)

3. Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan  seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang  memerlukan keahlian, kemahiran atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi. (UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen).

Berdasarkan tiga kata kunci di atas penulis mencoba menyampaikan gagasan atau ide  bahwa dzikir merupakan syarat mutlak untuk menjadi pendidik profesional. Dengan kata lain tanpa dzikir mustahil seorang pendidik menjadi profesional. Mengapa demikian? Mari kita bahas lebih lanjut !.

Seseorang yang berprofesi sebagai pendidik di semua jenjang, dan jenis pendidikan bila ingin menjadi pendidik profesional maka dia harus selalu dzikir artinya harus selalu ingat dan sadar akan kedudukan dan fungsi pendidik serta senantiasa ingat akan tujuan pendidikan yang mesti dicapai oleh peserta didik.

Sebagaimana tercantum dalam UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, BAB II Pasal 2 ayat 1 bahwa guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan usia dini pada jalur pendidikan formal yang diangkat sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Sedangkan fungsi guru menurut UU RI No 14 Bab II Pasal 4 adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Tinggi rendahnya pencapaian mutu pendidikan nasional dapat diukur sejauh mana tujuan pendidikan nasional dapat dicapai. Adapun fungsi dan tujuan pendidikan nasional sebagaimana tercantum dalam UU RI No 20 tahun 2003 adalah Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Bila kita perhatikan dengan seksama kriteria manusia Indonesia yang pertama dan utama adalah beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa, bertakwa dan berakhlak mulia. Ketiga kriteria tersebut hanya dapat dicapai melalui dzikir. Keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia tidak mungkin alias mustahil dapat dicapai  bila tidak melalui dzikir.

Di atas sudah dijelaskan arti dzikir secara umum yaitu ingat atau sadar. Jadi apabila guru bertugas mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih agar siswa mampu mencapai tujuan pendidikan nasional terutama beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. Maka guru harus senantiasa berdzikir dan mampu mengajak anak didik untuk pandai berdzikir.

Sebelum membahas lebih lanjut tentang dzikir, perlu kiranya difahami terlebih dahulu konteks pelaksanaan dzikir. Para ulama umumnya sepakat bahwa dzikir terdiri dari 3 cara atau tingkatan yaitu

1. Dzikir dengan lisan (ucapan)
2. Dzikir dengan hati (perasaan)
3. Dzikir dengan amal (perbuatan)

Dalam artikel ini penulis lebih menekan kan pada dzikir amal (perbuatan), karena berdasar pemahaman penulis ternyata banyak ayat Al Qur’an yang menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah yang ada di langit dan di bumi bertasbih (dzikir) dan bersujud (menyembah) Allah. Diantaranya firman Allah dalam Q.S . Al Israa’ : 44 yang artinya “ Langit  yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun”.

Ayat di atas memberi gambaran kepada kita, bahwa tasbih (dzikir) mereka bukanlah sebuah kata-kata seperti manusia bertasbih (dzikir) dengan lisannya. Tetapi tasbih mereka (seluruh makhluk Allah) merupakan bentuk kepasrahan dan kepatuhan atas perintah dan ketetapan Allah. Sehingga gerak mereka serta arah tujuan mereka semuanya berserah atas kehendak Ilaahi.

Kita mengetahui bahwa galaksi-galaksi, bintang-bintang, planet-planet semua bergerak pada orbitnya dan beredar  pada porosnya aktif melakukan gerak rotasi dan gerak revolusi, itu semua bentuk tasbih (dzikir) kepada Allah. Begitu pula segala benda di langit dan di bumi baik makhluk hidup maupun benda mati sampai butir-butir atom  semuanya bergerak sesuai dengan ketetapan Allah (Sunnatullah). Dengan demikian dzikir bukan hanya terbatas dengan cara berdiam diri  (pasif) sambil mengucapkan kata-kata tasbih, tahmid, takbir, tahlil dan kalimat toyyibah lainnya, tetapi dzikir adalah bersifat aktif bergerak mengikuti syari’at atau ketentuan yang ditetapkan Allah swt.

II. Dzikir syarat utama untuk menjadi pendidik profesional.

Pada Bab I penulis telah menguraikan sepintas tentang hakikat dzikir, selanjutnya pada Bab II ini penulis mencoba membahas hubungan dzikir dengan pendidik profesional.. Karakteristik pendidik profesional sebagaimana tercantum dalam UU nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab II Pasal 7 ayat (1) adalah :

a.  memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme

b.  memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia

c. memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan  yang sesuai dengan bidang tugasnya

d. memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugasnya

e. memiliki tanggung jawab atas pelaksanaan tugas keprofesionalan

f.  memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja

g. memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat

h. memiliki jaminan pelingdungan hukum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan dan,

i.  memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru.

Karakteristik pertama dan utama pendidik profesional yang tercantum pada point a dan b yaitu memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme, memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketaqwaan dan akhlak mulia. Karakteristik ini harus senantiasa diingat dan disadari oleh para pendidik karena karakteristik ini merupakan pondasi dasar untuk menjadi pendidik profesional.

Berdasarkan karakteristik di atas siapapun  yang berprofesi sebagai pendidik harus menyadari bahwa profesinya betul-betul sesuai dengan bakat, minat dan merupakan panggilan jiwa sehingga melahirkan komitmen untuk senantiasa meningkatkan mutu/kualitas pendidikan. Dewasa ini orang yang berprofesi sebagai pendidik masih banyak yang belum menyadari akan tugas dan fungsinya. Tidak sedikit orang yang berprofesi sebagai pendidik hanya sekedar kebetulan dan pelarian. Artinya mereka menjadi pendidik bukan karena dorongan bakat, minat dan panggilan jiwa tetapi hanya kebetulan berijazah pendidikan keguruan dan karena tidak dapat bekerja pada profesi lain. Seandainya ada profesi lain yang lebih menjanjikan penghasilannya mereka tidak akan menjadi pendidik.

Bila karakteristik di atas tidak diingat dan disadari oleh seseorang yang berprofesi pendidik, maka kecil kemungkinan bahkan mustahil mereka menjadi pendidik profesional, walaupun mereka memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan yang relevan.

Karakteristik lainnya yang sangat vital untuk selalu diingat dan disadari oleh para pendidik adalah harus memiliki keimanan, ketakwaan dan berakhlak mulia. Konsekuensinya siapapun yang berprofesi sebagai pendidik harus memahami dan mengamalkan ajaran agama (Islam) dengan konsisten dan konsekuen.

Kenyataan dilapangan ternyata pemahaman dan pengamalan ajaran agama seolah-olah  hanya kewajiban pendidik agama Islam, pendidik yang mengajarkan mata pelajaran lain, seperti pendidik mata pelajaran Bahasa, Matematika, IPA, IPS, Kesenian, Olah Raga seolah-olah tidak perlu memahami dan mengamalkan ajaran agama. Ini realita, tidak sedikit pendidik yang tidak bisa baca tulis Al Qur’an, masih banyak pendidik yang belum taat melaksanakan shalat, zakat, shaum, ibadah haji dan ibadah-ibadah lainnya.  Hal ini menunjukkan bahwa mereka kurang memiliki keimanan dan ketakwaan kapada Tuhan Yang Maha Esa (Allah).

Hal lain yang mesti selalu diingat dan disadari oleh seluruh pendidik, bahwa tugas dan fungsi pendidik adalah mengantarkan para peserta didik mencapai tujuan pendidikan Nasional. Sedangkan tujuan pendidikan Nasional yang paling utama dan pertama adalah mengembangkan potensi anak didik agar menjadi manusia yang beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah), bertaqwa dan berakhlak mulia.  Jadi, idealnya semua mata pelajaran yang diberikan kepada peserta didik harus dapat meningkatkan keimanan, ketakwaan dan akhlak mulia peserta didik. Disamping itu semua pendidik apapun mata pelajaran yang menjadi bidang tugasnya, mereka harus konsisten dan konsekuen memahami dan mengamalkan ajaran agama (Islam).

Mana mungkin seorang pendidik yang tidak konsisten dan konsekuen memahami dan mengamalkan ajaran agama dapat membimbing dan membina serta mengarahkan peserta didik memiliki keimanan, ketakwaan dan berakhlak mulia. Sebagaimana, tidak mungkinnya seorang sopir membawa para penumpang menuju suatu tempat tujuan, sementara sopirnya sendiri tidak mengendarai mobilnya mengikuti jalan yang harus ditempuh menuju tempat tujuan tersebut.

Memperhatikan kualitas sumber daya manusia  Indonesia dewasa ini, kita patut sedikit berbangga karena sudah banyak anak bangsa yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini terbukti, ada beberapa anak bangsa dari mulai jenjang pendididikan dasar (SD/SMP), menengah (SMA/SMK) dan pendidikan tinggi yang mengikuti kompetisi internasional di bidang IPTEK, seperti : Olimpiade MIPA mereka berhasil meraih medali emas, perak atau perunggu.

Namun dibalik itu kita meski prihatin, ternyata di bidang kemulian akhlak dan keluhuran budi pekerti kualitas mental dan moral bangsa ini perlu dipertanyakan. Perlu kita akui dengan jujur bahwa masyarakat bangsa ini sedang mengalami krisis iman dan dekadensi moral yang sangat memprihatinkan. Bukankah negara kita termasuk salah satu negara yang tingkat korupsinya menduduki peringkat pertama di Asia dan tingkat ketiga di dunia ? Para pemimpin pemerintahan baik para pejabat eksekutif, legislatif bahkan pejabat yudikatif, terbukti banyak yang melakukan tindakan koruptif yang merugikan negara .Sungguh ironis bila para penegak hukum, polisi, jaksa dan hakim yang mestinya menegakkan hukum dengan adil, menindak tegas para pelanggar hukum, tapi justru mereka sendiri yang melakukan pelanggaran hukum.

Mengapa hal ini terjadi ? Padahal mereka menduduki jabatannya sesuai dengan kompetensi paedagogik dan kompetensi profesional.  Penyebab utamanya karena mereka melupakan kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Karena ketinggian ilmu pengetahuannya tidak diimbangi kesempurnaan iman dan ketaqwaan. Kecerdasan intelektualnya tidak disertai dengan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual.

Sumber dari semua itu, karena proses pendidikan yang berlangsung selama ini bersifat sekuler dan dikotomi, ada pemisahan antara nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dengan ilmu pengetahuan. dan teknologi. Sesuai dengan pendapat Albert Eistein bahwa “ Science without religion is lame, Religion without science is blind “ Ilmu pengetahuan tanpa keimananan (agama) adalah buta dan keimanan (agama) tanpa ilmu pengetahuan adalah lumpuh.

Dewasa ini sering kita dengar berita penipuan yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepintaran intelektual, seperti penipuan lewat SMS, Undian Berhadiah atau Ciber Crime, kejahatan via Internet. Modus operandi tersebut hanya dapat dilakukan oleh orang yang menguasai teknologi tetapi tidak memiliki kekuatan iman dan ketakwaan.

Oleh karena itu agar terjadi keselarasan, keseimbangan dan integritas antara Imtaq dan Iptek, maka siapapun yang menjadi pendidik, apa pun mata pelajaran yang diajarkan kepada anak didik harus  memadukan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Syarat utamanya para pendidik harus selalu berdzikir. Caranya :

1) Berdzikir (ingat dan sadar) akan adanya Allah, dan selalu ingat dan sadar berprofesi sebagai pendidik dalam rangka melaksanakan ibadah dan menjadi khalifah Allah.

2) Berdzikir (ingat dan sadar) akan tugas, fungsi dan kewajiban sebagai pendidik yaitu membimbing, mengarahkan dan membawa peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan Nasional.

3) Berdzikir (ingat dan sadar) bahwa profesi pendidik akan diminta pertanggungjawaban baik di dunia maupun di akherat. Posisi pendidik ada dipersimpangan jalan, yaitu jalan menuju kebaikan dan keselamatan dengan jalan menuju keburukan dan kecelakaan. Rosulullah saw bersabda “ Barang siapa yang memberi petunjuk kepada kebenaran maka dia akan mendapat pahala dan pahalanya orang-orang yang mengikuti kebenaran itu, dan barang siapa yang memberi petunjuk kepada kesesatan maka dia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang mengikuti kesesatan itu”. Hadits lain mengungkapkan “ Barang siapa yang mempelopori kebaikan maka dia akan mendapat pahala dan pahalanya orang melakukan kebaikan itu, dan barangsiapa yang mempelopori kejelekan maka dia akan emnadap dosa dan dosa-dosa orang yang melakukan kejelekan itu”. Berdasarkan kedua hadits tersebut maka posisi para pendidik dapat selamat dan menyelamatkan, jika mata pelajaran yang disampaikannya mengandung kebaikan dan kebenaran, sebaliknya seorang pendidik bisa celaka dan mencelakaan, sesat dan menyesatkan bila materi pelajaran yang diberikan mengundang kejahatan dan mengandung keburukan.

III. Faktor penyebab para pendidik  kurang profesional

Berdasarkan UU RI No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, pendidik profesional harus memiliki 4 kompetensi, yaitu kompetensi paedagogik, kompetensi profesional, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi tersebut harus dimiliki secara utuh dan integral pada setiap diri pendidik. Bila setiap pendidik memiliki keempat kompetensi tersebut besar harapan para peserta didik akan mampu mencapai tujuan pendidikan secara maksimal.

Perlu diakui dengan jujur bahwa pendidik yang memenuhi empat kompetensi tersebut masih tergolong langka bahkan termasuk manusia aneh. Mengapa demikian ? Karena proses rekrutmen atau pengangkatan para pendidik selama ini lebih menitikberatkan pada kualifikasi akademik dan kompetensi profesional secara formalitas berdasarkan bukti fisik selembar ijazah atau setifikat pendidikan, tidak begitu menyeleksi ketat pada kompetensi kepribadian dan kompetensi sosialnya.

Begitu juga dalam proses promosi kenaikan pangkat dan golongan atau promosi jabatan dalam meningkatkan jenjang karir para pendidik (guru) untuk menjadi Kepala Sekolah, Pengawas atau Kepala Dinas, Kepala UPTD dan para Kasi/Kabag misalnya, keempat kompetensi ini terlihat diabaikan. Bahkan yang lebih parah lagi promosi jabatan di bidang pendidikan sering dipengaruhi oleh kepentingan politik. Sehingga tidak sedikit orang yang mendapat kedudukan strategis di bidang pendidikan tidak memiliki kompetensi yang ideal bahkan tidak memiliki latar belakang pengalaman yang memadai, dan terlihat tidak memiliki komitmen untuk memajukan dunia pendidikan.

Dalam UU RI No 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas Bab XI Pasal 43 ayat 1 tercantum bahwa Promosi dan penghargaan bagi pendidik dan tenaga kependidikan dilakukan berdasarkan latar belakang pendidikan, pengalaman, kemampuan dan prestasi kerja dalam pendidikan.

Konsep isi undang-undang di atas cukup ideal, namun dalam implementasinya promosi dan penghargaan bagi pendidik selama ini kurang obyektif dan tidak transfaran alias tidak profesional. Sudah rahasia umum seorang pendidik yang ingin mengikuti promosi kenaikan pangkat/golongan atau jabatan, ternyata banyak dibumbui dengan syarat D3 (Duit, Deuheus, Dulur). Siapa yang banyak memberikan uang kepada pihak yan berwenang, sering melakukan pendekatan dengan atasan, dan memiliki hubungan kekeluargaan, mereka akan lancar alias mudah mengikuti promosi pangkat/golongan atau jabatan.

Kalaupun tidak melalui program D3, ternyata kriteria yang tercantum dalam UU tersebut hanya dinilai secara formalitas. Misalnya,

1) Penilaian latar belakang pendidikan, minimal sarjana (S1), padahal tidak sedikit sarjana karbitan yaitu mengikuti pendidikan formalitas melalui program UT atau sejenisnya. Mayoritas mereka mengikuti pendidikan bukan untuk meningkatkan kompetensi profesional tapi hanya mengejar secarik kertas ijazah sarjana. Semangat belajarnya umumnya terlihat kurang bahkan tidak ada. Hal ini penulis lihat sendiri, ada seorang teman sepekerjaan yang mengikuti kuliah di UT dia mendapat nilai A pada mata kuliah TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi) padahal kenyataannya jangankan menggunakan komputer bahkan memegang komputerpun belum pernah. Secara teoritis bisa saja dia mendapat nilai A karena bisa menjawab soal dengan cara menyontek atau mendapat bocoran kunci jawaban. Tetapi secara praktek dia bernilai E, karena tidak memiliki kompetensi dibidang TIK.  Untuk memehuni kompetensi akademik banyak guru yang mengikuti pendidikan program sarjana (S 1) yang diselenggarakan oleh Perguruan Tinggi Swasta, ternyata sungguh mencengangkan dalam waktu relatif singkat antara 2 – 3 tahun mereka berhasil lulus jadi sarjana,. Padahal perkuliahannyapun hanya diselenggarakan 1 hari dalam seminggu. Sungguh prestasi luar biasa, sebab para mahasiswa yang mengikuti perkuliahan regulerpun memerlukan waktu antara 4 – 5 tahun. Mungkinkan seorang sarjana karbitan akan memiliki kompetensi yang ideal ? Agak kecil kemungkinan, apalagi bila pendidik yang mengikuti perkuliahan kelas karyawan tidak pernah belajar autodidak di rumah. Kualitas kesarjanaannya perlu diragukan.

2) Penilaian berdasarkan pengalaman kerja dihitung dari lamanya melaksanakan tugas alias jam terbangnya. Ini juga penilaian yang realistis bila memang dengan lamanya pengalaman bekerja seiring pula dengan meningkatnya kompetensi yang dimilikinya. Namun kenyataannya tidak sedikit pendidik yang memiliki pengalaman mengajar cukup lama (senior) tetapi kompetensi yang dimilikinya tidak lebih baik dibanding dengan pendidik yang tegolong sedikit jam terbangnya (yunior). Pengalaman kerja yang lama tapi dilalui dengan sikap pasif tidak kreatif akan kalah oleh pengalaman yang sebentar tetapi ditunjang oleh aktifitas dan kreatifitas. Fakta dilapangan tidak sedikit pendidik yang pangkat dan golongannya IV/a atau IV/b ternyata kemampuan kompetensinya kalah oleh pendidik yang pangkat dan golongannya II/b atau II/c misalnya. Untuk memenuhi salah satu syarat kenaikan pangkat . pendidik yang golongannya IV/a harus membuat karya ilmiah berupa makalah atau yang lainnya. Tetapi mayoritas makalah yang diberikan kepada tim penilai / asesor banyak yang aspal (asli tapi palsu) atau hasil karya orang lain / plagiator.  Mungkinkah cara demikian dapat meningkatkan profesionalisme pendidik? Sangat kecil kemungkinanan bahkan dapat dikatakan mustahil.

3) Penilaian berdasarkan kemampuan dan prestasi kerja. Penilaian ini barangkali yang paling ideal dilakukan untuk promosi dan penghargaan kepada pendidik. Untuk menilai kemampuan dan prestasi kerja, tidak perlu dihubungkan dengan latar belakang pendidikan dan lamanya masa kerja. Sebab tidak mustahil pendidik yang hanya berlatar belakang pendidikan formal SPG atau D2 misalnya untuk tingkat SD, tetapi ditunjang oleh kreatifitas dan semangat belajar autodidak dan berdedikasi tinggi akan mempunyai kemampuan dan prestasi lebih baik daripada pendidik yang berpendidikan sarjana dan memiliki masa kerja cukup lama tetapi tidak ditunjang oleh aktifitas dan kreatifitas.

Kunci utama untuk menilai kemampuan dan prestasi pendidik adalah atasan langsungnya yaitu Kepala Sekolah. Ketika membuat DP3 ( Daftar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan) hendaknya Kepala Sekolah menilai pendidik (guru) secara obyektif, transfaran dan akuntabel. Tapi sayang jarang Kepala Sekolah yang menilai seperti itu. Umumnya Kepala Sekolah menilai sama-rata dengan kualifikasi nilai BAIK bagi seluruh bawahannya. Pendidik yang secara umumpun diketahui nilainya kurang bahkan tidak baik, namun pada DP3 dinilai BAIK. Bila tidak percaya, silahkan saja lihat dalam DP3 para pendidik (guru) yang dibuat oleh Kepala Sekolah. Kalau ada pendidik (guru) yang dinilai kurang atau tidak baik dalam DP 3nya, sungguh luar biasa. Kalau ada Kepala Sekolah yang menilai bawahannya secara obyektif, transparan dan akuntabel barangkali hanya seorang dari ribuan orang Kepala Sekolah.

Kejadian seperti ini yang menjadi penyebab utama pendidik (guru) tidak profesional, karena penilaiannya asal-asalan. yang penting bawahannya semua cepat dapat naik tingkat/golongan. Dampak negatif dari penilaian Kepala Sekolah seperti ini, tidak mendorong para pendidik (guru) untuk berkompetisi secara sehat dalam meningkatkan kompetensi pada dirinya. Hal yang lebih patal terjadi bila pendidik yang tidak berprestasi dan pendidik yang memiliki prestasi dinilai sama BAIK dalam DP 3, sehingga kenaikan tingkatnya sama tenggang waktunya, maka pendidik yang kurang kemampuan dan prestasinya tidak akan berpikir untuk meningkatkan prestasi, sedangkan pendidik yang memiliki prestasi akan melemah semangat untuk meningkatkan kemampuan dan prestasinya. Kejadian yang lebih patal lagi, apabila seorang pendidik yang kurang kemampuan kompetensi  dan prestasinya ternyata dengan menggunakan syarat D3 (Duit,Deuheus,Dulur) dapat naik pangkat/golongan mendahului pendidik yang sedikit mempunyai kemampuan kompetensi dan prestasi.

Bila proses promosi dan penghargaan kepada pendidik (guru) dilakukan dengan cara asal-asalan, tidak obyektif, transfaran dan akuntabel, maka terwujudnya pendidik propesional hanyalah hayalan atau impian. Kalaupun ada  pendidik yang profesional karena pendidik tersebut suka berdzikir yaitu selalu ingat dan sadar atas tugas, fungsi, kewajiban dan tanggungjawabnya. Namun pendidik semacam itu dewasa ini termasuk orang antik alias makhluk langka.

Faktor lain yang mengakibatkan sulitnya menjadi pendidik profesional adalah alasan klasik yaitu rendahnya gaji yang diterima para pendidik, konon katanya gaji satu bulan yang diterima pendidik hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga selama 10 hari, sehingga untuk menutupi kebutuhan 20 hari ke depan, para pendidik mencari berbagai alternatif pekerjaan sampingan. Lumayan kalau usaha sampingan tersebut tidak mengenyampingkan tugas pokok sebagai pendidik. Justru yang sangat memprihatinkan tidak sedikit para pendidik yang “ cul dogdog tambuh igel ” melupakan tugas pokok mendidik karena sibuk mencari pekerjaan sampingan. Mereka lebih semangat melakukan aktifitas sampingan melupakan kewajiban.

Kasus yang lebih parah lagi, tidak kurang guru yang SK nya dijadikan jaminan untuk mendapat pinjaman uang di bank, sehingga gaji untuk 5 sampai 10 tahun ke depan sudah diambil duluan lewat pinjaman di bank. Sehingga setiap bulan hanya menandatangani struk gaji yang uangnya tinggal angka. Lumayan kalau uang tersebut digunakan untuk kegiatan produktif sehingga mendapatkan kompensasi penghasilan. Yang repot uang pinjaman digunakan untuk hal-hal yang konsumtif, sehingga tidak menghasilkan sedang gajinya sudah habis. Akibatnya menjadi malas melaksanakan tugas, mangkir untuk berkarir, sering bolos masuk kelas, karena merasa perkejaannya tidak dibayar. Kasus semacam ini mustahil melahirkan pendidik profesional.

IV. Penutup

Mengakhiri tulisan ini penulis mencoba menyimpulkan pembahasan di atas sebagai berikut :

1.  Berdzikir adalah pintu pembuka untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

2.  Keimanan dan ketakwaan adalah modal utama untuk berakhlak mulia dan benteng yang kokoh untuk membendung akhlak tercela.

3.  Dzikir yang mendorong meningkatnya iman dan taqwa akan memotivasi pendidik melaksanakan tugas dan kewajibannya secara profesioanal.

4.  Pendidik yang beriman dan bertakwa akan terus berusaha meningkatkan kompetensi dirinya agar dapat melaksanakan tugas dan kewajiban secara maksimal, mereka lebih berorientasi melaksanakan tugas dan kewajibannya tidak terlalu menuntut haknya.

5.  Penghasilan atau gaji yang tinggi bukan syarat utama untuk menjadikan pendidik profesional, tetapi keimanan dan ketakwaanlah yang menjadi modal utama untuk melahirkan pendidik profesional.

6.  Seorang pendidik disebut profesional bila yang bersangkutan berusaha mengaplikasikan tujuan pendidikan nasional dalam ucapan dan tindakan sehari-hari.

7.  Para peserta didik sulit bahkan tidak mungkin dapat mencapai tujuan pendidikan, bila para pendidiknya tidak mengaktualisasikan tujuan tersebut dalam ucapan dan tindakannya.

8.  Keterpurukan bangsa Indonesia dewasa ini penyebab utamanya karena mayoritas bangsa Indonesia yang nota bene umat Islam, kualitas keimanan dan ketaqwaannya perlu dipertanyakan. Adapun sekelompok Muslim militan yang ingin menegakkan syari’at Islam secara kaffah di bumi pertiwi ini ternyata mendapat tantangan dan rintangan dari berbagai pihak. Bahkan mereka didiskreditkan sebagai teroris atau kelompok radikal, padahal siapa tahu merekalah yang ingin memakmurkan segeri ini. Allah berfirman dalam Q.S. Al A’raaf : 96 “ Dan seandainya penduduk suatu negeri mereka beiman dan bertakwa, niscaya dibukakan bagi mereka keberkahan dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat) Kami, maka Kami berikan berbagai bencana kepada mereka akibat perbuatan mereka”

————–
Download artikel ini dalam format word document, [klik disini]

About these ads

Responses

  1. Seorang pendidik Profesional Perlu Kesaabaran yang luar biasa Dan Harus Dimiliki
    Saya sanget setuju Kak Dengan itu Dikir Membuat hati kita sabar Dalam Menjalani Cobaan

  2. is very good,tq

  3. syukron


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: