Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 28, 2011

“BEST PROCESS” – INDIKATOR SEKOLAH UNGGUL

“BEST PROCESS” – INDIKATOR SEKOLAH UNGGUL

Oleh : Munif Chatib
Konsultan Pendidikan dan Manajemen,
Direktur Sekolah YIMI, Full Day School Gresik

Seorang kawan, Tom J. Parkins, yang akan menamatkan program doktoral di Harvard University meminta bantuan penulis untuk meneliti indikator-indikator sekolah unggul yang ada di Indonesia. Tentu saja penulis dibekali beberapa alat-alat riset, baik yang berupa questioner baku maupun yang harus “disesuaikan” dengan kondisi di Indonesia. Setelah bekerja sama selama 3 bulan, Tom J. Parkins memberikan kesimpulan yang luar biasa!

Indikator sebuah sekolah dapat dilihat dari tiga komponen, yaitu INPUT, PROSES, dan OUTPUT.

Pada komponen INPUT, adalah dititikberatkan pada bagaimana sekolah tersebut menerima siswa baru. Ada dua konsep yang berbeda dalam cara sekolah menerima siswa barunya, yaitu:

Sekolah dengan konsep ”BEST INPUT”

Sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT”, yaitu bahwa siswa-siswa unggul yang diharapkan masuk dan mendaftar di sekolah tersebut dengan cara harus melewati beberapa tes formal dan kognitif. Sekolah tersebut meyakini bahwa keunggulan sekolahnya berdasarkan keunggulan akademik siswa-siswa baru yang lulus tes masuk. Artinya sekolah unggul adalah sekolah yang inputnya unggul.

Ciri-ciri sekolah yang menganut konsep ”BEST INPUT” adalah sebagai berikut:

  1. Menerapkan tes masuk kepada siswa-siswa yang akan mendaftar ke sekolah tersebut. Tes masuk ini bahkan menilai kemampuan akademik siswa dan moral siswa. Diharapkan siswa yang diterima adalah siswa-siswa yang mempunyai nilai akademik positif (baca: pandai) dan moral positif (baca: baik, tidak nakal).
  2. Apabila jumlah siswa yang mendaftar melebihi jumlah kapasitas sekolah, maka siswa yang berhasil diterima adalah hasil sortir dari nilai tes masuk yang tertinggi sampai sebatas jumlah kapasitas yang tersedia. Sedangkan siswa-siswa yang nilainya tidak masuk atau lebih dari kapasitas sekolah tersebut maka dianggap tidak berhasil diterima di sekolah tersebut.
  3. Biasanya sekolah tersebut tidak lagi menganggap perlu tahap proses pembelajaran. Terutama para guru sudah merasa cukup mengajar biasa-biasa saja sebab kebanyakan siswanya pandai-pandai.
  4. Biasanya sekolah tersebut mempunyai guru-guru yang cara mengajarnya konservatif dan tidak kreatif.
  5. Keberhasilan sekolah tersebut pada output lebih disebabkan keunggulan dan minat siswa dan keluarganya untuk dapat berhasil lulus. Sedangkan peranan guru dalam keberhasilan siswanya relatif kecil.

Kritik untuk sekolah ”BEST INPUT”:

Menurut Tom J. Parkins, hampir 99% sekolah di Indonesia dalam model penerimaan siswa barunya menganut ”BEST INPUT”. Hal ini berlaku juga pada sekolah yang dikatakan unggul atau favorit. Hanya beberapa sekolah unggul saja di Indonesia yang sudah meninggalkan konsep ini.

”BEST INPUT” mengkerdilkan fungsi sekolah sebenarnya. Menurut Tom, sekolah pada hakekatnya adalah wadah untuk untuk mengubah siswa-siswa yang belajar di dalamnya untuk dapat berhasil. Jadi sekolah dan guru adalah sebagai ”agen perubah” siswa-siswanya. Sekolah dan guru harus mampu mengubah siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral negatif menjadi siswa-siswa yang mempunyai kemampuan akademik dan moral positif. Jadi dapat dikatakan naif sekali apabila sekolah malah tidak menginginkan siswa-siswa yang mempunyai kelemahan yang daftar dan masuk ke sekolah tersebut. Sekolah seperti itu berarti sekolah yang tidak melakukan fungsinya sebagai ”agen perubah”.

Kualitas Tes Masuk pada sekolah BEST INPUT juga perlu dievaluasi. Artinya sangat tidak manusiawi. Menilai kemampuan siswa dengan besarnya angka-angka kognitif pada kualitas pengetahuan yang rendah sangat tidak adil. Penulis pernah menginterview seorang kepala sekolah sebuah SD di Surabaya tentang tes masuk penerimaan siswa baru. Kepala sekolah tersebut mengatakan bahwa di sekolahnya siswa yang dapat diterima di sekolahnya adalah yang mempunyai nilai 75 ke atas. Sedangkan nilai 74 ke bawah tidak diterima. Ketika penulis menanyakan kepada kepala sekolah tersebut tentang sebenarnya apa bedanya nilai 75 dan 74, hanya terpaut 1 digit saja, namun punya dampak yang berbeda. Seseorang tidak dapat masuk sekolah yang diinginkannya hanya karena kurang 1 digit. Tentu saja kepala sekolah tersebut tidak mampu menjawabnya.

Kualitas guru pada sekolah yang menganut konsep ini, biasanya juga rendah atau biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa pada mutu guru. Bahkan menurut penelitian penulis pada sekolah yang favorit di Surabaya, beberapa guru bahkan dianggap ”gagap teknologi” (baca: gaptek) oleh siswa-siswanya dalam hal teknologi internet. Guru merasa tidak harus berusaha sekuat mungkin untuk mengubah siswanya menjadi pandai dan mengerti banyak ilmu pengetahuan, sebab kebanyakan siswanya sudah pandai. Apalagi biasanya siswa sudah kursus banyak bidang studi di luar sekolah.

Sekolah dengan konsep ”BEST PROCESS”

Sekolah yang menganut konsep bahwa sekolah unggul tidak menitikberatkan pada kualitas akademik siswa-siswa baru yang masuk ke sekolah tersebut. Sekolah model ini dengan suka cita menerima semua siswa dalam kondisi apapun.

Ciri-ciri sekolah yang menganut ”BEST PROCESS” ini adalah sebagai berikut:

  • Sekolah ini tidak menerapkan tes masuk pada siswa barunya. Biasanya sekolah ini menggunakan sebuah perangkat riset untuk mengetahuai kondisi kemampuan siswa yang masuk ke sekolah tersebut. Perangkat ini dikenal dengan Multiple Intelligence Research (MIR) yang mampu mengetahui banyak dimensi kondisi kemampuan dan kekurangan siswa terutama tentang bagaimana gaya belajar siswa.
  • Sekolah dan guru pada sekolah ini akan mendapatkan sebuah kenyataan tentang kemampuan akademik dan moral siswa-siswa barunya sangat beragam. Sehingga hal ini merupakan tantangan bagi guru untuk mengubah menjadi ke arah positif. Akhirnya guru-guru di sekolah ini dituntut menjadi ”agen perubah” . Mengubah kondisi akademik dan moral siswa yang negatif menjadi positif.
  • Menurut Tom J. Parkins, inilah sekolah yang sebenarnya, sekolah yang menerima segala kondisi siswanya. Kemudian kondisi itu dipelajari dan diteliti, lalu dengan data tersebut, para guru mencoba mengembangkan kemampuan siswa-siswanya dengan cara yang berbeda-beda. Sekolah unggul adalah sekolah yang menitik beratkan pada kualitas proses pembelajaran, dan ini ada pada pundak guru, bukan pada kualitas input siswanya.
  • Guru-guru pada sekolah ini biasanya kreatif, sebab meyakini bahwa gaya mengajar guru tersebut harus disesuaikan dengan gaya belajar siswanya. Tuntutan mengajar dengan pola demikian hanya dapat dilakukan oleh guru-guru yang handal, punya dedikasi dan kompetensi mengajar yang baik. Dengan demikian sekolah yang menerapkan konsep ini, biasanya jadwal pelatihan guru sangat padat. Guru benar-benar diharapkan profesional dan menjadi agen perubah.

Hasil penelitian Tom J. Perkins terhadap sekolah-sekolah di Indonesia adalah sebagai berikut:

INPUT
a. Best Input :  99% Sekolah biasa
b. Best Process :  1% Sekolah unggulPROSES
a. Left Brain : 99% Sekolah biasa
b. Holistic Brain : 1% Sekolah unggul
-
OUTPUT
a. Cognitive Only 99% Sekolah biasa
b. Cognitive (knowledge),
-
Affective (attitude),
Psychomotor (skills)1%Sekolah unggul
-

Riset ini dilakukan pada tahun 2003 dengan meneliti sebanyak 85 sekolah unggul di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah:

  • Masih sedikitnya (baca: 1%) sekolah di Indonesia yang dikategorikan sekolah unggul, baik pada komponen input, proses, dan output.
  • Paradigma sekolah unggul di Indonesia masih banyak yang harus dikoreksi dan ditata lagi, terutama pada input penerimaan siswa baru.

———-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

Baca buku terkait :

Sumber : Mailinglist “pakguruonline”

About these ads

Responses

  1. Pertama;berdasarkan temuan penelitian ini apa yg bisa direkomendasikan kpd pemerintah?
    Kedua: indikator Sekolah Unggul dlm peneletian ini hanya berdasarkan dua indikator saja yakni IN-PUT dan PROSES, sedangkan OUT-PUT berupa product/hasil belajar tidak digunakan sbg indikator unggulnya suatu Sekolah ? Bagaimana utk membandingkan sekolah satu lebih UNGGUL drpd sekolah lain kalau tidak dibandingkan berdasarkan Hasil belajarnya ? Trimakasih.

  2. Antara sekolah Unggul dan reguler memang jauh perbedaannya baik dari PSB sebagai Input,SDM pendidik sebagai proses,dan hasil lulusan sebagai Output.Lalu gimana dengan adanya UNAS?Aapa yang terjadi dilapangan ? dengan UNAS masyarakat menilai sekolah itu Fofurit apabila hasil UNAS menyandang nilai baik dan lulus 100%.Dilapangan ada SSN,RSBI,dan SBI bagaimana hasil UNAS macam-macan sekolah dikreterikan dibandingkan dengan sekolah yang biasa / reguler………………?
    Perlu adanya Evaulasi yang mendalammmmmmmmmmmm……

  3. kenapa harus ada rsbi atau sbi….mau di bawa kemana sebenarnya pendidikan indonesia ini ?…kenapa tidak membuat sekolah nasional yang bertaraf internasional di semua wilayah indonesia secara menyeluruh, adil dan terjangkau , itu lebih baik dan manusiawi di bandingkan praktek rsbi dan sbi yang berlangsung sekarang ini…..

  4. Mumpung sekarang ada Badan Baru di jajaran Kemdiknas yang bernama Badan Pengembangan SDM Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan, saya rasa tulisan ini sangat patut untuk ditindaklanjuti. Sebenarnya sebagian masyarakat sudah menyadari akan hal ini, namun apa mau dikata, selama ini profesi guru masih dilirik sebelah mata oleh pemuda/i kita. Harus ada penelitian lanjut tentang interest para pelajar SMU Indonesia, nantinya profesi mana saja yang mereka bidik, karena ini akan menuntun langkah ke perguruan tinggi yang akan dipilih. Pasti lebih seru apabila hasil penelitian tersebut membuktikan bahwa profesi guru menjadi pilihan terakhir. Inipun kita sudah bisa menebak alasannya. Jadi, apalagi? Masyarakat harus mendorong minat anak-anak mereka untuk berprofesi sebagai guru. Idealnya, mengangkat dan menempatkan seseorang menjadi guru di sekolah-sekolah harus melalui serangkaian test seperti layaknya merekrut penerbang pesawat komersial, atau pegawai baru di Bank Pemerintah atau di tempat “top” lainnya (tapi tidak ada unsur nepotismenya), yang harus dipastikan adalah ujung daripada test tersebut berbuah manis yakni memberikan jaminan kesejahteraan bagi yang lulus test ini, jenjang karier dan pembinaan di dalam/luar negeri. Bagaimana? masih mau terpuruk?

  5. Membaca dari beberapa komentar dan hasil penelitian yang dilakukan, saya tertarik untuk melakukan penelitian lanjutan dengan objek dan metode yang berbeda. sy punya rancanagan tentang Analisis Faktor Keunggulan Pendidikan Dasar (Komparasi antara SD Lab. Universitas Negeri Malang dengan Madarasah Ibtidaiyah Negeri Malang I). namun, sy masih kesulitan teori untuk mengembangkan. Menurut Bapak Munif Chatib yang terhormat, apakah konsep tersebut bagus untuk dilanjutkan? Bagaimana saran bapak dengan kesulitan yang sy alami? menurut bapak apa saja indikator pendidikan dasar yang unggul? Terimakasih


Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: