Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 12, 2011

SILATURRAHIM

SILATURRAHIM

Oleh : Athor Thohiri *)

Silaturrahim, silaturrahmi, ziarah, sejarah, bertamu, munjung, berkunjung – menjadi budaya Indonesia. Kunjungan ke rumah famili adalah anjuran agama. Dalam bahasa qur’anya “silaturrahim atau silaturrahmi”. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Yaa ma’syara al-muslimiina ittaqu Allaaha wa siluu al-arhaamakum”, Wahai jama’ah kaum muslimin – takutlah kamu kepada Allah, dan hubungkanlah silaturrahmi. “Fainnahu laisa min tsawaabin asra’u min shilati al-rahmi“. Sungguh yang paling cepat mendapat pahala adalah menghubungkan silaturrahmi. (HR. Thabrani)

Begitu besar pahala silaturrahmi. Dalam hadits riwayat Thabrani tadi, silaturrahmi paling cepat mendapat pahala.  Mengapa ? Karena – perintah agama. Dapat mengetahui khabar yang dikunjungi. Gembira, bisa ketemu sanak famili. Bisa tukar informasi. Saling tukar pendapat dan pesan. Bisa saling membantu dan bersedekah. Media silaturrahim ini memiliki manfaat yang besar, tentu dibudayakan sesuai tradisi yang ada.

Silaturahmi mampu mempererat persaudaraan. Mengokohkan rasa persatuan dan ukhuwwah Islamiyah. Memperkuat persatuan dan kesatuan. Yang tidak kenal jadi kenal. Menghindarkan perpecahan dan permusuhan. Saling tolong menolong. Yang sulit – jadi mudah. Yang jauh – jadi  dekat. Tidak patut ada upaya untuk meniadakan tradisi yang diajarkan Islam itu.

Nabi SAW bersabda: “Sungguh harumnya surga itu bisa tercium sejauh perjalanan seribu tahun. Demi Allah, tidak akan mencium bau surga orang yang durhaka kepada ibu bapak dan orang yang memutuskan silaturrahmi,” (HR. Thabrani). Bau surga saja tidak dapat tercium – apalagi keni’matan dan keindahannya, sungguh sangat mustakhil.

Posisi orang pemutus silaturrahim lebih jauh dari seribu tahun perjalanan arah ke surga. Mengapa zaman sekarang begitu mudah memutus persaudaraan ? Enggan dan malas berkunjung ke tempat sanak famili dan handai tolan. Alasannya klasik – sibuk, ndak ada waktu.  Kayaknya lebih tertarik pergi ke mall (pusat perbelanjaan) dan tempat hiburan. Padahal manfaat dari bertamu – sungguh lebih besar dari pada kedua tempat tadi. Orang sekarang baru mau berkunjung kalau ada kepentingan. Bisa soal materi, kedudukan, fasilitas, bantuan dan lain sebagainya. Kalau tidak ada itu, wallahu a’lam.

Anak-anak perlu dibiasakan silaturahim. Mereka akan lebih mengenal dari dekat sanak famili, kawan-kawan dan guru  orang tuanya. Dengan demikian dunia terasa luas, dimana-mana ada famili. Paling tidak ada teman dan kawan. Hal ini menjadikan bertambah lapang dada dan besar jiwa mereka. Akal fikirannya menjadi mudah berkembang, tidak beku. Bahkan menjadi pintar dan cerdas. Luas wawasannya.

Tradisi orang dahulu, suka membawa anak-anaknya ke orang alim dan cerdik cendikiawan – walau tempatnya di pegunungan dan pelosok. Bahkan dibawa ke ahli Qur’an, Hadits, Fiqih dan lain sebaginya. Alasannya sederhana, tabarrukan, agar mereka mendapat berkah. Rasional, dalam bertamu, mereka mendengar pembicaraan orang tuanya dengan tokoh itu. Bertambahlah pengetahuan dan ilmu si anak. Tidak mustakhil bila keberanian mereka bertambah pula karena terbiasa kenal dengan orang besar. Ini pengalaman amat berharga bagi masa depan anak-anak. Sehingga mereka tidak kuper (kurang pergaulan). Melainkan banyak teman, kenalan dan bisa melapangkan kepentingan mereka di masa t depan.

Mereka saling menanyakan perihal anak-anaknya. Dimana pendidikan dan pekerjaan? Anak pertama di mana ? Yang terakhir sudah selesai kuliahnya ? Nomor berapa yang di pondok ? dan seterusnya. Tukar informasi semacam itu bisa menghidupkan kebekuan bertamu. Bisa menjadi ajang evaluasi  keberhasilan anak-anaknya. Banyak yang kepingin agar anak-anaknya bisa berhasil seperti temannya itu. Dengan tekat yang kuat, anaknya dididik lebih baik lagi. Tidak jarang terjadi, justeru dari bertamu itu anaknya menemukan calon jodoh yang diidamkan.

Almarhum Pak Noer. Mantan gubernur Jawa Timur. Malah orang bilang bahwa beliau itu ya tetap sebagai gubernurnya Jawa Timur. Sedang lain-lainnya, sesudah beliau adalah penggantinya. Pak Soenandar Priosudarmo, Pak Sularso,  Pak Basofi, Pak Imam, dan Pak De Karwo – itu semua adalah pengganti beliau. Gubernurnya ya masih Pak H. Mohammad Noer itu, kelakarnya.

Konon, walau usia sudah hampir menembus seratus tahun, namun masih aktif mendatangi acara-acara kenegaraan – khususnya Hari Besar Islam. Bahkan peresmian tempat ibadah/masjid, panti asuhan, panti jompo dan lain sebagainya, beliau selalu ada di situ dengan tongkat di tangan kanannya.

Bersabda Nabi Muhammad SAW: “Man araada ayyubsatha lahu fii rizqihii, wa yunsa-a lahu fii ‘umurihii falyashil rahimahu”. Barangsiapa yang ingin diluaskan rizqinya dan dipanjangkan umurnya, maka sambunglah silaturrahim.” (HR. Bukhari)

Dari Ibnu Abbas ra, ia berkata: Pada suatu ketika Nabi Saw bersabda di atas mimbarnya: Sukakah aku beritakan kepadamu orang yang paling jahat diantara kalian? Mereka menjawab: tentu, ya, Rasulallah. Rasulullah bersabda: Orang yang paling jahat diantara kalian ialah: orang yang makan sendiri, memukul orang (budak/pembantu) yang taat, dan menolak pemberian.

Rasulullah saw bersabda (lagi): Sukakah aku beritakan kepadamu orang yang lebih jahat dari itu ? Mereka menjawab: tentu, ya, Rasulullah. Rasulullah menjawab: orang yang membenci kepada orang, dan  orang membencinya.

Rasulullah saw bersabda (lagi): Sukakah aku beritakan kepadamu orang yang lebih jahat dari itu semua. Mereka menjawab: tentu, ya, Rasulallah. Rasulullah menjawab: Orang yang tidak menolong orang yang tergelincir, tidak menerima permintaan maaf, dan tidak memberi maaf kesalahan orang lain.

Rasulullah saw bersabda (lagi): Sukakah aku beritakan kepadamu orang yang lebih jahat dari itu semuanya ? Mereka menjawab: tentu, ya, Rasulullah. Rasulullah menjawab: Orang yang tidak bisa diharap kebaikannya dan orang yang membuat orang lain tidak aman dari  kejahatannya. (Al Mu’jam al Kabir, Juz 10, Shahifah 318, Hadits No. 10775)

Kalau Ramadhan bulan pengampunan dari Allah, hablum minallah. Maka Idul Fitri – media saling memaafkan sesama manusia, hablum minannas. Bila dua hubungan itu terjalin baik, insya Allah kedudukan manusia tidak tercela. Melainkan – dalam martabat yang mulia (QS. Ali Imran [2]: 112).

*) (Athor Thohiri, Staf Pengajar Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri, Staf Pengajar STAI Miftahul ‘Ula Kertosono Nganjuk)

——–
Download artikel ini dalam file word document [klik disini]

About these ads

Responses

  1. Ass. wr. wb. Penulis yang terhormat terimakasih atas tulisan bapak yang membahas masalah silaturrahmi dengan jelas disertai dalil Al Qur’an dan Hadits Rosululloh saw. Tapi yang menjadi persoalan budaya di negeri kita mengapa semangat silaturahmi kepada kaum kerabat di fokuskan hanya pada hari raya ‘Idul Fitri? Budaya mudik untuk silaturahmi sudah dianggap sebagai bagian integral dari aktifitas ritual agama pasca shaum Ramadhan. Apabila kita cermati budaya mudik yang difokuskan pada hari raya ‘Idul Fitri, lebih banyak madharatnya ketimbang manfaatnya. Contoh kasus, korban kecelakaan arus mudik tahun ini 799 orang meninggal dunia, ribuan orang luka, kemacetan luar biasa, dan masih banyak dampak negatif lainnya baik dibidang sosial, ekonomi, maupun keamanan dan ketertiban. Karena itu, mari kita jalin silaturaahmi setiap saat baik secaraa langsung maupun tidak langsung. Budaya mudik berjama;ah dengan tujuan silaturahmi sebaiknya mulai kita tinggalkan dengan alasan ” DAF’UL MAFAASID MUQODAMUN ‘ALA JALBIL MASHOLIH. Wallohu A’lam

    • Wa’alaikumussalaam warahmatullaahi wabarakaatuh.

      Tuan/Ny d on yang saya hormati dan saya saya mulyakan.
      Saya sangat terima kasih atas bersedia mebaca tulisan saya yang tiada nilai. Lebih-lebih pujian dan saran serta upaya mengajak meninggalkan budaya yang berdasarkan dari anjuran Rasulullah Saw, pesuruh Allah yang khatm al-Anbiya’ wa al-Mursalin itu, dengan sebuah alasan yang menurut agama sebuah resiko dari jihat melawan hawa nafsu masing-masing.
      Ketika kaum Muslimin baru pulang dari perang Badar, suatu peperangan yang sangat dahsyat, 1ooo personal kaum kafir, 300 personal kaum Muslimin. Namun, atas idzin Allah Swt – kaum Muslimin mendapat kemenangan gemilang. Lalu Rasulullah bersabda: Kita baru pulang dari peperangan yang sangat kecil (jihadu al-ashghar) dan akan menghadapi peperangan yang sangat besar (jihad al-akbar). para sahabat bertanya dengan penuh keheranan, apa itu ya Rasulallah? Jihad an-Nafs, jihad melawan hawa nafsyu, jawab Rasulullah Saw.
      Merasa tidak punya salah, merasa paling bersih, egois, takabbur, merasa kuat sendiri, tidak butuh kepada orang lain, dan penyakit hati lainnya. Sehingga lebih mengutamakan diam di rumah dan istana sendiri daripada berkunung (mudik). Ini yang disebut perang melawan hawa nafsu. Dan, ini yang di sebut jihad al-akbar. Tidak semua kaum muslimin sanggup menghadapi jihad yang satu ini dengan banyak dalih dan alasan, misalnya “daf’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih” dst. Misalnya, menghamburkan uang, berpayah-payah, banyak musibah, kecelakaan dst dst.
      Saya menghormati pendapat Tuan/Ny d on utk mengajat menjalin silaturrahim setiap saat. Namun, utk yang tdk sempat setiap saat karena kesibukan dari ke hari, minggu ke minggu, bulan ke bulan yang tak habis-habisnya, maka paling tidak setelah memohon maghfirah dari Allah pada bulan Ramadhan, kita sekalian saling memberi dan minta maaf kepada sesama atau haq al-Adami pada bulan Syawwal.
      Sesungguhnya musibah yang terjadi pada saat menjalankan perintah agama menyambung silaturrahim — bila dilihat secara hakiki memiliki nilai & tempat tersendiri di hadapan Allah Swt. Tidak sia-sia
      mereka mendapat musibah. Smua ada perhitungannya menurut agama.
      Semoga bermanfaat. Terima kasih dan mohon maaf. Saya tunggu sarannya utk menambah lebih luasnya esensi dari tulisan ini.

      Wassalamu’alaikum
      Hormat saya

      Athor Thohiri


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: