Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 23, 2011

Mendongkrak Budaya Baca Pelajar dan Anak-anak Kita

Mendongkrak Budaya Baca Pelajar dan Anak-anak Kita

Oleh :  Drs.Marijan
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta

Di tahun yang silam Kepala Negara telah mencanangkan adanya bulan buku, bahasa, gemar membaca atau ‘bulan aksara. Tentu saja pencanangan ini bukan tanpa maksud tetapi penuh hasrat mulia agar masyarakat tergugah untuk mencintai buku, membudayakan pemakaian bahasa yang baik dan membudayakan gemar membaca.

Untuk meningkatkan budaya gemar membaca, pemerin­tah mengupayakan adanya pancingan-pancingan seperti penca­nangan bulan buku, bulan gemar membaca, pemilihan Putri dan Pa­ngeran buku, perpustakaan Wiling yang semuanya ini hasilnya belum dapat menggembirakan.

Tak perlu kita pungkiri kebia­saan membaca pada pelajar dan anak­-anak kita memang masih tergolong rendah. Kenyataan ini sungguh sangat memprihatinkan karena buda­ya gemar membaca yang identik dengan budaya belajar adalah sangat penting bagi kemajuan bangsa di masa depan.

Padahal dalam masyarakat yang semakin maju media baca menjadi kebutuhan prima. Tetapi menurut statistik Word Press Trends, satu surat kabar di Indonesia dibaca oleh 41,53 orang. Ini kan menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia sangat rendah dalam budaya baca. Pelajar pun tidak berbeda jauh dengan popu­Iasi masyarakat umumnya. Lain de­ngan Jepang yang menunjukkan begitu tingginya budaya baca sehingga satu surat kabar dibaca 1,74 or­ang. Itulah seldlas surat kabar sebagai  indikator budaya baca. Indikator yang lainpun menuniukkan peningkat yang sama, misalnya jumlah buku yang terbit di Indonesia sekitar 5.000 per tahun. Sedangkan Jepang menca­pal 100.000 judul buku (KR, 12 Mei 1997). Bukankah selisih angka ini tergolong sangat besar?

Tak dapat mengelak, zaman yang akan segera dimastild ini adalah apa yang selalu digembor-gembor­kan sebagai era informasi. Dalam era ini semua orang berkompetisi untuk menguasai sebanyak mungtdn infor­masi secara cepat. Dalam kaitan ini­lah budaya gemar membaca meme­gang peranan utama. Mengapa?

Karena di dalam buku dan me­dia informasi lainnya (majalah, Surat kabar, tabloid, buletin dan lain-lain) terdapat artikel-artikel dan gagasan-gagasan ilmu pengetahuan, teknologi, berita wawasan baru yang sangat di­perlukan untuk menghadapi era yang penuh kompetitif ini.

Sebenamyalah budaya gemar membaca menjadi kunci pemba­rigunan pendidikan nasional di masa depan. Sedangkan kecenderungan pendidikan selama ini baru dalam taraf usaha formal yang sekedar membangun masyarakat bersekolah. Padahal untuk menjawab tantangan kemajuan masa depan harus tercipta bangsa yang mengembangkan masyarakat belajar, (learning society) sekaligus masyarakat membaca (reading society).

Membaca, bagaimanapun juga adalah suatu kebutuhan hidup manu­sia jika berkeinginan memperoleh ilmu pengetahuan dan informasi yang sebanyak-banyaknya. Hasil peroleh­an ini akan sangat bermanfaat untuk mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki. Dengan gemar mem­baca pengetahuan dan wawasan akan bertambah luas. Dengan membaca membukakan cakrawala, wawasan dan akal pikirannya. Sehingga melalui kecerdasan yang meningkat itu pelajar dan anak-anak kita nanti bisa se­cara mandiri menjawab tantangan yang begitu banyak di era globalisasi abad XXI mendatang.

Menjadi tanggung jawab kita semua (orang tua, guru, kepala seko­lah, masyarakat dan pemerintah mengupa­yakan mendongkrak budaya baca kepada pelajar dan anak-anak bangsa ini. Gu­ru tak akan berfungsi banyak bagli pengembangan kognitif siswa jika tidak didukung oleh kemauan yang keras dalam hal budaya baca dari siswa/pelajar itu sendiri. Sungguh, un­tuk menumbuhkan budaya gemar membaca bagi para pelajar kita bu­kan pekerjaan yang mudah. Sebagai orang tua dan tenaga edukatif harus mau dan mengambil sikap demi terciptanya pelajar gemar membaca. Langkah yang kita ambil paling tidak menyangkut beberapa alternatif se­perti di bawah ini.

Pertama, memberi pengarahan secara tuntas kepada pelajar dan anak-anak kiita tentang keuntungan gemar membaca serta kerugiannya jika tanpa menyenangi budaya mem­baca, Tak perlu merasa bosan mem­beri pengarahan yang mulia ini.

Kedua mengatasi kendala-ken­dala yang muncul dalam upaya mem­budayakan gemar membaca. misal­riya dengan hadirnya televisi di te­ngah-tengah kita yang menampilkan acara hiburan menarik dan tak henti­-hentinya, kita harus pandai mengatumya sehingga anak tidak terpaku di depan TV mabuk terlena dalam setiap acara. Kebiasaan nongkrong para pelajar tanpa tujuan yang jelas harus diawasi, dinasihati dan dila­rang. Setiap orang tua harus berani melakukan hal ini minimal terhadap anak-anaknya sendiri.

Ketiga meningkatkan kepeduli­an kita untuk menyediakan buku dan bahan informasi lainnya. Untuk me­numbuhkan budaya gemar membaca sedini mungkin perlu di dalam ke­luarga tersedia buku dan bahan baca­an lainnya yang menarik bagi gene­rasi anak-anak kita.

Keempat membangun manaje­men pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Pelarangan macam-­macam aturan di perpustakaan perlu ditinjau kembali. misalnya, buku ini tak boleti dibawa pulang, buku itu tak boleti difoto kopi, setiap anak tak bo­leh meminjam lebih dari dua buku dan lain-lain aturan yang kurang menguntungkan siswa. Sedangkan waktu membaca hanya ada kesem­patan di saat istirahat. Lalu mau untuk apa buku itu? Lagi, perpustakaan hendaknya buka full sehari dengan alasan di waktu pagi siswa jelas ada di dalam kelas atau laboratorium. Sedangkan waktu istirahat yang ha­nya 15 merit itu digunakan untuk jajan di kantin.

Kagan harus membaca buku di perpustakaan? Ironis kiranya jika sis­wa dikejar-kejar agar gemar memba­ca tetapi perpustakaan sendiri tidak memberi kesempatan/kelonggaran kepada para pengguna buku. Jika pelayanan perpustakaan bisa seperti itu memang timbul konsekuensi penambahan dana pengeluaran untuk menambah gaji tenaga-tenaga per­pustakaan.

Jika langkah-langkah seperti di atas dapat tercipta, budaya baca pelajar dan anak-anak kita mempu­nyai peluang yang besar untuk segera tercipta. Dan terciptanya budaya ge­mar membaca adalah modal dasar dalam upaya peningkatan kualitas somber daya manusia (SDN1). Ter­ciptanya budaya gemar membaca bagi anak-anak bangsa ini membuat kita bisa sedilcit bertepuk dada sem­bari bernapas lega. Impian maju akan tercipta dunia pun ramai memuja mereka serentak berkata, “INDONE­SIA JAVA’.

———–
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 71 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: