Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Oktober 4, 2007

Opini : Modal Asing Vs. Nilai Nasional Pendidikan

Modal Asing Vs. Nilai Nasional Pendidikan

drs-fekrynur-med.jpg

Drs. Fekrynur, M.Ed *)

Saya melihat Ketua Forum Rektor, Prof. Dr. Sofian Effendi mengungkapkan kecemasan yang berlebihan terhadap penanaman nilai-nilai kebangsaan dalam statement-nya berikut ini:

“Jika semua pendidikan asing diperbolehkan mendirikan pendidikan maka siapa yang akan bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai bangsa, seperti nasionalisme dan cinta tanah air. Jelas, kebijakan ini mempunyai implikasi terhadap nasib bangsa ke depan, ” ucapnya.* [Suara Pembaruan]

Penanaman nilai-nilai kebangsaan hanyalah salah satu tujuan pendidikan. Walaupun itu penting; usaha mencerdaskan bangsa ini dengan pengembangan nilai kejujuran dan semangat untuk bekerja keras untuk mencapai mutu terbaik dalam segala hal perlu juga mendapat perhatian oleh Pak Sofian Effendi, dan Forum Rektor?

Bila asing masuk ke Indonesia,  dengan garisan pola kerjasama 49% dia dan 51% lokal, tentu mereka, pihak asing itu,  tidak akan dengan begitu saja menerima apa-apa yang berlaku sekarang di dunia pendidikan kita. Dengan begitu kita, sebagai bangsa bangsa yang ingin maju seperti mereka,  akan sampai ke suatu momen baru di mana pendidikan nasional, yang menjadi keprihatinan kita semua, dapat berubah ke arah yang lebih baik.  Mereka (pihak asing) pasti akan menolak ‘praktek-praktek jelek’ seperti: pelaksanaan UN yang tidak jelas apa maunya, perikrutan tenaga guru ( kependidikan) yang tidak benar, dan proses belajar mengajar acak-acakan terus berlanjut di  ‘sekolah kerjasama’.

Dengan kepemilikan modal 51% oleh partner lokal, kalau yang menjadi pemilik itu adalah badan atau perorangan yang cukup nasionalis,  saya yakin  pendidikan cinta tanah air akan bisa tetap diakomodir, walaupun tidak dengan memaksakan ‘drilling’  lewat berbagai mata pelajaran lagi seperti di era Ordebaru.

Pihak asing tentu akan pikir-pikir dan hanya akan mau masuk di daerah atau lingkungan masarakat  potensial dan pada level  atau jenjang  pendidikan yang layak jual.  Mereka tidak akan masuk kalau investasi mereka tidak  akan mampu menghasilkan uang.  Dapat dipastikan, akan tetap ada cukup luas ruang untuk pendidikan yang murni dikelola pemerintah dan swasta lokal untuk kita ‘memasukkan nilai-nilai bangsa’.  Sementara, pemunculan sekolah kerjasama dengan asing, di tiap level pendidikan itu, akan memicu suatu persaingan sehat. Kondisi ini potensial memunculkan alternatif lembaga pendidikan yang lebih bermutu. Baik  sekolah negeri milik pemerintah,  swasta lokal murni seperti Paramadina, Alzhar,  Baiturrahmah, Adabiah dan lain-lain,  di samping  sekolah kerjasama itu tentunya, akan berkompetisi menuju mutu kalau mereka tidak mau  k a l a h.

Juga akan terpacu mutu lembaga pendidikan tinggi pencetak tenaga guru [LPTK] lokal.  Dalam dunia dagang ‘konsumen’  konsumen hampir selalu mencari mutu terbaik dengan harga kompetitif.  Tidak mungkin sekolah kerjasama akan mendatangkan semua gurunya dari luar negeri, karena itu mahal. Jadi tetap ada ruang bagi LPTK lokal untuk berkontribusi, kalau mutu guru yang mereka hasilkan cukup memadai di mata pemodal asing. Entahlah, kalau Forum Rektor dihantui oleh rasa ketakutan tidak akan mampu meningkatkan LPTK kita,  yang mereka pimpin sendiri.

Jadi,  saya berharap, jangan kita cepat-cepat apriori dengan trend baru ‘menjual pendidikan’. Justru yang perlu diwaspadai adalah ‘tergadainya dunia pendidikan’  kita ke tangan orang – orang yang tidak mengerti berbagai tujuan pendidikan nasional kita. Walau tergadai kepada orang lokal sekalipun.

Saya masih berkeyakinan Forum Rektor adalah forum yang tepat untuk kita menyandarkan harapan agar mutu pendidikan kita bisa lebih maju ke depan.

Kepada para perantau Indonesia yang sukses di perantauan mereka masing-masing, baik di dalam negeri maupun di luar negeri, hendaknya ikut membantu secara konkrit kemajuan pendidikan di kampung halaman kita masing-masing dengan ‘membawa pemodal asing’ secara selektif ke tanah air.

*) Drs. Fekrynur, M.Ed. Pengawas Disdik Prop. Sumbar
———-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: