Oleh: zulfikri | Oktober 18, 2007

Artikel: Mengapa Harus Ke SMA ???

MENGAPA HARUS KE SMA ???

Oleh: Prof. Dr. Jalius Jama, M.Ed
Dosen Fak Teknik dan Pasacasarjana UNP.
—-

A. PENGANTAR

Setiap akhir tahun ajaran para orang tua disibukkan oleh urusan persekolahan anak-anak mereka. Urusan yang lebih besar terjadi bila menghadapi masalah peralihan jenjang dari SD ke SLTP dan seterusnya ke SLTA, karena sesungguhnya ada sebuah keputusan yang harus dibuat menyangkut masa depan anak. Namun bagi umumnya orang tua, yang penting adalah bagaimana si anak dapat melanjutkan sekolah, kalau bisa ya pada sekolah negeri yang bagus. Belum terlintas pada pikiran orang tua tentang karir dan masa depan anak-anak.

Fenomena yang  menarik pada artikel ini adalah peralihan dari jenjang khususnya dari SLTP ke SLTA yang sudah mulai erat kaitannya dengan karir masa depan anak. Jenjang SLTP yang dalam sistem pendidikan nasional berbentuk SMP dan M.Ts. Dalam memilih lebih banyak merupakan oleh pilihan orang tua dari pada pilihan anak. Kenyataan yang terlihat dimana-mana adalah anak-anak mereka ramai-ramai masuk ke SMA tanpa tahu mengapa harus masuk SMA. Sangat sedikit jumlahnya yang melanjutkan studi ke Sekolah Kejuruan (SMK). Perbandingannya cukup fantastis. Secara nasional, menurut data di Depdiknas, prosentase peminat SMK kecil dari 5%. Hanya ada di empat provinsi (DKI, Jawa Barat, Jateng, Jatim) peminat lulusan SLTP melanjutkan ke SMK di atas 10%. Selebihnya sangat mengharukan, karena di sebagian besar daerah, peminat masuk SMK di bawah 2%.

Berdasarkan pengamatan kasat mata, kenyataan yang terlihat di setiap kota hanya ada dua atau tiga SMK saja yang memiliki siswa sesuai dengan daya tampung. Umumnya merupakan SMK Negeri yang dapat perhatian khusus dari Diknas. Sisanya merupakan SMK yang memprihatinkan dan kelihatannya tidak terurus. Kondisi ini bermula sejak sepuluh tahun terakhir dan semakin hari semakin memprihatinkan. Jumlah siswa yang kecil sangat mempengaruhi pengelolaan, dan ibarat penyakit, seperti tidak terobati. Bagi sekolah swasta, sumber dana satu-satunya adalah dari siswa yang semakin hari semakin susut. Honor guru dan pengelola semakin kecil dan tentu saja, kualitas pendidikan yang memang sudah rendah semakin tidak pernah dibicarakan lagi, pasrah.

Mengapa kejadiannya sampai demikian? Masyarakat yang pemahamannya rata-rata pada tingkat awam, melihat bahwa anak-anak yang tamat SMK umumnya tidak memiliki ketrampilan untuk memasuki dunia kerja, di samping peluang kerja itu sendiri juga semakin sulit. Jadi, untuk apa masuk SMK, kan lebih baik SMA saja. Bila kita menggunakan logika hukum sebab akibat, maka fenomena “ramai-ramai ke SMA” hanyalah akibat saja dari sejumlah sebab. Berangkat dari asumsi bahwa kita semua setuju pentingnya peran SMK dalam mempersiapkan tenaga kerja yang trampil, mendidik anak-anak untuk mandiri, menurunkan angka pengangguran, mengurangi angka kejahatan dan meningkatkan pemasukan pajak untuk negara, maka perlu dilakukan analisis untuk mengidentifikasi faktor-faktor penyebab, dan pada gilirannya dapat dirancang program-program apakah yang perlu dilakukan untuk menata masa depan pendidikan kejuruan di Indonesia.

B. Masalah Pendidikan Kejuruan

Meskipun pendidikan kejuruan di negara kita sudah dimulai lebih seabad yang Design pendidikan kejuruan oleh karena itu, tidak pernah terlihat posisi pendidikan kejuruan dalam pembangunan nasional dan dalam pembangunan pendidikan. Bila anda berkunjung ke kantor Diknas provinsi ataupun Kab./Kota anda tidak lagi menemukan direktorat Dikmenjur karena sudah diciutkan menjadi bagian kecil saja dari pendidikan (umum) menengah. Mungkin cukup diurus secara sambilan oleh tenaga yang tidak perlu memahami apakah itu substansi kejuruan.

Pendidikan kejuruan adalah sekolah dengan biaya mahal, karena untuk mendidik siswa yang trampil dibutuhkan peralatan dan bahan, laboratorium dan bengkel kerja. Para guru dan instruktur praktek harus trampil lahir dan batin dan perlu secara berkala meng-update ketrampilan dan pengetahuannya di dunia kerja. Perlu pula menjalin hubungan kerjasama dengan pihak industri dan dunia kerja, serta berbagai urusan lainnya, yang semuanya merupakan tanggung jawab pemerintah/Diknas. Bila berbagai masalah internal persekolahan kejuruan dibenahi, maka reputasi pendidikan kejuruan secara berangsur dapt dikembalikan.

Sebuah masalah krusial lain sebagai penyebab sulitnya mengurus pendidikan kejuruan adalah kurangnya dukungan pemerintah dalam hal kewajiban dunia usaha untuk ikut bertanggungjawab atas atas penyelenggaraan pendidikan kejuruan. Di semua negara maju ada undang-undang pendidikan kejuruan (Vocational Acts) yang mengatur dan melindungi fungsi dan tugas dunia industri terhadap pendidikan kejuruan. Kita hanya punya CSR (Corporate Social Responsibility) yang bersifat sukarela perusahaan atas kehidupan sosial di sekitarnya. CSR bagi banyak perusahaan dianggap musuh utama dari tujuan pokok perusahaan yaitu mencari keuntungan sebesar-besarnya. Sejumlah SMK maju memang sudah berhasil menjalin kerjasama dengan perusahaan besar maupun kecil.

C. Rekomendasi

Sesungguhnya, tidak ada cara singkat untuk menyelesaikan pendidikan kejuruan. Untuk bisa keluar dari kemelut pendidikan kejuruan, maka ada beberapa strategi yang dapat disarankan. Rekomendasi ini sejalan dengan kebijakan baru Depdiknas yang dalam waktu dekat (2007) ini akan meningkatkan jumlah siswa SMK yang pada masa sekarang  3 siswa SMK berbanding 7 siswa SMA menjadi 6 siswa SMK dan 4 Siswa SMA. Beberapa saran dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Perbaiki SMK Negeri dan Swasta yang ada saat ini secara total, mulai dari kurikulum, tenaga pendidik, dana operasional, fasilitas, dan manajemen persekolahan. Kerjasama dengan pihak industri dan organisasi profesi perlu ditingkatkan melalui kebijakan daerah (Perda) sehingga kewajiban bersama pemerintah dan masyarakat dapat diwujudkan Kerjasama juga perlu diadakan dengan penunjukan Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan sebagai perguruan tinggi pembina.
  2. Pada jenjang SLTP diperlukan program bimbingan karir, agar siswa SLTP dan para orang tua memahami tersedianya sekolah alternatif pada jenjang SLTA yang tidak kalah pentingnya dalam menjalani kehidupan kelak bila anak sudah dewasa. Kegiatan open house oleh pihak SMK dan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan kejuruan dengan mengundang siswa SLTP dlaksanakan secara terprogram dan menarik. Diharapkan tidak lagi terjadi ramai-ramai ke SMA tanpa tahu mengapa ke SMA.
  3. Setiap pendirian SMK baru harus disertai studi kelayakan yang benar agar jenis program yang dibuka benar-benar sejalan dengan potensi unggulan daerah. Bahkan perlu dikaji ulang keberadaan SMK yang sudah ada saat ini apakah masih layak, sejalan dan akan berkontribusi dengan pembangunan daerah. Berbagai inovasi program perlu dilakukan untuk merespon perkembangan teknologi.
  4. Untuk menambah jumlah siswa kejuruan, di SMA dapat dibuka program kejuruan, seperti Akuntansi, Perhotelan, Pariwisata, Busana, Boga, Komputer dan Sistem Informatika.
  5. Bagi tamatan SMK yang belum memiliki ketrampilan siap pakai, perlu dirancang program bridging, kursus singkat dan padat namun mampu mempersiapkan mereka untuk terjun ke dunia kerja. Program ini dilakukan di SMK dan merupakan bagian integral dari program sekolah.

Diharapkan program dan rekomendasi di atas dapat mengurangi arus ramai-ramai ke SMA tenpa tahu mengapa harus ke SMA. Demikianlah sumbangan pikiran tentang pendidikan kejuruan dalam rangka mendukung kebijakan Mendiknas tentang ektensifikasi SMK 2007, semoga berhasil.

 

(Download artikel ini dalam format word document, klik disini)

Iklan

Responses

  1. bukan masalah dikotomi antara sma dan smk tetapi adalah perbedaan perhatian yang terlalu signifikan dari pemerintah. seharusnya pemerintah juga harus memperhatikan smk baik itu dari segi akademik maupun non akademik..

  2. Harus diakui, justru SMK lah yang sejak awal siswa masuk sudah mengarahkan sang siswa pada suatu kejuruan, yang mana tidak dimiliki oleh SMA. Selama ini pemerintah maupun masyarakat hanya memandang sebelah mata pada SMK. Padahal, siswa-siswa lulusan SMK merupakan tenaga siap pakai. Pandangan ini harus diubah dengan menggalakkan kegiatan2 bermanfaat yang melibatkan eksistensi SMK.

  3. tapi yang perlu disadari pengembangan smk juga harus di dukukng dengan lapangan pekerjaan yang tersedia, karena lulusan dari smk adalah para pekerja yang siap pakai, apakh lapangan pekerjaan itu sudah tersedia itu yang perlu di pertanyakan. apakah selalu saja para lulusan ini membuat usaha tersendiri tanpa terarah lebih baik lagi. apa upaya pemerintah.

  4. opini masyarakat ttg smk, kalo lulus smk kemudian kerja di industri atau bidang jasa lain, pasti gajinya rendah, toh cuma lulusan smk setingkat sma, ya mending ke sma terus kuliah jadi sarjana ato diploma, lumayan kan pendapatan akan beda dgn lulusan smk, masuk smk dengan demikian setara dengan pengentasan kemiskinan yang tipis selimutnya, masih terasa dingin angin bila bertiup, jadi masih sma yg jd pavorit anak-anak lulusan smp.coba kalo lulusan smk terus kerja di industri ato bidang jasa lain gajinya lumayan gede, pasti itu smk diserbuuu anak anak smp. jadi bukalah mata kita, muara akhir adalah sebuah penghargaan pemakai lulusan smk yg msh hrs didekati pemerintah, gaji lulusan smk distandarkan lebih dari lulusan sma, coba…

  5. saya sangat setuju dgn komentrar bapak, kita seharusnya mengadakan kegiatan semacam sosialisasi terhadap para siswa kelas IX di SLTP. agar mereka termotivasi.

  6. saya setuju dengan bung oobodt, masalahnya SMK itu adalah lapangan pekerjaan, pemerintah menciptakan tenaga murah dan massal tetapi lupa akan faktor lapangan pekerjaan, ditambah faktor iklan yg menurut saya sebenarnya kurang fair karena hanya smk saja yg diutamakan terutama kelebihanya, mengenai gaji yg lebih besar mohon maaf pak saya kira untuk prosedur sallery itu berdasarkan background pendidikan, jadi semakin tinggi pendidikan yg dimiliki semakin tinggi pula sallery yg dihasilkan dan menurut saya itu sangat fair

  7. saya sebagai pelajar smk sendiri sering mengalami… kendala baik dari segi. fasilitas, dana operasional.. dsb.
    mengapa bantuan hanya banyak ditujukan hanya pada sekolah umum saja padahal… seperti yang telah dikatakan oleh pa’ jalius jama bahwa sekolah menengah kejuruan sangat memerlukan biaya yang cukup besar.. untuk fasilitas contohnya alat praktek siswa.. salah satu contoh.. di sekolah menengah tempat saya mencari ilmu.. siswa jurusan TIK diharuskan mempunyai komputer sendiri untuk menjadi alat praktek disekolah, karena kurangnya bantuan biaya untuk sekolah menengah kejuruan..

  8. Menarik sekali apa yang bpk paparkan, demikian komplitnya masalah SMK, sehingga dari mana mau dimulai juga suatu hal yang penuh pertimbangan, melalui bpk saya sumbang saran, untuk memulainya
    1.pengkajian kurikulum, 2.sarana prasarana yang mendukung, 3.peningkatan kompetensi guru melalui
    diklat ( aktifkan lagi PPPG TERKAIT ) 4.Laksanakan
    pembelajaran yang menyenangkan dan berkeadilan
    dan seterusnya ada keterkaitan ikatan dengan dunia usaha dan industri, ……

  9. good job……………………………………………………………………………………………………………………………………………………….

  10. jauah bajalan banyak nan taliek


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: