Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 9, 2007

Opini : Tinggalkanlah Metode Konvensional

TINGGALKANLAH METODE KONVENSIONAL

Oleh: Marjohan
Guru SMA Neg.3 Batusangkar

Ramai sekali media massa menulis masalah Sumber Daya Manusia. Begitu pula para pakar telah sama setuju bahwa untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia amat diperlukan pendidikan. Dengan arti kata dunia pendidikan memegang peranan yang betul-betul pen­ting. Martabat suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas bangsa itu sendiri. Kualitas suatu bangsa diukur dengan sumber daya manusianya.

Kita sadari bahwa pendidikan, sungguh penting untuk kemaju­an bangsa. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mencapai bangsa yang berkualitas adalah dengan melaksanakan wajib belajar. Untuk mencapai hal ini Presiden Soeharto telah menca­nangkan wajib belajar enam tahun tepat pada hari Hardiknas tanggal 2 Mei 1984. Kemudian untuk percepatan mencapai sumber daya manusia yang berkualitas, maka sepuluh tahun kemudian, Mei 1994. Presiden mencanangkan lagi wajib be­lajar sembilan tahun. Untuk mensukseskan wajib belajar sembilan tahun itu sangat dituntut tenaga pendidik yang betul-betul ahli dalam bidang­nya (profesional) agar dapat mengelola pendidikan di la­pangan secara baik.

Mengingat betapa pentingnya sektor pendidikan dalam pelak­sanaan pembangunan nasional jangka panjang tahap dua, khusus pembangunan sumber daya manusia, kita tidak dapat menu­tup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu. Dan orang-orang arif dalam dunia pendidikan di negara ini cukup respon atas berbagai masalah pendidikan. Mereka merekayasa dan melaksanakan berbagai usaha peningkatan dan penyegaran.

Berbagai usaha untuk me­ningkatkan kualitas pendidikan telah sama-sama kita rasakan dan kita lihat. Begitu pula banyak pembaharuan demi pe­ningkatan mutu yang sudah dilakukan. Mengganti kuri­kulum yang diikuti oleh peru­bahan struktur buku-buku pela­jaran yang membanjir di pasaran. Membentuk proyek pe­ningkatan kwalitas guru-guru yang dilaksanakan dalam bentuk penataran, seminar-seminar dan latihan kerja. Begitu juga penye­diaan sarana dan prasarana bidang pendidikan.

Betapa usaha ini diterapkan melalui pengorbanan moril dan materil. Memberikan keri­nganan bagi guru-guru, misalnya dengan mengurangi jumlah jam mengajar di sekolah, agar dapat mengikuti penataran apakah dalam bentuk sanggar-sanggar atau bentuk MGMB dan MGBS. Namun usaha-usaha ini belum lagi menampakkan harapan dan pencapaian target. Kita dapat mengetahuinya lewat hasil Eb­tanas yang tetap rendah tiap tahun. Dan kita langsung mem­perhatikan betapa bertambahnya jumlah murid yang mengalami malas. Dari membaca media massa atau langsung melihat fakta yang menunjukkan adanya keruwetan dalam sekolah dan meningkatnya angka kenakalan pelajar.

Barangkali apa yang menye­babkan lambatnya peningkatan kualitas pendidikan ini? Li­hatlah proses belajar mengajar di sekolah-sekolah. Sistem pengajaran yang diterapkan oleh guru kepada murid barn sampai pada taraf memberi bekal penge­tahuan dan keterampilan sebatas sekedar tahu saja. Belum sampai kepada meletakan nilai-nilai wawasan sosial dan kemanu­siaan, serta penguasaan bekal hidup yang praktis. Dalam sis­tem pengajaran kita lihat hu­bungan guru dan murid ibarat hubungan cerek dan cangkir. Yang satu cuma sebatas mem­beri dan yang lain sekedar menerima saja.

Atau mungkin karena sistem pendidikan yang diterapkan oleh guru kepada murid bersifat mengulang-ulang dan tidak ada, atau kurang, kreasi dalam mengembangkan pelajaran dan seni mengajarnya. Sama-sama kita perhatikan bahwa masih ada guru-guru yang mana kalau mengajar menggunakan buku dan catatan yang sama sepan­jang tahun. Ada pula guru karena kurang menguasai bahan kemudian mengambil strategi mudah, yaitu meringkas isi buku untuk dicatatkan melulu. Atau menghafalkan buku catatan agar besok dapat disajikan ke ha­dapan murid di dalam kelas. Murid sendiri dapat mengatakan bahwa guru yang demikian ilmunya cuma tua satu malam dari murid. Dan inilah kenya­taan yang membuat integrasi guru-murid tetap berjalan macet. Guru sibuk berbicara di depan kelas sedangkan murid asyik melucu atau ngobrol di bela­kang.

Tampak taraf pengajaran kita untuk menyerap ilmu masih sekedar menyodorkan tugas­-tugas hafalan untuk diuji. Sis­tem komunikasi dalam kelas cenderung satu arah dan murid lebih dominan bersikap yes-man kepada guru. Mengkeritik guru atau beradu argumen seolah dipandang tabu. Mungkin selalu dibelenggu ketakutan karena berdampak pada ancam­an pada nilai rapor. Demikianlah ungkap salah seorang murid dalam suatu dialog ri­ngan. Belajar dengan cara meng­hafal sungguh mematikan krea­tif berfikir dan menunjukkan bahwa guru-guru masih mene­rapkan pengajaran sistem kuno.

Ciri-ciri sistem pengajaran kuno atau konvensional sangat terlihat jelas dalam interaksi guru-murid di sekolah. Dianta­ranya adalah pendekatan yang masih bersifat otoriter, yaitu bersifat menguasai. Guru meng­anggap bahwa dirinyalah paling benar. Yang mengharuskan seti­ap murid menerima apa yang dikatakan. Pernah kejadian pada sebuah sekolah. Seorang murid kritis tergolong pintar mencoba memberi usul atau kritik kons­truktif kepada seorang guru bidang studi. Membuat, guru menjadi merah muka dan bukti merasa gembira. Guru itu tampak kesal dan pada akhir semester dia telah menodai rapor murid dengan angka mati. Dia melakukan ini entah karena rasa dendam karena merasa kelin­tasan akibat ilmunya minus atau semata-mata memperturutkan egois.

Berbicara mengenai metoda pendekatan dalam pendidikan, ada tiga bentuk metode pende­katan yaitu konvensional, prog­resif dan metode liberal. Seko­lah-sekolah kita amat mengenal metode konvensional karena metode itu melekat terus. Sikap otoriter terlihat jelas dalam metode ini.

Beginilah suasana kelas atau sekolah dengan metode kon­vensional. Kelas dengan jumlah murid yang masih ramai, dan tampak lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Seolah-olah ruang kelaslah yang menjadi wilayah belajar murid, meskipun teori diatas kertas sungguh bagus. Dalam proses belajar mengajar siswa tampak bersikap pasif. Mereka hanya menerima ilmu saja dan dalam memahami pelajaran cenderung untuk selalu menghafal buku catatan. Interaksi guru-murid lebih diwarnai oleh rasa takut, ini menandakan fikiran masih terbelenggu. Dalam penguasaan bidang ilmu seolah-olah guru serba tahu secara mutlak. Ce­ramah merupakan metode yang lazim diterapkan. Murid-murid kurang terlibat secara aktif dan inilah penyebab suasana kelas dan suasana belajar menjadi serba membosankan. Hampir setiap hari banyak murid yang memboloskan diri. Maka tentu tidak berlaku kalimat yang berbunyi “kelasku adalah istanaku” tetapi yang terjadi ha­nyalah “kelasku terasa bagaikan penjara”.

Untuk memperoleh sumber daya manusia yang berkualitas adalah lewat sumber daya ma­nusia yang berkualitas pula. Maksudnya untuk memperoleh murid yang berkualitas tentu dibutuhkan pula guru yang, berkualitas. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar peran guru tidak hanya sekedar membantu proses pembelajaran atau sebagai seorang pengambil keputusan instruksional. Tetapi lebih dari itu yaitu guru harus dapat berperan sebagai konselor, motivator dan fasilitator agar proses pembelajaran anak didik tidak asal-asalan saja.

Untuk mendapatkan pendi­dikan yang berkualitas agaknya sederhana saja rumusnya, yakni guru jangan mengajar asal-­asalan. Sangat mustahil kalau guru-guru yang demikian dapat bertindak atas nama pening­katan kualitas, berfungsi sebagai konselor, motivator dan fasi­litator bagi murid-murid. Mustahil pula seorang guru akan ikut berpartisipasi sem­purna dalam pendidikan kalau ia sendiri belum menampakkan, kualitas diri. Untuk itu kita mengharapkan agar guru-guru bersikap tulus dalam mening­katkan kualitas pendidikan dan diri sendiri. Andai kata mereka mengikuti penataran atau sang­gar, misalnya, janganlah hanya sekedar mengharapkan sertifikat untuk kredit poin, mengha­rapkan sejumlah kecil maten dan begitu pula jangan hanya bersikap pasif atau sekedar hura-hura. Agar dapat mema­inkan peranan dengan baik dalam dunia pendidikan maka guru harus senantiasa membe­lajarkan diri, otodidaktif, dan agaknya tidak ada alasan lagi bagi guru untuk selalu ber­lindung di balik alasan untuk tidak belajar. Sediakanlah wak­tu setiap hari untuk menyentuh buku-buku yang bermanfaat dan dapat menambah wawasan ber­fikir dengan harapan kita semua dapat menjadi gum yang ber­kualitas agar kita dapat men­didik murid-murid menjadi sumberdaya manusia yang ber­kualitas.
————-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]

Baca juga artikel berikut :

  1. Menyelenggarakan Sekolah Unggul Perlu Membudayakan Gemar Membaca
  2. Memuluskan Komunikasi Atas-Bawah di Sekolah
  3. Bagaimana Kalau Tidak Lulus Di Perguruan Tinggi
  4. Kemerosotan Daya Tarik Sekolah

Responses

  1. Aku guru modern atau primitif ???
    22 04 2008

    Setiap saya bertanya kepada mahasiswa2 calon guru atau peserta penataran yang kesuluruhannya adalah guru2 dari berbagai daerah di Indonesia “Apakah Anda guru modern atau primitif ?? …” hampir semuanya menjawab bahwa mereka adalah guru yang modern dan sebahagian kecil menjawab mereka adalah guru yang akan menjadi guru modern.

    Tetapi, apakah Anda benar-benar seorang guru yang modern ??…

    STOP …. !!!!

    jangan dijawab dulu… !

    Sebaiknya, dengar cerita saya terlebih dahulu…

    Manusia primitif yang tinggal di pedalaman Kalimantan, Sumatera, Jawa Barat dan Irian Jaya menganggap pakaian yang dikenakan seperti baju (baju dari kulit kayu) adalah sebuah alat bantu untuk melindungi tubuhnya dari serangan binatang atau hewan buas dan berbahaya yang sewaktu2 pakaian tsb tidak perlu mereka gunakan apabila mereka merasa aman (tidak dalam bahaya). Pertanyaan yang muncul dalam benak mereka ketika hendak keluar rumah adalah “Apakah saya perlu memakai baju atau tidak ?…”

    Sedangkan bagi orang modern baju bukan lagi sekedar alat pelindung tubuh tetapi sudah menyatu (integrated) dengan dirinya. Sehingga tentu saja pertanyaan yang muncul dalam benak mereka berbeda dengan pertanyaan yang muncul dalam benak orang primitif . Bukan lagi “Apakah saya perlu memakai baju atau tidak ?… Tetapi, “Baju apa yang akan saya kenakan hari ini ?…” Yang tentu saja akan disesuaikan dengan acara yang akan dikunjungi, sebagai contoh, saat hendak berolah-raga tentu memakai pakaian yang berbeda dengan pakaian yang dikenakan saat ke pesta. Bahkan saat memikirkan pakaian yang akan dikenakan pun mereka sedang memakai baju/ pakaian .. Bukan begitu ? …

    Demikian juga seorang guru, sewaktu akan mengajar apakah pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah “Apakah saya akan menggunakan media atau tidak ?? ..” apabila demikian, tentu inilah jawaban guru2 primitif. Sedangkan bagi guru2 modern pertanyaan yang muncul sewaktu akan mengajar adalah : saya akan menggunakan media apa dalam pengajaran materi hari ini ??…

    So, Sekarang silahkan Anda jawab apakah Anda termasuk guru modern atau primitif ???
    Lihat http://zamrishabib.wordpress.com

  2. insayaallah, I’ll become a modren teacher, cause each i will teach, always think what method,model, cooperative learning will i use to teach my students. so My students don’t boring with my teaching. I wish them so fast to be clever and understand of my subject. Many cases we find in every class students lazy to read and do their homework,cause they don’t understand the subject.and that’s important they don’t interest from their teacher.cause using the same method, model, cooperative learning in each class. Now many methods etc can be development. We can see our environment, and direct study to school yard example in science, without in classroom. we can study by playing in math subject, ex. count,time, divided,multiple with magic finger so many methods. Primitive teacher should be leaved now. bye….. primitive teacher

  3. kelas : Akta IV A.
    Mata Kuliah :Pengembangan media pembantu & TIK.

    Insya Allah untuk kedepan saya akan menjadi guru yang modern, dikerenakan saya sampai saat ini sy belum mengajar di suatu instansi tertentu baru mengajar privat2,, dan itu adalah salah satu cita-cita saya.

    Dengan menjadi guru modern seperti itu, saya akan lebih bisa memberikan ilmu yang lebih maksimal kepada murid2 saya kelak dengan memberikan media2 yang lebih up to date sesuai zaman saat ini,, dengan seperti itu murid saya akan cepat mengerti dan memahami dan bisa selau mengaplikasikannya pada kehidupan nyatanya.
    apalagi banyak murid2 saat ini yang sangat kritis, agar bisa diberikan contoh dalam materi2 yang diajarkan,, dan dengan adanya alat/media2 modern tersebut saya merasa terbantu sekali untuk memberikan apa yang murid saya inginkan nnt.
    banyak murid2 sekolah sekarang ini yang susah sekali untuk banyak baca2 buku / untuk mengulang pelajarannya dirumah, nah dengan media modern tersebut saya pastikan anak2 akan selalu mengingat materi2 yang sudah diajarkan dikelas,, dan murid2 tsb tidak perlu lg mengulang u/ belajar kembali di rumah karena mereka sudah mengingatnya.

  4. saya , juga guru privat blm mengajar disekolah, tapi saya prihatin dengan kondisi pembelajaran terutama matematika…. anak harus mampu membuat soal bukan mencontoh soal jika mereka sudah mampu mengaplikasikan itu mereka telah mampu memahami pelajaran itu.

  5. ————————-
    اَلسَّلاَ مُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا ت
    —————————–
    Tulisan Pak marjohan sangat menark, karena cukup panjang dan sarat persoalan.

    Sebaiknya tulisan itu dilengkapi dengan data, atau permasalahannya dapat dibuktikan dengan realitas di dalam masyarakat.
    Kemudian ada dua hal yang perlu di “sadari”,
    Pertama, dalam dunia pendidikan khususnya di sekolah apapun alasannya metoda mengajar yang konvensional tidak bisa ditinggalkan. Bagaima Pak Marjohan bisa mengajar, kalau metoda ceramah (sebagai contoh) sudah di tinggalkan ? Tahu nggak metoda ceramah adalah intinya proses belajar mengajar. Bagaimana Paka marjohan memberikan penjelasan tentang sesuatu tanpa berceramah ?
    Yang betulnya bagaimana ? ya seorang guru harus “memilih” metoda yang tepat guna dan jangan salah suai. Janganlah terlalu tendensius ah Pak Marjohan.
    Sampai hari ini saya belum bertemu dengan “metoda modern”. Yang saya temui adalah metoda lama dalam kemasan baru, yang didukung oleh media atau peralatan canggih.

    Kedua, Pak Marjohan, jangan katakan “kita tidak dapat menu­tup mata dan telinga terhadap sektor pendidikan kita yang mutunya masih tertinggal itu”.
    Sepengetahuan saya belum ada sekolah pernah meninggalkan mutu pendidikan yang dikelolanya. Tidak ada sekolah yang hasil pendidikannya tidak bermutu. Ada sekolah, lulusannya “mutunya” masih rendah, ada yang sedang dan sudah ada pula yang “mutu sudah tinggi.

    Harapan saya kedepan hindarilah hal-hal yang bersifat “verbalistis.”

    Wassalam.

  6. Assalamu’alaikum,
    Subhanallah dari apa yang telah saya baca dari wacana yang telah dikemuklakan Bpk Zamrish blog beliau mengenai adanya kategori guru primitif dan modern tersebut, kini saya menjadi mengerti siapa saya, guru seperti apakah saya sebenarnya. Saya memang senang menganalisis setiap hal tak terkecuali anak didik saya. Dalam pembelajaran saya menggunakan cara-cara yang menurut saya, itu benar dan dapat menyelesaikan problematika pembelajaran anak-anak didik saya, tak hayal itu sering membuat saya pusing sebelum melaksanakan pembelajaran memikirkan bagaimana caranya agar anak didik bersemangat belajar bahkan kecanduan belajar, meskipun cara-cara saya dalam mempersiapkan perencanaan pembelajaran terkadang masih belum banyak bersentuhan dengan dunia IT( ada sih planing jg ke arah sana, meski butuh dana lumyan), cara/ metode yang sederhana, murah but sy rasa efektif menurut sy. Selain itu masih banyak hambatan dan tantangan yang sering saya hadapi(banyak ide ada diotak saya tapi terkadang terkendala saat implementasinya karena berbagai hal terutama mood anak, dan ini yang sering menjadi musuh besar saya). tapi setidaknya saya mengerti bahwa apa yang telah saya lakukan tidak sia-sia bahkan saya berfikir perlu belajar lebih dan lebih mendalam lagi terkait ilmu mendidik. Namun terlepas dari itu saya cukup lega dan sedikit puas terhadap apa yang telah saya lakukan terhadap anak-anak didik saya, ternyata apa yang saya lakukan selama ini masih sejalan dengan hakikat pembelajaran/ pendidikan pedagogik sebagaimana yang saya dapatkan dalam perkuliahan saya di GPAI 2 ini, sehingga jika saya ditanya apakah saya guru primitif/ modern maka saya dapat menjawab bahwa saya adalah sebagai seorang guru yang belum sepenuhnya modern”. Karena target ukuran saya guru modern itu bener bener canggih, cepat, efektifefisien dalam penanganan berbagai prolem belajar anak. Hal itu membuka mata saya betapa luas jendela wawasan dunia akan hakikat ilmu mendidik sebenarnya, jika kita mau mengeksplornya dan mengimplementasikannya tentunya.
    Saya sangat setuju dengan adanya guru modern karena hal itu dapat memberikan hak-hak siswa yang sebenarnya dalam dunia pembelajaran siswa terlebih di jaman globalisasi sekarang ini, semua serba mudah, cepat dan terjangkau. Terimakasih. Wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: