Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 30, 2007

Sertifikasi, Jalur by Pass Menuju Peningkatan Taraf Hidup

Sertifikasi, Jalur by Pass Menuju Peningkatan Taraf Hidup

Oleh: Mohammad Saroni, Guru SMK Brawijaya Mojokerto

Perlahan tetapi pasti pola hidup para pendidik mulai mengalami perubahan yang sangat signifikan, khususnya pada aspek ekonomi. Jika dahulu sering dikatakan bahwa kehidupan guru sangat memprihatinkan, maka sekarang ini pola kehidupan  para pendidik sudah mulai bersinar. Penyebabnya tidak lain adalah UUGD yang telah diterapkan sebagai dasar  pola pengelolaan pendidik-an, khususnya pada aspek sertifikasi.

Sertifikasi oleh banyak guru benar-benar telah dijadikan sebagai peng-harapan untuk peningkatan kualitas ekonomi keluarga. Sertifikasi adalah jalur by pass bagi kehidupan guru yang mempercepat sampai pada tingkat ekonomi yang memadai. Dengan adanya program sertifikasi ini, maka tingkat kualitas kehidupan meningkat lebih cepat sebab guru yang telah lolos pada seleksi penilaian sertifikasi mendapatkan kompensasi kenaikan gaji sebesar satu kali gaji pokoknya, sekitar satu juta rupiah. Sangat fantastis!

Selama ini, para guru beranggapan bahwa peningkatan taraf kehidupan mereka sangatlah minim,  lambat, yaitu selama empat tahun sekali (saat penerapan KPO) dan sekarang selang dua tahun sekali dengan penerapan angka kredit. Itupun nilai nominalnya minimal, yaitu sekitar dua puluh ribu rupiah. Lalu ditambah kenaikan secara berkala sekitar tiga puluh ribu rupiah setiap  dua tahun sekali. Dengan demikian, maka kita dapat melihat bahwa proses peningkatan taraf hidupnya sangat lambat. Tetapi, guru memang sangat neriman sikap hidupnya.Selanjutnya, para guru berharap bahwa peningkatan taraf hidup ini bukan sekedar isapan jempol saja, sebab sudah terlalu sering mereka dikelabui oleh janji kosong melompong saja. Seringkali para guru mendapatkan kesiuran angin surga, tetapi ternyata sama sekali tidak berwujud. Maklum, namanya angin, mana ada bentuknya! Masih kita ingat bahwa pada saat itu dijanjikan guru secara merata bakal mendapatkan uang makan, uang transport, dan uang lauk pauk (LP). Tetapi tidak pernah terealisasi sama sekali.

Dan, sekarang ada program sertifikasi yang sangat menjanjikan per-ubahan taraf kehidupan, khususnya bagi guru-guru yang telah mempunyai masa pengabdian sekurang-kurangnya dua puluh tahun secara terus menerus dan mempunyai latar belakang pendidikan program sarjana atau diploma empat.Maka, berbondong-bondonglah para guru mendafarkan diri untuk meng-ikuti proses seleksi penilaian sertifikasi. Berbagai persyaratan untuk mengikuti program dipersiapkan dengan teliti dan lengkap. Data yang berhubungan dengan tugas proses pembelajaran merupakan syarat utama ditambah dengan berbagai sertifikat yang menunjang perolehan nilai sehingga lolos seleksi.

Guru-guru berusaha melengkapi semua data lantas membendelnya men-jadi satu. Berkas-berkas inilah salah satu dasar penilaian untuk menentukan apakah seorang guru layak mendapat sertifikat ataukah tidak dan selanjutnya mendapatkan tambahan pendapatan yang dimaksudkan. Data ini selanjutnya di-namakan porto folio.

Porto folio yang dikumpulkan oleh guru merupakan bukti pengabdian mereka selama menjadi guru dan merupakan titik acuan perkembangan kualitas diri setiap guru di dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya. Tentunya, semakin lama, kualitas guru seharusnya semakin tinggi, artinya porto folionya semakin lengkap.

Yang menjadi pertimbangan sekarang ini adalah kejujuran di dalam melengkapi eksistensi porto folio sebagai alat penilaian kelayakan seorang guru mendapatkan sertifikat pendidik. Kita mengetahui bahwa sertifikat pendidik merupakan bukti kelayakan seseorang untuk berprofesi sebagai guru. Sebagai sebuah bukti, maka ada tuntutan kejujuran pada saat mengajukan diri untuk mengikuti proses sertifikasi. Kejujuran inilah yang sesungguhnya sedang kita garap sebagai implementasi nilai positif kehidupan. Bukankah guru itu sosok yang digugu dan ditiru?

Kaitan sertifikasi dengan upaya peningkatan kualitas pendidikan

Sebenarnya, program sertifikasi adalah untuk mewujudkan amanah di dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Seperti yang kita ketahui bersama, beberapa tahun kualitas pendidikan di negeri ini mengalami ke-merosotan yang sangat drastis sehingga negeri yang dahulu pernah dijadikan sebagai negeri tolok ukur keberhasilan dengan ‘meminjam’ guru untuk mengajar di negeri tetangga, ternyata sekarang ini kalah jauh dengan negeri yang dahulu diajari oleh guru-guru dari negeri ini.

Salah satu aspek yang selalu menjadi kambing hitam adalah kondisi perekonomian para guru yang memprihatinkan. Latar belakang ekonomi di-jadikan alasan utama sehingga menjadikan menurunnya kualitas pembelajaran di negeri ini. Akibat rendahnya tingkat ekonomi guru di negeri ini, maka banyak guru yang tidak dapat bersikap profesional dalam mejalankan tugasnya. Guru-guru terpaksa harus ‘mencabangkan’ diri para beberapa sekolah hanya untuk dapat memperoleh penghasilan tinggi sehingga dapat mengatrol kondisi eko-nomi keluarganya.

Sikap ‘mencabangkan’ diri pada beberapa sekolah ini jelas-jelas menjadi-kan guru kehabisan stamina pada saat melaksanakan kewajibannya, yaitu men-didik dan mengajar anak-anak didiknya. Guru-guru kehilangan kemampuannya sebab kehabisan tenaga. Akibatnya, hasil pembelajaran yang dilaksanakannya tidak dapat maksimal. Dan, selanjutnya hal tersebut berdampak pada kualitas pendidikan secara menyeluruh di negeri ini.

Oleh karena itulah, maka program sertifikasi dicanangkan sebagai bentuk jawaban atas alasan peningkatan ekonomi guru. Dengan sertifikasi ini, maka guru-guru diharapkan bakal memperoleh tambahan gaji yang sangat tinggi sehingga mereka tidak perlu lagi ‘mencabangkan’ diri pada sekolah-sekolah lain agar dapat lebih konsen terhadap tugas dan kewajibannya.

Dengan tambahan penghasilan sebesar satu kali gaji pokok, maka setidak-nya guru dapat menutup lubang yang selama ini menjadikannya harus ‘mencabangkan’ diri ke sekolah lain. Seluruh kemampuan guru dapat disalurkan di dalam proses pembelajaran anakdidiknya tanpa harus memikirkan kekurang-an ekonomi keluarganya.

Tentunya inilah yang menjadi pemikiran dasar program sertifikasi guru untuk peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Dengan mengikuti serti-fikasi, maka guru-guru dapat diketahui tingkat kualitas dirinya didalam  me-laksanakan tugas dan kewajibannya. Jika mereka lolos dari seleksi penilaian, berarti mereka dianggap mempunyai kelayakan dalam melaksanakan tugas dan hal tersebut berarti mereka mempunyai kualitas yang memadai dalam melak-sanakan tugas.

Kita memang berharap para guru memahami konsep diri sebagai pen-didik dan pengajar yang memegang teguh profesionalisme di dalam dunia pen-didikan. Guru seharusnya selalu berpikir bagaimana cara untuk memajukan atau meningkatkan kualitas hasil proses pembelajaran yang dilaksanakannya dan bukan hanya memikirkan kondisi kehidupannya semata.

Maka dengan adanya program sertifikasi guru ini, maka telah terbentang sebuah jalur by pass bagi guru untuk sampai pada peningkatan kualitas kehidupan ekonomi keluarganya dan selanjutnya diharapkan memberikan dampak pada upaya peningkatan kualitas pendidikan, hal inilah yang sesungguhnya hendak diraih dari program sertifikasi ini. Yang, jelas, sertifikasi ini merupakan jalur by pass bagi guru untuk merasakan kehidupan yang sedikit lebih baik dari sebelum-nya! Apakah demikian yang kita inginkan selama ini?

Gembongan, akhir Oktober 2007.

Sumber : Mailinglist PGOL

Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. saya dan banyak guru pembaca forum pak guru online memperoleh masukan dari bapak. mohon beritahu, kalau ada, weblog bapak, dan kita bertukar web ya, ini web saya http://penulisbatusangkar.blogspot.com/

  2. Mari kita saling tukar informasi,buat kemaslahatan kita bersama….setuju….
    kalau setuju buka web Saya di
    http://www.privation.blogspot.com

    Thanks

  3. satu hal yang saya masih belum bisa menerima, “Guru terkesan dilarang berbicara secara kritis” Adanya/banyaknya guru yang ngeblog telah mulai :
    membongkar sedikit-demi sedikit tembok birokrasi,
    menumpulkan pisau-pisau yang mengamputasi kebebasan,
    menyumbat jarum-jarum kebiri

  4. Sdh waktunya kita meluruskan sgl hal, khususnya di dunia kita, pendidikan. Kalau tdk, maka kita tdk bakal dpt berkembang, tdk dpt berdaya dan diberdaya, justru hanya diperdaya saja, apa salah?! Tentu suatu keniscayaan, asal benar,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: