Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Desember 2, 2007

Sertifikasi Menuntut Guru Kreatif

Sertifikasi menuntut guru kreatif

Oleh: Minarti
Guru SDN Gempolkerep II, Gempolkerep, Gedeg, Mojokerto

1. Pendahuluan

Program pengentasan kualitas hasil proses pembelajaran yang selalu terpuruk dalam kubangan Lumpur kegagalan selalu dicanangkan sebagai program yang berskala nasional. Dan, dunia pendidikan memang sedemikian ringkihnya sehingga selalu menjadi ‘bulan-bulanan’ terror pendapat yang rata-rata meng-hujamkan belati ke ulu hati dan jantung dunia pendidikan.

Minarti,
Guru SDN Gempolkerep II, Gempolkerep, Gedeg, Mojokerto

Sungguh dunia pendidikan selalu dijadikan sebagai ‘papan sasaran tembak’ bagi para pemerhati pendidikan.. setiap kali ada hal negatif yang terjadi dan dilakukan oleh oknum aktivis pendidikan, maka serentak sejua opini mengalir dan mengulasnya panjang lebar, yang jika kita pelajari, maka isinya adalah pengadilan, penghakiman atas hal negatif yang dilakukan oleh oknum tersebut. Dan, tidak tanggung-tanggung yang dihujam jantung semua orang yang berprofesi sebagai pendidik, guru.

Sementara itu, para penghujam belati sama sekali tidak mempunyai kepedulian terhadap proses pembelajaran. mereka hanya peduli terhadap hasil proses pembelajaran, tetapi proses pembelajarannya sendiri sama sekali tidak peduli. Mereka hanya mengeluarkan opini atau statemen setelah terjadinya sesuatu terhadap dunia pendidikan, khususnya kejadian negatif. Sedangkan kejadian positif hanya dianggap sebagai hal yang wajar dan tidak perlu dikomentari panjang lebar.

Di dalam hal ini, kita tidak berbicara tentang sikap tersebut, melainkan lebih kita tekankan pada sikap para guru dalam upaya mempersiapkan diri menghadapi kondisi proses pembelajaran yang semakin lama semakin rumit dan menuntut kesiapan diri yang matang. Hal ini semakin terpacu oleh program yang dicanangkan oleh pemerintah dalam rangkah meningkatkan kualitas pendidikan dari sisi SDM, guru yang mengelola proses pendidikan.

Tanggungjawab pemerintah terhadap dunia pendidikan adalah sebuah keniscayaan sebagaimana telah diamanatkan oleh UUD 1945. oleh karena itulah, maka suatu keharusan bagi pemerintah untuk mencanangkan program-program khusus peningkatan kualitas proses pembelajaran, terutama peningkatan kualitas SDM, guru yang menjadi ujung tombak proses. Langkah yang diambil oleh pemerintah adalah mengadakan sertifikasi bagi guru sehingga didapatkan guru-guru yang memang mempunyai kelayakan melaksanakan tugas sebagai pendidikan anak bangsa.

Program sertifikasi yang dicanangkan oleh pemerintah pada dasarnya merupakan sebuah program yang lebih mengarah pada upaya peningkatan hasil proses pembelajaran dengan mengkondisikan guru-gurunya sebagai tenaga-tenaga pendidik yang berkompeten terhadap bidangnya. Kompeten dalam hal ini diartikan mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai guru secara professional dengan langkah-langkah yang strategis. Guru yang layak ber-sertifikat adalah guru-guru yang mempunyai kemampuan khususnya yang dapat menunjang ketuntasan proses pembelajaran. Oleh karena itulah, maka sangat diharapkan adanya guru-guru yang kreatif dalam menjalankan tugasnya sehingga jelas-jelas terlihat kelayakannya dalam melaksanakan tugas pembel-ajarannya.

Pada dasarnya setiap guru mempunyai kemampuan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan proses pembelajaran sebaik-baiknya untuk anak didiknya. Kemampuan ini selanjutnya menjadi ciri khas yang dimiliki oleh guru dalam pandangan anak didik.  Guru yang satu dengan guru yang lainnya tentunya sangat berbeda sehingga hasil prosesnya juga berbeda-beda. Tetapi hal ini tidak menjadi permasaalahan sebab dengan demikian, maka terciptalah sebuah keberagaman kemampuan anak didik dan selanjutnya hal tersbeut menjadikannya ketuntasan pembelajaran secara menyeluruh pada anak didik.

Kita perlu menyadari bahwa anak didik adalah pengamat yang paling jeli terhadap segala hal mengenai eksistensi guru di kelas atau di sekolahnya. Mereka mempunyai penilaian khusus terhadap setiap guru sehingga ada pe-nilaian yang positif, tetapi ada juga yang menilai negatif terhadap guru-gurunya. Oleh karena itulah, maka agar proses sertifikasi benar-benar merupakan program yang efektif dan sesuai dengan konsep dasarnya menuju peningkatan kualitas proses pembelajaran, pendidikan, maka setiap guru harusnya mau dan mampu meningkatkan kemampuan dirinya secara signifikan dengan kebutuhan proses pembelajaran.

Apalah artinya sebuah program sertifikasi jika ternyata hal tersebut hanya menciptakan kemelut baru atas persepsi yang tidak sesuai dengan konsep dasar pencanangan program sertifikasi. Secara kasar kita dapat mengatakan bahwa program sertifikasi itu tidak lain adalah program pengkondisian guru agar diketahui kelayakan mendidik disesuaikan dengan tugasnya. Sertifikasi artinya memberikan sertifikat kepada guru berkaitan dengan kemampuan yang di-milikinya dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, yaitu mendidik dan mengajar anak bangsa. Sertifikat yang diberikan kepada guru tersebut tidak lain adalah merupakan bukti kelayakan seorang guru. Dan sebagai konsekuensi atas pengakuan tersebut, selanjutnya pemerintah memberikan kompensasi berupa tunjangan atau kenaikan gaji sebesar gaji pokok. Tentunya hal ini sangat menarik bagi semua guru, sehingga mereka berusaha untuk dapat mengikuti program dan berhasil. Akibatnya, mereka menempuh berbagai cara agar dapat berhasil mengikuti program tersebut. Dan, akibatnya terjadilah berbagai ke-curangan yang sesungguhnya merupakan hal yang sangat tidak diinginkan. Oleh karena itulah, maka guru yang kreatif sangat diperlukan agar program sertifikasi benar-benar dapat dilaksanakan secara benar dan baik serta meng-hasilkan guru-guru pilihan yang benar-benar layak untuk melaksanakan tugas mendidik dan mengajar anak bangsa.

Masalahnya sekarang adalah kemanakah sebenarnya para guru yang mengikuti program sertifikasi mendasarkan orientasinya? Apakah untuk pe-ningkatan kualitas proses pembelajaran ataukah sekedar mengejar tambahan finasial, yang secara jujur harus kita akui sangat besar bagi kehidupan seorang guru. Kalau memang orientasinya untuk peningkatan kualitas pendidikan, maka tentunya setiap langkah diatur secara baik dan penuh tanggungjawab secara professional. Tetapi jika ternyata latar belakang keikutsertaan guru dalam program sertifikasi hanya untuk mengejar tambahan finasial yang dijanjikan, tentunya hal tersebut tidak berbeda sebagaimana program-program terdahulu. Karena pada dasarnya, program ini adalah untuk memancing guru agar mengembangkan kreativitasnya secara maksimal dalam dunia pendidikan se-hingga terlihat warna dan dinamisasi dunia pendidikan di negeri ini.

2. Kreasi Sebagai Bentuk/Cermin Kualitas Diri

Sebenarnya nilai seseorang di dalam setiap pekerjaannya adalah tergantung pada kemampuan yang bersangkutan dalam mengembangkan daya pikir dan daya kerjanya untuk meningkatkan hasil kerja tersebut. Jika seseorang mampu mengembangkan kemampuan dirinya secara maksimal, maka kita mengatakan bahwa orang tersebut benar-benar professional dan mampu bekerja  dengan kinerja tinggi.

Dalam hal ini, kita juga mengatakan bahwa seseorang yang memiliki banyak kreasi dalam pekerjaannya, maka dikatakan bahwa orang tersebut berkualitas dalam bekerja. Hal ini merupakan sebuah kondisi yang alami. Setiap yang mampu melaksanakan tugas dengan sebaik-baik dan melakukan langkah-langkah konkrit dalam pengembangan kerja, maka kita memang mengelompok-kan orang-orang tersebut dalam kelompok berkualitas.

Bahwa sebenarnya hasil karya yang kita lakukan merupakan cerminan bagi kondisi atau kemampuan yang kita miliki. Semakin banyak hasil karya kita ciptakan atau hasilkan, maka orang mengatakan kita mempuyai kualitas baik dan mumpuni dalam bidang-bidang dimana kita menunjukkan hasil karya kita.

Pada dasarnya apa yang kita hasilkan, apa yang kita lakukan merupakan cerminan dari apa yang kita miliki, kompetensi yang kita miliki sehigga dengan demikian, maka orang lain harus mempertimbangkannya sebelum memutuskan sesuatu yang berhubungan dengan kemampuan yang kita miliki tersebut. Kita memang sangat perlu, bahkan harus mampu menampilkan kemampuan yang kita miliki secara terbuka sehingga mereka mengetahui kualitas drii kita dalam hal-hal tersebut.

Begitulah pentingnya kreativitas dalam melaksanakaan tugas bagi se-orang guru sehingga tanpa harus menceritakan kompetensi yang kita miliki, maka orang dapat mengetahi dan secara langsung melakukan penilaian secara obyektif terhadap hasil kreasi yang kita tampilkan secara terbuka. Untuk dapat mencapai kondisi tersebut, maka setiap guru harus dapat menampilkan kemam-puan dirinya secara jujur dan mencerminkan kondisi diri seadanya. Kita tidak perlu melakukan rekayasa hanya untuk mengelabui orang lain dan meng-harap mereka mengatakan bahwa kita berkualitas. Tidak perlu kita melakukan hal tersebut sebab alam pasti melakukan seleksi terhadap setiap orang yang memang dianggapnya mempunyai kemampuan untuk hal tersebut.

Agar kita mempunyai kualitas yang baik dihadapan orang lain, khusus-nya dalam hal ini anak didik, maka setidaknya kita harus dapat menampilkan kreativitas kita sehingga tumbuh kebanggaan di hati anak-anak dan berke-inginan untuk dapat mencapai hal yang sama dengan yang kita miliki. Hal ini merupakan pemikatan kita kepada anak didik berdaasrkan kemampuan diri kita dan seringkali hal tersebut sangat efektif bagi peningkatan kemampuan anak didik sebab anak didik selalu mencoba untuk menjadi replikan orang-oranag yang dianggapnya mempunyai kelebihan positif dan patut untuk dicontoh.

3. Serifikasi Bukan Sekedar Memburu Peningkatan Finansial

Sertifikasi itu merupakan upaya untuk mengejar pengakuan atas kelayakan kita dalam melaksanakan sebuah tugas atau pembuktian atas kemampuan yang kita miliki berdasarkan pekerjaan yang kita lakukan.

Ya, sertifikasi merupakan upaya kita untuk mendapatkan pengakuan atas segala hal yang kita miliki sehingga diberikan kesempatan untuk melaksanakan pekerjaan tanpa harus mengalami kesulitan sebab tidak layak melaksanakan pekerjaan.

Jika kita berbicara pada sisi profesionalisme, maka setidaknya dalam hal ini yang perlu kita pertimbangkan saat mengikuti program sertifikasi adalah pengakuan atas eksistensi diri kita di dalam sebuah pekerjaan. pengakuan eksis-tensi merupakan hal yang paling penting dalam kehidupan ini. Apalah gunanya eksistensi kita jika ternyata eksistensi tersebut tidak diakui secara umum. Kita menjadi ada tetapi sebenarnya tidak ada.

Dengan demikian, maka seharusnya secara profesionalisme, keputusan untuk mengikuti program sertifikasi didasari kesadaran atas perlunya peng-akuan terhadap kompetensi yang kita miliki dikaitkan dengan tugas dan ke-wajiban profesi kita. pengakuan ini merupakan hal pokok yang seharusnya menjadi buruan setiap orang jika memang menginginkan adanya professional-isme dalam melaksanakan tugas dan kewajiban.

Pengembangan kondisi memang seharusnya dimulai dari kesiapan diri sendiri terhadap kondisi yang diharapkan. Artinya, jika kita menginginkan dunia pendidikan berkualitas, maka setidaknya kita harus memposisikan diri sebagai guru yang berkualitas, yaitu guru yang mendapatkan sertifikasi sesuai dengan bidang atau program pembelajarannya.

Sementara itu, peningkatan penghasilan finansial sebenarnya hanyalah konsekuensi dari kondisi. Hal ini seharusnya tidak perlu dinyatakan secara terbuka sehingga proses sertifikasi benar-benar dapat dilaksanakan sesuai dengan yang dikonsepkan, bukan sesuai yang diharapkan semata. Bagaimana-pun tidak ada salahnya jika kita melangkah berdasarkan idealisme tinggi sebab yang digarap oleh bidang pendidikan adalah persiapan anak bangsa yang merupakan calon pimpinan bangsa di masa mendatang. Kita harus mendasarkan langkah berdasar sesuatu yang ideal sehingga terlihat hal terbaik yang bakal kita dapati jika kita laksanakan.

Konsep ini perlu kita tekankan sebagai salah satu syarat utama sehingga tidak menjadikan setiap orang tergopoh-gopoh mengikuti program sertifikasi dengan melakukan berbagai cara hanya untuk mengejar tambahan finansial yang dijanjikan jika ternyata setelah dinilai oleh tim ternyata berkas pengajuan dinyatakan lulus sertifikasi. Apakah cukup dengan penilaian berdasarkan berkas yang diusulkan? Tentunya hal tersebut tidak berbeda dengan pengusulan angka kredit (PAK) yang selama ini dilakukan oleh para guru negeri. Lantas apa yang didapatkan? Apakah sudah sesuai dengan harapan?

Jika kita memutuskan untuk mengikuti program hanya untuk mengejar pertambahan penghasilan, finansial semata, maka yakinlah bahwa program ini akan menjadi program yang ‘biasa’ sebagaimana program-program sebelumnya. Sangat dipermulaannya, tetapi lembek dikemudian harinya. Seperti macan yang garang saat taringnya tumbuh dan selanjutnya begitu ketakutan/lembek pada saat taringnya habis, rampal! Oleh karena itulah, maka sebaiknya kita tidak perlu terlalu berharap untukmendapatkan tambahan pendapatan finansial dengan terburu-buru mengikuti program sertifikasi, padahal kemampuan diri masih belum mendukung proses tersebut.

Jika mereka mengikuti program sertifikasi hanya untuk mengejar tambah-an finansial, maka yakinlah bahwa dunia pendidikan di negeri ini tidak pernah dapat dientas dari keterpurukannya sebab yang dipikirkan oleh para pelaku pendidikan hanyalah finansial semata. Selayaknya sekarang kita berpijak pada keinginan untuk mengembangkan dan mengentas keterpurukan dunia pen-didikan sehingga program peningkatan kualitas hasil pendidikan benar-benar dapat diwujudkan.

Sertifikasi adalah program peningkatan kualitas pembelajaran dan pendidikan, maka sudah seharusnya semua pihak berjalan sesuai dengan tata aturan yang diperlakukan dalam proses sehingga tidak ada kecurangan.

4. Guru Adalah Fasilitator Pendidikan

Guru adalah agen pendidikan dan pembelajaran sehingga dituntut untuk dapat memberikan pelayanan sebaik-baiknya kepada anak didik yang mengikuti proses pendidikannya. Hal ini merupakan kewajiban moral atas pekerjaan yang telah kita pilih dan kita tidak dapat menghindar dari hal tersebut.

Berkaitan dengan kreativitas guru yang dihubungkan dengan sertifikasi, maka setidaknya kita perlu menyadari bahwa sebenarnya sebagai fasilitator pen-didikan, maka tugas pokok guru adalah memberikan bimbingan kepada anak didik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkannya.

Berkaitan dengan tugasnya sebagai fasilitator yang harus membimbing anak dalam menjalani proses pembelajaran, maka tuntutan untuk selalu berkreasi merupakan hal yang umum dan harus dapat dipenuhi oleh guru. Jika guru tidak mampu, maka tentunya proses pembelajarannya tidak dapat maksimal.

Kreativitas guru dalam membimbing anak didiknya menjalani proses pembelajaran menjadikannya sebagai sosok yang bertanggungjawab terhadap profesinya secara maksimal. Dan, sebagai fasilitator, maka kreativitas maksimal merupakan tuntutan yang harus dipenuhi oleh guru agar anak didik men-dapatkan materi pembelajaran secara maksimal dan utuh sebagaimana seharus-nya.

Sebagai fasilitator pendidikan eksistensi seorang guru haruslah mem-punyai banyak pengalaman dalam mengkondisikan organisasi sehingga jelas mengarah pada tujuannya secara jelas dan memebrikan pengalaman belajar yang sesuai dengan kebutuhan anak didik terhadap proses.

Sertifikasi guru memang membutuhkan guru yang menyadari tugas pokok dan fungsinya di dalam proses pembelajaran sehingga tidak perlu setiap saat harus diingatkan atas tugasnya tersebut. Dengan demikian, maka perjalanan proses dapat berlangsung secara alamiah dan dengan demikian kesadaran setiap pelaku pendidikan sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing.

5. Pembohongan Profesi, Rekayasa Data

Sertifikasi guru merupakan satu program terbaru yang dicanangkan oleh dunia pendidikan sebagai jawaban atas berbagai kritikan terhadap kemerosotan kualitas hasil proses pembelajaran. Oleh karena itulah, maka system yang dipergunakan begitu rupa sehingga sangat merepotkan semua orang. Hal ini dapat terjadi akibat belum tersosialisasikannya secara baik. Bahkan, tidak jarang mereka yang telah mengikuti porses sosialisasi ternyata masih beum memahami secara baik konsep-konsep yang terkadung di dalam program baru ini. Akibat-nya pelakasaan program kelihatan amburadul.

Amburadul ini dapat kita lihat dari seringnya berkas calon peserta sertifikasi dikembalikan sebab adanya data yang kurang lengkap atau tidak sesuai dengan ketentuan. Data yang dikirimkan ke tim penilai ternyata tidak sesuai dengan ketentuan yang sudah disyaratkan. Tentunya hal tersebut sangat merepotkan guru yang memutuskan untuk mengikuti program sertifikasi.

Tetapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana jika ternyata  berkas tersebut kembali ke guru pengusul padahal sudah dikumpulkan ke tim penilai? Apakah memang demikian prosesnya sehingga berkas yang diusulkan dan ternyata setelah diseleksi terdapat kesalahan, maka dapat dikembalikan kepada yang bersangkutan untuk dipermak lagi dengan data baru, selanjutnya setelah kelengkapan tersbeut dimasukkan, maka dikembalikan ke tim penilai utuk dinilai ulang. Bukankah ini berarti bahwa sertifikasi yang dilakukan hanyalah  formalitas semata?

Seandainya hal ini benar-benar terjadi, maka apalah gunanya program sertifikasi jika ternyata berkas yang telah dikumpulkan ternyata masih mungkin untuk dikembalikan kepada pengusul dan dipermak lagi sesuai dengan yan dibutuhkan. Bukankah seharusnya jika berkas sudah dikumpulkan, maka selanjutnya tinggal tim menilai atau meminta pengusul mempresentasikan / mempertanggungjawabkan berkasnya dan selanjutnya dinyatakan hasilnya?!

Semoga saja tidak ternjadi seperti itu!

Minarti

Alamat :
Jl. Raya Gembongan RT 32/RW VIII No. 52
Telp. 0321 – 7226628;
Gembongan, Gedeg, Mojokerto 61351
Jawa Timur

e-mail: mienarti13@yahoo.co.id
Alamat Kerja: SDN Gempolkerep II
Gempolkerep, Gedeg, Mojokerto

—————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. iya lho mbak Min, dayatarik sertifikasi guru itu kaya judi togel, bikin guru berangan-angan dan kreatif melengkapi portopolio-portopolioan dengan berbagai cara. seminar dan sertifikat dijadikan bisnis, bukan kabar burung loh. Ibu Pertiwi nangis lagi lho lihat anak negeri pada nyeleneh.

  2. Sepintas melihat berjalannya kebijakan sertifikasi untuk guru ini, saya menilai positif. Dari sudut kesejahteraan, tak bisa dipungkiri, memang itulah yang diharapkan selama ini. Tapi sayang disayang……….Setiap kali saya bertemu dan sempat berdialog dengan mereka yang telah lolos sertifikasi, di situ hadir kekecewaan. Sebagian dari mereka mengatakan semacam ini : Sudahlah, saya sudah tak begitu mengejar materi lagi. Buat apa ngoyo-ngoyo mengajar. Biarlah buat yang muda-muda saja. Pendapatan saya sudah lebih dari cukup, cukuplah, cukup.
    Saya hanya bisa menebak-nebak………..Jadi selama ini mengajar memang cuma untuk mengejar materi ? ………. Trus…… Ah, padahal saya berharap (dan barangkai itu harapan pemerintah juga) dengan kesejahteraan yang lebih baik, mereka menjadi lebih bergairah dengan profesinya……………

  3. Rasanya telah terjadi kekeliruan persepsi atau memang seperti itulah sebenarnya tingkat pemikiran bangsa kita. Program yang seharusnya sangat bagus agar kualitas proses dan hasil pembelajaran meningkat, ternyata justru terancam oleh sikap para guru yang dalam hal ini sudah ‘lulus’ sertifikasi’ dan mendapatkan ‘jatah’ dari sertifikasi tersebut.
    Saya sendiri sering mendengar, bahwa banyak teman-teman yang sudah ‘lulus’ sertifikasi mengatakan ‘aku gak ngoyo’, aku sekarang santai sebab sudah lulus sertifikasi. Lantas apa dong manfaat sertifikasi, yang notabenenya bertujuan agar guru semakin bersemangat, kreatif dan penuh inovasi dalam menjalankan tugas dan kewajiban profesinya sesuai dengan sertifikat yang diperolehnya sebagai pendidik dan pengajar. Kalau ternyata mereka loyo, lalu apa jadinya dunia pendidikan kita?!

  4. Program Sertifikasi yang sedang dicanangkan oleh Pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas Pendidikan di Indonesia seharusnya di imbangi oleh kualitas seorang Guru dalam proses pembelajaran. Seharusnya seorang guru harus mempunyai kreativitas dalam KBM, sehingga imbang dengan nilai finansial setelah Sertifikasi.

  5. Sertifikasi sih sebenarnya program awu-awu…. gimana tidak jika ternyata yang sudah dinyatakan lulus mengikuti proses sertifikasi dan ternyata sama sekali tidak ada perubahan dalam menjalankan proses pembejalarannya, bahkan tidak sedikit yang mengatakan aman setelah mendapatkan kompensasi yang tidak sedikit jumlah rupiahnya….

  6. sertifikasi memang berdampak pada efek mengejar nilai finansial. aplikasi setelah sertifikasi tidak ada sama sekali. yang sudah mengantongi kelulusan sertifikasi tidak ada peningkatan mutu pengajaran. tuntutan inilah yang harus dilakukan oleh guru. jangan hanya mau finansial doankk. tapi mutu donk tingkatkan. Maju terus bu min…

  7. he..he…. kalau kita pikirkan program sertifikasi itu ibaratnya sama dengan reward atas segala upaya guru dalam mempersiapkan kelengkapan portofolio. Coba kita kalkulasi, berapa banyak rupiah yang harus dikeluarkan oleh seseorang yang mengikuti proses sertifikasi, mulai dari proses pengisian data, pembuatan berkas, RPP, Karya tulis, media pembelajaran, wah… nilai fiannsialnya cukup tinggi, dan setelah mereka dinyatakan lolos (lulus?) maka yang tinggal adalah menikmati panenannya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: