Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 30, 2008

Dunia Pendidikan Memprihatinkan

Dunia Pendidikan Memprihatinkan,
Prof. Prayitno : Disdik Mesti Berikan Penyuluhan Pada Guru

Dunia pendidikan Kota Padang makin carut-marut. Tata kesopanan dan sopan santun baik pelajar maupun pengajar semakin luntur. Bahkan rasa kesetiakawanan antar pelajar juga telah memudar. Setahun belakang, cukuplah sebagai cerminan kondisi tersebut. Setidaknya terjadi belasan puluhan kasus tawuran dan juga aksi unjuk rasa para pelajar.  Berdasarkan catatan Padang Ekspres, di tahun 2007 terjadi tawuran siswa SMK Taman Siswa (Tamsis) dan SMK Adzkia Padang (7/2/07), tawuran siswa SMK Kartika dan SMK Muhammadiyah (28/8/07), tawuran ramai-ramai (6/9/07) siswa SMK Muhamadiyah II, SMA PGRI 2, SMA Labor, SMK Tamsis, SMK PGRI 6. Selain itu, aksi unjuk rasa siswa SMAN 2 Padang Januari 2007, aksi unjuk rasa siswa SMK Dhuafa atas pelaksanaan UN 2007, kasus peredaran narkoba oleh oknum wakil kepala sekolah, pemecatan guru Adabiah, hingga kekerasan guru terhadap siswa di SMA 3.  Belum hitungan bulan, tahun ini tawuran kembali terulang.

Setidaknya dua tawuran telah terjadi. Pertama, tawuran siswa SMK 1 Padang vs SMA PGRI 6 di RTH Imam Bonjol (8/1), perampasan tas pelajar SMK 5 Padang oleh pelajar lain di depan Balaikota Padang (15/1). Bahkan, demo siswa Adabiah ke kepala sekolah meminta transparansi keuangan sekolah.  Tak ketinggalan, guru Adabiah pun demo atas ketidakpuasan keputusan Yayasan, hingga akhirnya berujung pemecatan.  Baru-baru ini, aksi unjuk rasa siswa kelas XII SMAN 8 Padang yang menuntut transparansi keuangan kepada Kepala Sekolah, seorang siswa dipukul guru hingga guru SMA 3 Padang memukul kepala sekolahnya.”Sejumlah kejadian memalukan dunia pendidikan ini perlu ditindaklanjuti Dinas Pendidikan dengan memberikan penyuluhan kepada guru tentang pengendalian diri dan ilmu pendidikan yang sesungguhnya sehingga kejadian ini tidak terulang lagi. Peristiwa ini terjadi dikarenakan rendahnya pengendalian diri dan pemahaman tentang ilmu pendidikan. Sehingga begitu terjadi suatu permasalahan akal sehatnya jadi tidak terkontrol dan melakukan tindak kekerasan,” ujar Pengamat Pendidikan, Prayitno yang dihubungi Padang Ekspres, Selasa (29/1). Hal ini juga dipicu karena sikap saling menghormati dan saling menghargai antara sesama yang menjadi ciri khas bangsa ini dahulunya sudah mulai memudar. Padahal, lanjut dosen Psikologi Pendidikan UNP ini, antara siswa dan guru serta antara guru dan guru masing-masingnya ingin dihargai. Hal ini tidak akan berjalan dengan baik jika masing-masingnya hanya ingin dihargai tanpa mau menghargai.

Guru sebagai orang yang memiliki ilmu dan menjadi contoh mesti menghormati siswanya. Sungguh pun siswa lebih kecil dari guru, seorang guru mesti memberikan siswa kesempatan untuk berbicara dan mengemukakan pendapatnya. Jika memang ia berlaku salah katakan dengan baik, arahkan, jangan langsung main kekerasan sebab bagaimanapun seorang guru tidak akan jadi guru jika tidak ada siswanya. Begitu pula sebaliknya, siswa sebagai orang yang membutuhkan ilmu dari guru juga harus menjaga sopan santun dalam berkata. Jangan melecehkan guru apalagi memancing emosinya. ”Jika guru tersebut tidak sesuai dengan ketentuan rundingkan dengan Kepala Sekolah (Kasek) untuk menyelesaikan permasalahannya. Ia juga berharap agar Dinas Pendidikan memikirkan jalan keluar permasalahan ini. Paling tidak lakukan pertemuan rutin dengan guru untuk mendengarkan permasalahan yang mereka hadapi di sekolah sehingga mereka tidak hanya merasakannya sendiri. Lebih baik lagi pertemuan ini dilengkapi dengan penyuluhan pendidikan bagi guru sebab setiap saat ilmu terus berkembang.

Untuk pemerintah, Prayitno berharap agar betul-betul memperhatikan profesionalisme seorang guru sebab selama ini ia menilai ilmu pendidikan kurang mendapat tempat sehingga seringkali diabaikan. Hal ini berakibat terhadap pendidikan, guru yang tidak mengerti ilmu pendidikan di berikan juga kesempatan mengajar alhasil mereka mengajar secara asal-asalan. Pengamat Pendidikan Agama Islam IAIN Iman Bonjol Padang Syafrudin Nurdin menganggap tidak mungkin seorang guru tidak memiliki ilmu pendidikan. Karena seorang guru telah menjalani ilmu pendidikan semasa kuliah dulunya. Selain itu, seorang guru juga mendapat kesempatan untuk penataran-penataran pendidikan lainnya.  Hanya saja, kata Syafrudin, implementasi dari ilmunya tersebut tidak sepenuhnya di lapangan. Sehingga seorang guru mudah saja mendapatkan lonjakan emosional. Ini seharusnya diperhatikan bagi seorang guru. Terutama di depan anak didiknya. Sangat mustahil sekali seorang guru agama lulusan pendidikan agama mudah melakukan pemukulan kepada atasannya.

Mungkin saja bentrok ini dipicu adanya perselisihan pribadi antara kedua belah pihak. “Bentrok seorang guru dengan kasek bisa saja karena ada masalah pribadi kedua belah pihak di luar jam dinas atau di luar perhatian guru lainnya di lingkungan sekolah,” terang Syafrudin. Asumsi lain yang dikemukakan Syafrudin terhadap kasus guru ini, karena faktor kepemimpinan  kepala sekolah. Seyogyanya seorang kasek menjadi leader di sekolah. Dengan kecakapan ini ia dapat menjadi panutan bagi bawahannya. Keahlian lain yang menjadi syarat bagi seorang kepala sekolah sebagai motivator, dan fasilitator.  Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang M Nur Amin mengatakan pihaknya dalam setiap pertemuan, sering menyampaikan kepada guru agar mendidik dengan cara persuasif. Jikapun ada siswa yang nakal, guru tidak boleh melakukan tindakan kekerasan, tetapi guru mestinya membimbing siswa tersebut dengan cara baik dan sopan. “Karena siswa harus didekatkan dengan bahasa-bahasa yang membina,” ujarnya.

Terkait dengan kasus pemukulan guru terhadap Kasek SMAN 3, Nur Amin berjanji akan menindaklanjuti kasus ini. Bahkan, Nur Amin telah memerintahkan tim dinas pendidikan yang terdiri dari Kabid Pendidikan Menengah dan juga pengawas mencari data-data latar belakang kasus tersebut. Tindakan hukum sesuai PP 30 tahun 1980 akan dikenakan kepada guru tersebut, jika ia terbukti bersalah. Saat ini, Nur Amin belum dapat menjawab sanksi apa yang diberikan, karena belum ada data yang menyatakan guru tersebut bersalah. Kasus ini, lanjut Nur Amin bisa jadi akibat tidak terkontrolnya emosi guru tersebut. Data di lapangan tersebut nantinya, ulas Nur Amin menjadi pertimbangan dan acuan untuk menindaklanjuti kasus ini. Dari data tersebut akan terlihat, apa latar belakang guru tersebut berbuat hal demikian. Ia berharap, kasus seperti ini tidak terulang lagi, dan jangan sampai ada yang memanasi-manasi agar persoalan ini menjadi besar,” (Padang Ekpress, 30/01/08)

Iklan

Responses

  1. Guru itu digugu dan ditiru. Untuk digugu, guru harus dapat bertutur sejalan dengan perbuatannya sehingga perilaku yang baik akan ditiru oleh para muridnya dikemudian hari.

    Pada masa kini perilaku kita banyak yang tidak sejalan dengan ucapan. Contoh mudah, ada aktor paginya penyuluhan anti narkoba, tetapi malamnya yang bersangkutan “digerebek”, pesta narkoba, kemudian ada anggota komisi dalam masalah “hukum”, tetapi yang bersangkutan melanggar hukum menerima suap.

    Bila bangsa kita tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup, tetapi hanya sebatas kegiatan ritual apalagi ditinggalkan sama sekali. Maka jangan heran guru memukul kepala sekolah tersebut terjadi. Dan mungkin besok lusa seorang dekan/ rektor dituntut oleh mahasiswa yang tidak diluluskan karena urusan merokok di ruang kuliah. semoga jangan terjadi…….

  2. Artikel tersebut menyiratkan bahwa kita perlu melakukan refleksi diri terhadap apa yang pernah kita lakukan, khususnya sebagai guru. Peristiwa yang ditunjukan dalam artikel di atas, sejalan dengan pepatah,”Jika guru kencing berdiri, maka siswanya kencing berlari.” Artinya siswa cendrung berbuat selangkah lebih maju daripada guru. Mengapa hal itu terjadi? Banyak faktor, saya kira, yang menjadi penyebabnya. Pertama, kurangnya keteladanan, baik dari orang tua, guru maupun pemimpin. Sebagai sosok yang diguguh dan ditiru, Guru perlu memberikan teladan kepada para siswa baik dalam etika, bersikap, bertindak terutama dalam penegakkan disiplin sekolah. Kedua, faktor pembelajaran demokrasi di negara kita dalam berbagai aksi protes. Adalah tak dapat dihindari, jika TV selalu memperlihatklan aksi tawuran masa, konflik antar warga, atau lembaga tertentu yang selalu disertai aksi kekerasan, bila ditonton oleh siswa akan diadopsi sebagai prilaku wajar. maka tak heran jika ditingkat sekolah juga terjadi tawuran yang disertai tindak kekerasan. Karena itu, saran yang disampaikan dalam artikel di atas kiranya perlu disahuti dengan arif dan bijaksana bahwa pembelajaran dikalangan guru termasuk para pemimpin kita perlu disegarkan dan ditingkatkan lagi agar generasi yang kita pimpin dan kita didik saat ini bisa menjadi lebih baik kedepan.

  3. Belajar dari kasus demo kls XII SMAN 8 Padang seharusnya birokrasi sekolah arif dalam menyikapi pertanyaan siswa tentang kemana uang-uang yang di”mintakan” pihak sekolah/komite secara jelas dan transparan sehingga dari awal dapat dicegah pengerahan massa (demo) yang dilakukan siswa. Pihak sekolah tetap pada pendiriannya bahwa uang yang 25 juta telah habis utk 3 pekan belajar tambahan karena dana itu sebelumnya telah diprogram utk 3 matapelajaran (dan inipun diamini oleh ka dinas pendidikan) sedangkan adanya POS UN 2008 yang menambah matapelajaran menjadi 6 yang di UN kan sekolah merasa kekurangan dana sehingga tiap siswa harus beriyur lagi sebesar Rp 180.000 ! Subtansi kemana dan bagaimana rinciannya 25 juta itu habisnya tidak terjawab. Dialog orang tua dan pihak sekolah deadlock. Aneh setelah adanya ancaman akan demo ke Dinas Pendidikan dan DPRD Kota baru komite dan sekolah memberikan rincian kemana uang yang 25juta, ajaib yang sebelumnya katanya habis ternyata laporan terbaru malah dapat membiayai belajar tambahan sore sampai menjelang UN 2008 dan itupun masih saldo 8 jutaan ? Orangtua akan mendukung apapun dan berapapun biaya yang diminta sekolah demi kelangsungan pendidikan anaknya, tapi tolong rincian program jelas, transparan keuangannya dan dipertanggung jawabkan dunia akhirat. Untuk kepala dinas pendidikan jangan mengamini saja laporan yang dibuat kepala sekolah. Kepala Sekolah sibuk mencari siapa provokator demo, lupa subtansi pertanyaan orangtua dan siswa. Jalinlah komunikasi aktif dengan siswa dan orangtua dan jadilah pemimpin jujur yang dapat diteladani.

  4. salam kenal aja


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: