Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 13, 2008

Opini : Mudahnya Gelar di Negeri Ku

MUDAHNYA GELAR DI NEGERI KU

Oleh : ZULKIFLI *)

Tidak ada yang bisa dijagokan di negeri ini. Jago di sini tentu bukan adu otot, namun di sini tentu jago dalam arti kata orang merasa orang merasa hormat dan menghargai kita. Orang lain akan mengagumi dan hormat tentu karena ada nilai lebih pada negeri ini. Namun apakah yang sudah dapat menjadi kebanggaan negeri ini?. Dari segi teknologi kita sudah jauh tertinggal dibanding negara lain. Jangan dulu bicara dunia, di kawasan pun teknologi kita sudah jauh tertinggal. Di lihat dari segi ekonomi kita juga tidak bisa berbicara di dunia internasional. Katanya negeri ini juga kaya akan sumber daya alam (SDA), namun yang mengolah orang asing maka hasil yang di peroleh belum maksimal. Semua kenyataan di atas tentu akan bisa lebih baik apabila dunia pendidikan sudah berjalan sesuai dengan yang diinginkan. Namun kenyataannya dunia pendidikan negeri ini sudah jauh tertinggal dibanding negara tetangga. Dunia pendidikan di Malaysia mendapat perhatian yang serius dari pemerintahnya, sehingga dana yang dianggarkan pun cukup besar. Kalau di banding dengan anggaran pendidikan di Indonesia, maka negara kita jauh tertinggal anggaran pendidikannya terlalu minim. Walaupun pemerintah sudah mengatakan menaikkan anggaran pendidikan, tetapi kenyataannya masih saja menjadi perdebatan.

Salah satu faktor yang menentukan maju mundurnya suatu negara dapat di lihat pada sektor pendidikan. Apabila mutu pendidikan sudah meningkat maka juga akan dibarengi membaiknya kualitas suatu negara. Memperbaiki mutu pendidikan merupakan aset jangka panjang karena nantinya akan melahirkan orang-orang yang mempunyai sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas untuk membangun suatu negara. Dengan demikian maka sektor pendidikan merupakan aset penting dalam membangun suatu negara.

Apakah dunia pendidikan dibiarkan begitu saja tanpa mendapat perhatian yang serius dari pemerintah?. Tentu tidak, dunia pendidikan perlu ditingkatkan mutunya sebab merupakan cerminan suatu bangsa. Bangsa yang baik dan besar tidak saja bangsa yang kaya akan SDA tetapi bangsa yang besar juga bangsa yang rakyatnya mempunyai knowledge yang tinggi. Dengan knowledge tersebut orang akan bisa melakukan apapun sesuai dengan keahlian yang dimiliki sehingga akan dapat memajukan negara. Dunia pendidikan akan menghasilkan orang-orang yang mempunyai pengetahuan dan skill untuk membangun sebuah negara.

Akan kah dunia pendidikan Indonesia telah mampu bicara ditingkat dunia Internasional. Hal ini merupakan pertanyaan yang perlu menjadi renungan bersama sebab sudah lebih setengah abat umur negara ini. Setiap tahun pemerintah berupaya agar kualitas pendidikan itu ditingkatkan, namun terus saja terdapat hal-hal yang merusak citra pendidikan itu sendiri.

Dunia pendidikan Indonesia masih dibumbui dengan manipulasi-manipulasi. Dunia pendidikan bisa jadi bulan-bulanan orang yang mempunyai kepentingan di dalamnya. Adanya indikasi-indikasi tersebut membuat dunia pendidikan kita menjadi jelek bahkan tidak berkualitas. Orang mudah melakukan kekurangan-kecurangan karena
rendahnya pengawasan.

Rendahnya pengawasan dalam dunia pendidikan telah menjadi ladang dan peluang bagi sebagian orang. Untuk mencapai tujuannya, orang akan bermain didalamnya. Kita masih melihat dan mendengar adanya praktek-praktek pencaloan di saat ujian. Misalnya seorang joki akan bisa menggantikan orang yang bersangkutan untuk ujian. Si joki hanya butuh tanda pengenal ujian, apakah itu daftar ujian atau kartu mahasiswa. Dengan bemodalkan mental dan keberanian si joki akan ikut dalam ujian.

Saat ujian berlangsung pengawas seolah-olah tidak ambil pusing dengan keadaan sekitarnya. Sang pengawas lebih banyak duduk di bangku yang telah disediakan sambil menikmati beberapa makanan dan segelas air mineral yang dibagikan panitia ujian. Apapun yang terjadi di ruangan ia sepertinya tidak mau tau.

Sang pengawas hanya berjalan ketika mengambil absen peserta. Setelah selesai ia kembali ke singgasananya. Pengawas tidak pernah memperhatikan dan mencek peserta ujian. Apakah peserta ujian telah sesuai dengan data mahasiswa yang bersangkutan, itu seolah-olah bukan urusan pengawas. Hal inilah yang di temui dalam dunia pendidikan negeri ini.

Setelah si joki berhasil melakukan eksperimennya, tentu terpikir di benak kita mudahnya mencari gelar di negeri ini. Tanpa mengikuti ujian pun seseorang bisa memperoleh yang diinginkannya. Hal ini sangat disayangkan karena begitu mudahnya seseorang menyelesaikan pendidikannya.

Seseorang melanjutkan studinya bukan lagi berorientasi untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Namun sudah di salah artikan selama ini. Melanjutkan pendidikan hanya untuk memperoleh gelar. Dengan berlabelkan sarjana atau master ia akan mudah memperoleh jabatan. Sehingga di negeri ini gelar bukan menambah orang menjadi pintar tetapi gelar hanya untuk mengukuhkan ia pada suatu jabatan. Dengan naiknya jabatan tentu juga akan berpengaruh pada gaji yang akan diterimanya.

Apabila meraih gelar dengan cara yang tidak wajar, tentu dalam mengemban tugas akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ataupun penyalahgunaan jabatan nantinya. Namun realita-realita yang demikian ditemui di negeri ini.

Dari problema-problema di atas, maka hal yang perlu ditingkatkan adalah pengawasan. Dunia pendidikan akan lebih baik dan bermutu apabila ada perhatian dan pengawasan yang baik dari pemerintah. Apabila hal ini tidak menjadi perhatian yang serius dari pemerintah maka akan menambah muram citra dunia pendidikan negeri ini.

Adanya tindakan-tindakan yang memanfaatkan dunia pendidikan demi kepentingan individu atau kelompok perlu ditindaklanjuti. Pemerintah harus dapat menindak tegas dan memberi sanksi terhadap pelanggaran-pelanggaran tersebut. Kejelian dan pengawasan pemerintah melalui dinas terkait sangat diharapkan agar tindakan-tindakan yang merugikan itu dapat dihilangkan.

Dan juga hati nurani kita sebagai anak bangsa perlu dipertanyakan, hanya demi memperoleh kedudukan dan jabatan kita melakukan hal-hal yang demikian. Kesadaran kita perlu ditumbuhkan demi mengangkat citra pendidikan ini. Apabila kita sudah menyadari bahwa tindakan yang dilakukan salah, maka tentu tidak akan dikerjakan. Sehingga hal ini dapat mengubah paradigma pendidikan di negeri ini. Dengan demikian ke depan diharapkan mutu pendidikan kita lebih baik dan dapat menghasilkan manusia-manusia yang mampu membangun negeri ini.

*) Zulkifli, Mahaiswa Fakultas Ekonomi Universita Negeri Padang.
—————-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. Masih ada yang dibanggakan dari sebagian anak negeri ini dalam bidang pendidikan. Pelajar-pelajar Indonesia mamang kerap menjuari olimpiade sains dan matematika. Tapi, itu semua seolah tertenggelamkan oleh data statistik karena yang tidak menonjol itu jauh lebih besar jumlahnya.
    Memang dunia pendidikan kita belum sempurna. Masih banyak praktik sesuai dengan judul tulisan ini, banyak plagiarisme, sistem evaluasi akhir bagi anak SD-SMA yag belum baku, kesejahteraan guru, kurangnya sarana dan prasarana, dsb…. dsb…
    Semua itu proses menuju membaiknya sistem pendidikan di Indonesia. Mudah-mudahan potret-potret buruk pendidikan itu berganti dengan gambar yang indah.
    Malaysia? Sistem mungkin mereka lebih bagus sedikit. Orang pinternya? Banyakan di Indonesia kok, termasuk Anda kan… :)

    :) Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/
    http://notulabahasa.com/
    http://piguranyapakuban.deviantart.com/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: