Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 24, 2008

70 Persen Pelajar SLTP Membaca Kurang Satu Jam Sehari

70 Persen Pelajar SLTP Membaca Kurang Satu Jam Sehari

Menyedihkan, satu kata yang keluar melongok keadaan yang memprihatinkan ini, dari 100 orang responden 70 persen pelajar SLTP membaca kurang dari satu jam per hari. Kali ini Sumatera Barat Intelectual Society ( S.I.S ) sebuah lembaga kajian intelektual muda melirik fenomena budaya baca pada pelajar SLTP di Kota Padang. Survei ini adalah survei lapangan, bersifat deskriptif yang bertujuan menggambarkan kenyataan dilapangan apa adanya dengan menggunakan sistem pooling.

Ditujukan pada 100 orang pelajar SLTP sederajat yang pengambilan sampelnya secara acak dan data dikumpulkan melalui angket dan wawancara. Hasil analisis terhadap pooling mengenai budaya baca menunjukkan dari 100 orang responden, sebanyak 78 persen suka membaca dan 13 persen tidak suka membaca. Kemudian 39 persen responden rutin membaca tiap hari dan 61 persen lagi tidak rutin membaca tiap hari. ketika ditanyakan apa yang paling sering mereka baca, sebanyak 31 persen responden menjawab buku sekolah, 21 persen responden paling sering membaca koran dan sebanyak 48 persen responden lebih sering membaca majalah/komik dibanding bahan bacaan lain.

Hal yang cukup memprihatinkan kita terhadap budaya baca responden adalah alokasi waktu yang mereka sediakan dalam satu hari untuk membaca. Sebanyak 70 persen responden mengaku membaca kurang dari 1 jam perhari, 23 persen lagi lama membacanya 1-2 jam per hari dan hannya 7 persen yang lama membacanya lebih dari 2 jam per hari. Sedangkan mayoritas responden yaitu sebanyak 85 persen menyatakan manfaat membaca yang mereka rasakan adalah untuk menambah ilmu pengetahuan. Menariknya sebanyak 5 persen responden menyatakan bahwa membaca tidak mendatangkan manfaat bagi mereka. Berkaca kepada hasil pooling diatas, kita bisa melihat bahwa begitu rendahnya minat baca para pelajar kita. Padahal membaca adalah salah satu sarana utama untuk mendapatkan ilmu dan membentuk generasi yang unggul. Agama Islam yang dibawa Muhammad SAW saja menjadikan membaca (iqra’) sebagai risalah pertamanya.

Tentunya perintah tersebut tidak turun begitu saja, akan tetapi dilatarbelakangi oleh kesadaran bahwa untuk mengemban amanah sebagai pemimpin di muka bumi (khalifatul fil ardhi) maka umat Islam harus pintar/ berilmu pengetahuan, dan jalan untuk menjadi pintar adalah dengan membaca. Kemajuan sebuah bangsa juga sangat ditopang penguasaan ilmu pengetahuan. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang (untuk menyebut dua di antaranya) merupakan potret negara yang penduduknya berbudaya readholic (gila baca), sehingga wajar mereka senantiasa terdepan dalam inovasi dan penguasaan ilmu pengetahuan. Kondisi tersebut kemudian secara tidak langsung berpengaruh besar terhadap kemajuan bangsa mereka. Oleh karena itu, ke depan diperlukan usaha yang cukup keras untuk bisa membentuk dan meningkatkan minat baca para pelajar. Kita berharap budaya readholic juga mewabah, utamanya dikalangan pelajar/generasi muda kita.

Ada beberapa hal yang perlu kita upayakan untuk mencapai tujuan tersebut. Di antaranya pertama, giat melakukan kampanye gemar membaca. Hal ini juga diiringi dengan mengimbau para orang tua untuk mendorong dan memotivasi anak-anak mereka agar suka membaca. Kedua, memperbanyak tempat membaca/ taman bacaan/ pustaka. Dengan banyaknya taman bacaan akan memudahkan akses para pelajar/generasi muda. mereka tidak perlu lagi berjalan jauh untuk sekedar meminjam buku di pustaka daerah Sumbar misalnya, karena di kelurahan mereka tersedia fasilitas yang sama. Minimnya jumlah taman bacaan/ pustaka turut memicu rendahnya minat baca orang.

Ketiga, memperbanyak stok bahan-bahan bacaan terutama buku-buku di taman bacaan/ perpustakaan tersebut. Hal ini tentunya diiringi dengan variasi jenis bacaan, sehingga setiap orang bisa mulai membiasakan membaca dari jenis bahan bacaan yang disukainya. Keempat, mendorong pemerintah untuk mengeluarkan kebijakan untuk mensubsidi harga buku-buku bacaan. Hal ini penting mengingat harga buku yang mahal menyebabkan masyarakat keberatan membeli buku-buku bacaan, apalagi ditengah rendahnya daya beli mereka akibat krisis ekonomi yang masih melanda bangsa kita. Semoga dengan empat langkah diatas, bisa memperbaiki minat baca masyarakat terutama para pelajar, sehingga Indonesia dengan sendirinya akan bisa maju, makmur dan sejahtera, sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya, sebagaimana yang dicita-citakan pendiri Republik ini. Semoga. (Litbang S.I.S)[Padeks]

Iklan

Responses

  1. […] No   […]

  2. Sebagai tanggapan untuk tulisan diatas saya postingkan Artikel dibawah ini, yang ditulis oleh Satria Dharma (dari Sampoerna Foundation) semoga bermanfaat.

    Finland : A Land of Readers

    Sekali tiga tahun PISA (Program for International Student Assessment) menguji siswa berusia 15 tahunan di sekitar 40 negara industri di seluruh dunia untuk mengetahui tingkat keberhasilan pendidikannya. Berdasarkan hasil tes terakhr (2003) diketahui bahwa siswa Finlandia menduduki peringkat pertama. Artinya, Finlandia adalah negara dengan kualitas pendidikan terbaik di dunia (Indonesia berada di peringkat paling bawah).

    Salah satu komponen yang dinilai adalah dalam masalah membaca (reading literacy). Finlandia tidak memperoleh hasilnya secara instan melainkan telah memulai program literasinya sejak tahun 1990. Program dimulai dengan mengadakan kampanye membaca di perpustakaan dengan menggandeng Finnish Newspaper Association dan Finnish Periodical Publisher’s Association untuk mengadakan Reading Weeks setahun sekali dengan target mengasah ketrampilan membaca baik pada kelancaran maupun pada pemahaman siswa.

    Selama minggu-minggu tersebut koran dan terbitan periodik dibagikan ke sekolah-sekolah sekalian dengan latihan-latihan untuk menguji pemahaman bacaan dan ketrampilan memahami media, umpamanya kemampuan untuk memahami tujuan dan konstruksi dari artikel tertentu, mengapa penulis mengangkat isu yang dtulisnya, dan efek komponen tekstual dan visual yang ditimbulkannya. Para editor mengunjungi sekolah-sekolah dan menjelaskan bagaimana sebuah tulisan dapat diterbitkan setelah melalui berbagai revisi.

    Selain media cetak, Finnish School Television (mungkin semacam Televisi Pendidikan Indonesia) juga memproduksi program pendidikan dalam membaca, umpamanya meluncurkan kampanye menulis yang disebut “Open Story” dengan tema ‘Toleransi’. Siswa diminta untuk menulis cerita terbuka (open-ended story) dan tanpa konklusi. Cerita yang terpilih kemudian akan dijadikan film tv berseri.

    Salah satu proyek literasi depdiknas Finlandia adalah “Reading Finland” yang salah satu tujuannya adalah untuk mengikutsertakan pembaca lambat, yaitu siswa yang menguasai ketrampilan membaca dasar tapi kesulitan dengan bacaan yang membutuhkan kemampuan membaca yang tinggi. Dengan proyek ini siswa diperbaiki ketrampilan membaca deduktif maupun kemampuan mengritisi bacaannya agar mampu untuk meringkas teks dengan mind maps.

    Saat ini Finlandia adalah Negara Pembaca. 85% keluarga di Finlandia berlangganan koran. Hanya Jepang dan Norwegia yang lebih tinggi dalam hal ini. Para keluarga memulai harinya dengan membaca koran pagi dan mendiskusikan berita yang ada. Jumlah buku yang diterbitkan juga tinggi dan setiap orang meminjam rata-rata 21 buku perpustakaan setiap tahun.

    Hampir separo program televisi di Finlandia adalah dalam bahasa asing, dengan bahasa Inggris paling tinggi. Tidak ada program sulih suara (dubbing) dan film diterjemahkan sehingga siswa tetap harus membaca meski menonton TV. Tindakan cerdas karena tidak ada program membaca cepat di sekolah yang bisa mengungguli popularitas program televisi favorit.

    Agar para siswa gemar membaca, mereka didorong untuk menyampaikan pendapat mereka tentang buku yang mereka baca, meskipun pendapat mereka berbeda dengan pendapat umum. Mereka diminta untuk menguji validitas pendapat mereka sendiri tanpa harus dinilai oleh guru.

    Meski demikian, Finlandia tidak menerapkan ujian membaca secara nasional selama di pendidikan dasar selama 9 tahun, termasuk pada bidang studi lain. Jika mereka ingin mengevaluasi hasil pendidikannya mereka akan mengambil sample 10% siswa. Siswa hanya diuji pada mata pelajaran Bahasa Finlandia, membaca dan matematika pada saat mereka berusia sekitar 15 tahun. Hasil ujian adalah rahasia dan hasilnya tidak dperbandingkan dengan sekolah lain melainkan hanya untuk sekolah itu sendiri.

    Hasil evaluasi digunakan untuk menyusun program pelatihan guru secara nasional. Bandingkan dengan kita yang melaksanakan ujian nasional secara meyeluruh dengan biaya besar, dipakai sebagai patokan kelulusan, tapi tidak ada tindak lanjutnya.

    Ketrampilan membaca adalah komponen paling penting dalam berbahasa. Semakin tinggi ketrampilan siswa dalam membaca semakin besar kemampuannya untuk berkembang ke bidang-bidang lain. Bahasa adalah thinking skill (ketrampilan berpikir) yang paling utama. Tanpa menguasai bahasa maka kita tidak akan mampu meningkatkan ”thinking skills kita lainnya. Artinya, jika kita kedodoran dalam berbahasa maka bidang lainnya pasti juga akan kedodoran. Bahasa memang menunjukkan bangsa. Bangsa yang hebat adalah bangsa yang mampu menguasai dan mengembangkan kemampuan berbahasanya ke tingkat bahasa ilmu pengetahuan. Jika kita tidak mampu meningkatkan kemapuan berbahasa anak-anak kita maka jangan bermimpi untuk bisa menjadi bangsa besar.

    Sudah saatnya kita benar-benar memberikan perhatian kepada ketrampilan membaca bagi anak-anak kita. Itulah sebabnya perpustakaan daerah sangat vital bagi kemajuan kota. Kota yang tidak memiliki perpustakaan yang memadai sebenarnya menunjukkan bahwa kota tersebut kurang berbudaya, meski betapapun banyak dan megahnya gedung-gedung lain yang ada di kota tersebut.

    Bagaimana dengan negara kita?

  3. Pak Tuangku Lareh Yth,

    Terima kasih atas responnya, semoga artikel yang Bapak postingkan tersebut diatas bermanfaat bagi kita semua.

    Artikel tersebut telah kami foward (teruskan) ke mailinglist :

    APSI :
    http://groups.yahoo.com/group/apsi_sumbar/

    PGOL :
    http://groups.yahoo.com/group/pakguruonline/

    Wassalam,
    Redaksi

  4. Artikelnya bagus ya?
    Bisa jadi m0tivat0r plajar.
    But,bTw pljar SMA di jpang brp jam Prhari bljar?

  5. […] Tuanku, 2008. Finland: A Land of Readers. https://enewsletterdisdik.wordpress.com/2008/02/24/70-persen-pelajar-sltp-membaca-kurang-satu-jam-seh… Diakses pada tanggal 9 April […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: