Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 13, 2008

Bangsa yang miskin “Knowing Minds”

Bangsa yang Miskin “Knowing Minds”

Oleh : Limas Sutanto *)

Hanya selang sehari setelah tawuran para mahasiswa Universitas Hasanuddin, Makassar, para mahasiswa Universitas Sam Ratulangi, Manado, pun terlibat tawuran brutal pada 27 Februari 2008 (berita MetroTV, 27 Februari 2008). Berita di layar televisi itu menggambarkan betapa kekerasan begitu merasuki para mahasiswa yang saling melempar batu tanpa memakai akal lagi.

Tawuran mahasiswa sering terjadi di negeri ini dan, ironis benar, tidak banyak orang yang peduli. Tawuran berlangsung silih berganti dan cenderung dianggap sebagai kejadian biasa saja. Semua itu menggambarkan patologi psikososial yang serius dalam bangsa ini, yang gejala sentralnya adalah ketakpedulian terhadap nyawa dan nasib manusia.

Mestinya warga bangsa dididik dan bertumbuh kembang untuk makin mampu mendayagunakan kekuatan kepedulian terhadap nyawa dan nasib manusia. Psikiater Daniel J Siegel dan pendidik Mary Hartzell (2004) menamai manusia yang mampu memedulikan nasib sesama sebagai orang yang memiliki knowing minds (khazanah mental yang memahami). Meresapnya ketidakpedulian terhadap nyawa manusia dalam kebiasaan hidup sehari-hari menandakan betapa bangsa ini miskin knowing minds.

Dalam knowing minds terangkum lima kemampuan kemanusiaan hakiki, yang semuanya bersubstansikan pemahaman terhadap pikiran, perasaan, dan nasib orang lain. Kemampuan pertama, compassion, yaitu kemampuan untuk merasakan penderitaan atau pengalaman menyakitkan yang dirasakan orang lain. Kedua, empathy, yaitu kemampuan mengimajinasikan secara tepat pengalaman mental (pikiran dan perasaan) orang lain, yang kemudian membuahkan pengertian yang tepat tentang bagaimana orang lain itu berpikir dan merasakan. Ketiga, mindsight, yakni kemampuan menggambarkan dengan jelas pengalaman mental (pikiran dan perasaan) orang lain. Keempat, insight, yakni kemampuan untuk melakukan pengamatan secara jernih dan mendalam dengan mendayagunakan pikiran yang bening. Kelima, kemampuan menyelenggarakan reflective dialogue, yaitu percakapan tentang segala sesuatu yang dipikirkan, dirasakan, diingat, diinginkan, dan diyakini dalam dialog dengan orang lain.

”Kurang terdidik”

Istilah knowing minds merebakkan makna kontekstual yang mendasar bagi bangsa ini. Kata knowing (”memahami”) itu begitu telak. Manusia yang kurang memiliki knowing minds dapat dipandang sebagai manusia yang kurang memiliki pemahaman atau kurang memiliki pengertian. Itu adalah kata lain untuk ”bodoh” atau ”kurang terdidik”. Perspektif ini terasa begitu ironis ketika kita menyaksikan mahasiswa di tengah bangsa ini kurang memiliki knowing minds, dan dengan demikian dapat disebut ”bodoh” atau ”kurang terdidik”.

Bangsa yang kurang memiliki knowing minds dapat dimengerti sebagai bangsa yang bodoh atau kurang terdidik. Pada titik ini bisa disadari betapa tugas mendidik di tengah bangsa yang masih kurang mampu memedulikan nyawa dan nasib manusia itu tidak niscaya hanya bertitik berat pada upaya ”meningkatkan penguasaan sains dan teknologi”, seperti yang secara klise banyak didengungkan di ruang publik selama ini.

Justru yang terasa begitu penting bagi bangsa ini adalah bagaimana mendidik untuk menumbuhkembangkan knowing minds (kemampuan mendayagunakan kekuatan compassion, empathy, mindsight, insight, dan reflective dialogue). Dapat dipikirkan secara logis, ketika bangsa memiliki knowing minds yang memadai (dan karena itu menjadi peduli terhadap nyawa dan nasib manusia), riset di bidang sains dan teknologi dapat bertumbuh kembang pesat di tengah bangsa ini karena kepedulian terhadap nyawa dan nasib manusia itu dapat menjadi sumber semangat dan daya dorong (impetus) bagi riset sains dan teknologi demi kesejahteraan umat manusia.

Akhir-akhir ini kita sering membicarakan pendidikan yang gagal di negeri ini. Aneka kebrutalan dan ketakpedulian para mahasiswa dan warga bangsa terhadap nyawa dan nasib manusia memandu kita untuk melihat salah satu akar penting kegagalan pendidikan di negeri ini. Pendidikan telah makin meninggalkan hakikatnya sebagai proses penumbuhkembangan compassion, empathy, mindsight, insight, dan reflective dialogue. Pendidikan berlangsung sebagai bisnis atau pencarian laba, dan lembaga pendidikan adalah ajang bisnis atau lahan pencarian laba.

Tak pelak, pendidikan lebih menghasilkan lulusan-lulusan yang taat pada kaidah-kaidah pencarian laba bagi dirinya sendiri ketimbang peduli pada kemanusiaan, kehidupan, dan keberadaban. Pada titik gawat ini mestinya pemerintah bertindak menyelamatkan pendidikan, dalam arti mengembalikan praktik pendidikan di negeri ini sebagai proses penumbuhkembangan kemanusiaan dan keberadaban yang lebih bersifat nirlaba ketimbang mencari laba.

*) Limas Sutanto Psikiater Konsultan Psikoterapi, Pengajar Psikoterapi dan Konseling Universitas Negeri Malang

Sumber : Kompas 6 Meret 2008

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: