Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 5, 2008

Meski Berat, Kita Harus Optimis

Meski Berat, Kita Harus Optimis

Wawancara dengan dr.Fasli Jalal.Ph.D  

Salah satu komponen paling penting yang menentukan baik buruknya mutu pendidikan adalah guru. Sayangnya hingga kini keberadaan guru kita masih dihimpit persoalan-persoalan berat, mulai dari gajinya yang rendah, distribusinya yang tidak merata, kualifikasi dan kompetensinya yang tidak memadai, hingga ketidaksepadanan antara latarbelakang pendidikan yang ditempuhnya dengan bidang yang diajarkannya di sekolah (mismatch). Bagaimana memecahkannya? Berikut wawancara dengan dr. Fasli Jalal, Ph.D, DirekturJenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK), Departemen Pendidikan Nasional. Wawancara dilakukan dalam berbagai kesempatan.

Bagaimana Anda melihat kondisi guru kita dewasa ini?

Jika kita sejenak melihat ke belakang, pada masa lalu guru menempati posisi yang sangat strategic dan terhormat di masyarakat. Mereka disegani dan menjadi panutan, walaupun gajinya saat itu juga tidak terlalu bersar. Guru bangga dengan profesinya, dan ada gairah terus menerus untuk meningkatkan kompetensi dan kreativitasnya. Mereka merasa ada kebebasan pedagogik. Mereka menggunakan segala trik, ilmu, kompetensi, dan metode terbaik dalam proses pembelajaran. Ini terjadi ketika kooptasi birokrasi belum begitu besar. Urusan pusat saat itu hanya gaji dan biaya operasional minimal.

Namun, setelah rezim Orde Baru berkuasa yang memberlakukan kebijakan monopolistik dan sentralistik, dampaknya juga sangat terasa bagi guru. Akibatnya, kreativitas dan independensi pedagogic mereka menjadi termarjinalkan. Berbagai pemagaran itu talk ubahnya seperti virus pembunuh yang melumpuhkan kreativitas guru secara perlahanlahan, yang berlangsung secara terus menerus dan sistematis. Oleh karena itu tidak mengherankan jika mutu pedidikan kita terpuruk.

Berangkat dari kenyataan pahit itulah, sekarang kita berkewajiban untuk menggairahkan kembali semangat dan profesionalisme para guru. Ini sangat mendasar bagi peningkatan mutu pendidikan. Kita sekarang sudah punya Undang-Undang Guru dan Dosen. Ke depan, kita akan berupaya keras agar tiada hari yang terlewatkan untuk me­ningkatkan profesi guru, baik guru ne­geri maupun swasta. Ini dilakukan oleh siapa saja, bukan hanya pemerintah. Guru kita bangkitkan kebanggaannya menjadi profesi yang bermartabat, se­hingga mereka melakukan yang terbaik untuk memajukan bangsa.

Dibentuknnya Ditjen PMPTK antara lain untuk mengatasi persoalan-per ­soalan berat yang terkait dengan guru. secara umum, persoalan-persoalan apa saja yang yang berhubungan dengan keberadaan guru kita saat ini?

Kita sudah mengidentifikasi, paling tidak ada delapan persoalan besar yang kita hadapi. Delapan persoalan itu ada­ lah kekurangan guru, distribusi yang tidak merata, rendahnya kualifikasi, rendahnya kompetensi, rendahnya kesejahteraan, ketidaksesuaian latarbelakang pendidikan guru, manajemen pengelolaan guru yang belum tertata dengan baik, hingga kompleksitas dalam implementasi UU Guru dan Dosen. Jadi kita dihimpit persoalan-persoalan raksasa terkait upaya untuk mening ­katkan harkat dan martabat guru.


Lantas darimana memulai untuk memecahkannya?

Pertama, kita ingin membuat kejelasan tentang masalah guru ini. Karena itu, pada tahap awal yang kita lakukan adalah mendata secara sungguh-sungg­uh guru kita yang mencakup profil mereka secara lengkap. Ini tidak sederhana. Data itu antara lain meliputi jumlah guru, latar belakang pendidikan, jenis kelamin, usia, lamanya mengajar, lokasi tempat mereka mengajar, pangkat dan golongan, hingga profil sekolahnya.

Jumlah guru kita berdasarkan laporan Balitbang Depdiknas tahun 2004 mencapai kurang lebih 2,7 juta orang. Mereka mengajar di kurang lebih 250.000 sekolah mulai TK sampai SMA/SMK/MA. Mereka terdiri dari sekitar 1,7 juta guru negeri dan hampir 1 juta guru swasta. Dari 1,7 juta guru negeri, data yang sudah masuk lengkap hampir 1,5 juta. Jadi masih ada sekitar 200.00 guru PNS yang datanya belum komplit. Sementara data guru swasta yang sudah masuk sekitar 732.000 orang. Kita akan kejar terus kekurangan ini.

Dengan data lengkap itu, kita jadi tahu kerawanan-kerawanan yang akan kita hadapi ke depan dan bagaimana memecahkannya. Sebagai contoh, untuk guru negeri dalam 15 tahun ke depan kita akan kehilangan sekitar 1 juta guru karena pensiun. Padahal saat ini saja kita masih kekurangan guru akibat belum terpenuhi pada tahun-tahun sebelumnya. Kekurangan guru ini terjadi terus menerus karena kebutuhan awal pada tahun-tahun sebelumnya yang tak pernah terisi secara penuh.

Pada tahun 2004 kekurangannya masih sekitar 157.000 guru. Padahal saat itu sudah disiasati dengan program pengangkatan guru bantu yang sudah digulirkan beberapa tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 261.000 guru.

Guru bantu saat itu berusaha mencoba mengatasi kekurangan guru di tengah anggaran yang minim, dari kekurangan guru saat itu yang mencapai lebih dari 427.000 orang.

Tapi kemudian pada tahun 2004 jumlah guru yang pensiun sebanyak 27.000 orang. Tahun 2005 pensiun lagi 33.000 orang. Jadi, katakan kita tanpa memikirkan ekspansi penambahan gedung sekolah, kita masih harus mencari tambahan hampir 218.000 pada akhir 2005 hanya karena dua variable itu saja, yaitu kekurangan yang belum terisi sebelumnya dan jumlah guru yang pensiun. Padahal kita juga lagi menggenjot program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Artinya, dengan bertambahnya jumlah anak yang harus mendapat pelayanan wajib belajar, juga menuntut peerluasan akses dan penambahan guru. setelah kita hitung, untuk SMP saja diperlukan 113.000 guru S M P/MTs.

Jika ditambahkan dengan kekuran ­gan guru sebelumnya, maka total kekurangannya tahun 2006 ini mencapai 331.000 guru. Inilah wajah kebutuhan guru kita saat ini. Oleh karena itu, tugas saga yang pertama adalah mencoba me ­nyajikan data ini dulu. Seberapa rawan dan apa saja yang harus kita lakukan un ­ tuk perencanaan jangka panjang,jangka menengah, danjangka pendek.

Bagaimana dengan sinyalemen bahwa banyak guru yang menumpuk di kota , sedangkan di daerah-daerah pelosok dan terpencil banyak terjadi keku­rangan guru. Masalah kita sebenarnya kekurangan guru atau distribusi yang tidak merata?

Distribusi guru itu memang merupakan masalah serius yang kita hadapi. Kalau kita lihat rasio guru–siswa secara nasional, ternyata kondisi kita sudah bagus dan jauh lebih balk dibanding negara-negara lain yang pendidikannya lebih maju. Misalnya kita lihat rasio guru dan siswa di negara-negara ASEAN ditambah tiga negara Asia plus Kanada dan Amerika Serikat. Untuk SD , perbandingan guru dan murid kita adalah 1:20. Artinya, jika dirata-rata satu guru melayani 20 sis ­ wa. Kondisi ini lebih balk dari Singapura, Cina , Korea Selatan, bahkan Jepang. Kita hanya kalah dari Brunei Darussalam, Amerika Serikat, Kanada, dan Malasyia. Di tingkat SMP lebih gawat lagi, rasionya 1:14. Kita di atas Singapura , Korea , Mala ­ syia, bahkan Amerika Serikat. Kita hanya kalah dari Brunei dan Jepang.

Tetapi di sejumlah kabupaten, ada satu guru SD yang hanya melayani 11 murid. Sementara di Kabupaten Yahukimo, Papua, satu guru rata-rata harus melayani 73 murid SD. Begitu pula di tingkat SMP, ada satu guru di kabupaten atau kota tertentu yang rata-rata hanya melayani 6 murid. Sedangkan di Kabupaten Yahukimo rata-rata satu guru harus melayani 91 murid. Ini adalah contoh ketidakadilan distribusi guru yang perlu kita cari sebabnya dan bagaimana cara mengatasinya.

Rasio guru siswa kita yang seperti itu, penyebabnya antara lain karena sekolah-sekolah kita pada umumnya kecil ­kecil sehingga jumlah muridnya tidak banyak. Bandingkan dengan negara­negara seperti Jepang , Korea dan Cina, yang menggunakan kelas-kelas besar. Satu SD muridnya bisa ribuan. Apalagi dalam satu kompleks bisa terdiri dari beberapa sekolah.

Guru-guru kita memang cenderung menumpuk di kota . Akibatnya, tidak sedikit guru yang kemudian menganggur. Ada yang terpaksa ditugaskan di perpustakaan, diminta menghadiri pelatihan atau undangan rapat di luar sekolah, dan lain-lain. Sementara di daerah­daerah terpencil, banyak terjadi kekurangan. Inilah masalah besar yang kita hadapi, yaitu distribusi guru yang tidak merata.


Harapan Anda ke depan?

Kehadiran UU Guru ini memang telah menimbulkan kecemasan di kalangan guru, tapi kecemasan yang positif. Soalnya, UU Guru tersebut telah mendorong para guru berlomba-lomba untuk meningkatkan kualifikasinya, kemudian mengikuti uji sertifikasi. Walaupun uji sertifikasi belum dimulai, tapi lahirnya UU Guru itu menjadi momentum luar biasa. Mereka sekarang bergairah untuk terus belajar. Kalau momentum ini bisa terus kita jaga, saya optimistis ke depan akan bagus. Mutu guru dengan sendirinya akan meningkat, yang otomatis akan berimplikasi pada peningkatan mutu pendidikan secara keseluruhan.

Kita harus terus mencari segala cara dan memberi kesempatan seluas-luasnya untuk meningkatkan mutu guru. Kita ingin menggairahkan semangat dan profesionalisme mereka. Kita sampaikan kepada mereka mudah-mudahan kerja kerasnya tidak sia-sia karena ada peningkatan kesejahteraan di depan mata.

Berbagai langkah yang akan kita lakukan ke depan itu intinya untuk mengangkat harkat dan martabat guru. Kita harapkan masyarakat melihat guru ini lebih gagah. Bukan guru yang pakai sepeda ontel, kumuh, pakai sandal jepit, dan jalannya tertatih-tatih. Ini harus kita tumbuhkan. Kita ingin profesi guru ini sejajar dengan dokter, akuntan, insinyur, dan lain-lain.

Ke depan, kita harus benar-benar menghargai profesi guru. Kita ini kan bekas murid semua, dan kita punya guru – guru idola [ KTI-Online ]

Iklan

Responses

  1. Adanya sertifikasi belum tentu dapat menjamin kualitas guru, kalau sertifikasi hanya sekedar dijadikan sebagai lolos butuh untuk mendapatkan tunjangan. Yang paling penting adalah bagaimana penerapan sertifikasi dilaksanakan secara ketat dan konsekuen termasuk rekruitmen guru. Kalau dua hal tersebut masih dilakukan asal-asalan, saya belum yakin pendidikan di Indonesia akan dapat maju.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: