Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 22, 2008

PIDATO KADISDIK, DRS. BURHASMAN, MM. dalam rangka menyambut satu abad Hardiknas

PIDATO KADISDIK PROP. SUMATERA BARAT, DRS. BURHASMAN, MM.
Tgl 21 Mei 2008, dalam Menyambut Satu Abad Harkitnas
 
Assalamualaikum wr. wbr
Alhamdulllah, pagi ini kita bersyukur kepada Allah. Kita hadir dalam satu upacara, upacara yang saya kira perlu kita resapi dengan khidmad, perlu kita rasakan secara lebih mendalam. Karena,  kita hadir hari ini, karena suatu kegiatan,  satu gerakan yang terjadi seratus tahun yang lalu.
 
Bapak-Ibuk dan Saudara sekalian, pertama saya beterima kasih telah hadir hari ini, walaupun saya tahu, ada juga yang tidak hadir.
Kita memang tidak bisa menghindari, tidak bisa melepaskan diri dari keterkaitan sejarah. Bila kita tidak mengenali sejarah, maka kita tidak tahu rangkaian, seperti apa yang telah terjadi di republik ini.  Oleh karena itu, pada hari ini, saya ingin menyampaikan beberapa hal dalam rangka merefleksi kembali, gerakan dua puluh Mei tahun 1908, yang hari ini, kita peringati untuk yang ke seratus kalinya.
 
Bapak Ibuk, dan Sdr sekalian, kebangkitan nasional yang juga merupakan suatu gerakan perubahan yang terjadi pada saat itu;. perubahan, berarti ada suasana ketidak-nyamanan para pimpinan pada waktu itu. Layaknya sebuah perubahan, biasanya tidak semua orang menyadari, tetapi ada beberapa tokoh yang pada saat itu sadar  bahwa tidak mungkin Indonesia seperti itu terus menerus. Ada orang yang merasa itu tidak bisa dibiarkan. Ada keinginan untuk merubah. Dan itu terjadi, mungkin diawali oleh hanya beberapa orang saja. Apa yang saya ingin ingatkan dalam korelasian hal ini adalah: Bisa tidak kita melihat sesuatu, pada saat hari ini? Ada juga ndak sesuatu yang harus kita rubah?
Dan banyak orang, biasanya, merasa nyaman dalam situasi yang dia telah nikmati dalam jangka panjang.
 
Tokoh tokoh nasional pada tahun 08 itu merasakan; ada sesuatu yang harus dirubah. Untuk itu harus ada gerakan perubahan. Berdasarkan statement yang sederhana itu kita dapat menyimpulkan:  bahwa perubahan itu berawal dari kesadaran satu, dua, atau beberapa orang terhadap situasi yang tidak mungkin dibiarkan, dalam jangka panjang seperti itu.
Maka terjadilah, apa yang kita sebut dengan, upaya untuk berubah.
Perubahan diawali dari diri sendiri oleh seseorang atau beberapa orang. Oleh karena itu, kemamuan pimpinan waktu itu dalam membaca situasi perlu dijadikan tauladan bagi kita… 

Dikaitkan dengan kita sebagai lembaga pendidikan; perubahan di dalam suatu negara, mestinya diawali dengan, oleh,  perubahan di bidang pendidikannya itu. Mestinya kita juga memiliki ide-ide yang memungkinkan terjadinya perubahan di dalam proses pendidikan, yang pada saatnya nanti akan ikut membantu terjadinya perubahan di dalam satu kehidupan. Ambillah itu dalam skala yang lebih besar, yaitu, Bangsa.
 
Persoalannya adalah, sadarkah kita, apa yang harus kita rubah? Mengapa harus berubah, kemana kita harus arahkan perubahan itu?
Dan biasanya, orang merasa nyaman dengan situasi yang dia nikmati, dan dia biasanya menolak terhadap segala bentuk perubahan.
 
Untuk melakukan satu perubahan itu, memang diperlukan sebuah visi yang jelas.  Kalau kita bayangkanlah pimpinan kita, waktu itu, mungkin dia orang yang  hidup dalam susana yang tidak terlalu, … terlalu susah. Karena, mereka adalah para pimpinan. Tapi mereka melihat bahwa tidak mungkin republik ini dibiarkan seperti itu.  Ada keinginan utuk melakukan perbaikan.
 
Sekarang coba masing-masing kita merasakan. Apakah peresepsi kita perlu kita rubah atau tidak;  tentang perjalanan kehidupan kita sendiri?
Sering kita, kadang-kadang, merasa nyaman saja dengan situasi…
 
Sesuai dengan tugas pokok dan fungsi kita, ada tidak yang perlu kita rubah?
Sering kita mengatakan; kita menuntut orang lain  berubah, kita menuntut orang lain untuk memperbaiki sesuatu, sementara kita sendiri lupa untuk diri kita…
 
Hari kebangkitan nasional yang ke-seratus tahun ini,  mestinya merefleksikan kepada diri setiap orang, dengan semangat yang dibawa para pemimpin-pemimpin kita yang mau bergerak dalam situasi sesulit itu. Oleh karena itu bagaimana kita bisa melihat situasi   seperti itu, kita meng-aplikasikannya pada bidang tugas pokok kita masing-masing…..
 
Kita tidak perlu terlalu jauh melakukan  hal- hal yang  idealis berkaitan dengan kebangkitan nasional. Cukup untuk diri kita, dan cukup untuk tugas pokoknya. 
Bagai mana anggaran yang sudah ada untuk semaksimal mungkin bisa kita laksanakan semaksimal mungkin, pada saatnya?
 
Sejarah juga membuktikan, orang yang mempelopori perubahan juga kadang akan menjadi korban dari perubahan itu. Kita lihat Bung Karno, sebagai tokoh pembaharu, perubahan pada zamannya,  diapun harus diturunkan karena dorongan perubahan itu. Kita lihat misalnya Pak Harto, yang kita harapkan dulu juga sebagai pembaharu perubahan, melanjutkan usaha kebangkitan bangsa, diapun juga harus diturunkan karena ada dorongan untuk melakukan perubahan.
Kita harus bisa beradaptasi dengan perubahan itu agar tidak diturunkan oleh perubahan itu, walaupun pada awalnya kita adalah tokoh yang membawa perubahan itu …
 
Sekaitan dengan proses perubahan, yang terjadi secara terus menerus itu, ada beberapa hal yang harus kita pahami:
Pertama: perubahan menuntut setiap orang untuk bisa membuka keterbukaan pikirannya. Keterbukaan pikiran tehadap hal-hal yang baru. Biasanya orang, kalau hal-hal baru itu, menolak. Biasanya kita merasa mapan dengan situasi yang sudah lama. Dan hal yang harus kita sadari; pikiran kita harus terbuka terhadap hal-hal yang memang pada saatnya harus berubah. Menolak, dan  bertahankan…,  status-quo namanya. …
 
Sejarah membuktikan, dinasaurus itu binatang yang besar, tetapi dia  punah karena memang tidak mampu beradaptasi. Dari itu, kita perlu kemampuan beradaptasi agar bisa tetap eksis….
 
Yang kedua, adalah: keterbukaan hati. Kalau pikiran kita sudah bisa menerima, hati kita menerima atau belum?  Sering kita memikirkan orang lain berbuat sesuatu yang kita inginkan, tetapi hati kita kadang-kadang tidak menginginkan diri kita, untuk mengikuti ke arah mana tujuan itu berjalan. Saudara sekalian, dalam situasi seperti ini, kita tidak tahu seperti apa perubahan itu. Kita tidak tahu…
 
Sebagai orang yang mengelola bidang pendidikan secara resmi,  kita harus menyadari bahwa kita dituntut berbagai hal.
Barangkali saudara masih ingat apa yang saya katakan:  fokus kepada pelanggan! Fokus kepada siapa yang akan menikmati produk pendidikan. 
Dan posisi kita seperti apa? Posisi kita adalah bagaimana melakukan berbagai regulasi aturan main mengatur pendidkan, mengkoordinasikan bebagai koponen. Maka dalam dunia manajemen, ada yang namanya keahlian mendengar.
Bisa tidak kita mendengar apa yang menjadi ide orang lain? Bisa tidak kita mendengar ketika perkataan-perkataan orang lain itu mulai tidak enak kita dengarkan? Maka keterbukaan untuk medengar saja, merupakan salah satu skill
 
Belum tentu apa yang disampaikan orang lain itu keliru. Mari kita dengar kritikan yang masuk. Dengarkan apa yang disampaikan orang lain itu, terlepas dai itu benar atau salah. Keterbukaan pikiran, ketebukaan hati dan perasaan, keterbukaan kita mendengarkan apa yang disapaikan orang lain merpakan bagian yang tak terpisahkan apabila kita ingin beradaptasi dengan konsep perubahan itu.
 
Saudara sekalian hari kebangktan yang seratus tahun ini, kalau kita ikuti di media, berbagai sorotan yang terjadi.
Barangkali yang perlu kita lakukan adalah; Kita perkecil saja skop, dunia kita.
Hari ini kita menggelola pendidikan. Apa yang harus kita lakukan untuk mejawab semua, semua harapan? Apa harapan yang dinginkanmasyarakat? Harapan masyarakat, harapan diri kita juga. Seperti yang saya sampaikan  pada berbagai forum, posisikan diri kita sebagai anggota masyarakat, posisikan diri kita sebagai orang tua, yang anak-anak kita adalah, anak-anak yang diajar di sekolah-sekolah. Apa harapan kita untuk anak kita untuk lulusan dari sebuah institusi pendidikan?
Mungkin, semua kita mengatakan; kita belum puas!  Dan  sebaliknya adalah, apa yang harus dilakukan agar semua sekolah itu baik merupakan sebuah bahagian yang tidak terpisahkan dalam upaya membangun sebuah sekolah itu.
 
Mohon maaf.
Assalamualaikum Wr. Wb. 

Sumber : Mailinglist APSI Sumatera Barat

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: