Oleh: zulfikri | Juni 25, 2008

UN Harus Tetap Dilaksanakan

Yuli Wahyu Pari Dunda, S.Pd., M.Si :
UN HARUS TETAP DILAKSANAKAN

[derapnet – 20 Juni 2008] – Sebagai Sekretaris Jenderal Asosiasi Kepala Sekolah Seluruh Indonesia (AKSI), Juli Wahyu Pari Dunda, S. Pd., M.Si., merupakan salah seorang praktisi pendidikan yang telah lama berkecimpung dalam dunia pendidikan.

“UN harus tetap dilaksanakan”, begitulah kata yang selalu ditekankan oleh beliau ketika kami reporter Derap net; Nury Nabila Aulia Adnin, Rizky Febriansyah, dan David Nuralamsyah berkesempatan mewawancarai beliau di Sekretariat AKSI di Jalan Sekolah International No. 1-6 Antapani Bandung, mengenai Ujian Nasional yang dalam pelaksanaannya selalu mengundang polemik di kalangan masyarakat. Berikut petikan wawancaranya:

Dalam pandangan Anda, UN itu seperti apa?

UN dilihat dari evaluasi pendidikan merupakan standar/alat ukr sampai sejauh mana peserta didik dapat menguasai mata pelajaran yang di-UN-kan dan merupakan salah satu proyek yang harus dikembangkan dalam hal syarat kelulusan agar peserta didik mampu menguasai kompetensi yang harus dipenuhi.

Lalu, bagaimana dengan dampak positif dan negatifnya dari pelaksanaan UN yang setiap tahunnya dilaksanakan?

Dari segi positifnya tentu banyak yang dapat kita raih, salah satunya kita berharap dengan adanya standar kelulusan, maka peserta didik mampu memotivasi dirinya agar dapat mendapat hasil yang maksimal dari syarat kelulusan yang minimal. Dan dari sisi negatifnya, bagi peserta didik yang kurang memahami konsep pelajaran itu sendiri, dia akan merasa terbebani dengan standar kelulusan minimal, namun tetap saya berpendapat bahwa bagaimanapun hasilnya, UN itu harus tetap dilakukan sebagai tolak ukur evaluasi pendidikan.

Menurut pandangan AKSI, UN itu seperti apa?

Saat ini memang terjadi pro dan kontramengenai hasil UN yang dijadikan salah satu factor kelulusan seorang peserta didik, dan itu memang lazim terjadi karena UN pun merupakan salah satu kebijakan publik. Padahal yang perlu diingat bahwa tidak hanya UN yang dijadikan standar kelulusan siswa, tetapi hasil UAS pun ikut menentukan. Jadi, ketika peserta didik lulus di nilai UN, tapi tidak lulus di nilai UAS dan ataupun sebaliknya, maka dia tetap tidak akan lulus. Karena sebetulnya bobot hasil UN dan UAS itu sama.

Itulah yang harus diperhatikan. Untuk ke depannya, kami berharap hal ini bisa menjadi proses pembelajaran bahwa memang bangsa kita perlu standarisasi pendidikan di setiap jenjang, dengan tetap menyelenggarakan UN. Namun, AKSI sendiri berharap bahwa UN tidak hanya menilai hasil kognitif peserta didik saja, tetapi nilai psikomotor dan afektif baiknya diakumulasikan dengan hasil kognitif secara terpadu, sehingga itulah nilai kelulusan.

Apakah ada sikap tersendiri yang dilakukan untuk menangani siswa yang tidak lulus UN?

Saat ini, hal itu pun tetap menjadi polemik di masyarakat. Dulu, ketika siswa tidak lulus UN, bisa ditutupi dengan ujian ulangan. Saat ini siswa yang tidak lulus bisa disalurkan untuk mengikuti Paket A, B dan C. Namun yang saat ini disayangkan, masih ada beberapa perguruan tinggi yang belum dapat menerima ijazah Paket C, dan itu pun wajar karena memang seleksi itu harus ada.

Menurut kabar, tahun depan UN akan diganti, bagaimana kiira-kira realisasinya?

Setiap tahunnya, kita selalu mengevaluasi pelaksanaan UN. Malah saat ini pun, kami muncul pertanyaan besar, mengapa saat ini kelulusan meningkat, sedangkan syarat kelulusan juga sama-sama meningkat? Dan hal ini berhubungan langsung tentunya dengan tingkat kejujuran. Apakah memang benar pelaksanaan UN sudah berjalan sesuai dengan yang diharapkan? Jangan sampai ketika kita menghendaki pendidikan yang meningkat, namun moralitas menurun, yang kita inginkan bahwa antara pendidikan dan kejujuran itu sama-sama meningkat. Dan untuk ke depannya, hal ini masih merupakan proses pencerahan masyarakat yang belum dapat menerima kenyataan. Tapi tetap kita berpikir bahwa UN itu harus ada, karena sebagai standar kelulusan dan masyarakat harus sudah mulai menerima kenyataan bahwa UN itu merupakan standar yang harus dipenuhi.

Lalu, maksud dari peningkatan standar kelulusan yang semakin meningkat bagaimana?

Seperti hidup bertetangga, ketika kita mempunyai tetangga yang bagus, yang bermutu, maka kita juga akan termotivasi untuk menjadi keluarga yang setaraf dengan mereka. Dan kita juga berpikir, dalam rangka menyetarakan standar pendidikan dengan Negara lain walaupun memang belum 100%, kita terus mengupgrade standar pendidikan di Negara kita. Pemerintah juga tidak serta merta menaikkan syarat kelulusan UN, hal itu bertujuan (salah satunya) untuk melatih siswa dalam persaingan sehat dengan pendidikan luar. Dan memang ketika kita membicarakan hal ini, kita jangan berpikiran mikro, tapi lihat secara makro, karena melakukan sesuatu yang baik itu, perlu juga mengambil resiko, dan proses menjabarkan kepada masyarakat memang perlu waktu. Serta yang perlu diingat, bahwa pemerintah melakukan hal ini untuk mengangkat harkat, martabat bangsa agar terpandang di dalam, dan terpandang di luar.

Respon apa yang diharapkan dari masyarakat akan adanya UN ini?

Masyarakat harus berpikir positif, kita harus selalu mendukung program pemerintah. Karena program UN pun bertujuan untuk menaikkan standar pendidikan di Indonesia. Saat ini, yang harus kita lakukan adalah mencerahkan masyarakat bahwa UN itu tidak perlu diperdebatkan, karena standar pendidikan harus disempurnakan dan tetap standarisasi harus ada.

Dan secara makro, UN juga merupakan hal positif yang tetap harus dilakukan dan untuk ke depannya, pelaksanaan UN selalu ditinjau kembali, dievaluasi, dan dianalisis.

“Namun, AKSI sendiri berharap bahwa UN tidak hanya menilai hasil kognitif peserta didik saja, tetapi nilai psikomotor dan afektif baiknya diakumulasikan dengan hasil kognitif secara terpadu, sehingga itulah nilai kelulusan” (derapnet – forristic)

Iklan

Responses

  1. Salut pak buat postingan tentang pro ujian nasionalnya..
    Saya bukan kubu pro UN tapi dengan kecenderungan lebih banyak wacana penolakannya postingan ini jadi lebih memperkaya diskursus tentang pendidikan nasional terutama ujian nasional :)

  2. rasanya sungguh menarik berbicara tentang ujian nasional. tidak akan ada hasilnya, apalagi jika sudah sampai pada hari kelulusan dan banyak yang gagal. duh! banyak komentar muncul dimana-mana, oleh siapa saja.
    Ujian nasional itu bagus untuk mengetahui tingkat kualitas hasil proses pendidikan. dengan ujian nasional, kita jadi tahu, apakah selama ini yang kita lakukan sudah setaraf dengan ketentuan yang diinginkan, ya diinginkan oleh pembuat kebijakan ujian nasional. dan, kalau memang dipakai sebagai wahana untuk mengetahui tingkat kualitas, mengapa pula menjadi penentu keberhasilan/kelulusan siswa? sekali lagi pendidikan itu sebuah proses, sehingga kita juga perlu mengetahui, memperhitungkan apa yang terjadi selama proses, bukan hanya melihat hasil semata.
    kita bayangkan saja, anak-anak yang setiap harinya, selama proses menunjukkan hasil bagus, tetapi karena sesuatu hal, maka pada saat mengikuti ujian nasional drop sehingga tidak berhasil/tidak lulus. sementara ada anak yang sepanjang proses sama sekali tidak menunjukkan kemampuan, tetapi karena selama ujian dia ‘mampu’ mendapatkan serobotan kiri dan kanan, maka dia berhasil/lulus.
    lantas jika demikian bagaimana?
    Ujian Paket?

  3. mju teruzz dunia pendidikan


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: