Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 1, 2008

Orientasi Belajar yang Tidak Terarah

Orientasi Belajar yang Tidak Terarah


Oleh: Mohammad Saroni,
Guru SMK Brawijaya & PGRI Kota Mojokerto


Belajar adalah sebuah proses perubahan yang dilakukan secara terus dan berkesinambungan. Oleh karena itulah, maka setiap subyek pembelajaran harus benar – benar memusatkan konsentrasi dirinya pada setiap hal yang dipelajari-nya. Setiap subyek belajar harus melakukan segala hal berkaitan dengan proses pembelajarannya secara efektif dan efisien agar pencapaian tujuan belajar sesuai dengan programnya.

Menyadari hal tersebut, maka setiap subyek belajar harus menetapkan tujuan belajarnya secara pasti dan benar-benar dapat dicapainya. Dengan kata lain semua acuan yang hendak dicapai oleh subyek belajar merupakan sesuatu yang jelas dan terarah. Hanya dengan cara seperti ini, maka proses belajar yang dilakukan oleh subyek belajar merupakan kegiatan yang  benar-benar ter-program.

Tetapi pada kenyataannya, sekarang ini sangat banyak subyek didik yang sama sekali tidak mempunyai tujuan pembelajaran yang pasti. Mereka melak-sanakan atau mengikuti proses pembelajaran  hanyalah sekedar menuruti ke-inginan orang tua semata. Mereka sama sekali tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang segala sesuatu yang dilakukannya berkaitan dengan proses pembel-ajarannya.

Fenomena ini terjadi hampir pada setiap tingkat satuan pendidikan dan jenis sekolah. Peserta atau subyek belajar telah kehilangan gambaran tentang segala hal yang harus dilakukannya selama proses belajar sehingga jelas arah kegiatannya. Mereka hanyalah air sungai yang mengalir mengikuti lekuk-lekuk sungai tanpa mempunyai tujuan pribadi. Kemana arus mengalir, maka air mengikuti hingga ke laut.

Proses pembelajaran sebagai kegiatan yang berorientasi kepada kehidup-an di masa mendatang sangat membutuhkan orang-orang yang mampu meman-dang masa depan sebagai tujuan terbaik. Bahwa kehidupan masa depan dimulai dari kehidupan sekarang dan kehidupan sekarang merupakan perencanaan untuk kehidupan di masa mendatang. Jika kita ibaratkan, kehidupan yang hendak kita tuju adalah di seberang sungai, maka orientasi kita adalah bagaimana kita dapat mencapai tempat tersebut. Oleh karena itulah, maka kita membangun jembatan sebagai penghubung dan cara untuk mempermudah kita hingga sampai ke seberang sungai. Kita juga dapat memanfaatkan sampan, perahu agar dapat mencapai seberang. Jembatan, sampan atau perahu itulah yang kita katakana sebagai pendidikan atau pembelajaran. Pendidikan adalah alat bagi kita untuk dapat mencapai kehidupan di masa depan dengan gemilang.

Pada saat sekarang, pemikiran seperti itu, boleh dikatakan sudah sedemikian tipisnya sehingga anak-anak yang sedang mengikuti proses pembelajaran, pendidikan hanyalah menjadi semacam robot yang hanya bergerak ketika ada yang memerintah atau memberi access untuk melakukan sesuatu. Mereka sama sekali tidak memiliki pola atau cara pandang divergen apalagi yang  konvergen- divergen. Cara pandang divergen dapat kita katakana sebagai cara panjang yang mengerucut pada ujungnya sebagai titik acuan yang hendak dicapai dalam kehidupan. Mereka sama sekali tidak mempunyai perhatian yang memusat. Cara pandang konvergen – divergen merupakan gabungan antara konvergen dan divergen. Cara pandang konvergen merupakan cara pandang yang sedemikian meluasnya sehingga tidak diketahui titik acuan yang hendak dicapai. Anak-anak terlalu luas proyeksi yang hendak dicapainya sehingga hal tersebut justru membuatnya tidak terfokus pada hal yang diinginkannya. Dengan demikian, maka kombinasi kedua cara pandang ini merupakan cara efektif untuk mengembangkan diri seluas-luasnya  kemudian pandangan yang luas tersebut diorientasikan pada titik acuan yang terpusat.


Pola hidup serba instant!

Ya! Pola hidup serba instant menjadi salah satu penyebab anak didik tidak mempunyai orientasi masa depan yang jelas. Bagi mereka segala kebutuhan hidup merupakan sesuatu yang begitu gampang untuk didapatkan. Mengapa harus susah payah memikirkan dan mengusahakan kondisi kehidupan sebab  semua memang sudah baik bagi mereka. Mereka selalu mendapatkan segala keinginan tanpa harus bersusah payah. Misalnya saat mereka butuh makan mi, maka mereka tidak perlu harus meramu bumbu sebab ada mi instant yang begitu gampang untuk memasaknya. Tidak perlu mengiris bawang, lombok, atau bumbu-bumbu lainnya.

Anak sekarang selalu dihadapkan pada kondisi yang telah disiapkan secara matang dan mereka tinggal menikmati semua itu. Kita dapat melihat kenyataan bahwa untuk mencuci pakaian saja mereka tidak perlu bersusah payah menggunakan tenaga, cukup menggunakan mesin cuci, maka semua beres. Bahkan tidak sedikit yang walaupun sudah besar, tetapi saat emncuci pakaian, menunggu sang ibnu mencuci dan menitipkannya. Belum lagi ketika kita membicarakan transport ke sekolah. Mereka selalu menuntut untuk dibelikan sepeda motor dan tidak mau berangkat sekolah menggunakan sepeda onthel!

Tentunya di dalam dunia pendidikan hal-hal instant-pun tidak jarang kita temui, misalnya buku yang sudah dilengkapi dengan kunci jawaban untuk soal-soal yang ada di dalam buku tersebut. Nak-anak tidak perlu repot-repot mencari jawaban dengan menghitung atau memikirkannya sehingga otak terasa panas, melainkan cukup melihat kunci yang ada di halaman belakang buku atau lembaran tersendiri dari sebuah buku. Tentunya hal seperti ini bukan lagi sebuah rahasia. Sebab anak-anak sekarang sangat sulit dan ogah untuk diajak berpikir sedikit berat. Mereka enggan memebebani otak dengan masalah-masalah kehidupan, dalam hal ini pelajaran. Mereka seringkali mengabaikan hal belajar, dan mereka lebih suka hura-hura daripada belajar.

Kehidupan yang serba enak merupakan bayangan praktis dan menjadi keinginan, tetapi sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan langkah konkrit, yaitu langkah untuk mempersiapkan segala hal berkaitan dengan upaya untuk mencapai keinginannya. Mereka justru tenggelam dalam kesenangan semu dengan menyantap dan menelan segala hal yang bersifat instant. Yang terpenting bagi mereka adalah senang dan tidak ada istilah susah dengan kerja keras. Kesenangan bagi mereka tidak harus didapatkan dari kerja keras. Kesenangan didapatkan dengan bergembira dan melupakan segala beban

Kehidupan serba instant memang merupakan harapan bagi semua orang, sehingga mereka merasakan kebahagiaan yang benar-benar bahagia. Tetapi, kita perlu mengingat bahwa kebahagiaan yang didapatkan seseorang di dalam kehidupan ini tidak terlepas dari kerja keras pada umumnya. Oleh karena itu, adalah sangat tidak bijak jika anak-anak sekarang mengabaikan factor kerja keras yang mendasari setiap keberhasilan dan pada akhirnya memberikan kebahagiaan hidup.


Perlunya  orientasi atau arah dalam proses belajar

 

Kita sudah menyadari bahwa proses belajar tidak dapat dilalui dalam waktu yang pendek. Proses belajar membutuhkan waktu yang sangat lama, panjang bahkan seumur hidup kita harus melakukan proses belajar. Proses beajar dilakukan sebagai bagian kehidupan yang tidak terpisahkan. Belajar dan kehidupan adalah satu kesatyuan yang terikat sedemikian rupa sehingga tidak ada seorangpun yang hidup tanpa proses belajar. Sejak kita masih bayi, proses belajar sudah kita lakukan.

Dan, yang paling penting di dalam hal ini adalah bahwa setiap proses belajar selalu diikuti dengan kesadaran atas pentingnya tujuan yang hendak dicapai dari proses belajar tersebut. Dengan orientasi yang jelas, maka seseorang dapat  melakukan perencanaan dan kalkulasi kebutuhan sehingga orientasi belajar tersebut dapat tercapai. Perencanaan dan kalkulasi inilah yang memung-kinkan bagi seseorang untuk dapat dan tidaknya mencapai tujuan pembelajar-annya.

Oleh karena itu, sangatlah penting bagi kita, para guru untuk dapat membangkitkan semangat belajar anak didik kita dengan mencoba untuk membangun gambaran masa depan yang akan dialami oleh anak didik. Gambaran inilah yang selanjutnya dapat kita katakana sebagai orientasi masa depan. Anak didik harus mempunyai gambaran ini sebab hanya dengan modal inilah, maka anak didik dapat mengerucutkan proses belajarnya sesuai dengan orientasinya tersebut.

Orientasi masa depan menjadi penyemangat bagi anak didik untuk belajar lebih giat dan terencana secara baik. Hal ini sangat penting bagi kelangsungan dan kesinambungan program atau proses pembelajarannya. Apalah jadinya seseorang yang berjalan tetapi sama sekali tidfak memiliki orientasi kemana dia menuju? Tentunya  langkah atau perjalanan tidak bakal sampai pada tujuan yang sebenarnya. Perjalanan pasti membias pada berbagai tujuan yang tidak jelas. Berbagai keinginan menjadi satu sehingga membuat rancu langkah dan hal tersebut menjadikan hilangnya kesempatan untuk men-capai tujuan yang sebenarnya.

Sebagai kegiatan yang terprogram dan sistematis, maka proses pembel-ajaran mengharuskan pelakukan mempunyai pandangan atau gambaran tujuan masa depannya. Disinilah pentingnya orientasi masa depan sebagai salah satu penyemangat menuju perubahan diri menuju kondisi yang lebih baik. Dengan orientasi masa depan yang terpetakan, maka segala hal yang dibutuhkan untuk pencapaiannya dapat disusun secara sistematis dan jelas terhadap segala hal yang harus dilakukan sehingga tercapai semua tujuan belajar.

Oleh karena itulah, maka kita sebagai guru harus mampu mem-bangkitkan kesadaran anak didik terhadap pemantapan orientasi masa depan-nya sehingga semangat belajar menjadi berlipat dan upaya penngkatan kualitas pendidikan dapat tercapai sebab anak didik bakal menempatkan diri sebagai subyek belajar. Dengan kesadaran atas masa depan, maka anak diidk bakal menyadari bahwa mereka harus aktif dalam proses belajar.

Jika kita menelaah lebih lanjut, maka setidaknya kita harus mengakui bahwa eksistensi masa depan bagi anak didik merupakan sebuah impian yang harus dicapai. Masa depan adalah mimpi-mimpi indah yang secara sadar telah ditanamkan di dalam hati dan ditekadkan untuk dapat dicapai sehingga  secara tersistem dan terprogram dapat dicapai dalam kurun waktu tertentu.

Dengan demikian, maka terlihat jelas betapa pentingnya kita menekadkan masa depan sebagai tujuan yang harus dicapai oleh anak didik. Kita menyadari bahwa untuk dapat meningkatkan kualitas diri, maka kita harus menanamkan pola pemikiran tentang masa depan sehingga terpacu untuk segera menggapai tujuan tersebut. Bukankah kita hanya terpikat jika ada sesuatu yang terbaik yang bakal kita dapatkan jika kita melakukan sesuatu? Bukankah dengan berkeingin-an untuk memperbaiki masa depan merupakan hal yang paling memikat bagi siapa saja, khususnya anak didik.

Bagaimana kita dapat melakukan proses pembelajaran jika ternyata kita tidak mempunyai pandangan ke masa depan? Apa yang harus kita usahakan jika ternyata kita hanya berpikir utuk masa sekarang saja? Kita memang hidup di jaman sekarang, tetapi sebenarnya kita hidup untuk masa depan. Saat sekarang adalah saat dimana kita harus berusaha sekuat tenaga untuk men-dapatkan berbagai hal yang kita inginkan. Inilah yang kita namakan sebagai orientasi masa depan!

Orientasi masa depan memang sangat penting bagi orang-orang yang mempunyai impian hidup yang lebih baik. Hanya orang-orang yang mem-punyai impian, memegang impian dan sekaligus mengusahakan terwujudnya impian saja yang mempunyai jaminan di masa depan. Sebab orientasi masa depan adalah jembatan menuju masa depan yang sesungguhnya.

Demikianlah pentingnya orientasi masa depan bagi anak didik sehingga di dalam dirinya tumbuh kesadaran bahwa langkah pertsiapan atau proses pembelajaran yang diikutinya adalah untuk mengusahakan masa depan yang lebih baik dari sekarang atau sebelumnya. Semoga seperti itu halnya! Amien!
———————-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]



Responses

  1. Saya kira guru tidak cukup hanya mempelajari subjek/mata pelajaran saja. Tetapi guru yang selama ini sudah menjadi tukang (maaf tukang mengajar) harus kembali kepada fungsinya yang benar, yaitu sebagai pendidik. Bahkan dg berlakunya KTSP guru bertambah fungsinya sebagai instructional designer, tugas yang berat, mungkin. Maka tuntutan guru berkualifikasi Starata Satu (sarjana) adalah jawabannya, dimana guru sebagai pengajar, sebagai pendidik dan perancang pembelajaran (instructional designer). Tugas sebagai pengajar sebaiknya sebahagian diserahkan kepada media pengajaran, sehingga guru lebih konsentrasi kepada mendidik (yang sekarang sudah dilupakan karena mengejar target kurikulum)
    terimakasih.

    Best Regards,
    Zamris Habib
    http://educational- technology- forum.blogspot. com/
    http://zamrishabib. wordpress. com/

  2. Seyogianya guru harus berbenah diri, bukan saja kemampuan kognisi tentang materi, metode yang sangat menyibukkan Pak/Bu Guru selama ini, yang sangat substansial adalah bagaimana guru bisa memberikan sentuhan jiwa kepada siswa secara pribadi. hingga siswa pergi pagi kesekolah tidak merasa terbebani oleh perasaan takut kepada guru.
    Mungkin berat bagi guru karena waktu dan kesejahteraan yg kurang, tapi karena sudah memilih profesi ini tentu dengan segala konsekuensinya. Apalagi pemerintah akan memberikan satu kali gaji bagi yg sudah lulus sertifikasi, mudahan akan lebih baik masa depan anak bangsa ini.
    Dari seorang yg pernah sekolah guru tetapi tidak menjadi guru
    Terimakasih
    Lely
    http://minang-foods.blogspot.com/

  3. sungguh bermanfat bg saya sbg pdd


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: