Oleh: zulfikri | Juli 4, 2008

Perguruan Tinggi Krisis Ide Besar

Perguruan Tinggi Krisis Ide Besar

Oleh : Saratri Wilonoyudho,
Dosen dan Peneliti di Universitas Negeri Semarang

Kasus tertipunya sebuah perguruan tinggi swasta ternama di Jogjakarta oleh “proyek” blue energy cukup menyedihkan. Sialnya, yang mengerjai perguruan tinggi tersebut adalah orang biasa. Bukan sarjana. Buntut kasus itu adalah mundurnya sang rektor.

Kasus tersebut boleh jadi menunjukkan sepinya ilmuwan yang berkaliber serta sedikitnya karya-karya monumental yang lahir di negeri ini. Hingga saat ini, dunia perguruan tinggi kita masih suntuk menjadi konsumen ilmu-ilmu dari Barat, bahkan untuk urusan ilmu sosial politik yang terjadi di negeri sendiri !

Sungguh ironis, untuk mengupas masalah-masalah sosial, politik, dan budaya di negeri ini, banyak ilmuwan kita yang bergantung pada ilmuwan sosial asing. Nama-nama seperti Clifford Geertz, Daniel S. Lev, William Liddle, Richard Robinson, Herbert Feith, J.A.C. Macky, dan Ben Anderson, adalah sederet ilmuwan sosial yang mendalami masalah-masalah dalam negeri kita.

Di tengah sepinya karya-karya besar, demo-demo yang dilakukan insan perguruan tinggi berubah menjadi anarkis. Selanjutnya, perguruan tinggi kita hanya terlibat dalam soal-soal sepele layaknya seorang pedagang. Mahasiswa bagaikan si pembeli dan perguruan tinggi bagai sang penjualnya. Transaksi ijazah berlangsung untuk mengejar pekerjaan belaka tanpa transfer keilmuan yang berarti. Itu tidak terjadi di level strata satu, namun juga sudah sampai level strata dua, bahkan strata tiga.

Negeri ini pernah memiliki pemikir besar yang mampu berbicara dalam skala global. Orang biasa menyebut jenis pemikir tersebut adalah generalis. Orang itu adalah almarhum Soedjatmoko yang juga pernah menjabat rektor Universitas PBB di Tokyo. Soedjatmoko menebar ide-ide besar tentang teori pembangunan, sosial, strategi budaya, pendekatan kewilayahan, dan sebagainya. Lawan seorang generalis adalah seorang spesialis.

Tampaknya, dunia spesialis itulah yang kini dianut perguruan tinggi kita. Ketika seseorang menulis artikel atau penelitian ilmiah, pasti yang ditanya adalah apa latar belakang keahliannya. Seorang ilmuwan teknik yang mencoba menulis masalah-masalah sosial akan ditolak lembaganya. Padahal, sang ilmuwan teknik tadi menulis ilmu sosial justru untuk mendukung temuan teknologinya.

Demikian pula, salah satu syarat yang dibutuhkan seseorang dosen untuk menjadi profesor adalah “linieritas” basis ilmunya sejak S-1, S-2, dan S-3. Alangkah monotonnya jika dalam jurusan teknik, keahlian yang diambil melulu teknik belaka, sementara yang mencoba “mengawinkan” dengan ilmu sosial, kependudukan, lingkungan, dan seterusnya ditolak gara-gara dianggap “murtad” atau tidak linier.

Sepi Ide-Ide Besar

Akibatnya, kini perguruan tinggi kita sepi dari pemikiran-pemikiran besar yang komprehensif untuk menjawab permasalahan bangsa. Benar bahwa spesialisasi juga perlu, namun jika para spesialis tersebut bagai katak dalam tempurung dan tenggelam dalam “ilusi limiah” atau arogansi ilmiah masing-masing, apa jadinya masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa?

Buktinya, masalah “sepele” seperti mahalnya kedelai, sampah, banjir, dan anarkisme pilkada juga tidak terselesaikan, meski banyak doktor spesialis masalah tersebut. Mengapa tidak terselesaikan? Sederhana saja, masalah yang kelihatannya berdiri sendiri sebenarnya berada dalam persoalan sistem besar yang saling terkait. Kalau para spesialis tidak saling “menyapa”, bagaimana mungkin masalah besar akan teratasi?

Budayawan Emha Ainun Nadjib pernah menyebut istilah “sarjana fakultatif” dan bukan sarjana “universal”, meski nama lembaga yang dimasukinya bernama universitas. Jurusan atau fakultas tenggelam dalam dunianya masing-masing.

Di titik itu pula, saya lantas ingat kata Lord C.P. Snow dalam The Two Cultures and the Scientific Revolution. Snow mengkritik polarisasi dua jenis cendekiawan di Inggris saat itu, yakni dari kalangan humaniora dan ilmu pengetahuan murni.

Kalangan humaniora mengatakan ukuran kecendekiawanan ditentukan seberapa jauh seseorang mampu memahami karya sastra yang berbobot, sedangkan arogansi cendekiawan ilmu alam mendasarkan seberapa jauh seseorang mampu memahami hukum massa, termodinamika, energi, dan sebagainya. Mereka tidak saling menyapa.

Bagi Snow, tujuan pertama pendidikan adalah bagaimana menghasilkan ilmuwan supra cum laude sebanyak-banyaknya. Kedua, melatih ilmuwan agar dapat menjalankan penelitian-penelitian yang diperlukan, membuat rencana-rencana tingkat tinggi dan pengembangan. Ketiga, melatih beribu-ribu ilmuwan dan ahli teknik lainnya. Keempat, melatih politikus, pegawai, dan masyarakat untuk mengerti ilmu pengetahuan agar bisa memahami apa yang dibicarakan kaum ilmuwan.

Sederhana saja alasan mengapa hal tersebut di atas perlu dilakukan. Ilmu dan teknologi adalah know-how (keterampilan teknis). Know-how adalah cara tanpa tujuan, suatu potensi, suatu kalimat tidak lengkap. Know-how bukanlah sebuah kebudayaan. Karena itu, tugas perguruan tinggi adalah menyebarkan ide, tata nilai mengenai mau apakah kita dengan hidup ini.
Know-how juga perlu, namun itu soal kedua. Sebab, gegabah sekali menyerahkan kekuasaan besar kepada rakyat dan birokrat tanpa mengetahui terlebih dahulu apakah mereka tahu apa yang harus diperbuat dengan know-how tersebut.

Science hanyalah masalah praktis dan tidak bisa digunakan untuk menafsirkan dunia dalam konteks besar yang terdiri atas berbagai persoalan spesifik yang saling terkait dan bertingkat. Masalah banjir Jakarta, impor kedelai, bencana alam, anarkisme, dan sebagainya memerlukan pemikiran besar dan pendekatan kewilayahan komprehensif. Kalau masing-masing “spesialis” tidak saling menyapa, masalah besar tersebut juga tidak akan terselesaikan.

Sumber : http://www.padangekspres.co.id/content/view/11067/114/

Iklan

Responses

  1. Ya…memang skr ini banyak lulusan S1 dan S2 dan bahkan seorang pendidik Pun harus bisa minimal S1 bahkan S2 pendidikannya. Tapi ironis pola pemikiran para ilmuwan negeri ini selalu mengenyampingkan berpikir universe cenderung parsial pd disiplin ilmu masing2. Untuk membahas kemelut negeri ini dengan multi krisis seyogyannya kita berpikir yang dilandasi pemikiran integratif, supaya komponen-komponen bisa dikaji secara menyeluruh!

  2. kadangkala kita terjebak pada konsep bahwa orang cendekia hanyalah yang sarjana, yaitu orang-orang yang sudah menempuh pendidikan S1 atau S2 bahkan S3. tetapi sangat dilupakan peranan mereka dalam kehidupan nyata.
    ini merupakan akibat dari tuntutan sistem yang ‘memaksa’ untuk ‘mengkondisikan’ hal tersebut. misalnya pada sisi pendidikan, guru TK saja sekarang harus S1 sehingga mereka cenderung menggapai ijasah s1 secara instan, akibatnya pola pemikrian juga instan, gak perlu repot-repot memikirkan hal baru, to segalanya sudah tersedia!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: