Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 5, 2008

Pelayanan Tuntas dari SMK Untuk Masyarakat

Pelayanan Tuntas dari SMK untuk Masyarakat

Oleh Mohammad Saroni, Guru SMK Brawijaya Mojokerto

 

a. Latar Belakang

 

Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan usaha sadar yang dilakukan sebagai bentuk tanggungjawab atas masa depan yang lebih baik. Setiap proses pendidikan dan pemelajaran mengorientasikan tujuannya pada aspek terbaik bagi anak didiknya.

Pada sisi yang lain, proses pendidikan dan pemelajaran adalah konsep pelayanan terhadap masyarakat atas keinginan untuk meningkatkan kualitas anak-anaknya. Dengan demikian, maka  sekolah sangat perlu memperhati-kan tingkat kualitas pelayanannya terhadap masyarakat.

Sebagai penyelenggara pendidikan dan pemelajaran, maka bentuk pelayanan terbaik sekolah adalah melaksanakan proses secara baik dan berkualitas. Dengan pelayanan terbaik, maka hubungan sekolah dengan masya-rakat tercipta secara harmonis dan efektif.

Oleh karena itulah, maka semua pihak yang terkait didalam proses pembimbingan anak didik secara bersama-sama menetapkan langkah menuju perbaikan kondisi. Perbaikan kondisi dapat dilakukan dengan melaksanakan pelayanan terpadu dan tuntas dari setiap aspek dan pihak.


b. Konsep Pembelajaran Tuntas

 

Pada dasarnya setiap anak mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda di dalam proses pemelajaran. Tingkat kemampuan ini selanjutnya menjadikan perbedaan waktu ketercapaian konsep pelajaran pada anak didik.

Di setiap tingkat pemelajaran ataupun tahun pemelajaran, selalu terdapat perbedaan tingkat kemampuan anak didik. Meskipun telah diberikan pelayanan yang sama pada saat proses pemelajaran, tetapi karena tingkat kemampuan anak tidak sama, maka guru dituntut untuk dapat memberikan yang terbaik bagi anak didiknya.

Di dalam konsep pemelajaran, setiap anak didik diharapkan benar-benar menguasai materi pelajaran dengan baik. Tetapi karena keterbatasan dan tingkat kemampuan anak didik yang beragam, maka ketercapaian target pemelajaran seringkali mengalami kegagalan.

Setiap akhir semester atau akhir pembahasan pokok bahasan materi pelajaran, dapat diketahui bahwa masih cukup banyak anak didik yang belum menguasai materi pelajaran. Tentunya hal tersebut dapat menghambat kelangsungan proses pemelajaran. Padahal, tuntutan pemelajaran kita adalah pemelajaran tuntas. Artinya, setiap anak didik peserta proses pemelajaran harus benar-benar menguasai setiap materi yang diberikan oleh guru.

Jika ada anak didik yang belum menguasai konsep atau materi pelajara yang diberikan, diajarkan oleh guru, maka kewajiban guru untuk melakukan proses pemelajaran ulang hingga anak tersebut benar-benar menguasai materi. Oleh karena itulah, maka kita mengenal pemelajaran remidial, yaitu pemelajaran yang dilakukan oleh guru untuk menyesuaikan kemampuan anak didik sehingga mencapai standar kompetensi atau standar kelulusan minimal yang harus dicapai anak didik.

Konsep pembelajaran tuntas merupakan salah satu bentuk pemelajaran yang mengharapkan agar anak didik benar-benar kompeten pada setiap materi pelajaran. Untuk itulah, maka pada setiap mata pelajaran ditentukan Kompetensi Dasar (KD) dan Syarat Ketuntasan (SK) sehingga setiap guru dapat secara langsung mengetahui tingkat keberhasilan dalam pemelajarannya.

Dengan Kompetensi Dasar yang dirumuskan oleh guru, maka penilaian terhadap tingkat kompetensi anak didik dapat diketahui secara jelas, artinya anak didik sudah tuntas ataukah masih belum tuntas. Sejak awal kita sudah mengetahui, seberapa tingkat penguasaan materi pelajaran oleh anak didik dan segera kita mengantisipasinya dengan melakukan pemelajaran remidial sehingga anak didik benar-benar menguasai materi pelajarannya.

Disinilah letak dari konsep pemelajaran tuntas sehingga jika kita mau mengakui, maka anak didik pada setiap akhir tahun tidak akan tinggal kelas. Hal ini karena sebelum waktunya, anak didik sudah diantisipasi dengan berbagai pemelajaran ulang pada materi pelajaran yang belum dikuasainya, sampai anak benar-benar menguasai.


c. Pelayanan Tuntas untuk Masyarakat

 

Ya. Sebagai institusi yang mengelola proses pemelajaran, maka sudah barang tentu sekolah harus memberikan pelayanan optimal kepada masyarakat. Pelayanan tuntas ini memungkinkan terjadinya proses transfer pengetahuan, sikap dan keterampilan secara utuh dan mempunyai tingkat keterpakaian dalam masyarakat cukup tinggi.

Pelayanan tuntas menjadi sebuah harapan bagi sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kepercayaan masyarakat kepada institusi sekolah. Diharapkan dengan dengan pelayanan tuntas ini, maka atensi masyarakat terhadap sekolah dapat meningkat dan menghilangkan sikap apatis yang selama ini mulai terbangun sebagai imej negatif masyarakat terhadap sekolah.

Apalagi jika kita mengkaji dan memperhatikan hasil evaluasi setiap akhir tahun kelas tiga. Mayarakat pasti menganggap bahwa dunia pendidikan sudah mulai kehilangan eksistensinya. Dunia pendidikan sudah mulai kehilangan idealismenya. Dan, masih banyak lagi ungkapan yang ditujukan kepada dunia pendidikan. Padahal sebenarnya masalah tidak sekedar apa yang dibayangkan masyarakat.

Sekolah memang institusi penyelenggara pendidikan dan pemelajaran, dimana dalam hal ini mengelola hal-hal terkait pada perubahan sikap, kemampuan teknis dan pengetahuan anak didik. Tetapi sebagai sebuah proses, maka hasil pendidikan dan pemelajaran yang dilakukan atau diselenggarakan oleh sekolah ditentukan oleh banyak hal. Hal-hal inilah seharusnya  dapat berjalan secara seimbang, selaras dan serasi. Jika ternyata ada satu bagian yang tidak  sinkron dalam integritas kolektif tugas, maka tentunya dapat menyebabkan hancurnya konsep kerja yang sudah dibangun. Seperti halnya tonggak pondasi sebuah bangunan, jika ada satu tonggak yang tidak bekerja sebagaimana mestinya, tentunya bangunan tidak dapat kokoh sebagaimana direncanakan, bahkan sangat berbahaya bagi penghuninya.

Proses pendidikan dan pemelajaran  setidaknya membutuhkan tiga aspek, yaitu aspek input, proses dan output. Sebuah proses diyakini berhasil jika mempunyai input yang baik. Keberhasilan adalah output yang diharapkan. Sementara input yang diperoleh sekolah inipun agar dapat menjadi output harus melalui proses sedemikian rupa sehingga  mampu mengadakan perubahan terhadap anak didik secara positif. Ketiga aspek ini sangat menentukan dalam pencapaian keberhasilan pendidikan dan pembelajaran atau kegiatan secara umum.

Ibarat sebuah pabrik, maka jika bahan bakunya bagus dan didukung oleh proses kerja yang bagus pula, maka hasil yang diperoleh pasti bagus. Tetapi jika bahan bakunya jelek, maka tentunya memberikan hasil kurang bagus juga.

Tetapi kita di dalam dunia pendidikan dan pemelajaran, masih boleh berharap sebab yang dikelola adalah anak didik, sesuatu yang mempunyai kemampuan untuk beradaptasi dengan proses. Hal inilah yang membedakan proses di dalam dunia pendidikan dengan proses di sebuah pabrik. Di pabrik, yang digarap adalah benda mati, yang dalam hal ini selalu mengikuti apa kemauan pemrosesnya, sedangkan dalam dunia pendidikan, yang digarap adalah makhluk hidup dengan berbagai sikap dan sifat masing-masing.

Kita memang selalu beranggapan, untuk menutupi kekurangan, bahwa kegagalan di dalam proses pemelajaran semata-mata karena bahan baku, muridnya berkualitas rendah atau berkualitas tinggi. Sekolah swasta selalu bercermin pada sekolah negeri dan mengeluarkan statemen bahwa keberhasilan sekolah negeri karena anak didiknya adalah pilihan sedangkan sekolah swasta adalah sortiran dari negeri. Maka, tidak salah jika anak-anak di sekolah swasta mepunyai kualitas lebih rendah dari sekolah negeri.

Anggapan ini sungguh hanyalah pengalihan kondisi saja. Ini adalah kambing hitam yang sebenarnya tidak perlu diungkapkan oleh sekolah. Bagi kita, yang terpenting adalah bagaimana kita memproses anak didik yang menjadi tanggungjawab di sekolah kita. Ini merupakan bentuk pelayanan terbaik bagi kita. Adalah sebuah keberhasilan yang amat sangat jika ternyata dengan bahan baku, anak didik yang berkualitas rendah ternyata dapat menjadi berkualitas tinggi. Apa anehnya hasil berkualitas dari bahan yang berkualitas?!

Dan, sekolah swasta seharusnya berlomba untuk memberikan pelayanan prima dan tuntas pada masyarakat sehingga benar-benar mampu memberikan proses terbaik bagi anak didik. Artinya, perubahan yang terjadi dari proses pendidikan dan pemelajaran yang dilaksanakan benar-benar signfikan dengan hasilnya.

Bagaimanapun, jika kita memegang komitmen tentang pendidikan dan pemelajaran tuntas, maka segala upaya yang kita lakukan merupakan langkah terbaik. Kita selalu memperhatikan segala hal berkait dengan setiap detail perubahan yang harus dialami oleh anak didik dan jika ternyata tidak ada perubahan, maka segera mengambil langkah-langkah solutif bagi per-kembangan signifikan anak didik.


d. Membuka Diri Untuk Masyarakat Industri

 

Pada dasarnya, sekolah itu adalah bagian dari masyarakat, sehingga sangatlah mustahil dapat melepaskan diri dari masyarakatnya. Boleh dikatakan masyarakat adalah induk semangnya. Oleh karena itulah, maka sekolah dan masyarakat adalah satu paket kehidupan yang tidak terpisahkan.

Sekolah kejuruan adalah mengelola pembelajaran teknologi, sehingga untuk kelancaran prosesnya, maka sekolah harus membuka diri terhadap segala hal dalam kehidupan. Kita menyadari bahwa setiap saat teknologi terpakai dalam kehidupan selalu mengalami perubahan, meningkat pada tinggi.

Sebagai institusi penyelenggara pemelajaran kejuruan atau teknologi, maka sekolah kejuruan sudah seharusnya membuka diri terhadap perkembangan teknologi di masyarakat. Dengan demikian, maka apa yang diajarkan di sekolah mempunyai integrasi dengan kondisi masyarakat.

Sekolah merupakan tempat anak didik mempelajari konsep teori teknologi terpakai di masyarakat. Dengan mengikuti proses pemelajaran, maka terjadi transfer teknologi dan knowledge secara signifikan.

Proses pemelajaran mengkondisikan anak didik menerima segala konsep atau teori dasar dari teknologi yang terpakai di masyarakat. Melalui guru-guru yang berkompeten, mereka dibimbing agar dapat menguasai teori dari teknologi. Misalnya teknologi otomotif, maka di sekolah kejuruan anak didik mendapatkan pemelajaran berbagai konsep otomotif

Demikian juga halnya dengan dunia usaha, mereka dapat memasuki wilayah dunia pendidikan dengan memanfaatkan kesempatan memberikan materi pelajaran melalui tutor atau teknisi mereka yang handal. Proses pemelajaran seperti ini memungkinkan terjadinya transfer teknologi dari narasumber yang benar-benar kompeten.

Selama ini sebenarnya telah tercipta sebuah konsep bahwa dunia industri merupakan salah satu stakeholder dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan di negeri ini. Dengan posisi seperti itu, maka eksistensi dunia industri di dalam proses pemelajaran merupakan sebuah keniscayaan.

Salah satu kegiatan yang sudah terjalin adalah pada saat sekolah menerapkan program Pendidikan Sistem Ganda (PSG) dalam bentuk kegiatan Praktek Kerja Industri (Prakerind).  Kegiatan ini merupakan aplikasi teori pada kegiatan praktek sehingga tercipta sebuah kolaborasi pembelajaran.

Di sisi satu, anak didik mendapatkan teori dan keterampilan dasar di sekolah, dan di sisi lainnya anak didik harus menerapkan pengetahuan dan keterampilan dasar tersebut di dalam tempat kerja yang sesungguhnya.

Oleh karena itulah, maka kebijakan sekolah untuk membuka diri terhadap dunia industri sungguh sangat penting dan dapat menentukan out come sekolah. Semakin terbuka kesempatan kolaborasi tersebut, maka semakin terbuka proses pengembangan dan perkembangan teknologi di sekolah bersangkutan.

Jika hal ini dilakukan, maka hal tersebut berarti sekolah telah mencanangkan program pelayanan tuntas bagi masyarakat. Sekolah tidak hanya memproses pendidikan anak, melainkan sekaligus memberikan solusi terhadap keberlanjutan hidup anak didik. Pelayanan tuntas terhadap masyarakat merupakan wujud dari kepedulian sekolah kepada masyarakat.


Pelayanan tuntas kepada masyarakat memang meruakan fenomena yang seharusnya dilakukan oleh sekolah dengan penuh kesadaran dan koitmen tinggi. Hal ini merupakan bentuk tanggungjawab yang utuh pada kepercayaan yang selama ini telah diberikan masyarakat kepada sekolah. Jika sekolah mampu menciptakan pelayanan tuntas, maka setidaknya dapat membangun sebuah pondasi bangunan pendidikan yang kokoh.


Sebenarnya, sikap dan atensi masyarakat terhadap proses pendidikan dan pemelajaran itu tergantung pada sikap dan pola pelayanan sekolah terhadap masyarakat secara umum. Semakin baik sekolah memberikan pelayanan kepada masyarakat, maka semain baik apresiasi dan atensi masyarakat kepada sekolah. Dan, pelayanan tuntas merupakan upaya untuk mengindari munculnya sikap apatis masyarakat terhadap dunia pendidikan.


Semoga dunia pendidikan dapat merealisasi program pelayanan tuntas bagi masyarakat sehingga semangat belajar masyarakat dapat meningkat dan selanjutnya berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia yang selama ini sangat memprihatinkan semua pihak, khususnya dunia pendidikan.

 

—————–

(Download artikel ini dalam format word document, klik disini)

Iklan

Responses

  1. wah konsep yang keren banget pak kebetulan kami akan adakan seminar pendidikan mengenai sekolah siap pakai sepertinya konsep ini cocok buat bahan seminar nanti..

  2. terima kasih atas komennya, semoga sepertilah yang kita harapkan. Siapa lagi yang memikirkan perkembangan sekolah kejuruan dan sekolah kita pada umumnya jika bukan kita. Selamat dengan seminarnya….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: