Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 5, 2008

Siswa di Tengah Budaya Instan

Siswa di Tengah Budaya Instan

Oleh : Widarso Pujianto Eko Putro*)

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Zaman sudah berubah. Semua orang maunya serba cepat. Jadinya, cenderung mengabaikan proses tapi ingin segera mendapat hasil. Apalagi di negara dengan etos kerja rendah seperti Indonesia. Akibatnya, budaya instan mulai masuk ke setiap kehidupan kita. Hidup di zaman modern seperti sekarang ini segala sesuatu dapat kita dapatkan dengan mudah, praktis dan cepat. Kemajuan teknologi telah memanjakan kita. Mau ngobrol dengan rekan atau saudara yang bermukim di belahan dunia lain, tinggal angkat telepon atau buka internet. Ingin belanja atau makan di restoran tapi malas keluar, tinggal pesan lewat telepon atau beli lewat situs. Mau transaksi —transfer uang, bayar listrik, kartu kredit, beli pulsa— tidak perlu susah-susah ke bank atau ATM. Semua bisa dilakukan lewat handphone.

Maklum, orang makin sibuk. Malas direpotkan dengan hal-hal ribet, maunya serba instan. Salahkah itu?, selama masih mengikuti hukum alam serba instan itu sah-sah saja. “Hidup yang baik dan sukses adalah hidup yang sesuai dengan proses alam”. Sampai level tertentu teknologi bisa kita pakai untuk mempercepat hal-hal yang bisa dipercepat sesuai hukum alam. Kemajuan teknologi dan tuntutan zaman, memungkinkan kita mendapatkan sesuatu serba cepat. Tetapi tidak asal cepat. Kualitas harus tetap terjaga. “Padi 100 hari baru panen itu bagus”. Tapi ingat itu ada yang bisa dipercepat. Mestinya, hasilnya harus lebih baik. Jadi, cepat, baik dan bermutu harus berlangsung bersama.

Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Mendapatkan sesuatu dengan mudah membuat orang enggan bersusah payah. Tak mau melewati proses alias malas, yang penting cepat !. Bermutu atau tidak itu urusan nanti, berorientasi hanya pada hasil dimana proses tidak penting.


Pendidikan Kita.

Sebagaimana diketahui, ujian nasional adalah upaya pemerintah menetapkan standarisasi kualitas pendidikan secara nasional, sehingga tidak terjadi ketimpangan kualitas satu sekolah dengan sekolah yang lain, antara kabupaten dan antara satu provinsi lain.

Sistem demikian boleh-boleh saja diterapkan, jika di seluruh daerah telah terdapat keseragaman sarana dan prasarana pendidikan, terutama fasilitas belajar mengajar dan sumber daya guru.

Dengan acuan UAN 2008 siswa bisa dinyatakan tidak lulus bila tidak memenuhi persyaratan nilai kelulusan, yaitu ³ 5,25 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, Bahasa Inggris dan IPA untuk SMP.

Bukankah sudah ada hasil evaluasi satu semester (enam bulan) dan tes atau ulangan pada kurun tertentu, misalnya mengikuti ujian mid semester?. Segala jerih payah dalam tes-tes itu seperti menggarami lautan alias sia-sia. Karena proses tes berjenjang itu tidak mendapat tempat, dalam menyatakan keberhasilan seorang siswa dalam jenjang pendidikan yang dijalani.

Yang paling diuntungkan pada saat ini adalah para siswa dari kalangan keluarga berada. Sebab, dengan penilaian keberhasilan hanya dengan malihat hasil akhir melalui ujian beberapa mata pelajaran, tanpa melihat proses belajar-mengajar yang telah dilalui seorang siswa, maka dari golangan berada lebih berkesempatan memacu dan menembus setiap mata pelajaran yang diujikan.

Misalnya, mengikuti bimbingan belajar dan mengundang guru privat ke rumah. Belum lagi jika orang tua siswa memiliki akses informasi mengenai kemungkinan materi pelajaran yang akan diujikan secara nasional, akan amat mudah bagi mereka menerapkan strategi agar anaknya berhasil menembus ujian nasional.

Dalam bimbingan belajar, siswa dilatih dril soal-soal dan diberikan cara-cara cepat dalam mengerjakan soal-soal walau mengesampingkan konsep dari materi pelajaran. Cara cepat dapat meracuni siswa karena tidak menekankan konsep dan bagaimana proses mendapatkannya, namun itu tergantung tutor bimbingan belajar tersebut dalam menyampaikan kepada siswa. Kebanyakan siswa mengikuti bimbingan belajar hanya ingin memperoleh cara cepat atau trik yang dimiliki suatu bimbingan belajar. Sehingga dalam menghadapi soal-soal, cara cepat akan menjadi jurus jitu.

Sekolah saat ini sedikit banyak telah berubah bentuk menjadi bimbingan belajar. Dengan adanya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), seharusnya sistem pengajaran guru menekankan pada kompetensi atau proses belajar mengajar bukan hasil. Yang diterapkan di sekolah-sekolah saat ini hanyalah dril soal-soal UAN, sehingga sekolah bukan tempat menuntut ilmu apalagi tempat membangun karakter melainkan tempat persinggahan sementara untuk lulus dengan nilai yang tinggi.

Kondisi demikian jelas akan mengukuhkan bahwa pendidikan hanyalah sarana formalitas untuk mendapatkan martabat bagi seseorang, baik untuk menapaki pendidikan yang lebih tinggi atau menempati strata sosial tertentu.

Padahal, sejatinya melalui pendidikan inilah kita meletakkan dasar pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pendidikan adalah sebuah proses belajar jangka panjang bagi setiap orang untuk mengetahui dan menemukan jati dirinya masing-masing.

Dengan pendidikan kita bisa membangun karakter bangsa yang bermartabat dan mendapatkan kader-kader bangsa yang berkualitas, bukan kader bangsa yang dibentuk secara instan.

Dalam pendidikan nasional, semestinya proses balajar itu menjadi insfrastuktur untuk mendidik siswa, bukan memaksa orang tua siswa mengontrol kemampuan anaknya masing-masing tanpa melalui proses belajar alamiah.

Boleh jadi, pola berpikir demikian dianggap kuno dengan melihat kehidupan berbangsa yang semakin lekat dengan budaya instan saat ini. Karena, segala sesuatunya harus dihasilkan dengan cepat.


*) Penulis adalah Guru SMPN 1 Sukosari Bondowoso dan Staf pengajar di Universitas Bondowoso (UNIBO)

—————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. Rasanya memang semua harus dibenahi. Bahwa pendidikan itu sebuah proses. Orang belajar itu membutuhkan proses. Oleh karena itulah, proses belajar harus benar-benar dilakukan dengan kesadaran tinggi. Sementara proses tersebut dapat dilakukan dimana saja, di sekolah, di keluarga atau di masyarakat. Tetapi, ketika kita berhadapan dengan kondisi instan, bagaimanapun rasanya kita gak enak ati, terenyuh! bagaimana, jadinya jika di dalam dunia pendidikan semua pingin serba instan? Dimanapun proses belajar dilakukan, asal dilakukan dengan benar dan tidak serba instan masih bagus.
    Kita memang perlu mengetahui hasil, tetapi sebenarnya yang terpenting adalah bagaimana proses belajar dilakukan!
    dan, selamanya jika pola pemikiran sudah serba instan, pasti penyakit bakal datang begitu mudahnya. Bagaimana?

  2. walau saya pribadi belum dapat berkonstribusi banyak dalam kegiatan tulis menulis, namun saya berharap banyak semoga tulisan-tulisan / artikel seperti akan lebih banyk lagi bermunculan hendaknya.amin!

  3. sebenarnya, instan itu berlaku dalam kondisi tertentu yang memang sangat diperlukan dalam waktu yang singkat. Misalnya, pengiriman pesan singkat, mengkosumsi hidangan cepat saji ketika menyelessaikan pekerjaan tertentu, pembayaran tagihan dalam waktu yang terdesak. Dalam dunia pendidikan, budaya instan bisa dikatakan tidaklah penting karena pendidikan itu sebuah proses yang berkesinambungan untuk mendapatkan hasil yang memuaskan. Hasil ujian yang yang baik tidak akan dicapai dalam waktu singkat, tapi dalam waktu yang panjang karena menyangkut proses berpikir. Misalnya, Orang yang membaca sebuah teks atau konsep tertentu satu kali tidak mungkin langsung ingat dan hafal semuanya saat itu. Jadi, instan dalam belajar itu mustahil.
    Namun perlu diingat bahwa proses yang baik adalah proses yang bermakna. Kebermaknaan proses pembelajaran akan dicapai bila guru menggunakan metode, strategi dan media yang bervariasi yang menjadikan siswa senang dan memberi bermanfaat bagi masa depannya. Kebermaknaan dalam proses belajar diharapkan memberikan hasil yang sangat memuaskan, tnx.

  4. mmg apapun yg bersifat instan tidak baik termasuk dalampendidikan. maka saya lebih cendrung mmperhatikan proces daripada hasil, klo proces sudah berlangsung baik, hasil akhir sudah dapat diprediksikan. nah sekarang orang2 hanya mementingkan hasil akhir saja, tampa peduli process. jadilah kondisi pendidikan kita seperti sekarang ini yg berlomba-lomba meluluskan siswa 100% dengan beebagai cara yang tdk terpiji. kalau cara ini terus berlanjut dalam waktu yang lama, bangsa ini akan membayar mahal sebagai reaksi dari kegagalan pendidikan di negeri tercinta ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: