Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 6, 2008

Menuju SDM Sumbar, Cerdas dan Berakhlak Baik

Menuju SDM Sumbar, Cerdas dan Berakhlak Baik

Oleh : Mahyeldi Ansharullah,
Wakil Ketua DPRD Sumbar

…”Bangunlah jiwanya, bangunlah
badannya untuk Indonesia Raya….”
(kutipan lagu Indonesia Raya, WR
Supratman)

Syair lagu Indonesia Raya di atas, sudah sangat sering diperdengarkan dan dinyanyikan dalam berbagai momen. Dari liriknya tersirat sebuah pesan yang sangat bernilai dari penciptanya WR Supratman. Agar sumber daya manusia Indonesia benar-benar paripurna. Tidak hanya unggul secara otak namun juga menjadi orang yang baik.

Untuk mewujudkan hal tersebut maka yang dibangun tidak hanya badan namun juga jiwa. Sehingga terciptalah pribadi yang paripurna, yakni memiliki otak yang cerdas dan memiliki akhlak serta kepribadian yang baik, sehingga kehadirannya bermanfaat bagi masyarakat.

Berkaca kepada kondisi bangsa hari ini. Kita melihat terjadi semacam polarisasi antara “SDM yang unggul” dan “SDM yang baik”. Di masyarakat tidak jarang kita temui orang-orang yang cerdas dan unggul secara intelektual, namun tidak memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat. Juga kita jumpai orang-orang yang baik namun karena keterbatasan yang dimiliki tidak bisa bersaing secara intelektual.

Kita tentu sangat menginginkan hadirnya individu yang unggul secara intelektual dan menjadi orang baik yang bermanfaat untuk masyarakat. Dengan kata lain kita membangun “industri otak” yang “menjadi orang baik”. Maka langkah awal yang bisa dilakukan di mulai dari pendidikan. Pendidikan yang dimaksud adalah pendidikan yang terintegrasi antara ilmu pengetahuan (iptek) dengan iman dan takwa (imtak).

Untuk itu perlu digagas sebuah sistem pendidikan terpadu yang tidak hanya mengedepankan intelektualitas dan kecerdasan semata. Namun juga terpadu dengan pembinaan akhlak dan mental anak didik agar menjadi orang yang baik.

Dalam UU No 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional tujuan dari pendidikan yang terdapat dalam pasal 3 sebagai berikut: “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis sertabertanggung jawab.”

Sangat jelas tergambar dalam UU tersebut bahwasanya out put dari pendidikan kita, yang diharapkan adalah terbentuknya manusia yang beriman dan bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab.

Maksud dan tujuan tersebut sebenarnya sudah lama ada dan sejalan dengan nilai-nilai yang kita anut di ranah Minang. Kita memiliki filosofi ”ABS SBK”. Kita juga memiliki surau yang fungsinya tidak hanya sebatas menempa anak kemenakan kita dengan ilmu agama semata. Namun juga berbagai keterampilan lainnya yang dibutuhkan kelak di tengah masyarakat.

Para tokoh-tokoh Minang yang tampil di pentas nasional juga merupakan orang-orang yang dididik secara terpadu antara pendidikan intelektul dengan pendidikan agama. Semisal kita mengenal H Agus Salim, M Natsir, Moh Hatta, M Yamin dan Buya Hamka, serta sederetan nama lainnya yang memiliki kontribusi besar tidak saja di bidang agama tapi juga di bidang politik, ekonomi, pendidikan, budaya dan sebagainya.

Untuk itu menjadi amat tepat rasanya, untuk membangkitkan kembali kejayaan ranah Minang digagas pendidikan terpadu yang berbasis ”ABS SBK”. Sehingga akan muncul produk industri otak yang kemudian mereka menjadi kumpulan orang-orang yang baik, berakhlak mulia dan bermanfaat di tengah-tengah masyarakat.

Ini juga sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) yang di dalamnya termaktub visi Sumbar ke depan menjadi provinsi terkemuka berbasis SDM yang agamis. Agamis yang dimaksud sebagai frame untuk membingkai setiap perilaku dan akhlak. Sehingga dalam setiap aktivitas dan perilaku benar-benar berada dalam garisan kebaikan dan kemaslahatan masyarakat.

Untuk itu memang dibutuhkan langkah-langkah yang sangat konkret hari ini agar upaya tersebut bisa terwujud. Gagasan untuk membentuk pendidikan yang terintegrasi di Sumbar menjadi hal penting yang harus direalisasikan. Pendidikan yang terintegrasi dengan nilai-nilai agama, merupakan langkah maju untuk membentuk jati diri generasi baru Minangkabau yang unggul dan berakhlak.

Setiap ilmu yang dipelajari bisa dipadukan dengan nilai-nilai yang ada dalam Al-Quran. Ini akan menyebabkan peningkatan terhadap pemahaman agama yang utuh. Sehingga tercermin dalam sikap dan akhlak sehari-hari.
Selama ini tanggung jawab pembinaan Imtak hanya terletak pada pendidikan agama semata. Jika kita telaah, ini amat sulit untuk menghasilkan SDM yang agamis, karena jam belajar agama yang terlalu sedikit.

Oleh sebab itu perlu kurikulum terpadu yang memadukan antara nilai-nilai umum dengan nilai-nilai agama dalam setiap mata pelajaran. Setidaknya ada lima langkah yang bisa kita lakukan pada tataran penyelenggara pendidikan, untuk mewujudkan sistem pendidikan yang terintegrasi antara iptek dengan imtak sebagai berikut lain. Pertama, optimalisasi pendidikan agama.

Sejak dari tingkatan Sekolah Dasar hingga bangku Perguruan Tinggi pendidikan agama senantiasa selalu diajarkan pada anak-anak kita. Namun hal tersebut terasa kurang optimal mengingat jam belajar yang terlalu minim. Di samping itu kita bisa merasakan bagaimana lingkungan jauh lebih berpengaruh pada pembentukan akhlak dan prilaku siswa.

Oleh sebab itu dalam pembelajaran agama perlu lebih dioptimalkan lagi. Terutama dari segi kurikulum yang out put-nya benar-benar bisa membentuk akhlak dan prilaku siswa menjadi lebih baik. Dan memahami ilmu agama sampai pada tahapan pengamalan.

Kedua, integrasi materi imtak ke dalam mata pelajaran non-PAI. Selama ini kita sering memandang pelajaran umum seperti fisika, biologi, kimia dan lainnya bebas nilai. Padahal sebenarnya di dalamnya banyak sekali terdapat nilai-nilai yang sebenarnya telah lama ada dalam Al-Quran. Oleh karenanya kita bisa menerapkan saat guru menjelaskan tentang alam semesta, di samping mengungkapkan fakta-fakta ilmiah yang ada. Juga bisa mengutip ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran. Dengan demikian pola pembelajaran akan lebih terintegrasi dan siswa pun bisa mengetahui bahwa dalam setiap ilmu yang dipelajari juga terdapat nilai-nilai Islam.

Ketiga, penciptaan iklim lingkungan sekolah yang kondusif. Lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk kepribadian. Pengkondisian lingkungan sekolah guna mewujudkan lingkungan yang agamis merupakan salah satu langkah yang harus diambil. Pengkondisian ini bisa dilakukan dalam bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak sekolah, agar terwujudnya kehidupan sekolah yang religius.

Ketiga, mengangkat kegiatan ektrakurikuler yang berbasis imtak. Salah satu langkah yang bisa ditempuh dalam hal ini adalah memberikan ruang yang luas untuk pengembangan ekstrakurikuler yang berbasis imtak. Pada dasarnya setiap kegiatan ekstrakurikuler bisa dialas dengan nilai-nilai imtak. Salah satu contoh adalah ekstrakurikuler pencinta alam. Dengan seringnya diangkatkan kegiatan di alam juga merupakan salah satu sarana untuk merenungi kebesaran Allah. Dengan melakukan perenungan-perenungan. Juga ekstrakurikuler lainnya yang memang berbasis imtak seperti bina remaja Islam dan lainnya.

Keempat, membangun kerjasama antara orang tua, sekolah dan masyarakat dalam pembinaan imtak. Untuk benar-benar mengokohkan nilai-nilai imtak, dibutuhkan dukungan dan kerja sama dari semua pihak. Baik orang tua maupun masyarakat. Sehingga dengan kerja sama yang baik, bisa mewujudkan target yang kita inginkan agar memang anak-anak kita tidak hanya memiliki otak yang cerdas namun juga pemahaman agama yang kokoh
Sudah saatnya Sumbar bangkit melalui dunia pendidikannya.

Semua tentu butuh keseriusan dan kerja keras dari semua pihak untuk mewujudkannya. Sehingga terciptalah SDM yang unggul secara intelektual serta memiliki akhlak dan perilaku yang baik. Dan memiliki kontribusi bagi masyarakat dan daerah. Kita sangat berharap akan muncul pribadi-pribadi yang paripurna yang mengintegrasikan keulamaan, cadiak pandai dan niniak mamak.

Semua tentu bisa kita raih dan di mulai dari membenahi dunia pendidikan kita. Hal ini sejalan dengan visi Sumatera Barat menjadi provinsi terkemuka berbasis SDM yang agamis. Benar-benar bisa kita wujudkan sebagaimana terdapat dalam rencana pembangunan jangka panjang daerah (RPJPD) Sumbar. [Sumber : Padek]

————-
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: