Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 14, 2008

Prinsip Ekonomis dalam Pemelajaran

Prinsip Ekonomis dalam Pemelajaran

Oleh: Suwati, Guru SMKN I Kota Mojokerto

Proses pemelajaran dilaksanakan sebagai wujud kepedulian atas semangat usaha meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Kita sadar bahwa sumber daya manusia menjadi motor utama dalam pembangunan bangsa. Sumber daya manusia adalah pelaku utama pembangunan.

Untuk itulah, maka berbagai cara dilakukan oleh guru agar proses pembelajaran dapat maksimal. Berbagai metode diterapkan agar pemelajaran berhasil. Tetapi setidaknya, di dalam proses pemelajaran inipun guru tetap sah jika menerapkan konsep ekonomis, yaitu memberikan sedikit tetapi dapat hasil maksimal. Dalam hal ini guru menerapan efektivitas kerja.

Efektivitas memang merupakan konsep dalam proses pemelajaran sehingga jatah pemelajaran untuk siswa sesuai dan tepat waktunya. Apalagi jika ternyata hasil pemelajaran sama sekali tidak mampu mengakibatkan perubahan yang signifikan terhadap kompetensi siswa.

Oleh karena itulah, maka sebenarnya kita tidak perlu terlalu obral materi yang sebenarnya tidak bakal dikuasai dan diterapkan siswa dalam kehidupannya. Apalagi jika hal tersebut kita kaitkan dengan konsep pemelajaran kita sekarang, yaitu berbasis kompetensi untuk survival siswa dalam kehidupan.

Memang seharusnya materi yang diberikan kepada siswa tidak perlu terlalu muluk-muluk sebab tujuan utama kita membimbing siswa belajar di sekolah kejuruan adalah mempersiapkan siswa dengan keterampilan. Roientasi pemelajaran di sekolah kejuruan adalah pembekalan keterampilan untuk siswa.

Konsep ini terkait pada kondisi nyata di masyarakat yang membutuhkan orang-orang terampil untuk menjawab kondisi kehidupan. Masyarakat sangatlah dinamis, sehingga dibutuhkan orang-orang yang selalu siap menghadapi kondisi masyarakatnya. Dan, orang-orang seperti ini hanyalah orang-orang yang mempunyai keterampilan khusus, yaitu yang dapat menjadikannya ‘terpakai’ dalam kehidupannya.

Sementara untuk mempunyai keterampilan yang dapat terpakai, maka dalam proses kepemilikannya kita tidak terlalu menuntut banyak pada pembelajaran teori. Teori hanyalah penunjang bagi keterampilan yang kita inginkan. Kita perlu ingat bahwa learning by doing jauh lebih baik daripada learning by listening! Dengan learning by doing, siswa mengalami secara langsung apa yang sedang dipelajarinya sehingga pengalaman ini menjadi miliknya secara permanen. Kita juga harus ingat bahwa jika kita mendengar, maka kita dapat lupa, tetapi jika kita melakukannya, maka kita akan selalu dapat! Sekali kita melakukan, maka pada saat dibutuhkan, kemampuan tersebut dapat muncul dan dipergunakan lagi.

Seperti mesin foto copy yang bekerja hanya karena melihat apa yang dikerjakan dan tidak melakukan aktivitas lainya, maka kemampuannya hanya sesaat itu saja sehingga jika besoknya kita ingin melakukannya, maka mesin tersebut tidak bakal dapat melakukannya. Coba kita datang ke sebuah tempat fotocopy, maka yang kita inginkan diletakkan pada sebuah kaca datar. Lantar dilihat oleh mesin tersebut dengan cahaya kuat dan keluarlah lembaran kertas dengan isi sama dengan yang dilihatnya. Tanpa ada kreasi apapun!

Seharusnya kita adalah satu unit komputer, yang pada saat dipakai, dia juga melakukan aktivitas, memproses segala hal yang dilakukan, maka pada saat kita perlukan, semua yang kita butuhkan dapat muncul kembali dan dapat digunakan lagi. Begitulah seharusnya yang kita ciptakan/kondisikan pada anak didik kita. Anak didik kita harusnya kita kondisikan untuk selalu siap menghadapi setiap kondisi hidupnya. Kapanpun dibutuhkan kemampuan dirinya, maka saat itu juga dapat menjawab tatangan tersebut. Dan, yang lebih baik lagi adalah bahwa kemampuan tersebut masih ditambah degan kreativitas yang lebih baik, improvisasi terhadap kondisi kemampuannya untuk menyesuaikannya dengan kondisi yang diminta oleh tantangan hidup tersebut.

Sedangkan jika kita belajar sambil melakukan apa yang perlu kita pelajari, jauh lebih efektif dari pada hanya menjadi pendengar setia segala penjelasan guru. Walaupun kita mengenal gaya pemelajaran ada 3 (tiga), yaitu visual, auditori dan kinestetik, tetapi pada kenyataannya yang banyak dan efektif adalah gaya kinestetik. Kita tidak dapat mengingkari hal tersebut.

Prinsip ekonomis dalam belajar

Jika kita berbicara tentang konsep ekonomis, rasanya lain di dalam proses pemelajaran. Bagaimana mungkin kita dapat berpikir untuk bertindak ekonomis di dalam pemelajaran? Apakah dengan mengurangi jatah belajar anak didik? Atau yang lainnya?

Tentunya kita tidak boleh mengurangi jatah belajar anak didik. Jatah pemelajaran yang harus diberikan sudah disusun secara sistematis dan berkesinambungan sehingga jika terjadi penyunatan materi, tentunya bakal berakibat serius pada masa mendatang.

“Wah, belum diajarkan!” begitu teriak para siswa jika mereka belum pernah mendengar tentang sesuatu yang ditanyakan oleh guru pada tingkatan atas atau guru yang lain. Jika hal tersebut terjadi, tentunya cukup riskan bagi masa depan anak didik.

Prinsip ekonomis yang kita maksudkan dalam konteks ini adalah dengan mengefektifkan waktu dan proses, bukan dengan mengurangi jatah materi pelajaran. Bahkan, dengan efektivitas pemelajaran, maka diharapkan hasil pemelajaran dapat maksimal.

Beberapa hal yang menunjukkan upaya ekonomisasi kegiatan pembelajaran ada banyak sekali. Setiap guru seharusnya mampu melaksanakannya dengan sebaik-baiknya agar proses pemelajarannya lebaih maksimal, sebagaimana konsep ekonomis yang dimaksudkan. Langkah-langkah tersebut adalah:

a. Mengurangi kebiasaan membuang waktu

Ekonomisasi pemelajaran, misalnya dengan mengurangi kebiasaan meninggalkan kelas pada saat proses pemelajaran. Hal ini seringkali dilakukan oleh guru, dengan berbagai keperluan. Tentunya dengan mengurangi kegiatan ini, maka pemelajaran menjai lebih maksimal. Ekonomisasi pemelajaran, misalnya dengan mengurangi kebiasaan meninggalkan kelas pada saat proses pemelajaran. Hal ini seringkali dilakukan oleh guru, dengan berbagai keperluan. Tentunya dengan mengurangi kegiatan ini, maka pemelajaran menjai lebih maksimal.

Seharusnya guru benar-benar bersikap ekonomis terhadap waktu jatah pemelajarannya. Umumnya, jatah waktu kita adalah 2 (dua) jam pelajaran, yaitu 2 X 45 menit atau 90 ‘ (sembilan puluh menit). Jatah waktu ini jika kita perhitungkan dengan materi dan skenario yang sudah kita buat, tentunya pas. Tetapi kenyataannya seringkali kita mendengar ada guru yang mengatakan materinya ketinggalan (Ada teman yang bilang; ketinggalan di rumah!). Sungguh ungkapan yang sangat lucu!

Jika kita telaah, maka ‘kehabisan’ waktu yang dimaksudkan oleh guru tidak lain adalah tidak diterapkannya prinsip ekonomis dalam proses pembelajarannya. Mereka kurang mengefektifkan jatah waktu yang sudah mereka alokasikan untuk proses pemelajaran, justru dipergunakan untuk melakukan sesuatu yang lainnya.

Prinsip ekonomis yang kita maksudkan dalam hal ini memang terkait dengan pengurangan penggunaan waktu yang tidak efektif. Jika guru dapat melakukan hal ini, maka dipastikan proses pemelajaran yang dilakukan guru benar-benar mengarah pada penyampaian materi sesuai dengan jatahnya.

Dengan mengurangi kebiasaan meninggalkan ruang kelas pada saat proses pemelajaran berlangsung, maka materi yang menjadi jatah siswa tersampaikan secara utuh. Berarti kompetensi yang diharapkan pada siswa dapat tercapai maksimal.

b. Melaksanakan Skenario Pemelajaran

Skenario pemelajaran adalah garis besar atau jalur yang harus dilakukan untuk proses pemelajaran. Dengan skenario ini, maka kegiatan pemelajaran dapat dilakukan secara sistematis dan konsisten dengan jatah pemelajaran.

Dengan skenario ini, maka tata urutan materi pemelajaran dapat dilakukan sehingga perubahan tingkat kemampuan siswa lebih terkontrol dan memudahkan siswa menerima setiap perubahan materi pelajaran.

Pembelajaran adalah sebuah proses, maka dengan adanya skenario ini, maka setiap detail kegiatan yang dilakukan guru merupakan implementasi dari jatah pelajaran. Sebagai sebuah proses, maka tentunya harus ada draft yang pasti sehingga guru tidak melakukan penyimpangan saat memberikan materi pelajaran.

Prinsip ekonomis dalam pemelajaran tidak lain adalah dengan melaksanakan skenario pemelajaran secara tepat. Dengan menerapkan isi skenario yang sudah disusun oleh guru, maka tidak ada penyimpangan materi pelajaran sehingga saat akhir semester semua pengetahuan dan keterampilan tersampaikan.

Dengan mengikuti skenario yang sudah disusun, maka konsistensi guru terjaga dan kondisi inilah yang menyebabkan terjadinya penerapan prinsip ekonomis dalam pemelajaran. Dalam hal ini, kita memberikan materi pelajaran untuk anak didik sesuai dengan scenario yang disusun.
Sebagaimana umumnya sebuah scenario, maka eksistensinya merupakan tuntunan bagi proses kerja. Oleh karena itulah, maka seorang guru harus melaksanakan scenario sebaik-baiknya. Sekali lagi hal ini untuk menghindari terjadinya penyimpangan atas materi yang harus diberikan pada anak didik.

c. Guru membuat Modul Pembelajaran

Membuat modul? Duh mendengar kata membuat saja sudah sedemikian sulitnya, apalagi jika uah dibuat tersebut adalah sebuah modul atau buku paket pemelajaran.

Bukan rahasia lagi, bahwa masih cukup banyak guru yang belum terbiasa untuk menulis, walau sekedar materi untuk pemelajarannya. Kita tidak mengetahui, apa yang sebenarnya terjadi sehingga kesulitan tersebut selalu saja menyelimuti para guru kita.

Modul dapat kita katakana sebagai ringkasan materi pelajaran yang kita susun berdasarkan tata urutan yang sistematis. Dengan modul ini, maka guru dapat memberikan pelajaran tanpa harus memberikan beban ekonomi pada anak didik.

Tentunya dalam hal ini, modul yang dibuat oleh guru jauh lebih murah dibandingkan buku yang ditawarkan oleh para penerbit. Dan, tingkat keterlaksanaan pemelajaran lebih baik sebab guru mengetahui tingkat ke-mampuan anak-anaknya.

Pembuatan modul pada dasarnya adalah jawaban guru atas penerapan kurikulum tingkat satuan pendidikan pada sekolah bersangkutan. Bukankah didalam kurikulum tersebut disampaikan secara implicit bahwa setiap sekolah mempunayi hak otonomi atas proses pemelajaran yang dilaksanakannya.

Pada sisi yang lainnya, modul yang dibuat oleh guru setidaknya telah memberikan nilai plus pada guru bersangkutan sebab dalam proses sertifikasi, modul merupakan bukti karya tulis yang diperhitungkan sebagai kompetensi intelektual. Disamping itu, tidak menutup mata, dengan menulis modul, maka guru mempunyai masukan dari penggandaan modul tersebut.

Bertindak ekonomis didalam proses pembelajaran memang merupakan salah satu langklah konkrit untuk dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang menjadi tanggungjawab kita. Hal ini adalah untuk meningkatkan efektivitas proses agar didapatkan hasil maksimal. Memberi sedikit dapatkan banyak!

—————
Download artikel ini dalam format word document [klik disini]


Responses

  1. Yang terhormat, Ibu Suwati
    Setelah membaca artikel ibu, saya merasa bahwa ini adalah ide yang baik yang berisi saran-saran kepada teman-teman guru di lapangan bahwa prinsip ekonomis perlu diterapkan dalam kehidupan akademis seorang guru.
    Hal ini akan menjadi input bagi guru agar kebiasan-kebiasaan korupsi waktu dalam kegiatan pembelajaran (lambat masuk cepat keluar/pulang) bisa diminimalisir.
    Membuat modul pembelajaran juga merupakan wujud kreatifitas guru dalam rangka inovasi pembelajaran. Namun perlu diketahui bahwa modul sebenarnya ditujukkan kepada pembelajar mandiri sperti ayng diterapkan di UT atau SMP/SMA Terbuka. Isinya di susun sedemikian detil agar pembelajar tidak merasa kesulitan dalam memahami konsep-konsep maupun latihan-latihan yang disediakan di dalamnya. pertemuan tatap muka yang frekwensinya jarang hanya dipakai untuk untuk kegiatan toturial (memecahkan masalah-masalah kompleks yang tak dapat mereka pecahkan sendiri).
    Untuk para siswa reguler seperti pada kelas biasa, penggunaan modul saya kira kurang tepat karena uraiannya terlalu detil. sementara yang kita harapkan adalah siswa bisa aktif menemukan sendiri suatu konsep dan menjabarkannya secara berterima melalui kegiatan pembelajaran yang variatif, seperti inkuiri, problem solving atau diskusi. dalam hal ini bahan ajar yang harus dibuat bagi teman-teman guru adalah bahan ajar yang menekankan pada CBSA bukan tutorial.
    saya kira demikian saya, semoga bisa menjadi pembanding dari kawan -kawan yang lain. terima kasih.

  2. Sata setuju dengan konsep ekonomis dalam pemelajaran. INi menjadi satu indikasi atas upaya peningkatan kualitas proses pendidikan di negeri ini. bagaiamanapun kita tidak menutup mata bahwa amsih banyak guru yang meninggalkan kelas saat mengajar. sementara modul menjadi pilihan tepat untuk mengembangkan kreativitas guru dalam mengajar, tentunya bentuk modul disesuaikan dengan sasaran pemelajaran. Selamat berjuang para guru!

  3. Bu Wati,saya sangat setuju sama bu wati

  4. Mohon dipostingkan materi tentang pembelajaran produktif yang menyenangkan jika ibu mempunyainya. Kami sangat membutuhkan, terima kasih.

  5. wah…bu. wati sudah terkenal sampai di sumatra yah bu..??

    Murid SMK N 1

  6. ini lo guru saya di smkn 1 kota mojokerto

  7. Bu, ini aku, murid ibuk di skanesa, , , ibuk gaul dech dah keliling indonesia. . . cayoo bu, , ,

  8. BU Wati sanghat pinthar bangetz dach nyampeck SUMATERA ….. kesana g’ ajak-ajak!!!!!!!!!!!!!, , , dan makaci dach ajarin aquh…………! ! ! !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: