Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 23, 2008

Potret Anak Jalanan di Hari Anak Nasional, Pagi Sekolah, Siang Terjun ke Jalan

Potret Anak Jalanan di Hari Anak Nasional,
Pagi Sekolah, Siang Terjun ke Jalan

Hari Anak Nasional diperingati setiap tahun. Namun masih banyak anak-anak yang belum mendapat perhatian serius pihak terkait. Anak jalanan, misalnya. Tidak semua anak jalanan nakal. Sebagian dari mereka bahkan terjun ke jalan, untuk berjuang mencari biayai sekolah. Anak jalanan dari tahun ke tahun jumlahnya terus bertambah.

Dinas Sosial Provinsi Sumbar mencatat jumlahnya mencapai 7.086. Mereka biasa hidup di pinggir jalan, dan mengumpul rezeki di antara barisan kendaraan di persimpangan lampu merah. Mereka juga ada di sekitar pusat perbelanjaan dan pusat keramaian kota lainnya. Kondisi ini membuat mereka rawan dieksploitasi, dipekerjakan pihak-pihak yang ingin meraup keuntungan. Dari pantauan Padang Ekspres di sebuah pusat perbelanjaan di pusat Kota Padang, Selasa (22/7), mereka tampak di antara keramaian pengunjung. Ada yang menadahkan tangan, berjualan makanan, minuman, dan mengamen.

Sebagian dari mereka mengaku, di samping sekadar mencari nafkah untuk belanja sehari-hari, mereka ada yang dipekerjakan menjadi tulang punggung keluarga dan preman. Akan tetapi, ada juga yang benar-benar berjuang mencari biaya untuk memenuhi kebutuhan sekolah karena orangtua mereka hidup di bawah garis kemiskinan.

Seperti Andi, (8) salah seorang siswa SD di Kota Padang. Pulang dari sekolah, Andi tidak belajar, dia malah bercanda ria dengan teman-teman sekolahnya, tetapi kembali ke jalanan mencari uang. Mengamen di persimpangan lampu merah Jalan Sawahan.

Andi mengaku kedua orangtuanya tidak mampu membiayai sekolah dan membeli perlengkapan sekolahnya karena sehari-hari hanya berprofesi sebagai pedagang asongan di Pasar Raya Padang. ”Untuk itu, saya harus berusaha sendiri memenuhi kebutuhan sekolah,” ungkap Andi yang sehari-hari bisa mengumpulkan uang Rp20 ribu hingga Rp30 ribu dari hasil mengamen.

Berbeda dengan, Andi. Teman sebayanya Yanto, juga mencari hidup di jalanan. Namun dia lebih memilih berjualan kantong kresek ketimbang menjadi pengamen. Dia berpikir, dengan cara ini bisa memperoleh uang lebih cepat. Dia bercerita, setiap harinya dia mampu memperoleh penghasilan Rp20 ribu, dari hasil berjualan kantong kresek.

Satu kantongnya dijual seharga Rp500. ”Hasilnya, disimpan untuk membayar biaya sekolah dan menambah biaya dapur,” kata Yanto yang masih duduk di kelas V SD. Pekerjaan ini terpaksa dilakukannya, karena Ayahnya tidak mempunyai pekerjaan tetap, dan tidak sanggup memikul beban keluarga. Membiayai tiga orang anaknya. ”Di keluarga, baru saya yang satu-satunya bersekolah, adik-adik masih kecil,” ucapnya.

Menurutnya, masih banyak lagi anak-anak yang mengalami hal yang sama sepertinya. Pekerjaan ini mereka lakoni, tak lain hanya ingin terus bertahan agar pendidikan mereka tidak terputus. Ironis sekali, meskipun anak merupakan investasi bagi pembangunan di masa mendatang, tetapi kehadiran dan keberadaan mereka di jalanan belum mengetuk nurani pihak terkait untuk memperhatikan mereka.

Selama ini, mereka sering diusir dari jalanan oleh pihak terkait dengan alasan penertiban. Tetapi setelah itu terpaksa kembali ke jalan, karena tidak ada upaya lain bagi mereka untuk bertahan hidup. ”Kami harus sekolah dan makan. Kalau ditertibkan lalu dilepas, dari mana kami dapat biaya sekolah,” sebut Andi. Nah kalau begitu, anak-anak jalanan seperti mereka tanggung jawab siapa? [Padek, Rabu 23 Juli 2008]

Iklan

Responses

  1. kondisi kehidupan dan masalah pendidikan merupakan dua hal yang selama ini menjadi kendala saat wajar diterapkan. kondisi kehidupan dianggap atau sering dijadikan sebagai alasan sehingga anak tidak bersekolah, disekolahkan, sementara pendidikan harus dijalani anak sebagai haknya untuk masa depan. sudah cukup banyak usaha dilakukan oleh pemerintah dari sekolah terbuka, sampai penanganan anjal dengan merangkul mereka dalam rumah singgah yang ditangani oleh dinas sosial, tetapi semua serba terlanjur!
    anak-anak yang sudah terlanjur turun ke jalan, karena sudha merasakan memegang uang atau memang telah menjadi tulang punggung keluarga atau memang untuk menutup kebutuhan sekolahnya, maka tidak dapat meninggalkan areal tersebut.
    selanjutnya yang repot ya…..sekolah

  2. sedih liat indonesia
    yeadhi !

  3. Apapun alasannya membiarkan anak di bawah umur bekerja adalah tidak benar,kembalikan hak anak sebagaimana mestinya.Dan sudah sejauh mana penanganan pemerintah tentang hal ini.

    • Berikan yang terbaik bagi anak, junjung tinggi martabat anak, penuhi hak-hak anak. pemerintah selalu mengharapkan generasi penerus bangsa dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. akan tetapi mana bukti, mana tanggungjawab negara…kita hanya dapat menyaksikan begitu ketidakadilan dan ketidakmerataan apa yang menjadi porsi anak-anak. pendidikan, kesehatan, tumbuh kembang, dihargai, didengarkan yang seharusnya dunia anak dalam menikmati haknya. akan tetapi musnah dan jauh dari harapan. masih dapat kita lihat dengan jelas, ada anak yang di eksploitasi baik secara ekonomi, seksual bahkan masih banyaknya kasu traficking (perdagngan anak )yang menimpa anak-anak indonesia.
      Pantaskah negara sebesar ini jika melihat masih banyak generasi penerus bangsa yang mengidap penyakit “kemiskinan” yang timbul akibat kebijakan negara yang tidak adil,,,sungguh tragis nasib bangsa dan aib dimata dunia internasional.

      HARI ANAK NASIONAL
      Banyak yang memaknainya hanya sesaat, begitu indahnya kata-kata yang dilukiskan para pemimpin dan pejabat negara disaat memberikan sekelumit ucapan atau pidato didepan ribuan orang dan anak-anak. dimana kata-kata atau kalimat tersebut hanya membuat anak-anak merasa yakin akan apa yang diucapkan oleh petingi-petinggi negeri ini…Tipu Dimakan Dusta..

  4. Perlu banyak usaha untuk memperbaiki bangsa ini. Ngak usah banyak upacara, pidato. Cuma perlu bukti nyata.
    Pemimpin juga perlu visi, misi yang jelas untuk masa depan anak-anak Indonesia.

  5. miris hati melihat kehidupan anak-anak yang harus berada dijalanan tuk mencari nafkah, sedangkan pemerintah sibuk dengan acara rapat, pembangunan gedung mewah dan bertingkat dan untuk apa semua gedung mewah kalau anak-anak bangsa ini banyak yang hidup digaris kemiskinan.

  6. ini adalah tugas kita semua…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: