Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 1, 2008

Mendidik Anak Berinteraksi Sosial

Mendidik Anak Berinteraksi Sosial

Oleh :  Mohammad Saroni,
Guru SMK Brawijaya Mojokerto

Di dalam proses pemelajaran, banyak aspek yang perlu disampaikan, diajarkan kepada anak didik. Aspek-aspek tersebut menjadi tanggungjawab dan kewajiban bagi guru untuk memberikannya saat membimbing anak-anak di setiap saatnya.

Proses pemelajaran memberikan aspek-aspek tersebut bertujuan agar anak didik benar-benar menjadi orang-orang dengan kompetensi yang me-madai, sesuai dengan kebutuhan hidup di masya-rakat. Dan, aspek-aspek tersebut merupakan muatan yang wajib dan harus dimiliki oleh anak didik.

Terkait dengan hal tersebut, maka salah satu aspek yang harus diberikan kepada anak didik agar mempunyai kmpetensi dalam pola pergaulan kemasyarakatan adalah interaksi sosial. Aspek interaksi sosial harus diberikan kepada anak didik agar pada saat berada di lingungannya dapat menyesuaikan diri dengan sebaik-baik dan mempunyai kemampuan untuk memasuki dunia kehidupan sebagaimana mestinya.

Sementara proses pemelajaran di sekolah, dalam hal ini adalah bentuk miniatur dari proses interaksi sosial antar personal, antar individu adalah pergaulan antar teman di sekolah atau di kelasnya masing-masing. Disinilah peran seorang guru benar-benar dibutuh-kan sebagai fasilitator dalam proses inter-aksi sosial anak didiknya.

Guru harus dapat menjadi fasilitator yang baik pada proses interaksi sosial ini sehingga anak tidka mengalami kesulitan ketika harus bertemu dan berkomunikasi dengan anak yang lainnya. Selama ini yang menjadi kendala di dalam peningkatan kemampuan anak dalam proses interaksi sosial adalah fasilitasi yang kurang maksimal dari gurunya.

Diskusi kelas sebagai bentuk penerapan interaksi sosial anak didik.

Di dalam proses pemelajaran, guru mempunyai beberapa metode yang dipercaya dapat meningkatkan pemahaman anak terhadap materi yang diajar-kannya.

Dengan metode yang dimiliki dan diterapkan dalam proses pemelajaran inilah, maka diharapkan agar kemudahan-kemudahaan yang didapatkan oleh anak didik sehingga proses pemahaman menjadi lebih mudah.

Kita harus mengakui bahwa dengan globalisasi yang dihadapi oleh semua bangsa, maka hal tersebut mendatangkan dampak yang positif dan negatif. Dampak positif tentunya tidak perlu dibahas sebab hal tersebut memberikan kesempatan seluas-luasnya pada setiap orang untuk meningkatkan kualitas dirinya. Tetapi, dampak negatif yang kemungkinan muncul dari globaliasi harus dihadapi, diantaisipasi sedemikian rupa sehingga kita mampu menghadapi secara baik dan tidak menghancurkan pola kehidupan yang sduah dibangun sejak para leluhur kita.

Salah satu aspek atau pola kehidupan yang seharusnya kita jaga eksis-tensinya adalah solidaritas dan rasa saling membutuhkan satu terhadap yang lainnya. Rasa ini terutama tumbuh dari kesadaran bahwa manusia itu makhluk sosial yang tidak mungkin dapat hidup sendirian. Manusia membutuhkan orang lain untuk dapat hidup secara normal.

Dan, untuk dapat meningkatkan rasa tersebut, maka harus ada kesadaran untuk dapat berinteraksi secara baik antara manusia. Di dalam proses pemel-ajaran, untuk mengarahkan, membimbing anak didik agar mempunyai kemampuan di dalam interkasi social ini dilakukan dengan setiap saat membimbing anak didik dalam sebuah diskusi terbuka antar anak di kelas bersangkutan atau dengan kelas yang lain-nya.

Dilakukan kolaborasi antar kelas sedemikian rupa sehingga mereka dapat menjadi sebuah tim yang solid dalam peningkatan kemampuan interaksi sosial di antara anak didik. Dengan tim yang solid ini, maka proses interaksi antar personal dapat di-lakukan secara maksimal.

Diskusi memungkinkan setiap personal untuk memberikan gagasan atau sanggahan terhadap sebuah kondisi yang disampaikan oleh anak yang lain dan memberikan solusi atau masukan bagi semua yang mengikuti diskusi tentang berbagai hal terkait dengan aspek yang dibicarakan.

Bukankah di dalam diskusi memungkinan semua orang ikut menyampai-kan pendapat, mendengarkan pendapat orang lain?bukankah di dalam sebuah arena diskusi kita harus dapat menerima penolakan atau ketidaksetujuan orang lai terhadap pendapat kita, pada sisi yang lainnya kita harus dapat menerima atau tidak menerima pendapat orang lain yang berbeda dengan pendapat kita?!

Dengan diskusi, maka anak didik dikondisikan untuk berinteraksi secara langsung dengan anak yang lain dan menyampaikan pendapat secara lesan serta menerima pendapat orang lain dengan hati lapang.

Menjadikan Kelas Sebagai Komunitas Khusus

Kelas pemelajaran sebenarnya merupakan komunitas khusus yang diharapkan dapat memberikan sebuah kondisi yang kondusif untuk proses pemelajaran bagi anakdidik, yang dalam hal ini masih dalam tahap mencari jati diri.

Dan, kelas merupakan wahana yang sangat signifikan terhadap upaya peningkatan kualitas social anak didik. Tentunya guru harus mempunyai kemampuan untuk mengkondisikan kelasnya sebagai sebuah komunitas yang merupakan gambaran miniatur dari sebuah komunitas antar personal, layaknya sebuah masyarakat secara umum.

Dalam hal ini, kelas perlu dilakukan penyesuaian-penyesuaian yang mengarah pada kondisi masyarakat, misalnya adanya tata aturan yang mengatur pola kehidupan kelas, adanya perangkat kelas yang proporsional dan sebagai-nya. Dengan kondisi seperti itu, maka tercipta sebuah masyarakat khusus yang di dalamnya berlaku segala aturan standar.

Guru harus dapat membimbing anak didik untuk bersikap sebagaimana mestinya warga masyarakat bersikap. Guru membimbing setiap aparat kelas untk mengambil sikap dalam menghadapi setiap permasalahan yang muncul setiap harinya. Guru hanya memfasilitasi anak di dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang terjadi di kelasnya.

Dengan memposisikan kelas sebagai komunitas khusus, terkait dengan upaya membimbing anak agar mampu meningkatkan kemampuan interaksi sosialnya, maka guru-pun harus mempunyai pengalaman interaksi sosial yang benar-benar proporsional.

Kelas memang merupakan komunitas khusus. Kita semua menyadari hal tersebut. Tetapi dalam konteks ini yang kita maksudkan dengan komunitas khusus adalah sebuah komunitas yang secara sengaja diciptakan oleh guru untuk menunjang metode pemelajaran yang diterapkannya.

Mendidik anak agar mempunyai kemampuan interaksi sosial yang memang merupakan salah satu aspek yang perlu diajarkan oleh guru didalam proses pemelajarannya. Hal ini selanjutnya diharapkan dapat memberikan pengalaman berorganisasi yang baik bagi anak didik, selain meningkatkan ke-mampuannya dalam berinteraksi sosial sesamanya.

Dan, sekali lagi kemampuan berinteraksi yang dimiliki oleh anak didik merupakan bekal yang tidak terkira nilainya untuk kehidupannya di masya-rakat.

Iklan

Responses

  1. apakah bapa bisa menuliskan buku-buku sumber yang digunakan dalam penulisan artikel ini??

    sebagai bahan referensi..
    krena kebtulan sayah sdang menyusun skripsi
    terima kasih

  2. wah…sumber penulisan ini adalah pengamatan dan ditulis dalam bentuk opini…..artikel ini ditulis seperti itu. tetapi mungkin bisa ditemukan buku Interaksi edukasi guru dan anak didik,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: