Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | September 23, 2008

89 Unit Sekolah Gempa Diresmikan

89 Unit Sekolah Gempa Diresmikan

Pd. Panjang, Singgalang – Mendiknas Bambang Sudibyo meresmikan pemakaian 89 unit sekolah yang telah direhabilitasi pasca gempa bumi melanda daerah kabupaten/kota di Sumbar pada 6 Maret dan 12, 13 September 2007. Peresmian 89 unit sekolah tersebut dipusatkan di SMA 2 Kota Padang Panjang, Selasa. Selain ke Kota Padang Panjang, Mendiknas juga berkunjung dan meresmikan sejumlah proyek pendidikan di Kabupaten Padang Panjang dan Kota Padang. Ratusan unit sekolah di Sumbar rusak berat dan ringan akibat dilanda gempa bumi pada sejumlah daerah kabupaten/kota di Sumbar, terparah di Kabupaten Agam, Pasisir Selatan, Padang Pariaman, Batusangkar.

Alokasi dana bantuan untuk rehab sekolah rusak tersebut asal Mendiknas senilai Rp40,1 miliar yang telah berhasil memperbaiki 569 unir ruang kelas SD, 150 ruang kelas SMP dan sederajat dan 172 ruang kelas SMK dan sederajat. Khusus Kota Padang Panjang, unit sekolah rusak tersebut di antaranya SDN Lapangan Kantin, SDN 11 ekor Lubuk Panjang, SPN 1 Padang Panjang, SMA 2 Padang Panjang, SMK 1 dan SMPN Muhammadyah.

Mendiknas dalam kesempatan tersebut menyatakan agar bangunan yang telah direhabilitasi tersebut dipergunakan secara baik untuk peningkatan proses belajar mengajar. Sementara khusus bagi gedung dan ruangan kelas yang belum sempat direhabilitasi dengan dana pusat agar dianggarkan dananya dari APBD provinsi dan daerah kabupaten/kota setempat.

“Kita berharap dengan kerja sama tersebut rehabilitasi bangunan sekolah rusak tersebut bisa terealisasi secepatnya,” katanya pada Antara

Lebih makmur

Bambang Sudibyo, menilai, daerah yang menjadikan pendidikan sebagai jualannya bisa lebih makmur dan sejahtera ketimbang daerah yang Sumber Daya Alam-nya berlimpah. Hal itu sudah dibuktikan Kota Jogjakarta, yang mengalami kemajuan luar biasa dengan jualan pendidikannya.

“Sumbar pun saya kira juga bisa seperti Jogja, menjadikan pendidikan sebagai jualannya. Sebab, potensi pendidikan di provinsi ini sangat besar, tinggal bagaimana mengolahnya menjadi sebuah jualan yang diminati banyak orang,” kata Mendiknas pada peresmian rehabilitasi dan rekonstruksi sekolah akibat gempa bumi, Selasa (23/9) siang di halaman SMAN 2 Padang Panjang.

Acara itu ikut dihadiri sejumlah dirjen, Gubernur Sumbar H. Gamawan Fauzi, SH, Walikota Padang Panjang dr. H. Suir Syam, M.Kes, MMR, para bupati/walikota se-Sumbar, serta para pejabat provinsi dan Kota Padang Panjang.

Menurut Mendiknas, bila pendidikan di suatu daerah sudah maju dan berkembang, tentunya akan banyak orang luar yang datang untuk belajar. Semakin banyak orang luar yang datang, maka peluang ekonomi akan terbuka lebar. Misalnya usaha rumah kos, jualan buku dan berbagai usaha lainnya.

“Saya dengar Diniyyah Puteri santrinya ada yang dari Malaysia. Tapi jangan bangga dulu, karena menurut saya hal itu belum bisa dibanggakan. Sebab, orang-orang dari negara tersebut sudah terbiasa ke sini dan mereka serumpun dengan kita. Kalau nanti ada orang China dan negara lainnya yang datang belajar ke sini, itu baru ciamik. Saya akan datang lagi ke sini untuk menyalami (ucapan selamat-red),” ujarnya.

Gubernur Sumbar H. Gamawan Fauzi dalam sambutannya menyatakan, dari awal Sumbar memang sudah menjadikan pendidikan sebagai salah satu sektor andalannya. Sebab, sumber daya alam yang dimiliki provinsi ini tidak sekaya daerah lain. “Yang kami punya hanyalah sumber daya manusia pak. Karenanya, sektor pendidikan harus kami pacu, supaya lahir-lahir SDM-SDM yang tangguh,” ujarnya.

Terkait dengan upaya peningkatan SDM, lanjut gubernur, Pemerintah Provinsi maupun kabupaten/kota sudah menganggarkan dana hampir 20 persen dari total APBD. Bahkan ada sejumlah kabupaten/kota yang sudah melebihi 20 persen. “Untuk sekolah gratis hingga SLTA, kita akan bicarakan lebih lanjut dengan para bupati/walikota,” ucapnya.

Menyangkut anggaran pendidikan itu, Mendiknas sempat mengingatkan para bupati/walikota agar secepatnya merealisasikan angka 20 %, karena hal itu merupakan amanat undang-undang. Bila hal itu dilakukan, ia khawatir masyarakat akan hilang kepercayaannya kepada pemerintah setempat.

Di hadapan Mendiknas, Gubernur dan ratusan undangan yang hadir saat itu, Walikota Padang Panjang H. Suir Syam menyampaikan bahwa mulai tahun 2008 ini program Wajib Belajar (Wajar) 12 Tahun di Kota Padang Panjang sudah diujicoba. Diharapkan program itu akan berjalan efektif mulai tahun 2000 mendatang.

“Kami sudah memiliki banyak sekolah unggul di sini. Bahkan mulai tahun 2008 ini, Pemrov Sumbar bersama Pemko Padang Panjang membangun sebuah SMA super unggul berstandar internasional. Sekolah ini nantinya akan menampung anak-anak hebat dari seluruh kabupaten/kota di Sumbar,” ucapnya penuh bangga.

Jumlah sekolah di Padang Panjang yang sudah direhabilitasi dari dana bantuan Depdiknas berjumlah 7 buah, dengan total dana Rp2,6 miliar. Selain dari Depdiknas, bantuan perbaikan sekolah juga datang dari Deplu untuk SDN 15 Ngalau dan BUMN untuk SDN 12 Silaing Bawah.

“Terimakasih atas bantuan bapak menteri dan pihak-pihak lainnya. Mudah-mudahan proses pembelajaran ke depan bisa kembali berjalan lancar. Dulu, ketika gempa baru saja mengguncang daerah ini, anak-anak memang terpaksa di bawah tenda dan alam terbuka. Namun kini mereka telah kembali di ruangan yang jauh lebih bagus,” ucap Suir Syam sambil mengucapkan kalimat syukur. [Singgalang]

Iklan

Responses

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: