Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | November 23, 2008

BUDAYA ANTRI DAN SENYUM MALAYSIA MEMANG BEDA

BUDAYA ANTRI DAN SENYUM MALAYSIA MEMANG BEDA

Oleh Diwarman, S.Pd, M.Si.
(Guru SMA Negeri 3 Batusangkar)

Pemberangkatan 103 pelajar berprestasi Tanah Datar ke Malaysia dan Singapura tanggal 19 sampai 25 Oktober 2008 yang lalu bukanlah suatu kegiatan hura-hura. Kegiatan ini memang telah dirancang jauh-jauh hari, baik dari segi anggaran dalam APBD maupun bentuk kegiatan yang akan dilaksanakan oleh siswa. Bahkan Dinas Pendidikan dan Tenaga Kerja Kabupaten Tanah Datar telah menerbitkan buku pedoman agar kegiatan ini benar-benar terarah dan terlaksana sesuai dengan perencanaan. 

Kegiatan studi banding ini dimulai dari persiapan tanggal 18 dan 19 Oktober 2008, peserta menerima pengarahan baik dari kru travel maupun dari pihak pemerintah. Tanggal 19 Oktober 2008 peserta diinapkan di Islamic Centre Pagaruyung, karena harus berangkat tepat waktu jam 03:00 subuh ke Bandara Internasional Minangkabau Padang. Inilah kisah awal perjalanan mereka ke Malaysia dan Singapura.

Peserta terlihat agak panik karena harus bangun sebelum jam 03:00 subuh, mereka harus mandi, berpakaian, ngisi perut dan siap naik bus. Sudah hampir jam 04:00 subuh barulah bus berangkat menuju BIM Padang. Terlambat 1 jam dari yang direncanakan karena ada bus yang terlambat datang, tetapi peserta hampir semua siap kecuali ada pembimbing yang tertinggal oleh bus. Inilah uniknya yang dikhawatirkan siswa yang tertinggal tetapi kenyataannya malah pendamping yang bermasalah. Rombongan sampai di BIM Padang jam 05:15, setelah sholat subuh mereka istirahat sambil ngisi perut dengan makanan seadanya.

Sambil menunggu boarding pass terlihat siswa berkeliaran di sepanjang terminal bandara. Mereka melihat semua yang bisa mereka lihat, ada yang mengambil gambar dengan kamera, karena memang ada sebagian siswa kita itu inilah kali pertama mereka datang ke BIM.

Sebagian siswa hanya duduk saja di tempat istirahat di sebelah kanan. Pada wajah mereka terlihat pasrah, karena memang tak tahu apa lagi yang ditunggu. Mereka tidak kenal istilah boarding pass, mereka tak tahu cara masuk pesawat karena memang belum pernah mencoba. Kebingungan makin tampak ketika pihak travel membagikan passport kepada peserta. Mereka bertanya kenapa passport dibagikan kepada kita? Pertanyaan ini terjawab setelah mereka menjalani semua proses mulai dari boarding pass, check imigrasi, naik ke pesawat. Jadi dalam kegiatan ini setiap siswa melakukan sendiri setiap langkah kegiatan, bukan hanya dilakukan oleh biro travel saja. Inilah pelajaran pertama yang sangat berkesan bagi siswa kita terutama bagi yang belum pernah naik pesawat terbang.

Penulis dan Pak Faisal dari SMP 1 Batusangkar adalah orang terakhir naik ke pesawat karena memang pada baris antrian kami berada di belakang. Jadi kami sengaja memberi kesempatan kepada semua siswa check imigrasi sehingga tidak ada siswa yang tertinggal. Tetapi penulis dan Pak Faisal sempat khawatir juga kalau nanti kita ditinggalkan pesawat, karena waktu yang disediakan sudah habis. Terdengar beberapa kali panggilan dari pengeras suara agar semua penumpang segera berada di dalam pesawat. Tetapi akhirnya passport penulis dan Pak Faisal selesai di cap dan langsung naik ke pesawat, baru saja penulis duduk, pesawat Air Asia nomor penerbangan AK 943 langsung take off.

Kurang dari 50 menit pesawat sudah mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Rombongan turun dari pesawat dan resmilah mereka menjejakkan kaki di luar negeri. Setelah siswa berada di bandara, mereka kembali terlihat bingung. Bandara KLIA ini sangat luas dan semua orang sibuk, tak ada orang yang berjalan santai semua kelihatan terburu-buru, mereka berjalan seperti kita berlari. Mereka tambah bingung karena tak tahu mau kemana. Kemudian terlihat Abdullah sang gide mengibarkan bendera JAP tour. JAP adalah nama biro travel yang memandu kami dalam perjalanan ini. Memang tak mudah memandu rombongan yang anggotanya lebih dari 100 orang ini.

Kemudian gide memberi tahu kepada siswa bahwa setiap kita harus check lagi di imigrasi masuk ke Malaysia. Setiap peserta bersiap-siap dengan passport di tangan karena mau memasuki bagian check imigrasi. Sesampai di dalam ruangan ternyata terdapat antrian panjang karena jumlah kita banyak ditambah lagi dengan penumpang lain. Siswa kita mendapat pelajaran bagaimana cara antri. Tidak satupun penumpang berdesak-desakan, mereka antri dengan tertib, tidak seperti yang kita lihat di Indonesia, mereka saling berdesakan untuk saling mendahului. Budaya antri di bandara KLIA ini memang beda dari Indonesia dan patut kita contoh.

Putrajaya adalah tujuan pertama setelah rombongan dari KLIA. Kota ini terletak lebih kurang 20 km dari KLIA dan 25 km dari Kuala Lumpur. Putrajaya merupakan pusat administratif pemerintahan federal yang baru, kota modern dengan konsep kota hijau yang cerdas. Kota ini dibangun oleh arsitek terbaik Malaysia, ditata dengan lingkungan ramah, dengan bentangan danau nan indah dan cantik.

Kota Putrajaya terdiri dari daerah-daerah yang disebut presincts, kantor-kantor pemerintahan, perdagangan, residen dan rekreasi. Bangunannya dibuat dengan konsep yang cerdas, dilengkapi dengan sistem komputer dan memanjakan.

Tempat-tempat menarik yang ada di Putrajaya adalah Perdana Putra, Seri Perdana, Putra Mosque, Putrajaya International Convention Centre, Dataran Putra, The Millenium Monument, Taman Botani, Taman Wetland, Taman Warisan Pertanian, Taman Putra perdana, Signature Bridge, dan Cruise Tasik Putrajaya. Tapi tidak semua objek ini dapat dikunjungi. Objek yang dikunjungi adalah berkeliling dengan bus melihat-lihat pusat pemerintahan Malaysia dan Masjid Putra.

Apakah yang diperoleh siswa di Putrajaya ini? Sekedar berfoto? Bukan hanya itu, tetapi rombongan sangat kagum dengan tata kota yang sangat rapi dan cerdas. Kotanya bersih, tidak ada kemacetan, tidak ada air tergenang diselokan, danau, taman, jembatan tertata dengan baik dan indah sekali.

Sebelum rombongan melanjutkan perjalanan, terlebih dahulu kami ngisi perut di restoran Garuda yang merupakan rumah makan masakan Padang. Sambal rendang, ayam panggang, gulai, dan sayur mayur khas Padang. Kami makan dengan enak sekali karena sudah lapar juga karena masakan ini memang sesuai dengan selera urang awak. Cara makan nasi dan sambal diambil sendiri, dibawa ke meja dan kalau mau tambuah boleh juga, layaknya kita makan di Padang.

Perut telah kenyang, dahaga telah lepas, waktu ketika itu baru jam 13:00 waktu Malaysia. Selanjutnya rombongan melanjutkan perjalanan ke Twin Tower.

Twin Tower adalah menara kembar yang terletak di Pusat Kota Kuala Lumpur atau KLCC (Kuala Lumpur City Centre). Menara ini dibangun oleh Petronas yaitu perusahaan minyak Malaysia dengan harapan pada menara ini ada gerbang menuju masa depan yang tiada batasnya, begitulah menurut arsitek Cessar Pelli dari USA. Menara Kembar ini mempunyai 88 tingkat dengan tinggi 452 m, pada lantai ke 44 terdapat jembatan yang menghubungkan kedua menara atau 170 m dari permukaan bumi. Dari jembatan ini kita dapat melihat pemandangan hampir ke seluruh kota Kuala Lumpur.

Pembangunan menara ini dimulai pada tahun 1992 dan diresmikan pemakaiannya oleh YAB Tun Dr. Mahathir Mohammad pada 31 Agustus 1999. Rekabentuk dari bangunan adalah menggambarkan prinsip-prinsip penting dalam Islam perpaduan dalam perpaduan, harmoni, kestabilan dan rasional.

Rombongan sampai di menara ini hari Senin tanggal 20 Oktober 2008. Hari Senin adalah hari libur dan tidak ada hari lawatan. Jadwal kunjungan buka dari Selasa hingga Ahad mulai jam 09:00 pagi sampai jam 05:00 petang. Tetapi karena kunjungan ini adalah kunjungan antar bangsa maka rombongan mendapat keistimewaan dari Malaysia, maka kami diberi izin khusus untuk memasuki menara. Kami dilayani oleh petugas melayu berseragam dengan penuh senyum, senyum bermakna dan sangat memuliakan, kami dihantar naik ke jembatan penghubung menara, kami juga dihantar ke ruang audio visual yang memberi kami informasi banyak tentang bagaimana menara ini dibangun.

Setelah hampir dua jam rombongan di Twin Tower, kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Negara. Kami disini shalat ashar dan berisitirahat melepas lelah sambil menunggu redanya hujan lebat. Setelah itu rombongan menuju KLCC lagi dan Bus Persiaran parkir di tengah kota. Kesempatan ini digunakan oleh siswa untuk menukarkan uang rupiah dengan ringgit dan berbelanja. Siswa sudah mencoba sendiri bagaimana menukarkan uang, bagaimana berbelanja dengan ringgit, bersosialisasi dengan bahasa Melayu atau bahasa Inggris.

Hari ini kelelahan perjalanan kami terhenti di Grand Pacific Hotel. Grand Pacific Hotel terletak di jalan Tun Ismail atau 10 menit naik bus dari KLCC. Berbagai kisah menarik pada siswa juga terjadi di hotel ini. Ada siswa yang menangis karena harus berpisah kamar dengan pembimbing. Siswa mengaku tidak tahu naik lift, karena rombongan nginap di lantai enam. Dalam rombongan kami ini ada 14 orang siswa SD yang masih kecil yang sangat perlu dibimbing, karena itu ada pembimbing yang sekamar dengan siswanya. Akhirnya semua siswa dapat tidur dengan nyenyak karena besok paginya akan melanjutkan perjalanan ke Negeri Sembilan. Rombongan akan diterima di SMK TMS Kuala Pilah dan juga Istana Raja Sri Menanti. …..bersambung.

Iklan

Responses

  1. Ass.wr.wb.
    sy mewakili Gallery Tour .
    Gallery Tour pernah membawa Gubernur Sumbar ( Gamawan Fauzi berserta kelurrga besarnya mengunjungi Kuala Lumpur & Singapore selama 6 hr ) dan kita juga pernah membawa rombongan
    Diknas provinsi & Diknas kabupaten sumbar bertemu Dirjen Pendidikan Tinggi ( dikti ) Bapak. dr. Fasli Jalal, Ph.D. ( pak Fasli jg berasal dari Sumbar )
    pak Fasli memang menganjurkan minimal guru & siswa 1 x mengadakan study banding ke luar negeri.
    sy merasa bersyukur, setelah membaca tulisan diatas. semoga masyarakat daerah Sumbar lebih bisa menerapkan pengalaman yang telah didapatnya dr perjalanan ke luar negeri & semoga bermanfaat.

    tentang kebingungan peserta sebenarnya bisa di kurangi kl setiap peserta menyimak dengan seksama pengarahan dari kru biro perjalanan.
    atau mungkin kru dari biro tidak menjelas dengan detail bagaimana mulai dari check in di bandara, boarding , keberangkatan dll.
    seandainya koordinasi diatas dijelaskan & peserta menyimak tentu kebingungan tidak terlalu parah.
    tapi pengalaman yg sy alami, walaupun sudah dijelaskan sedetail2nya…pada waktu pelaksanaan masih byk peserta yg bertanya.
    sebenarnya ini lumrah krn mereka baru pertama kali ke luar negeri bahkan ada yg baru pertama kali naik pesawat.
    Buat pak Widarman…. salut buat tulisannya… mudah2an kita bisa bertemu suatu saat nanti & sy tungggu tulisan2 menarik lainnya.
    Bila bapak mau bertanya tentang perjalanan baik dalam & luar negeri, sy akan siap membantu.

    wass

    santi

  2. Maaf sy salah tulis..
    sebenarnya salut saya buat bapak Diwarman, S.Pd, M.Si.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: