Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 3, 2009

Ada Psikopat di Sekolah

Ada Psikopat di Sekolah

Oleh : Reza Indragiri Amriel,
ketua jurusan Psikologi Universitas Bina Nusantara – Jakarta
(E-mail: r_amriel@yahoo.com)

Mengapa siswa gemar menyontek? Pertanyaan ini memang klasik. Tapi, para guru dan otoritas pendidikan sampai kita hari ini masih terus garuk-garuk kepala karena belum berhasil menemukan metode tercanggih untuk menghentikan kebiasaan menyontek anak-anak didik. Bahkan, tak sedikit pula yang “pasrah” dan menganggap perilaku menyontek sebagai kelaziman yang tidak berimplikasi serius.

Pastinya, jangan pandang enteng apabila anak didik -siswa maupun mahasiswa-kedapatan mengandalkan hasil menyontek untuk menyelesaikan tugas-tugas guru atau dosen mereka. Apalagi jika aksi menyontek dilakukan berkali-kali sampai-sampai anak didik tidak lagi percaya bahwa dia mampu menuntaskan pekerjaan sekolah dengan mengandalkan dirinya sendiri.

Itulah pesan tegas yang muncul berdasar riset banyak peneliti. Lawson (2004), misalnya, mengindikasikan bahwa siswa yang melakukan tindakan kebohongan akademik cenderung akan berbohong di tempat kerja.

Kenyataannya, fenomena menyontek lebih serius daripada pandangan umum. Kompleksitas yang terungkap dari temuan-temuan Barat tentang “kejahatan akademis” ini juga relevan dengan situasi di dunia pendidikan Indonesia.

Contohnya, di antara empat ribuan pelajar yang disurvei Rutger’s Management Education Center, 75 persen di antaranya diketahui melakukan aksi menyontek dengan bobot yang sudah tergolong serius. Yang mengenaskan, 50 persen di antaranya bahkan menganggap tindakan menyontek bukan sebagai sesuatu yang salah dan perlu dihentikan.

Pada riset lain, saat ditanyakan mengapa menyontek, 80 persen di antara keseluruhan siswa yang diteliti Newberger (2003) beralasan bahwa tindakan terlarang itu tetap mereka lakukan agar berhasil masuk ke sekolah yang lebih tinggi, khususnya universitas. Para penyontek, seperti halnya siswa yang tidak menyontek, yakin bahwa universitas adalah prasyarat mutlak demi pencapaian sukses masa depan. Jadi, tuntutan untuk meraih keberhasilan justru mendorong siswa menjiplak kreasi akademis orang lain, lalu mengklaimnya sebagai hasil belajar mereka sendiri. Ini alasan pertama.

Alasan kedua, plagiat merupakan konsekuensi negatif tingginya tuntutan akademis yang dibebankan ke anak didik. Faktanya, jangankan pelajar tingkat lanjut, pelajar kelas dua sekolah dasar dewasa ini pun saban hari sudah terpaksa menggendong tas sekolah berukuran besar yang dipenuhi buku pelajaran. Muatan pelajaran dalam buku-buku pelajaran mereka jauh lebih penuh sesak ketimbang buku yang saya baca saat masih seusia mereka dua puluhan tahun silam. Beban studi terlalu besar. Alokasi waktu terbatas. Elemen kegembiraan saat belajar, sebagai keharusan bagi siswa tingkat dasar, terpinggirkan. Akibatnya, bersekolah bukan lagi sebuah proses belajar yang mengasyikkan, melainkan semata-mata aktivitas yang keberhasilannya diukur berdasar pencapaian akhir. Demi mengejar target akhir itu, menyontek menjadi “solusi” guna mengatasi keletihan sekaligus cara untuk membahagiakan orang tua, guru, dan pihak-pihak lain selain si anak didik sendiri.

Uraian di atas menghadirkan pemahaman baru. Kontras dengan pandangan awam, menyontek sangat mungkin bukan pertanda kurangnya kecerdasan siswa. Karena aktivitas menyontek kian lama kian canggih, para pelakunya bisa jadi tergolong pintar, kreatif, bahkan mungkin memiliki tingkat kecerdasan superior. Menyontek, dengan demikian, merupakan penanda betapa anak-anak cerdas itu merasa kian frustrasi karena tidak berkesempatan melakukan petualangan dan akrobat intelektual.

Alasan ketiga, menyontek adalah hasil mimikri anak terhadap kelakuan orang-orang yang lebih dewasa. Anak didik menjadikan figur dewasa sebagai acuan moral mereka. Orang-orang dewasa memang tidak menjiplak seperti yang berlangsung di ruang-ruang kelas. Tapi, aksi mencuri milik orang lain, lalu diikuti dengan memberikan label sebagai milik pribadi, intisarinya sama persis dengan perilaku menyontek. Jadi, maling, koruptor, preman, dan sejenisnya adalah model bagi anak-anak didik untuk menampilkan tindakan sejenis di kelas mereka.

Perilaku orang dewasa seperti menginspirasi siswa melakukan tindakan scholastic psychopathy, di samping mengondisikan mereka pada pandangan bahwa tindakan semacam itu adalah sesuatu yang wajar. Menurut Williams (2002), siswa pada gilirannya menjadi yakin akan keandalan cara-cara antisosial dalam meraih prestasi sekaligus mengalami proses perkembangan moral yang senjang.

Kebiasaan menyontek sejak dini semakin memperbesar predisposisi anak didik untuk kelak berkembang menjadi individu berkepribadian psikopat. Hare (2000) dan Heller (2001) menegaskan hal itu dengan menyebut bahwa individu-individu dewasa berkepribadian psikopat telah memiliki problem tingkah laku sejak usia sebelum tiga belas tahun. Mulai mencuri, berbohong, vandalisme, bullying, aktivitas seksual, membuat kebakaran, mengendus lem, mengonsumsi alkohol, kabur dari rumah, dan -tentu saja- menyontek.

Orang tua melakukan korupsi di tempat kerja. Anak menjiplak tanpa beban, bahkan terorganisasi, di sekolah. Silakan bayangkan, mau ke mana negeri ini!

Sumber : jawapost.com

Iklan

Responses

  1. Saya sebagai salah satu mahasiswa Bina Nusantara, tidak setuju akan tulisan di atas. Kenapa? karena menurut saya, menyontek merupakan sebuah solusi (seperti yang ditulis di atas) untuk mendapatkan nilai yang bagus. Apa yang terjadi ketika mendapatkan nilai jelek?..TIDAK LULUS!
    Memang dalam mencapai nilai yang bagus, diperlukan kerja keras, seperti misalnya belajar setiap hari, setiap jam, setiap detik, bahkan tidak ada waktu untuk bersosialisasi. Apa yang terjadi? GENIUS! tapi tidak pernah bersosialisasi.
    Menurut saya, hanya ada dua macam tipe dalam kampus : yang pertama adalah “Geek”, si jenius yang tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain, dan yang kedua adalah si “artis” yang memiliki banyak teman tapi hanya memiliki nilai yang pas”an. Tapi di samping kedua tipe tersebut, ada satu tipe yang mana bisa menggabungkan kedua tipe tersebut dan mendapatkan nilai yang bagus serta banyak teman, tapi tidak dapat disangkal bahwa tipe ini juga pernah menyontek.

    Kesimpulan saya, menyontek bukan merupakan tindakan psikopat atau pun menunjukkan rusaknya moral seseorang, tapi lebih kepada bagaimana seseorang menyelesaikan masalah dengan cara cepat.

    Pertanyaan dari saya, Pernahkah anda menyontek? atau Pernahkah anda berpikir sebagai si tukang nyontek?

  2. Apapun alasannya,kata nyontek banyak negatif daripada positif,namun perlu betul dipahami layakkah sesuatu yang dapat mendatangkan hasil yang lebih baik itu perlu dicontoh..? Banyak juga para ahli turut nyontek lho,bahkan guru sekalipun.Lantas apakah bila kita membuat suatu trobosan pemikiran atas suatu masalah diambil dari pemikiran-pemikiran orang lain juga nyontek?
    Sepertinya masih sangat pas bahwa nyontek adalah tindakan yang flesibel dari seseorang bila pemikirannya terbentur…

  3. Astagfirullah. Hal negatif yang dilakukan secara berulang-ulang dan secara massal akhirnya dibenarkan. Ingat kawan, nilai adalah parameter seberapa paham kita dgn materi yg diajarkan. Kalau nyontek berarti itu sudah bukan murni parameter kepahaman kita lagi lah. Berapa orang yang akan kita bohongi dengan menyontek…

    http://muhammadalfisyahrin.blogspot.com/2009/06/salah-kaprah-tentang-nilai-di-sekolah.html


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: