Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 8, 2009

TANGGUNGJAWAB PUBLIK DALAM MEMBANGUN SURAU MAHASISWA

TANGGUNGJAWAB PUBLIK
DALAM MEMBANGUN SURAU MAHASISWA

Mochtar Naim *)

KONSEP “Surau Mahasiswa” telah digagaskan dan disepakati bersama antara sejumlah rektor dan Walikota Padang, Fauzi Bahar, dengan Yayasan Amal Saleh dan Islamic Center untuk dikembangkan di Padang dan kota-kota lainnya di Sumbar. Target yang ingin dicapai untuk 2009/2010 ini adalah 100 surau mahasiswa dengan sedikitnya 1000 mahasiswa pemondok. Ini baru 1 % dari sekitar 100 ribu mahasiswa yang ada di Padang dan kota-kota PT lainnya di Sumbar. Jika sewa rumah yang akan dijadikan surau mahasiswa itu maksimum 10 juta setahun, maka dana yang akan dicarikan berupa infaq, zakat dan sumbangan dari para muhsinin penyumbang adalah 100 x 10 juta = 1000 juta atau 1 miliar.

Dengan surau mahasiswa ini kita tidak membangun rumah baru, tetapi menyewanya dari penduduk yang rumahnya ada di sekitar kampus. Sewanya bervariasi antara 7 dan 10 juta per tahun, tergantung kepada kualitas, besaran, banyaknya kamar dan lokasi rumah. Dengan konsep surau mahasiswa ini dana yang perlu dicarikan dari para donatur cukup hanya untuk satu tahun sewa, karena sementara itu mahasiswa pemondok akan membayar uang sewa bulanan, yang di akhir tahun jumlah pungutan untuk sewa yang terkumpul dipakai pula untuk sewa tahun berikutnya. Dan begitulah seterusnya dengan sistem pembayaran yang menggelinding sendiri seterusnya setiap tahun.

Tuntutan untuk melahirkan surau mahasiswa ini makin mendesak dengan memperhatikan beberapa faktor berikut.

Satu, rumah-rumah kos yang ada banyak yang tidak memenuhi persyaratan minimal, baik sarana maupun prasarananya, di samping kenyataan kurangnya pengawasan dari pemilik rumah sendiri khususnya yang berkaitan dengan disiplin hidup di rumah kos. Ada kecenderungan umum hubungan sosial antara yang tinggal dengan yang berkunjung, khususnya dengan yang berlawanan jenis, banyak yang melanggar kesopanan umum ataupun melakukan hal-hal yang dilarang oleh adat dan agama. Tidak jarang diberitakan di surat-surat kabar, banyak yang bertamu, pulangnya sudah larut malam, atau baru pagi, yang menunjukkan adanya hubungan-hubungan berkhalwat lawan jenis yang sangat dikutuk oleh adat dan agama.
Dua, dengan tinggal bersama dalam surau mahasiswa, ongkos hidup menjadi lebih irit karena semua dikelola secara bersama; masak bersama, makan bersama, di samping menjaga kebersihan dan keamanan bersama. Dengan tinggal bersama dalam suasana asrama-surau akan tumbuh rasa kebersamaan, saling tolong-menolong, dan berubahnya orientasi hidup, dari hanya memikirkan diri menjadi memikirkan kepentingan bersama, sebuah modal sosial yang sangat diperlukan ketika tiba waktunya nanti untuk terjun ke masyarakat menjadi anggota dan pemimpin ummat dan masyarakat.

Tiga, sejalan dengan semangat: “Kembali ke Nagari kembali ke Surau,” yang dicanangkan sekarang di Sumbar, kita juga menciptakan jaringan hubungan segi tiga antara surau-mahasiswa dengan kampus dan mesjid di tengah-tengah masyarakat. Dengan itu kita mempersiapkan mereka menjadi insan yang tanggap, tanggap diri, tanggap lingkungan dan tanggap akan tanggung-jawab sosialnya ke masa depan – seperti contoh para pemimpin kita asal Sumbar dulu yang sempat memberikan darma-baktinya kepada nusa dan bangsa, yang akarnya adalah dari surau, kampus dan masyarakat itu.
Yayasan Amal Saleh dan Islamic Center di lingkungan Air Tawar, Padang, kebetulan sudah bereksperimen selama dua-puluhan tahun mengelolakan surau-mahasiswa dengan pola mandiri (sauk air mandikan diri) ini dan dinilai sangat berhasil dalam mempersiapkan kader bangsa dan pemimpin ummat ke masa depan melalui konsep surau mahasiswa ini.

Sekarang waktunya kita menyebar-luaskan konsep surau mahasiswa ini untuk dikembangkan ke seluruh daerah kampus di kota Padang dan kota-kota lainnya di Sumbar. Malah ke luar Sumbar sekalipun. Untuk itulah kami mengajak semua kita untuk bersama-sama mensukseskan Rencana 100 Surau untuk tahun 2008/2009 ini.

Kami mengajak semua kita yang diberi Allah kelapangan dalam hidup untuk menyisihkan sebagian dari infaq, zakat dan sadaqahnya untuk mensukseskan program amal-jariyah kita bersama ini. Kami melihat tugas ini adalah tugas publik kita bersama, khususnya cara kita ber-Minang, karena yang kita bantu adalah anak-kemenakan kita sendiri. Tugas bersama ini tidak kurangnya juga diharapkan akan didukung dan ditanggulangi secara bersama-sama oleh perusahaan-perusahaan korporatif, BUMN maupun swasta, di berbagai bidang kegiatan usaha, baik yang ada di Sumbar maupun di rantau, yang semua kita anggap sebagai bagian dari tanggung-jawab sosial dunia perusahaan (“Corporate Social Resonsibility”).
Perusahaan maupun per orangan yang mau namanya dicantumkan dalam surau mahasiswa yang disponsori, kita akan dengan senang hati mencantumkan namanya, baik sebagai nama surau mahasiswa maupun berupa plakat yang dipampangkan dalam surau mahasiswa itu.

Laporan secara berkala insya Allah akan kami kirimkan sebagai laporan kemajuan (progress report) dari usaha bersama kita ini. Sebuah lembaga kerjasama dalam mewujudkan dan mengelolakan surau-mahasiswa antara pihak-pihak terkait akan segera kita tumbuhkan. Insya Allah.
Semoga Allah meredhai dan melapangkan jalan kepada kita untuk tujuan mulia ini, amin.

Air Tawar, Padang, 2 Juli 2008/rev. 8 Jan 2009

*) Mochtar Naim, Anggota DEWAN PERWAKILAN DAERAH REPUBLIK INDONESIA (DPD-RI) No. B-12 dari Sumatera Barat

Sumber : Millist PGOL

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: