Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Januari 24, 2009

Sumbar Tentukan Arah Bangsa, JK: Tingkatkan Terus SDM

Sumbar Tentukan Arah Bangsa,
JK: Tingkatkan Terus SDM

Agam, Pemerintah Provinsi Sumbar agar terus berupaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Sebagai daerah yang terkenal dengan “industri otak”, potensi tersebut masih sangat tinggi, tinggal bagaimana memadukan peranan berbagai sektor seperti pendidikan, budaya, dan semangat untuk menggali potensi tersebut. “Sebuah kebanggaan tersendiri melihat bukti sejarah bahwa Sumbar mengambil peranan penting dalam menentukan arah bangsa,” ungkap Jusuf Kalla pada puncak acara peringatan 100 tahun kebangkitan nasional, dan Rang Minang Baralek Gadang, di Nagari Koto Gadang, Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam, kemarin. Rang sumando ini juga menyebutkan, para pemikir dan kaum cadiak pandai Minang, sangat besar sumbangsihnya untuk negara. Terlihat dari banyaknya tokoh nasional yang berasal dari Sumbar.

“Seperti Agus Salim, Sutan Syahrir, bahkan masih banyak lagi,” ujarnya, dalam acara yang dihadiri Dewan Pertimbangan Presiden Emil Salim, Wakil Ketua DPD RI Irman Gusman, Anggota DPR RI Patrialis, Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, Wakil Gubernur Marlis Rahman, Ketua DPRD Sumbar Leonardy Harmainy, sejumlah bupati/wali kota, dan Kadivre Riau Pos Group Padang Sutan Zaili Asril.

Namun, hal itu tak boleh mengalami stagnasi, sebab potensi tersebut masih sangat melekat pada SDM Sumbar. Tinggal bagaimana mengemasnya agar SDM berikutnya tetap memiliki kualitas jempolan. Dia menyarankan, peranan beberapa sektor harus ditingkatkan seperti sektor pendidikan dan sektor budaya. “Yang tak kalah penting adalah semangat untuk terus maju,” tegasnya.

Menurut Jusuf Kalla, peningkatan mutu manusia memang butuh proses, apalagi dalam hal mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Tapi jangan takut, Sumbar sudah memiliki basic untuk tetap eksis menjaga kualitas SDMnya. “Tahun 1920-an saja orang Minang saja sudah ada yang menyandang gelar doktor. Lain halnya dengan daerah lain, yang menyandang gelar sarjana, baru sekitar tahun 1949,” urai pria kelahiran Wattampone, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, 15 Mei 1942 ini.

Menghargai masa lalu, lanjutnya, juga merupakan sendiri paling penting untuk bergerak maju, terutama meningkatkan kualitas SDM. Sebab, majunya suatu daerah bukan dipandang dari SDA, letak, atau jumlah penduduknya, tapi lebih kepada semangat untuk maju. “Semangat itu dapat dimiliki dengan bercermin dan mencoba meneruskan prestasi para tokoh dan pahlawan,” tandasnya.

Bukan Seremonial

Acara Rang Minang Baralek Gadang, yang merupakan puncak kegiatan memperingati 100 tahun kebangkitan nasional, berlangsung meriah. Terbukti dari antusias masyarakat yang ingin menyaksikan dari dekat rangkaian acara tersebut. Bahkan diperkirakan ribuan warga tumpah ruah saat acara berlangsung. Dalam acara tersebut juga dilakukan launching Padang TV, bahkan Wapres M Jusuf Kalla sempat melakukan dialog selama lima menit.

Dipilihnya Nagari Koto Gadang sebagai lokasi acara, disebutkan Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi, adalah karena nagari ini merupakan salah satu nagari yang tradisinya terpelihara dengan baik. “Di sini pula ada basis pendidikan, bahkan jauh sebelum kebangkitan nasional 1908,” ujarnya. Boleh dikatakan, banyak tokoh nasional yang lahir dari daerah ini. “Orangtua mereka, dulu sangat apresiasi pendidikan sehingga rela menyekolahkan anak hingga ke luar negeri,” tambah Gamawan.

Selain itu, sebagai langkah mengentaskan kemiskinan, Sumbar juga sedang menggalakkan pengentasan kemiskinan berbasis nagari. Sehingga sangat pas jika kegiatan tersebut dilaksanakan di Koto Gadang. “Semoga dengan acara ini, daerah lain bisa terpacu untuk menggali potensinya,” harapnya.

Hal senada diungkapkan Ketua Umum Panitia Rang Minang Baralek Gadang Leonardy Harmaini. Bahkan Leo menegaskan bahwa acara ini bukan bersifat seremonial. Namun sebagai momen kebangkitan Sumbar menjadi lebih maju.

“Kegiatannya beragam dan sarat pendidikan seperti lomba debat mahasiswa, cerdas cerat tingkat SMA, hingga festival silat. Begitu juga dengan unsur budaya yang kental, seperti bazar produk Sumbar, kesenian tradisi, hingga festival 1001 belanga gulai itik hijau,” jelas ketua DPD Golkar Sumbar ini. Dia juga berharap kegiatan ini berlanjut dan memberi dampak lebih positif kepada masyarakat.

Rekor MURI

Masyarakat Koto Gadang boleh berbangga hati, sebab festival 1001 belanga gulai itik hijau menjadi salah satu rekor Museum Rekor Indonesia (MURI). Menurut Manager MURI J Ngadri, festival ini terbukti menjadi festival dengan gulai itik dalam belanga terbanyak.

“Ini merupakan penciptaan rekor baru untuk gulai itik hijau, penilaiannya berdasarkan jumlah,” ungkap Ngadri usai menyerahkan piagam MURI kepada penyelenggara pendukung kegiatan Gamawan Fauzi, penyelenggara kegiatan Leonardy Harmaini dan pemerakarsa kegiatan Sutan Zaili Asril, disaksikan Wapres Jusuf Kalla.

Dia menambahkan rekor ini merupakan rekor ke 3562 yang dicatat MURI. Apalagi, khusus kuliner, merupakan rekor terbanyak dan Sumbar adalah salah satu penyumbang rekor berbagai kegiatan. “Seperti Sipasan, Asmaul Husna, ujian karate ban hitam terbanyak. Kami bangga dengan potensi Sumbar ini,” pungkasnya [Padek, 25/01/09]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: