Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 15, 2009

Homeschooling, Alternatif Segar

Homeschooling, Alternatif Segar

Oleh: Ariani K.

“Mustahil bagi satu orang menguasai seluruh bidang pengetahuan. Tiap orang hanya butuh optimal di bidang masing-masing. Sekolah formal selama ini tak banyak memberi peluang bagi anak didik untuk fokus pada minat dan bakat mereka.”

Menurut Anda, siapa yang lebih cerdas, B. Franklin atau Picasso? Siapa yang lebih jenius, Alva Edison atau Mozart? Yang juga layak direnungkan, benarkah mereka output sekolah formal dengan ketuntasan belajar seluruh mata pelajaran mencapai seratus persen?

Tiap anak memiliki kecerdasan berbeda. Para maestro tersebut ahli dan optimal di bidangnya. Hakikatnya, sistem pendidikan yang baik mampu memberi peluang kepada semua peserta untuk mengoptimalkan kecerdasan spesifik masing-masing.

Mustahil bagi satu orang menguasai seluruh bidang pengetahuan. Sama mustahilnya memaksakan semua siswa menguasai lebih dari sepuluh mata pelajaran dengan tolok ukur berupa nilai ketuntasan belajar yang sama. Tiap orang hanya butuh optimal di bidang masing-masing. Sekolah formal selama ini tak banyak memberikan peluang bagi anak didik untuk fokus pada minat dan bakat mereka.

Edison adalah produk pendidikan di rumah. Sebab, menurut guru di sekolahnya Edison terlalu bodoh. Di rumah, sang ibu memberi kesempatan luas untuk mengeksplorasi keingintahuannya terhadap segala hal. Termasuk, ketika Edison kecil gemar membedah hewan-hewan untuk mengetahui rahasia anatominya. Pada usia 11 tahun, Edison membangun lab kimia di ruang bawah tanah rumahnya. Pada 1879, dalam usia 25 tahun, Edison berhasil membuat lampu pijar yang mampu menyala 40 jam.

Begitu pula Mozart. Dia dijuluki “Sang Maestro Mozart” pada usia delapan tahun. Pendidikan di rumah yang fokus dan terarah oleh sang ayah menjadikannya seorang maestro.

I’m competent because I do it myself. Motto ini menjadi standar penerapan gaya belajar dalam homeschooling, alternatif sekolah yang sedang hangat dibicarakan di Indonesia. Secara prinsip, homeschooling adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh orang tua. Proses belajar mengajar berlangsung dalam suasana kondusif agar potensi anak yang unik dapat berkembang maksimal. Semua peserta memiliki kebebasan luar biasa untuk berkembang sesuai kompetensinya. Tidak ada penyeragaman yang mematikan keunikan setiap pribadi.

Anak menjalani proses belajar sesuai dengan gaya belajar mereka. Kemampuan otak tiap individu berbeda-benda dalam menyerap, mengelola dan menyampaikan informasi. Sehingga, mereka juga memiliki gaya belajar berbeda. Inilah yang dilontarkan Howard Gardner tentang Kecerdasan Majemuk. Tiap anak dengan kecerdasan personal berbeda memiliki gaya belajar berbeda pula.

Dalam homeschooling, orang tua bebas menentukan pola pendidikan kurikulum yang digunakan. Di Indonesia, banyak homeschooler yang mengggunakan kurikulum dispendik agar mudah mengikuti ujian standarisasi pemerintah melalui ujian paket A, B dan C.

Tapi, orang tua bisa saja mengacu kurikulum internasional. Biaya yang dikeluarkan hanyalah biaya mengikuti ujian. Silabus dan materi pelajaran dapat diakses melalui internet. Ujian dapat dilaksanakan secara online, seperti ujian pre-uni (setingkat SMA) pada Cambridge International Examination.

Biaya ujian pun hanya ratusan dollar, jauh lebih murah dibandingkan biaya masuk TK-SD favorit di Jakarta. Jika ingin lebih terarah, homeschooler dapat bergabung dengan asosiasi seperti Asah Pena (Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif) atau komunitas Morning Star Academy.

Pendidikan homeschooling memungkinkan orang tua memberi tambahan keterampilan berdasar kebutuhan anak. Pembelajaran inti dan tambahan dilalui dengan fun tanpa pressure. Menurut Montessori, test untuk menguji kebenaran sebuah prosedur pendidikan adalah kebahagiaan anak-anak. J. Vos dan G. Dryden menambahkan, belajar akan akan sangat efektif pada situasi yang menyenangkan.

Menilik beberapa sisi positif homeschooling, orang tua dapat menjadikannya alternatif konsep sekolah yang lebih baik daripada sekolah formal. Akhir kata, jenis sekolah apapun yang dipilih, tetap orang tualah yang harus paling tahu kebutuhan sang anak.

Sumber :  Jawa Pos – Sabtu, 14 Februari 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: