Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 17, 2009

PERANAN SURAU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER MASYARAKAT MINANGKABAU

PERANAN SURAU DALAM PEMBENTUKAN KARAKTER MASYARAKAT MINANGKABAU


Oleh: Achjar Chalil

Kordinator Tim Pendawa Lima*

 

Di ‘Ranah Minang’, surau adalah kata lain untuk mesjid. Dalam perjalanan sejarah di ranah minang, surau menjadi instrumen utama dalam pengembangan karakter manusia minang tempo doeloe. Anak lelaki yang sudah akil balig “diperintahkan” oleh orang tuanya untuk tidur di surau. Sejarah mencatat, cendikiawan minang tempo doeloe memulai “perjalanan” untuk menemukan kecakapan hidup dalam bentuk eksistensi diri, kecakapan adaptasi diri, kecakapan komunikasi, kecakapan memilah masalah, memilih masalah, dan mengambil keputusan berdasar musyawarah yang bersandar pada “buliek aie kano pambuluah, buliek kato kano mufakat” (bulat air karena pembuluh/bambu, bulat kata karena mufakat), serta bentuk-bentuk kecakapan sosial, dan kecakapan personal pada  tahap paling dini di surau yang saat itu eksis di nagari-nagari di ‘Ranah Minang’.


Pada tahun 2000-an, para pakar pendidikan dari negara barat menggulirkan konsep ‘Kecakapan Hidup” (Life Skill) yang diamini oleh pakar pendidikan di Indonesia (yang umumnya berpendidikan hingga level strata 3), untuk dilaksanakan di sekolah-sekolah di Indonesia.


Sejatinya, konsep ‘Kecakapan Hidup’ berisikan sebuah pola atau konsep: bagaimana seorang peserta didik (murid) didorong untuk menemukan ‘Kecakapan Hidup’ melalui proses pembelajaran yang dilaluinya di sekolah.


Kecakapan Hidup yang diharapkan dapat dimiliki peserta didik antara lain: (a) Eksistensi Diri, (b) Kecakapan Adaptasi Diri, (c) Kecakapan Komunikasi, (d) Kecakapan Memilah Masalah, (e) Kecakapan Memilih Masalah, (f) Kecakapan Mengambil Keputusan, (e) Kecakapan Sosial, dan (f) Kecakapan Personal, sesuatu yang sudah dilaksanakan oleh para jenius lokal dari “Ranah Minang’ ratusan tahun yang lampau! (budaya alam minangkabau sungguh penuh dengan ‘ajaran’ etika, estetika, dan ‘ilmu pendidikan’, yang sayangnya dilihat “sebelah mata’, bahkan oleh pakar pendidikan yang berdarah minang dan lahir di minang sekalipun, sehingga saya pernah berasumsi; Jangan-jangan sebagian para pakar ini sama dengan kebanyakan anak negeri ini, sudah kehilangan rasa` percaya diri, melihat apa saja yang datang dari barat itulah yang terbaik, dan patut dicontoh, termasuk barangkali “valentine day” yang disambut kedatangannya oleh remaja kota dengan meriah).


Sejarah Minangkabau mencatat bahwa negeri ini, sebagaimana wilayah lain di republik ini pernah mengalami penjajahan fisik dalam bentuk kolonialisme struktural (pemerintahan di bawah Belanda dan Jepang) maupun kultural (kolonialisme budaya).


Kolonialisme budaya – yang diistilahkan oleh Bung Karno, sebagai: Neo Kolonialisme dan Neo Imperialisme (saya mendengar beliau mengatakan hal ini lewat pidato radio ketika saya masih berusia 10 tahun, di desa Sidodadi-Aceh Timur, saat itu tak ada satupun orang pergi ke sawah, semuanya mendengar pidato Bung Karno lewat Radio yang diikat di tiang listrik) masih terus mengakar dalam jiwa bangsa – walaupun Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada tahun 1945, dan memberi bekas yang dalam ke dalam jiwa anak bangsa, termasuk anak bangsa yang lahir dan besar di ranah minang.


Penetrasi budaya melalui kolonialisme budaya ini, perlahan tapi pasti membuat peran surau sebagai pembentuk jati diri “urang awak” mulai terkikis, hal ini sudah “diperingatkan” oleh budayawan Minang, almarhum Engku Ali Akbar Navis. Pada tahun 1956, AA Navis – nama pena beliau – menulis cerpen yang menghebohkan, “Robohnya Surau Kami” sebuah kumpulan cerpen sosio-religi.


Melalui cerpen ini, almarhum secara halus dan sangat berbudaya mengingatkan warga Minangkabau akan bahaya ‘kolonialisme budaya’ yang dapat menghancurkan (“merobohkan”) peran surau dalam pembentukan karakter masyarakat minang.


Apa yang disinyalir oleh Engku Navis puluhan tahun yang lampau, kini menjadi kenyataan. Saat ini fungsi surau sebagai pembentuk karakter masyarakat minang, telah benar-benar “roboh”. Kolonialisme budaya, telah berhasil merubah persepsi warga minangkabau terhadap peran dan fungsi surau. Surau menjadi hanya sekedar tempat salat semata, tidak lebih! Persepsi seperti ini bahkan merasuki alam pikiran cendikiawan minang dan guru agama Islam yang berasal dari minang, bahkan guru agama Islam di INS Kayutanam yang notabene berada di ranah minang!


Bahaya ‘kolonialisme budaya’ ini jauh sebelumnya juga telah “ditangkap” oleh almarhum Engku Muhammad Syafei, putra Banjar – Kalimantan Selatan yang besar dan menghabiskan usianya untuk mengabdi di ranah minang. Pada tahun 31 Oktober 1926 beliau mendirikan perguruan INS yang mendidik anak bangsa melalui konsep “Tigo Tungku Sajarangan”, Otak (Akademik), Hati (Akhlak Mulia), dan Tangan (Ketrampilan).


Sepeninggal Engku M Syafei – ditambah dengan kebijakan pemerintah yang mengadopsi konsep pendidikan barat yang menafikan posisi jiwa (dalam hal ini ‘ruh’) – pamor INS Kayutanam – bersama perguruan Taman Siswa meredup, bahkan INS Kayutanam kini hampir benar-benar tenggelam.


Allah yang Maha Pemurah agaknya tidak berkenan melihat INS Kayutanam tenggelam. Melalui kiprah pengurus Yayasan, pada tahun 2008, konsep Engku M. Syafei digali kembali, dan ditemukanlah ‘Kurikulum Berbasis Talenta’ yang digali dari konsep “Tungku Tigo Sajarangan” ala Engku M Syafe’i (Otak, Hati, dan Tangan) serta konsep “Tungku Tigo Sajarangan” yang berasal dari ‘Alam Budaya Minangkabau’ (“Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah).


Kurkulum Berbasis Talenta sendiri terdiri dari “Tungku Tigo Sajarangan,  yaitu: (a) Tungku 1: ‘Aspek Akademik’ (Ilmu-ilmu sains dan Bahasa), (b) Tungku 2: ‘Aspek Ketrampilan’ (Ketrampilan Teknik, Ketrampilan Tangan), dan Tungku 3: ‘Aspek Akhlak Mulia’ yang  berisikan ajaran tentang; (a) hubungan manusia dengan Tuhan, (b) hubungan manusia dengan manusia, (c) hubungan manusia dengan dirinya sendiri, (d) hubungan manusia dengan lingkungan, (e) keteladanan Rasulullah dan Sahabat, (f) baca tulis Al Qur’an, (g) pemahaman terhadap Al Qur’an, (h) budaya minang, (i) etika-estetika, dan (j) budi pekerti.

 

krukul11


Suatu karya yang dihasilkan oleh leluhur ratusan tahun yang lampau, serta orang-orang terdahulu bukanlah sesuatu yang serta merta dapat dimasukkan ke dalam kategori “ketinggalan zaman”. Konsep pendidikan berbasis talenta (bakat bawaan) yang digulirkan oleh Engku M. Syafei puluhan tahun yang lampau, bahkan pada akhirnya diakui oleh pemerintah. Undang-Undang Nomor 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan Peraturan Pemerintah (PP) No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Sebagaimana berikut;

1) UU No.20 Tahun 2003, tentang pendidikan, (Pasal 12 ayat 1 butir b; Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya), dan,

2) PP No.19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (Bab IV pasal 19; ‘Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berparti-sipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan ke-mandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik’.

Undang-undang pendidikan juga dengan tegas mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mendidik peserta didik menjadi manusia yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia!

Akhlak mulia tidak akan diperoleh dari ‘Pengetahuan Agama’ yang hanya diberikan di depan kelas selama 2 jam/minggu. Kolonialisme Budaya telah “menjatuhkan” agama dari posisinya menjadi setara dengan pengetahuan sains, ilmu sosial, dan bahasa! Setara dengan budaya (sementara agama dalam hal ini Islam bukanlah produk budaya)  Penilaian terhadap pemahaman dan penerapan agama peserta didik setara dengan penilaian terhadap kemampuan peserta didik memahami fisika, matematika, bahasa, biologi dan pelajaran lain yang merupakan produk budaya.

Menyadari hal ini, INS Kayutanam melancarkan gerakan ‘Kembali ke Surau’, agama (Islam) diajarkan di surau atau mesjid, karena itulah yayasan berketetapan menggalakkan “Gerakan Kembali ke Surau” (GKS). Agama yang penuh dengan nilai-nilai akhlak mulia diajarkan di surau atau mesjid, dengan tetap menyisipkan aspek akhlak mulia pada aspek akademik dan ketrampilan melalui ‘Pembelajaran Berbasis Fitrah’

Melalui Gerakan Kembali ke Surau, peran dan fungsi surau coba akan dikembalikan sebagaimana peran dan fungsi surau ketika alam minangkabau masih terbebas dari ‘kolonialime budaya’

“Memerangi” kolonialisme budaya bukanlah perkara mudah, penuh dengan rintangan dan tantangan, karena kolonialisme budaya adalah pengawal kepentingan kolonialisme dan imperialisme gaya baru dalam hal  penguasaan aset ekonomi dan sumber daya di negara berkembang, termasuk ranah minang yang merupakan bagian dari negara berkembang yang bernama Indonesia.Maka jika Indonesia ingin terbebas dari kolonialisme budaya diperlukan sumber daya manusia yang berkarakter yang hanya dapat diperoleh melalui pendidikan yang berkarakter. INS Kayutanam adalah salah satunya!

Tangerang, 18 Februari 2009. Pkl. 02:01

*) Catatan: Pandawa Lima adalah julukan yang diberikan oleh Bapak Farid Anfasa Moeloek kepada lima orang relawan revitalisasi INS Kayutanam, dari daerah yang berbeda.

  1. Achjar Chalil (lahir di Aceh Timur)
  2. Hudaya Latuconsina (lahir di Ambon
  3. Soleh Dimyathie (lahir di Pati-Jateng)
  4. Bambang Muhadi (lahir di Sleman-Yogyakarta)
  5. Naijan Lengkong (lahir di Tangerang-Banten)

Catatan :

  • Download artikel ini dalam format word document [klik disini]
  • Kurikulum dan Silabus Berbasis Talenta dapat anda download [klik disini]

Responses

  1. sebuah tulisan yang menyadarkan untuk kembali kepada jatidiri. Sayang penulisnya telah pergi untuk selamanya, semoga tulisan ini menjadi amal dan ilmu yang bermanfaat bagi bapak (alm) Achyar Chalil.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: