Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Februari 22, 2009

MEMBUDAYAKAN APPLAUSE dan MENCEGAH KEKERASAN DALAM MENDIDIK

MEMBUDAYAKAN APPLAUSE dan MENCEGAH KEKERASAN DALAM MENDIDIK

Oleh: Marjohan M.Pd
(Guru SMAN 3 Batusangkar)

Punishment dan reward- pemberian hukuman dan ganjaran- dalam ilmu paedagogi dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan. Pemberian hukuman bertujuan untuk memberiikan efek jera dan mencegah berlanjutnya prilaku negatif dan ganjaran berguna untuk penguatan atas prilaku positif. Punishment dan reward juga dikenal dalam ajaran agama.

Dalam Islam diajarkan tentang tentang adanya sorga dan neraka. Siapa saja yang melakukan amal buruk (negative) atau mengingkari ajaran Allah Swt adalah dosa (diberi punishment), dan siapa saja yang melakukan amal baik (positif) dan mematuhi perintah serta meninggalkan larangan Nya, maka akan diberi pahala atau reward. Hamba Allah yang memiliki banyak dosa akan dilemparkan kelak kedalam Jahanam (neraka) sebagai punishment, dan yang melakukan banyak kebajikan, memiliki banyak pahala maka bagi mereka adalah Sorga (reward) sebagai tempat yang layak, amiiin. Namun Allah Swt memiliki ampunan yang besar bagi mereka yang bertobat, meninggalkan kebisaaan negative atau dosa.

Dalam pendidikan terhadap anak di rumah, orangtua juga memberiikan punishment dan reward pada prilaku anak. Bentuk dari reward adalah seperti menghargai, memuji, mencium, bertepuk tangan dan sampai pada memberii hadiah. Sementara bentuk dari punishment adalah seperti tidak acuh, membentak, menhardik, mencaci, sampai pada memukul atau hukuman fisik yang lain.

Reward- dalam bentuk pujian dan penghargaan – lebih dominan diberikan pada anak sejak usia dini sampai mereka masuk Sekolah Dasar. Pujian demi pujian atas aktivitas dan pengalaman hidup yang dilakukan anak telah mendorong mereka untuk tumbuh dan berkembang. Apalagi dalam rentangan usia ini- usia balita- dengan proses pertumbuhan otak yang cepat yang juga disebut dengan masa emas (golden period) maka pemberian reward/ dalam bentuk pujian dan penghargaan akan membantu anak untuk tumbuh dan berkembang secara sempurna.

Dalam usia ini hampir semua orang tua mengekspresikan tutur bahasa yang lembut sambil menyirami anak dengan perhatian, penghargaan dan pujian , “ayo anak manis, jangan suka ganggu mama, kalau sedang kerja. Kalau kamu bisa jalan, nanti mama kasih kue enak”. Atau sang ayah juga bertutur lembut dan ramah, “Eko, kalau kamu bisa pasang sepatu, nanti papa bawa ke kebun binatang…!”. Pemberian reward lebih dominan daripada pemberian punishment bukan ?. Malah anak yang tiba-tiba memukul wajah sang ayah, karena akalnya yang masih kecil, bisa jadi memperoleh maaf segera dari sang ayah.

Pemberian pujian dan penghargaan (reward) cedrung berkurang saat usia anak beranjak semakin besar. Malah orangtua dalam masyarakat root grass level (masyarakat lapisan bawah yang jumlahnya sangat banyak ) juga jarang membiasakan mengatakan kata-kata “maaf dan terimakasih” sebagai model dalam pendidikan akhlak di rumah, akibatnya anak-anak juga tidak terbiasa dan mampu untuk mengucapkan ke dua kata tersebut dalam konteks yang tepat dalam pergaulan mereka. Pada akhirnya anak anak tumbuh menjadi generasi yang kikir untuk menuturkan kata-kata “I am sorry dan Thank you very much” dalam bahasa mereka.

Seperti yang telah dikatakan bahwa pemberian ungkapan penghargaan pada anak sangat umum sejak usia dini sampai mereka menginjak usia Sekolah Dasar. Namun begitu saat anak mulai memasuki usia bersosialisasi di SD, SMP dan SLTA, maka pemberian kata-kata penghargaan (oh itu bagus, terimakasih, kamu memang hebat, dan lain-lain) langsung dari mulut orangtua secara tulus makin lama makin jarang mereka peroleh. Kalau anak melakukan suatu tindakan yang terpuji/ positif, itu dipandang sebagai suatu hal yang wajar dan tidak perlu lagi diberi pujian segala. Ada orang awam yang berkata bahwa anak-anak yang sudah besar tidak perlu pujian lagi karena mereka bisa menjadi besar kepala- demam pujian (prize oriented) kelak. Tetapi bila sang anak melakukan kesalahan maka mereka secara spontan- buru buru- memperoleh kutukan, cacian, sampai kepada corporal punishment (hukuman fisik) seperti – menjewer, memukul, menampar, membenturkan kepala dan sampai kepada bentuk yang lain, nauzubillah minzalik.

Praktek pemberian reward yang kurang saat anak melakukan tindakan positif dan gampangnya memberiikan punishment bila anak melakukan tindakan negatif terasa seolah-olah sebagai fenomena sosial, terutama bagi kalangan masyarakat berpendidikan rendah dan mereka yang tinggal dalam rumah yang sangat padat. “wah kau dasar anak goblok…, senyum mu kok seperti nyengirnya kuda…!” ungkapan- ungkapan tadi sangat umum didengar ditengah masyarakat.

Pembiasaan tidak banyak memberiikan pujian, penghargaan dan minta maaf dalam pendidikan keluarga dari generasi tua, telah ditiru (menjadi model) oleh generasi berikutnya. Pada akhirnya pembiasaan yang negatif ini seolah-olah telah menjadi fenomena demoralisasi karena tidak mampu mengungkapkan maaf dan terimakasih dalam konteks yang tepat. Sekarang cukup banyak terdengar keluhan di kalangan pendidikan yang mengatakan bahwa anak-anak sekarang sebagian cendrung berkarakter beringas, kurang sopan santun , kurang pandai bertegur sapa dengan orang tua dan guru kalau berpapasan di jalan. Pada-hal orang dari dunia Barat sudah terlanjur beranggapan positif bahwa kita adalah sebagai bangsa yang ramah, karena gampang senyum, walau dalam kenyataan bahwa kita adalah orang yang sulit dalam mengungkapkan “maaf kan saya atau terima kasih banyak”. Ketika anak tumbuh menjadi lebih besar, di rumah kurang memperoleh pujian, perhatian,, dan reward yang cukup dari proses pendidikan, dan di saat itu mereka membutuhkan hal hal ini untuk menghangatkan emosi mereka, maka muncullah kompensasi prilaku yang aneh-aneh seperti bertingkah agresif untuk mencari perhatian, haus pujian, suka mengganggu/ mengusik anggota keluarga, teman sebaya dan orang lain.

Guru-guru yang mengajar mulai dari bangku SD, SMP, sampai SLTA, dan malah juga para dosen di Perguruan Tinggi adalah juga orangtua bagi anak-anak mereka di rumah. Sebagian dari mereka mungkin juga terkondisi melalui pendidikan sosial sebelumnya untuk tidak royal dalam memberii perhatian, penghargaan atau reward terhadap anak-anak didik mereka- tentu tidak semuanya yang begitu. Namun cukup banyak ditemui guru yang berprilaku keras, sampai memperlihatkan wajah bengis (atas nama mempertahankan suatu disiplin) pada anak kecil-kecil yang usianya masih berkisar 7 – 13 tahun. “Wah kau dasar bloon, mukamu dasar muka tembok, apa matamu buta…”, dan masih ada lusinan koleksi kata-kata emosional lainnya yang sering terucap dari mulut guru saat mereka lagi dalam keadaan bad mood di lingkungan sekolah atau saat PBM di kelas. Namun guru-guru yang selalu mampu mengontrol emosi, dan memberi maaf – mungkin adanya kesadaran- karena digaji Negara (juga oleh tunjangan sertifikasi) dan telah komit memilih profesi guru untuk banyak memberii maaf atas prilaku anak didik, maka sebutan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa sangat tepat buat mereka.

Prilaku siswa di sekolah adalah prilaku bawaan dari rumah dimana mereka dibesarkan dalam lingkungan yang jarang memberiikan pujian dan perhatian, kecuali punishment/ cacian, cemooh dan ancaman telah tumbuh menjadi anak didik yang agressif, sulit berkosentrasi, haus perhatian, dan suka menganggu ketenangan teman. Dalam pandangan ilmu paedagogi lama bahwa anak didik yang demikian (melakukan kegaduhan/gangguan) perlu untuk diberi punishment- walau prilaku mereka terpola akibat dari kelebihan mis-punishment (mal-praktek punishment) di rumah, maka guru-guru di sekolah juga cendrung memberiikan punishment untuk memberiikan efek penjeraan seperti; mengharik, mencaci, menjewer, push-up, meloncat sambil jongkok, berdiri kaki itik/ sebelah kaki di depan kelas (agar supaya anak jadi jera atau supaya kelak tumbuh menjadi bangsa pemalu/ mental budak ?) menampar, menendang, dan sampai memberikan hukuman fisik yang lain.

Pemberian punishment pada anak didik tampak makin intense/meningkat saat mereka berada pada usia pra-pubertas/puber awal sampai pada pubertas pertengahan, yaitu saat mereka duduk di kelas 5 dan 6 Sekolah Dasar sampai di penghujung kelas 12 di SMP. Ini adalah periode dimana anak memperlihatkan prilaku sangat agresif,yaitu banyak gerak dan banyak berteriak-teriak. Untuk meredam agressif mereka maka lagi-lagi sebagian guru-guru memilih cara-cara kasar dalam bertutur sampai pada melakukan kekerasan atau hukuman fisik.

Kemajuan teknologi dan informasi, juga memaksa kemajuan dalam pelayanan pendidikan. Pendidikan yang diharapkan oleh public adalah pendidikan yang kaya dengan sentuhan kemanusiaan. Maka gencarlah harapan untuk member anak dengan pendidikan bernuansa sentuhan emosi, sentuhan kalbu, sentuhan humanistic yang tulus. Anak perlu didik dan dilindungi dan mereka harus diberi perlindungan hukum- alhamdullillah. Tuntutan untuk mewujudkan hal yang demikian tentu juga mengharapkan agar orang tua di rumah dan guru di sekolah mengubah sikap dan kepribadian untuk melaksanakan pelayanan mendidik mereka- melalui pelatihan, pembiasaan dan iktikad baik- agar mampu bersikap lembut, ramah, simpatik dan empatik , dan selalu menjadi model yang selalu sabar dan santun dalam mendidik anak.

Adalah merupakan seruan yang positif agar orangtua dan guru mampu memberikan pendidikan dengan sentuhan kemanusiann- sentuhan kasih sayang yang tulus. Untuk perbaikan moral dan karakter anak, oleh sebab itu diharapkan agar tugas pendidikan yang paling utama musti ada pada orangtua. Namun guru juga perlu melakukan peubahan total dalam gaya mendidik. Mendidik dengan cara kekerasan dan penuh menekan atas nama mendisiplinkan anak adalah gaya mendidik guru-guru yang bergaya otoriter. Pendidik dengan model persuasive, mengayomi, dan pemodelan positif pasti selalu ada dan dapat dipelajari serta diadopsi.

Kebisaaan yang dilakukan oleh instruktur pada pelatihan sosial bagi orang-orang dewasa dan remaja dan sampai kepada guru-guru TK, guru-guru pada PAUD (pendidikan anak usia dini), sampai kepada kebisaaan memberikan applause ( tepuk tangan) oleh presenter atau guru yang berpribadi hangat atas tindakan positif seorang aktor/ murid dalam suatu kegiatan patut untuk diteladani. Sekolah harus tahu (dan harus mengadopsi) bahwa kini banyak perusahaan meningkatkan pelayanan dengan menonjolkan unsur -unsur simpatik seperti semboyan mereka ; melayani dengan penuh ramah tamah, melayani anda dengan tegur sapa dan senyum. Anak-anak sekarang banyak yang merasakan bahwa sekolah atas nama mengejar kualitas dan disiplin penuh dengan tekanann ibarat penjara modern, dan mereka bertutur “wah bête belajar di sana”. Namun sekolah sekolah walau gedungnya sederhana tapi memberi pelayanan prima- tenaga pendidik mengajar dengan mengutamakan pemberian pujian, penghargaan, dan ungkapan maaf yang tinggi bisa menjadi tempat favorite dan sangat menyenangkan bagi anak-anak didik. Mendidik anak oleh guru dan orangtua dengan membudayakan applause dan mencegah untuk melakukan kekerasan fisik dan psikis adalah sangat tepat dan urgent (mendesak) untuk diterapkan demi memperoleh generasi yang rajin, cerdas, sholeh dan santun dalam hidup, amin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: