Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Maret 29, 2009

Ubah Sistem Pendidikan Pada Anak

Ubah Sistem Pendidikan Pada Anak

Negara-negara berkembang termasuk Indonesia, masih kurang memperhatikan hak-hak atas anak dalam sistem pembelajaran yang diterapkan pemerintah. Dengan sistem pembelajaran yang padat materi, anak dituntut untuk harus selalu belajar dan belajar sepanjang hari sehingga sering kali mengorban waktu bermain mereka.

Padahal bermain tak bisa dipisahkan dari dunia anak-anak. Akibatnya, anak-anak kehilangan kebebasannya dan serasa dipenjara. Dan apabila hal ini dibiarkan terus menerus dalam jangka panjang, akan berpengaruh langsung pada perkembangan psikologis dan kecerdasan emosi sang anak.

Hal tersebut disampaikan Ketua Komnas Anak, Seto Mulyadi, saat menjadi pembicara dalam Seminar Sehari bertajuk “Mengelola Amarah Anak” yang diadakan di aula Gubernuran Sumbar. Menurut Seto, selain sistem pembelajaran yang harus di ubah, hal penting yang juga tak bisa disepelekan, cara dan metoda tenaga pendidik dalam mengajar si anak.

“Metoda kekerasan yang lazim kita jumpai seperti jeweran, cubitan dan hukuman lainnya yang biasa diberikan guru pada anak muridnya, sekarang harus di rubah dengan pola yang lebih lembut dan pendekatan personal. Tidak harus dengan kekerasan mengajarkan anak tentang sesuatu,” ujar Seto.

Seto menilai, cara-cara kekerasan dalam mendidik anak, nantinya juga akan berimbas pada mental si anak saat beranjak dewasa. Anak yang memiliki system pengajaran yang salah dan kurang berinteraksi dengan lingkungan dan sesamanya, dewasanya akan mengalami masalah dalam kematangan emosi dan kematangan spiritual.

Mengantisipasi agar fenomena ini tidak semakin meluas, Seto berpendapat selain perbaikan sistem pengajaran, merubah metode pengajaran adalah hal penting yang juga harus dilakukan pemerintah bekerja sama dengan tenaga pendidik dan keluarga.

”Kita harus ciptakan metoda dan system pembelajaran untuk anak, bukan anak untuk sistem pembelajaran” tegas Kak Seto.

Wakil Gubernur Sumbar Marlis Rahman menegaskan tentang pentingnya pendidikan dan bimbingan yang benar bagi anak usia dini. Disini, orang tua sebagai individu yang terdekat dengan anak yang dituntut telaten dan memiliki pengetahuan dalam membesarkan anak. Selain itu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) juga seharusnya dioptimalkan untuk membentuk anak-anak yang cerdas dan sehat.

Meski dari data yang diperoleh BPS , keluarga yang memanfaatkan PAUD untuk anak mereka di Indonesia hanya 25,3 persen saja, dengan jumlah anak 7,2 juta anak, namun kedepannya Marlis optimis jumlah ini akan terus bertambah seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang tahu akan atri penting PAUD mendorong tumbuh kembang anak yang cerdas dan sehat jasmani rohaninya [Padang Today]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: