Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | April 16, 2009

Bergelar Doktor Karena Kursi

DR dr. Menkher Manjas SpB, SpOT, FICS:
Bergelar Doktor Karena Kursi

Sebuah masukan cerdas tentang sarana dan parasarana pendidikan kita datang dari Doktor Menkher Manjas. Bahwa elok atau tidaknya sebuah kursi di ruang belajar siswa memberi pengaruh kepada hasil belajar anak didik.

Bahkan dokter ahli ortopedi dari FK Unand itu menemukan korelasi antara ketidakergonomikan tempat duduk dengan konsentrasi dan hasil belajar. Itu juga yang mengantarkannya memperoleh gelar doktor dari Program Pascasarjana Universitas Negeri Padang belum lama ini.

Lho apa hubungannya kursi dengan hasil belajar?

Sebagai ahli tulang Menkher tentu saja sudah lama mencurigai soal kursi itu. Maka kecurigaan itu juga mendorongnya untuk melakukan penelitian seputar korelasi kursi dan hasil belajar. Menurutnya, konsentrasi belajar sangat ditentukan oleh nyaman atau tidaknya suasana belajar atau iklim kelas. “Salah satu diantaranya adalah nyaman atau tidaknya siswa saat duduk menerima bahan ajar dari guru. Ketidaknyamanan akan membuat konsentrasi belajar terganggu. Maka kalau itu terjadi, sudah dapat diyakini hasil belajarnya juga akan terpengaruh,” ujar dokter yang pekerja keras ini.

Tapi seberapa jauh ketergangguan siswa karena kursi? Menurut Menkher cukup signifikan. Karena dalam sehari hampir tiga per empat bagian dari total waktu belajar dihabiskan siswa dengan duduk. Dapat dibayangkan kalau kursi-kursi yang tidak nyaman itu telah membikin pegal tulang pinggang dan punggung.

Menkher meyakini hampir semua kursi di ruang-ruang sekolah didesain dengan seragam. Artinya pola one size for all telah mengabaikan kenyataan bahwa tiap siswa memerlukan tempat duduk yang berbeda dengan siswa lain. Lagi pula selama ini institusi pendidikan tidak pernah memikirkan bahwa dari waktu ke waktu postur tubuh siswa akan berkembang. Dari kecil ke besar. Sementara kursinya seragam. Akibatnya tidak pernah ada persesuaian antara pertumbuhan tubuh siswa dengan kursi yang dia duduki untuk bersekolah.

Menkher memberikan masukan berharga untuk pengambil keputusan di sektor pendidikan bahwa perbaikan kursi siswa akan memberikan kontribusi kepada perbaikan cara belajar. Ia juga menghubungkan dengan dunia kerja, bahwa di tempat kerja sebaiknya kursi dibuat senyaman mungkin untuk mengurangi ancaman nyeri otot dan meningkatkan produktivitas.
“Maka sudah saatnya pemerintah memberikan perhatian pada upaya redesain kursi siswa. Di luar negeri terutama di negara-negara maju hal ini sudah dilakukan sepanjang tahun. Saat inilah waktunya kita memperbaiki keadaan,” ujar suami dokter Rima Kamardi Thalut ini.

Maka iapun memberi tawaran pendekatan Antropometri atau cabang ilmu yang berkaitan dengan ukuran tubuh manusia untuk meredesain kursi dan meja belajar siswa di Indonesia. Antara lain yang jadi patokan dalam desain ulang kursi meja siswa adalah tinggi siku duduk, tinggi bahu duduk, panjang lengan atas, tinggi lutut, tinggi popilitea (bagian bawah lutut) Kemudia juga petut menjadi perhatian adalah tinggi tempat duduk, kedalaman alas duduk, tinggi meja dan tinggi ruang meja.

Kenyamanan duduk adalah hal mutlak yang diperlukan siswa dalam menerima pelajaran dari para guru. Menkher mengatakan bahwa dari sejumlah penelitian para ahli diperoleh kenyataan bahwa paling lama para siswa merasa nyaman di kursinya hanya 20 sampai 30 menit saja. Selanjutnya adalah ketidaknyamanan. Maka di situlah kuncinya kenapa ia menawarkan redesain kursi belajar. Perlu dibuat sebuah kursi yang ergonomis yang memberi rasa nyaman sepanjang waktu belajar.

Nah pemerintah sudah siap untuk tidak lagi menerapkan pola one size for all?

Dari Ayah yang Hebat

Like father like son! Begitu orang bijak menamsilkan hubungan anak dan ayahnya. Menkher Manjas, rupanya tidak menuai prestasi begitu saja. Ayahnya H. Manjas Dt.Basa Balimo adalah seorang yang hebat. Maka sang menantu dr. Rima Kamardi memberikan ungkapan yang lebih lengkap tentang suaminya: “Ia lahir dari ayah yang hebat”

H. Manjas lelaki kelahiran Koto Tangah Kamang 1925 ini memang patut diacungi jempol. Enam anaknya, semua ‘jadi orang’. Tiga orang diantara adalah doktor (seorang lagi dalam waktu dekat akan jadi doktor kimia pula di Universitas Indonesia dan yang satu adalah doktor Amiar Manjas –ahli bedah) Seorang jadi perawat di RS Riyadh Arab Saudi, seorang lagi menjadi peneliti di Balai Penelitian Pertanian, yang seorang jadi guru SMA di Padang Panjang.

Bagaimana H. Manjas menyiapkan sukses untuk anak-anaknya? Menurut pria yang pernah jadi anggota DPRD Agam dari PPP selama 1972-1992, kuncinya terletak pada pembinaan sejak dini.

Ia menekankan pada anak-anaknya bahwa pendidikan itu amatlah penting dan jangan pernah berhenti belajar dan belajar. Sehingga mantan guru SR di Bukittinggi ini (Prof. Marlis Rahman adalah salah seorang muridnya) ini senantiasa mengatakan bahwa dengan pendidikan semua pintu akan terbuka. Ketidakterdidikan akan membuat dunia jadi sempit.

Begitu ia berhenti jadi guru penghujung tahun 1950an (karena PRRI) H.Manjas bekerja keras bertani. Dengan hasil pertanian itulah ia menghidupan Menkher dan adik-adiknya. Dengan hasil pertanian pula Manjas menyisihkan uang untuk melanjutkan sekolah anak-anaknya. “Saya mau hasil jerih payah bertani itu benar-benar diberkati Allah untuk anak-anak saya,” ujar Manjas. Maka ketika ia menjadi anggota DPRD Agam, tak sepeser uang dari honor DPRD itu yang dia gunakan untuk pendidikan anak-anaknya. Untuk sekolah tetap dari sawah!

Dapat dibayangkan betapa amat sulit bagi Manjas membiayai anak-anaknya kuliah. Tapi sebagaimana tekadnya semula, anak-anaknya harus ‘jadi orang’. Maka sejak dini ia mengajari anak-anaknya mengenal bagaimana sulitnya mencari uang. Anak-anak diikutkan dalam sejumlah kegiatan di sawah. “Setelah jadi dokter pun Menkher itu masih memikul padi dari sawah ke rumah. Orang kampung menyalahkan saya. Tapi saya tetap membiarkan, karena itu maunya Menkher,” ujar Manjas mengenang masa-masa remaja Menkher.

Manjas ikut memberi inspirasi kepada Menkher tentang hasil penelitiannya perihal desain kursi belajar itu. “Saya lihat anak-anak belajar di rumah tiap sebentar berganti tempat duduk. Sepertinya ada yang tidak nyaman. Saya sampaikan kepada Menkher hal itu,” katanya.

Kini setelah sukses diraih anak-anaknya, H.Manjas merasa lega. Jerih payahnya bertahun-tahun di zaman susah sudah terobati. Ia hanya punya harapan agar ke 13 orang cucunya juga dididik sebagaimana ia membesarkan Menkher dan saudara-saudaranya. Dan lebih dari itu, tentu saja para cucu itu hendaknya mencapai prestasi jauh di atas ayah ibu mereka pula. Insya Allah.

Sumber : Padang Today

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: