Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Mei 4, 2009

BAGAIMANA BERSIKAP TERHADAP ANAK ?

BAGAIMANA BERSIKAP TERHADAP ANAK ?
(Membantu Anak Tumbuh Menjadi Dewasa)
PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Oleh : Muh. Jamaludin Ahmad, Psi.
(Psikolog Polda Metro Jaya )

A. Pengantar

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan sikap, prilaku dan kepribadian yang sangat beragam. Ada pribadi yang sangat disiplin namun ada yang selalu menyukai jam karet, ada yang asertif namun ada juga yang non-asertif, ada yang sabar namun ada juga yang pemarah dan mudah tersinggung, ada yang sangat peduli pada orang lain namun ada juga yang egois dan sangat individualistik. Dalam bahasa yang sederhana kita sering mendengar gambaran dengan sebutan: cewek matre, lelaki buaya, tua-tua keladi, si tukang tipu, si baik hati, si tukang bakarlota, provokator, dsb.

Dalam lingkup yang lebih luas kita juga sering mendengar pemberian citra diri terhadap orang dengan latar belakang negara dan bangsanya. Misalnya kita sering mendengar julukan orang seperti: orang Israel yang licik, orang barat yang sangat menghargai waktu, orang Amerika yang sangat bangga dengan negaranya dan sering bersikap dengan standar ganda, orang Jepang yang ksatria dan gila kerja, orang Cina yang ulet dan tajam naluri bisnisnya. Bagaimana dengan kita umat Islam yang sekaligus manusia Indonesia?. Sudahkah kita mampu menampilkan diri kita sebagai muslim sekaligus sebagai manusia Indonesia yang “bermartabat” dan sebagai “khoiru-ummah” ?.

Menjadi masyarakat dan bangsa serta menjadi ummat yang berkualitas membutuhkan proses yang panjang. Psikologi meyakini bahwa sikap dan pola pengasuhan yang benar sejak dini dari orang tua dalam membantu proses tumbuh kembang anak-anak mereka, memiliki fungsi yang sangat strategis bagi masa dewasa dan masa depan mereka.

B. Tugas-tugas Perkembangan Anak

Menurut psikologi perkembangan, setiap individu sejak kelahirannya sampai memasuki masa tua selalu disertai dengan tugas-tugas perkembangan. Keberhasilan setiap individu dalam melaksanakan tugas-tugas perkembangan akan melahirkan individu yang memiliki kepribadian yang sehat dan dewasa. Namun apabila tugas-tugas perkembangan tersebut gagal dilaksanakan/ dipenuhi maka akan lahir individu-individu yang memiliki gangguan kepribadian bahkan gagguan jiwa. Akan lebih bijaksana bila orang tua mengetahui tugas-tugas perkembangan anak-anak mereka, sehingga orang tua dapat membantu dan memberikan sikap yang benar terhadap anak-anak mereka menuju individu/pribadi yang sehat dan dewasa.

1. Tugas perkembangan fase bayi dan kanak-kanak

Secara kronologis (menurut urutan waktu), masa bayi (infancy atau babyhood) berlangsung sejak individu manusia dilahirkan dari rahim ibunya sampai berusia sekitar setahun. Sedangkan masa kanak-kanak (early childhood) adalah masa perkembangan berikutnya yakni usia setahun hingga usia antara lima atau enam tahun. Perkembangan biologis pada masa-masa ini berjalan pesat, tetapi secara sosiologis ia masih sangat terikat oleh lingkungan keluarganya. Oleh karena itu, fungsionalisasi lingkungan kelauarga pada fase ini penting sekali untuk mempersiapkan anak terjun ke dalam lingkungan yang lebih luas terutama lingkungan sekolah.

Tugas-tugas perkembangan pada fase ini meliputi kegiatan-kegiatan belajar sebagai berikut :

  1. Belajar memakan makanan keras,
    Misalnya mulai dengan bubur susu, bubur beras, nasi dan seterusnya.
  2. Belajar berdiri dan berjalan,
    Misalnya mulai dengan berpegang pada tembok atau sandaran kursi.
  3. Belajar berbicara,
    Misalnya mulai menyebut kata ibu, ayah dan nama-nama benda sederhana yang ada disekelilingnya.
  4. Belajar mengendalikan pengeluaran benda-benda buangan dari tubuhnya, Misalnya mulai dengan meludah, membuang ingus dan seterusnya.
  5. Belajar membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan, dan bersopan santun seksual.
  6. Mencapai kematangan untuk belajar membaca dalam arti mulai siap mengenal huruf, suku kata dan kata-kata tertulis,
  7. Belajar mengadakan hubungan emosional selain dengan ibunya, dengan ayah, saudara kandung, dan orang-orang disekelilingnya.
    h. Belajar membedakan antara hal-hal yang baik dengan yang buruk, juga antara hal-hal yang benar dan salah, serta mengembangkan atau membentuk kata hati (hati nurani).

2. Tugas perkembangan fase anak-anak

Masa anak-anak (late childhood) berlangsung antara usia 6 sampai 12 tahun dengan ciri-ciri utama sebagai berikut :

  • Memiliki dorongan untuk keluar dari rumah dan memasuki kelompok sebaya (peer group)
  • Keadaan fisik yang memungkinkan/mendorong anak memasuki dunia permainan dan pekerjaan yang membutuhkan ketrampilan jasmani
  • Memiliki dorongan mental untuk memasuki dunia konsep, logika, simbol dan komunikasi yang luas.

Adapun tugas-tugas perkembangan pada masa perkembangan kedua ini meliputi kegiatan belajar dan mengembangkan hal-hal sebagai berikut :

  1. Belajar ketrampilan fisik yang diperlukan untuk bermain, Seperti lompat jauh, lompat tinggi, mengejar, menghindari kejaran dan seterusnya.
  2. Membina sikap yang sehat (positif) terhadap dirinya sendiri sebagai seorang individu yang sedang berkembang, Seperti kesadaran tentang harga diri (self-esteem) dan kemampuan diri (self efficacy).
  3. Belajar bergaul dengan teman-teman sebaya sesuai dengan etika moral yang berlaku di masyarakatnya.
  4. Belajar memainkan peran sebagai seorang pria (jika ia seorang pria) dan sebagai seorang wanita (jika ia seorang wanita).
  5. Mengembangkan dasar-dasar ketrampilan membaca, menulis dan berhitung (matematika atau aritmetika).
  6. Mengembangkan konsep-konsep yang diperlukan kehidupan sehari-hari.
  7. Mengembangkan kata hati, moral dan skala nilai yang selaras dengan keyakinan dan kebudayaan yang berlaku dimasyarakatnya.
  8. Mengembangkan sikap objektif/lugas baik positif maupun negatif terhadap kelompok dan lembaga kemasyarakatan.
  9. Belajar mencapai kemerdekaan atau kebebasan pribadi sehingga menjadi dirinya sendiri yang independen (mandiri) dan bertanggung jawab.

C. Bagaimana Orang Tua Bersikap ?

Meskipun setiap anak memiliki tugas-tugas perkembangan yang sama, bukan berarti apabila tugas-tugas perkembangan dapat terlaksana maka pada masa remaja dan dewasanya mereka akan menjadi individu yang memiliki kecenderungan dan kepribadian yang sama. Setiap individu memiliki “kekhasan dan keunikan sendiri” atau selalu ada “individual deferences” yaitu perbedaan-perbedaan individual yang khas pada masing-masing pribadi. Oleh karena itu sebagai orang tua tidak tepat bila bersikap dan memperlakukan anak-anaknya “sama rasa dan sama kata” orang tua wajib bersikap “adil” terhadap anak-anaknya sesuai dengan kecenderungan kepribadiannya, usianya, minat-minatnya, kebutuhannya dll. Hal ini bukan berarti semuanya harus berbeda.
Ada beberapa sikap dan bentuk bantuan yang dapat diberikan orang tua terhadap anak-anak mereka antara lain :

1. Kedekatan emosi

Kedekatan emosi antara orang tua dengan anak dapat dimulai dengan membangun kedekatan secara fisik. Anak yang sejak lahir, bibir dan wajahnya sering menyentuh payudara dan dada ibunya, akan memiliki kedekatan dan kualitas emosi yang berbeda dengan anak yang jarang atau bahkan tidak pernah menerima hal yang sama. Disinilah pentingnya ajaran Allah yang memerintah para ibu muslimah untuk menyusui anaknya dengan ASI (air susu ibu) minimal ( 2 tahun. Anak yang sering shalat dan makan bersama orang tuanya akan memiliki kualitas emosi yang berbeda dengan anak yang tidak pernah/jarang shalat dan makan bersama orang tuanya. Anak yang sering menerima belaian dan dekapan dari orang tuanya, akan berbeda emosinya dengan anak yang tidak menerima hal tersebut.

2. Komunikasi yang sehat

Komunikasi yang sehat akan terlaksana dengan sendirinya apabila antara orang tua dan anak ada kedekatan emosi atau kehangatan hubungan. Anak-anak dengan sendirinya akan menjadi pribadi yang dengan senang hati bercerita dan menumpahkan perasaan sedih dan bahagia, keberhasilan dan kegagalannya, serta problem yang dihadapi kepada orang tuanya. Anak-anak tidak akan lari ketempat-tempat komunikasi dan sumber informasi yang salah dan menyesatkan. Untuk mewujudkan komunikasi yang sehat orang tua harus terlebih dulu menjadi “pendengar yang baik” sebelum memberikan tanggapan agar nantinya dapat menjadi “pembicara yang baik”.

3. Menjadi pribadi yang “sehat dan bahagia”

Kalau orang tua ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sehat bahagia “qurrota a’yun”, maka orang tua harus menjadi pribadi yang sehat dan bahagia. Orang tua yang pemurung cenderung akan membentuk anaknya menjadi pemurung. Orang tua yang pemarah akan menghasilkan anak-anak yang pemarah. Anak-anak yang sehat (akhlaq/jiwanya) dan bahagia akan lahir dari orang tua yang sehat dan bahagia.

4. Mengembangkan simpati dan rasa percaya diri

Ada seorang bapak berkata pada anaknya, “Ti, kamu matematikanya kok goblok amat sih…, sepupumu Ina bisa dapat sembilan, masa… kamu hanya dapat lima !. Atas dasar apakah kita membandingkan kemampuan dan kekurangan seorang anak dengan anak lainnya. Bagaimana kalau anak kita menjawab, “loh bapak sendiri juga goblok. Sudah berumur lima puluh tahun masih menjadi karyawan biasa…. itu Pak Amin Rais yang lebih muda dari bapak sudah menjadi ketua MPR”. Kalau maksud membandingkan itu untuk memacu anak, mengapa tidak membandingkan dengan dirinya sendiri. Misalnya, “kamu cawu kemarin dapat angka enam untuk matematikamu, cawu ini nilaimu kok lima ?”.

Kita sebaiknya mempersilahkan anak untuk belajar mengevaluasi dirimya sendiri dan bukan mempermalukan dia dengan hal lain yang tidak mampu ia jelaskan “mengapanya”. Tidakkah kita sedang melecehkan anak?, orang tua kadang hanya mau tahu hasil akhirnya tapi kurang melihat prosesnya (anak telah berusaha mati-matian untuk memperoleh nilai yang baik). Orang tua kadang terjebak pada “maksud saya kan baik” akan tetapi mengabaikan cara yang baik dan tepat untuk menyampaikan maksud baik tersebut.

5. Membina rasa tanggung jawab

Anak yang dibiarkan besar dalam ego masa bayinya akan mengembangkan tabiat yang lebih mementingkan diri sendiri. Sedangkan upaya pembinaan diri sangat berkaitan dengan waktu. Seorang anak haruslah diajari menghargai waktu, dapat dipercaya dan bertanggung jawab. Kelak anak itu akan membentuk dunianya sendiri. Sebelum mereka melangkah ke dunia utuh sebagai warga masyarakat yang bertanggung jawab, mereka harus dididik dalam keluarga sebagai anak yang baik dan bertanggung jawab. Di rumah, mereka hendaknya memiliki tanggung jawab yang berguna bagi dirinya dan bagi orang lain. Disitulah anak dibina untuk menghadapi masa depannya kelak.

Kemampuan membangun diri sendiri adalah modal utama bagi pembinaan masa depan yang lebih baik. Anak-anak yang mampu mengerjakan tanggung jawab sekecil apapun dalam keluarganya kelak akan bertanggung jawab didalam keluarga yang akan dibinanya. Tanggung jawab ini mengajarkan mereka berkenalan dengan tenggang rasa.

6. Membina spiritualitas dan religiusitas

Keluarga yang mengajarkan bahwa materi adalah segala-galanya cenderung melahirkan generasi yang materialistik dan kurang manusiawi. Anak-anak yang dibesarkan di dalam keluarga yang hanya mengejar materi akan membuat pikiran anak tersebut bertumpu pada uang dan kekayaan. Keluarga seperti ini akan menimbulkan kesulitan bagi masyarakat sekitarnya. Mereka akan menganggap masyarakat sebagai obyek untuk memuaskan keinginan mereka. Mereka menilai segala sesuatu dari sudut untung rugi secara materi, padahal kehidupan ini akan bergantung pada kekayaan saja.

Nilai-nilai rohani yang tinggi perlu dikembangkan. Nilai religius akan mengajari mereka untuk mengendalikan diri dan nafsunya sehingga membawa kebahagiaan untuk hidup ini. Masyarakat yang memperhatikan kebutuhan rohani lebih tangguh menghadapi kesulitan hidup daripada masyarakat yang menggantungkan diri pada materi saja. Anak-anak yang masih peka dalam kehidupan ini sebaiknya diarahkan pada keseimbangan nilai materi dan rohani. Kehidupan manusia bukan tergantung pada kehidupan jasmani saja. Manusia dalam hidupnya harus mencapai kebahagian dunia dan akhirat.

7. Menjadi orang tua sekaligus sahabat

Kalau kita ingin menyederhanakan puluhan bahkan ratusan cara orang tua bersikap terhadap anak, maka ratusan cara itu dapat disederhanakan dalam suatu cara “menjadi orang tua sekaligus sahabat bagi anak”.

D. Penutup

Kemajuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata bukan jaminan bagi terciptanya keluarga sejahtera dan memudahkan seorang anak untuk menjadi dewasa. Alat komunikasi yang canggih bukan jaminan terwujudnya pola komunikasi yang sehat dalam keluarga. Dalam jaman yang serba maju saat ini, ternyata banyak suami yang kehilangan istrinya, istri yang kehilangan suaminya meskipun mereka selalu tidur dalam satu ranjang. Banyak orang tua yang kehilangan anaknya dan anak yang kehilangan orang tuanya meskipun mereka berada dalam satu rumah. Mereka bukan kehilangan anggota keluarganya karena pergi dari rumah dan tidak pernah kembali, aka tetapi diantara mereka kehilangan kepribadian pasangan hidup dan anggota keluarganya. Apa yangt terjadi bila seorang anak melihat orang tuanya telah berubah menjadi orang lain yang tidak dapat dikenali dan dipahami lagi. Demikian juga sebaliknya dalam era globalisasi ini kepribadian seseorang yang tidak dewasa akan sangat mudah terpengaruh dan cepat berubah kearah negatif bila tidak dilandasi dengan agama yang benar dan suasana keluarga yang sehat.

Suatu puisi yang indah dan penuh makna ditulis oleh Dorothy law Nolte :

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan denagn permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai
Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baik perlakuan, ia belajar keadilan
Jika anak dibesarkan dengan rasa aman, ia belajar menaruh kepercayaan
Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menyenangi diri
Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

Sungguh indah dan tepat nasihat puitis Khalil Gibran ketika menasihati seorang ibu, antara lain :

Anakmu bukan anakmu
mereka putra Sang Hidup yang rindu dirinya
Lewat engkau mereka lahir,
tetapi bukan dari engkau
Mereka ada padamu,
tetapi bukan milikmu
Beri mereka kasih sayang,
tetapi jangan suapi pikirannya
Kau boleh menyerupai mereka,
tetapi jangan paksa mereka menyerupaimu

Sumber : biropersonel.metro.polri.web.id

Iklan

Responses

  1. Informasi seperti ini sangat besar manfaat dan artinya bagi orang tua, dalam usaha mendidik dan membina anak-anak kesayangan mereka.

    Salut ..terus tampilkan artikel ini

    Salam,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: