Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juni 5, 2009

Mau Dibawa ke Mana Anak Kita?

Mau Dibawa ke Mana Anak Kita?

Oleh: dr Sugiharto MARS
(Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya)

DUKA mendalam menyelimuti dunia pendidikan kita atas matinya hati nurani (sebagian) pendidik dan (sebagian) anak didik kita yang baru saja menempuh ujian nasional (unas). Patutlah ditorehkan dalam sejarah kita tentang bobroknya suatu generasi bangsa di tahun ajaran 2008/2009, terutama di 33 SMA dari 8 provinsi di negeri tercinta ini (dan masih mungkin bertambah lagi (Jawa Pos 2/6/09). Sangat menyedihkan, memprihatinkan, dan menyakitkan.

Sejatinya, esensi unas adalah standardisasi (nasional) kelulusan di negeri ini. Bahwa banyak kepentingan dan hal-hal lain melekat padanya, itu merupakan perkara berbeda. Justru sangat disayangkan, segala kepentingan tersebut dibawa bukan untuk mencapai kata kunci unas itu: standardisasi (nasional). Melainkan hanya ke kelulusan.

Terlepas dari unas itu untuk kepentingan siapa, hati ini menjadi miris karena telah terjadi banyak pelanggaran dalam pelaksanaannya, termasuk sampai detik-detik terakhir. Padahal, sudah dilakukan begitu banyak persiapan positif dari berbagai pihak (termasuk anak didik) yang menghabiskan waktu, tenaga, serta biaya yang tak sedikit. Seolah-olah, semua pengorbanan tersebut menjadi sia-sia, kecuali untuk mencoreng sejarah pendidikan di tanah air.

Mengenaskan. Bagaimana tidak. Aspek pendidikan, hal mendasar yang sangat diagung-agungkan dalam pembentukan karakteristik suatu generasi bangsa, telah tercoreng oleh adanya suatu gerakan masal yang sistematis yang melibatkan anak didik negeri ini untuk ”mematikan” nurani dan kemampuan intelektualnya. Pendidikan moral (melalui sekolah dan agama) menguap begitu saja, seakan-akan tak pernah ada dalam kepribadian mereka. Luar biasa bahaya laten ini!

Saya begitu ngeri membayangkan dampak masa depan bagi generasi seperti yang satu ini. Di mana mereka terlibat dalam permufakatan sistematis (baik dengan atau tanpa paksaan, disadari maupun tak disadari) untuk menghalalkan segala cara demi kelulusan unas. Seperti itukah nilai-nilai dasar yang kita tanamkan bagi mereka?

Kalau terus begitu, mau dibawa ke mana anak didik kita ini? Ingat, mereka adalah bagian dari masa depan bangsa ini yang ingin kita kenang sebagai bangsa yang maju dan berbudaya luhur berdasar Pancasila. Bukan sebagai penipu, koruptor, ataupun citra negatif lainnya. Apa kata dunia?

Melakukan Pembenahan

Belajar dari kasus ini, pemerintah harus mengambil langkah tegas. Tanpa terkecuali, pihak mana pun yang terlibat dalam segala proses ini harus diberi sanksi yang sepadan. Kemudian, saatnya membenahi implementasi sistem pendidikan kita, mulai hulu hingga hilir.
Bahkan, bila perlu sekalian mengevaluasi kembali sistem itu, merujuk pada siklus PDCA (plan, do, check, action) serta langkah-langkah POAC (planning, organizing, actuating, controlling). Perlu digalakkan kembali controlling yang dulu sempat dikenal dalam bentuk pengawasan melekat. Jangan ”asal bapak senang”. Kita sudah jauh meninggalkan pola-pola itu.

Pembenahan yang bisa dilakukan adalah internal dan eksternal. Mulai tahap masukan (input), proses, hingga akhirnya keluaran (output). Secara internal harus mendapatkan perhatian ekstra, yakni anak didik, pendidik, serta institusi pendidikan.

Aspek lain dalam pembenahan internal bagi anak didik dan pendidik adalah pemberdayaan (empowering). Dengan demikian, mereka menjadi percaya diri dalam proses pendidikan tersebut, sehingga tak diperlukan lagi bentuk-bentuk kecurangan dalam proses itu karena mereka memang benar-benar percaya diri mampu melakukan semua itu.

Semangat yang dibawa dalam pembenahan tersebut adalah perbaikan menuju kompetisi sehat dengan masyarakat dunia. Berangkat dari situ, kita tak bisa menoleransi upaya-upaya mengerdilkan potensi anak-anak didik kita.

Kita sudah bisa membuktikan, cukup banyak anak didik kita mampu bersaing dengan mengukir prestasi pendidikan di arena tingkat internasional. Bukan segelintir lagi. Dunia pun mulai memperhitungkan dan menaruh hormat akan outcome sistem pendidikan negeri ini. Jangan kita nodai itu.

Tindakan tak Tepat

Yang lebih menyakitkan hati dalam kasus ini adalah solusi yang sedang dipersiapkan: unas ulang. Terbentang di depan mata betapa besar dan banyaknya pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya lagi untuk ”generasi yang terlibat pencatatan sejarah buruk” ini. Lalu, bagaimana dengan mereka di bagian lain negeri ini yang memang tak lulus karena ”tidak ikut pencatatan sejarah tersebut?” Mereka juga punya hak yang sama untuk mengikuti ujian ulang!

Lepas dari klausul kecurangan (sistematis dan masal), seharusnya kebijakan yang diambil untuk kasus seperti ini adalah mengikuti apa yang telah digariskan dalam sistem pendidikan kita. Yakni, mempersilakan mereka yang tidak lulus itu -apa pun penyebabnya-mengikuti ujian persamaan. Demikian pula, institusi/sekolah yang terlibat harus mendapatkan sanksi. Tak ada kompromi.

Hal ini menjadi sangat penting karena generasi penerus bangsa ini harus menerapkan yang telah kita ajarkan bersama, hukum ”reward and punishment”. Bukan hukum ”menghalalkan segala cara” untuk mencapai suatu tujuan. Kelak, generasi bangsa ini akan semakin dapat menghargai bahwa setiap tindakan pasti memiliki konsekuensi: tindakan baik membawa konsekuensi positif dan sebaliknya.

Sikap mental positif seperti itulah yang akan membentuk karakter setiap anak didik kita. Karakter itu pun, menurut para pakar, merupakan intisari kepemimpinan. Bila sejak sekarang anak didik kita tahu konsekuensi suatu tindakan, kita bisa banyak berharap kelak mereka bisa memimpin bangsa ini dengan lebih cerdas, sehingga dunia pun bisa melihat keunggulan bangsa kita dengan penuh hormat.

Sumber : Padang Today

Iklan

Responses

  1. Kalau mau membuat standar nasional, kurikulumnya dibenahi dulu dong. jangan KTSP = kurikulum TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN. paling tidak namanya di ganti, misalnya KURIKULUM NASIONAL.

  2. -memang memprihatinkan pak.
    -salah satu dampak dari penggunaan teknologi yang salah dan tidak bertanggung jawab.
    -itulah akibatnya jika kita mendewa-dewakan yang nama ijazah.
    -uan ulang memang diperlukan pak,sekaligus sebagai peringatan bagi anak2 yang melanggar dan yang lain agar tak menghalalkan segala cara untuk lulus uan.
    -salam pak.

  3. saya suka degn opinix


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: