Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juni 12, 2009

Redian Kandidat Lulusan Terbaik UTM

Redian Kandidat Lulusan Terbaik UTM

Kemampuan mahasiswa Sumbar bersaing dengan mahasiswa asing masih bisa diadu. Setidaknya dibuktikan Redian Fikri Guspardi, mahasiswa Fakultas Ilmu Kompunter dan Sistem Komputer Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Selain mampu tamat hanya 2 tahun 9 bulan dengan prediket cumlaude, putra politikus Sumbar Guspardi Gaus ini sekarang juga diusulkan jadi lulusan terbaik UTM 2009.

Kepastian jadi atau tidaknya Redian menjadi lulusan terbaik UTM 2009, akan diumumkan dalam acara wisuda UTM, 16-19 Agustus, di Johor Baru Malaysia. Saat ini Redian sedang menunggu prosesi wisuda setelah skripsinya yang berjudul ”Chat Over Bluetooth for Disable People Using Mobile Phone” berhasil dipertahankannya dalam ujian skripsi tanggal 9 April lalu dengan nilai A plus.

Dalam skripsi tersebut, Redian berhasil membuat program dengan menggunakan bahasa pemograman Java 2 Micro Edition. Melalui program ini, ia membantu tuna rungu (bisu) dalam berkomunikasi dengan orang normal atau sebaliknya. Kalau sekarang pembicaraan sangat tergantung kepada penterjemah, menggunakan program Redian tak lagi. Keduanya bisa saling berkomunikasi tanpa melibatkan pihak ketiga.

“Mereka cukup menggunakan handphone yang memiliki fasilitas bluetooth, setelah itu ditambahkan program yang sudah dirancang tadi. Habis itu, ikuti perintah yang tersedia dalam program. Di mana terdapat lima pilihan, chat, setting, information dan logout. Klau berkomunikasi pilih chat. Setelah disetting, kalau orang normal menekan huruf A di keyboard, di layar komputer akan langsung berubah jadi bahasa isyarat. Begitu juga dengan tuna rungu,” kata lulusan dengan IPK 3,68 ini.

Redian berani mengklaim program yang ia rancang ini, satu-satunya dibuat. Saat ini sudah memperoleh hak cipta melalui UTM. Ia berkeyakinan, jika program ini dikembangkan secara massal, bisa membantu tuna rungu berkomunikasi dan tak lagi tergantung dengan penterjemah. Keberhasilan pembuatan program ini, tak terlepas juga dari dukungan dosen pembimbingnya, Dr Kamalrulnizam bin Abu Bakar.
Guspardi Gaus mengaku sejak awal tak terlalu membebani anaknya.

“Tapi sebelum masuk UTM, saya menyarankan Radian masuk Fakultas Ilmu Komputer dan Sistem Informasi. Sebab, banyak terpakai di dunia kerja. Alhamdulillah, sekarang mulai memperlihatkan hasil,” kata suami Nurhusni ini. [Padang Today]

Iklan

Responses

  1. Syukur, alhamdulillahi rabbil alamin.

    Pembaca yang budiman.
    Ada yang terpikir bagi saya selama ini, yaitu apakah benar Universitas di negara jiran itu lebih baik dari universitas yang berada di Sumatera Barat seperti UNP dan Unand ?, kalau benar kanapa masih banyak mahasiswa negara jiran itu belajar di negeri kita ini seperti di Unand ?

    Kalau saya menilai berita diatas hanya adalah suatu trik promosi “parawisata pendidikan negara jiran” karena beberapa tahun yang lalu juga diberitakan bahwa ada salah seorang dosen Unand yang study disana mendapat predikat terbaik di UKM.

    Nampaknya negara jiran itu sangat jeli dengan memanfaatkan kecenderungan atau penyakit bangsa kita yang “tidak percaya diri” dan “merasa rendah diri” (inferior complex) serta merasa “wah dan serba luar negeri” dan terlalu “percaya semua produk luar negeri itu terbaik”.

    Nah mereka memanfaatkan ini, untuk menggaet devisa. Dan sebaliknya kita masih berfikir mempromosikan “parawisata trdisioanal” yaitu menjual “keindahan alam”, “kereta api kuno”, padahal itu tidak laku lagi, sebagai contoh saja Singapura, apakah di Singapura itu ada keindahan alam ?, ada kereta api kuno ?, nah, kenapa orang ramai-ramai datang kesana ?,

    Dalam forum ini saya menghimbau dan menyarankan kepada Pemprov/Pemda serta perguruan tinggi untuk mengkaji ulang kembali, promosi kepariwisataan kita, yaitu bagaimana menjadikan Padang (Sumatera Barat) menjadi daerah kunjungan “parawisata pendidikan” seperti doeloenya. Jadikan pula mahasiswa mereka yang sedang belajar di negeri kita ini menjadi terbaik, kemudian lakukan pula pemberitaan di pers mereka bahwa ada beberapa orang mahasiswa Malaysia yang belajar di Unand mendapat predikat terbaik atau menang lomba penulisan/penelitian ilmiah, dll sebagainya.

    Secara sederhana saja, coba bandingkan mana yang lebih banyak menghasilkan devisa :

    “Orang yang datang ke Sumatera Barat berpariwisata hanya melihat keindahan alam, yaa, mereka nginap di hotel 3 hari atau palinglama 2 minggu”

    dengan : “Orang datang belajar di Padang (Sumatera Barat) dan pasti akan tinggal (ngontak/kost) serta berbelanja di negeri kita ini untuk pendidikan paling kurang 3 tahun untuk D3 dan 4 tahun S1”, ???

    Wassalam,
    Zulfikri

    • Ass. Wr. Br….
      Ya, saya sangat setuju sekali dengan apa yang disampaikan Bapak Zulfikri di atas. Hanya saja, perlu saya koreksi disini, kenapa banyak generasi muda kita lebih memilih sekolah di luar negeri, termasuk ke negara jiran Malaysia yang dulunya banyak mahasiswa negara tetangga itu justru kuliah di Padang (UNP, Unand dan IAIN Imam Bonjol)
      Saya rasa, alasan pelajar kita memilih kuliah di luar negeri antara lain, mulai dikomersilkannya pendidikan di negara kita, mulai dari tingkat SLTP, SLTA sampai perguruan tinggi.
      Untuk tingkat SMP Negeri saja misalnya, sekolah-sekolah favorit dijadikan sekolah berstandar internasional (SBI) dengan biaya tinggi. Di Padang saja, untuk SMP dengan status SBI, dana pembangunan bagi siswa baru paling rendah Rp2,5 juta, belum uang bulanan Rp250 ribu/bulan. Begitu juga dengan SMA Negeri berstatus SBI itu. Sehingga tidak salah jika SBI diplesetkan dengan “sekolah berbiaya internasional”. Lalu bagaimana mungkin siswa yang cerdas namun terlahir dari keluarga sederhana bisa bersekolah disana?
      Alhasil, jadilah sekolah favorit tersebut hanya untuk siswa dari keluarga “the have” saja, meski NEM mereka hanya pas-pasan saja. Soalnya, seleksi bagi siswa di SMP atau SMA dengan status SBI, dilakukan sebelum penerimaan siswa baru (PSB) Online dilaksanakan. Dan pihak sekolah terlihat seperti memanfaatkan kondisi tersebut, apalagi dilegalkan oleh Mendikbud sendiri, dengan menerima sebanyak-banyaknya siswa sebelum PSB Online dilaksanakan. Hasilnya, seperti diketahui, SMA Negeri 1 Padang hanya menerima siswa melalui PSB hanya satu kelas saja, dan SMA Negeri 10 Padang menerima 2 kelas saja. Luar biasa memang!
      Kondisi seperti yang terjadi di tingkat SMP dan SMA itu, juga dilaksanakan di perguruan tinggi negeri. Orang tua mahasiswa, sampai berkerut keningnya hanya untuk memikirkan biaya masuk kuliah anaknya yang mencapai puluhan juta rupiah melalui program mandiri. Hehehehehe….
      Bila kondisi ini terus dipertahankan, saya yakin pelajar kita akan semakin banyak yang “hengkang” dan memilih sekolah di Malaysia atau ke negara lain yang lebih profesional pelaksanaan proses belajar mengajarnya. Apalagi, di luar negeri cukup banyak program bea siswa yang ditawarkan bagi pelajar yang berprestasi.
      Apa yang saya sampaikan diatas, mungkin perlu kita kunyah-kunyah lagi untuk memajukan pendidikan di negara kita, agar tidak tertinggal jauh dari negara berkembang lainnya. Terima kasih.

      Wassalam,
      John Edward Rhony

  2. Kalau saya tidak salah, negara yang unggul di dunia dalam penguasaan atau kemampuan program komputer adalah India dan Indonesia, makanya.., jelas dan tentu saja Mahasiswa Indonesia bisa menjadi pridikat terbaik dalam bidang ini disana, haa. haaa…., ini bukan berita luar biasa. Ini adalah hanya berita menina bobokan mahasiswa Indonesia ???, sementara mereka dinegeri mereka menjadikan warga negara Indonesia tidak berharga.

    Nampaknya orang minang ini tidak PeDe lagi, masih mau ramai-ramai belajar kesana, padahal tidak ada yang baru disana, tidak ada ciptaan baru, mereka cuma bisa menciplak !.

    Ahh…, jangan ikut-ikutlah mempromosikan UTM yaaaa !!

    Pikir dua kali-lah mengirimkan anak sekolah kesana, mereka akan mendidik anak kita menjadi orang terpukul dan menjadi rendah diri, mauuuu ???

  3. areee…ngeneee, ngak tahu ya, sekarang di malaysia telah terjadi dengka-dengki dan gradasi moral, tidak berprikemanusian, sadis dan tidak tahu membalas budi, mulai dari keluarga raja sampai polis dan pereman sama sadisnya, heh heh heh.

    takut sih.., belajar disana, biarlah aden baraja komputer di UPI dan AMIK sen lah, aden bangga jo pendidikan minang.

    malaysia dari sekarang dan untuk kedepannya aku sarankan minta guru lah lagi sama indonesia, guru budipekerti atau akhlaq, agar berahklaqulkarimah, gitu lho saran aku

  4. Fakultas Tehnik UNP dan UBH juga berkualitas, sih.
    belon tahu ya, bahwa kedua universitas ini tidak kalah dalam disain dan program robot dan komputer.

    alaaah, enteng itu UTM, jangan promosilah.

  5. Jika seandainya anak kita Redian putra Pak Guspardi Gaus (politikus sumbar) itu kuliah di salah satu perguruan tinggi di Padang, dan “Chat Over Bluetooth for Disable People Using Mobile Phone” sebagai Proyek Akhir (Thesis)-nya, maka hal ini merupakan sumbangan terbesar untuk perguruan tinggi di Padang, karena hak ciptanya akan diperoleh atau dipegang oleh perguruan tinggi di Padang tsb, tapi apaboleh buat Redian selain telah menyumbangkan devisa kepada negara Malaysia, juga telah meberikan kontribusi yang tidak terhingga bagi negara malaysia.

    Yaa.., kalau ditinjau dari sudut kepedulian terhadap bangsa, apakah kita akan berbangga atau kecewa Pak Guspardi ?.

    Bagaimana menurut Bapak fenomena ini sebagai seorang politikus ?, dan menurut pendapat saya sebagai “politikus pandia” bahwa makin banyak orang belajar ke Malaysia, dan Singapura dengan sendirinya kita telah ikut menyumbang untuk memakmurkan negara jiran tsb !!!

    Cadiakkah awak atau pandia ????
    Atau dengan kata lain, apakah Redian boleh kita katakan sebagai pahlawan devisa dari Ranah Minang ???

    Wassalam,
    Mak Uwo (Politikus Pandia)

  6. ondeh Mak Uwo, nampaknyo Mak Uwo indak politikus pandia gai doh. Tapi labiah cadiak dan mempunyai kepadulian, sarato mampunyai moral kebangsaan. lai ko lah Mak Uwo duduk di DPRD ko kini atau lai mandapek kurisi ???

    antalah politikus, negarawan awak tun kini, iyo lai sabana akan mambangun bangsa awakko manjadi PeDe dan produktif ???

    ambo ko kini ndak picayo ka urang kayo nan bakuaso dan katigo capres/cawapres karano mereka manyimpan pitih jo dollar. padohal dengan mambali dan manyimpan dollar akibatnyo rupiah sabagai mato uang nagari awakko indak baharago laiiiii !!! infalalasiiiii, awak nan ngenekko dan indak ado dolar nan tasapik. Atau tukalah pitih awakko jo dollar baa!!, jan dicetak juo rupiah, iritkan ???, jadi sahari-hari awak balanjo jo dollar, mambali maco jo dollar mambali bawang jo dollar, baa gak ati !!!

  7. kejadian yang menimpa mahasiswa terbaik kita (dikhabarkan bunuh diri) di universitas terkenal di singapura baru-naru ini kalau saya tidak salah informasi adalah masalah “hak cipta” dari proyek akhir si mahasiswa, si dosen pembimbing ngotot hak ciptanya atas nama professor sang dosen pembimbingya, dengan kata lain si mahasiswa harus ganti judul (proyek akhir) dan proyek akhir yang telah hampir rampung itu ditukar sebagai hasil penemuan dan hak cipta sang professor, si mahasiswa tidak mau dan keberatan, maka si mahasiswa “dibunuh?” atau “bunuh diri?” saat ini dalam proses pengadilan di singapura.

  8. Maaf nambah komentarnya,

    Benar sekali, beasiswa yang diberikan kepada siswa terbaik kita untuk belajar di negara penyandang dana bukan tidak ada maksud lain, dan stahu saya tidak ada negara di dunia ini yang betu-betul menyumbang tanpa ada kontribusi bagi negaranya.

    Mahasiswa yang diberi bea siswa oleh singapura itu, selesai kuliah mahasiswa di haruskan bekerja pada perusahaan milik singapura baik perusahaannya yang ada di singapura maupun yang ada di indonesia.

    Semua proyek akhir (thesis dan hasil penelitian) adalah merupakan hak penuh milik singapura.

    Nah, bagi mahasiswa yang datang belajar ke singapura atas biaya sendiri, selain sebagai penyeumbang devisa utk negara yang bersangkutan, menurut saya adalah pengkhianat bangasa, mohon maaf kalau ucapan saya ini agak keterlaluan yaaa.

  9. Komentar ambo untuak Mak Uwo,

    Saya rasa dan menurut hemat saya, buat sementara Redian bolehlah kita banggakan sebagai “aduan” (maaf, kata aduan saya pinjam dari redaksi berita diatas), dia “menang dan jago” di tingkat UTM dan membawa harum nama Ranah Minang. Untuk kita ketahui bahwa sebenarnya sebagai “aduan” anak bangsa ini telah banyak mengukir sejarah di tingkat internasional, lihat saja lomba olimpiade fisika, kimia dllnya itu, selama ini hampir setiap tahun merajainya, nah, ajang aduan seperti inilah yang dimanfaatkan oleh negara lain sebagai seleksi bibit, dan kemudian mereka ambil dengan menawarkan beasiswa untuk datang belajar di negaranya.

    Yaah, disinilah tidak cermatnya pemerintah kita (termasuk politikus), kita hanya puas dan berbangga dengan piagam dan medali yang peroleh saja, dan cukup sampai disini saja, dan stop berhenti dan no action.

    Tidak ada pikiran lain baik dari pemerintah atau perguruan tinggi di negeri kita bagaimana menghargai dan menyikapinya agar anak bangsa yang mempunyai kemampuan ini tidak lari keluar, bagi siswa sang juara yang orang tuanya tidak mampu, wajar saja mereka menerima tawaran beasiswa ini. Sedangkan yang disekolahkan atas beasiswa negara kita indonesia ini saja di masa Pak Habibi menjadi Dirut IPTN dan Menristek, saat ini sudah kabur keluar negeri dan dimaanfaatkan oleh negara lain, padahal biaya kuliahnya dahulu itu ke Jerman dan Perancis adalah atas biaya negara kita. Dengan kata lain telah terjadi “brain drain” yang tidak dapat disumbat oleh penguasa atau pemimpin negara ini yang nota bene hanya berfikir untuk kepentingan pribadi dan kolompok tertentu saja

    Dan juga yang mengherankan kita entah berapa banyaknya dosen dan mahasiswa kita pergi kuliah ke luar negeri sekembalinya tidak dapat melakukan apa-apa untuk anak bangsa ini, ada penelitian dan riset seolah-olah tidak memberikan dampak apa-apa untuk kemajuan bangsa, tenggelam entah kemana hasil penelitian tsb ada apa ya ? Ooo.., apakah mereka sempat meneliti atau hanya mengajar saja, tidak tahulah kita..!.

    Terakhir harapan kita, dari mulai sekarang kita harapkanlah anak kita Redian yang telah berhasil tersebut, setelah kembali ke tanah air, tingkatkan penelitian dan berikan kontribusi untuk negeri ini, jangan habis kuliah habis pula kreatifitas, ya !!

    Seperti kata SBY; lanjutkaaaan !!.
    kata JK; lebih cepat lebih baik !!!

  10. Setuju sekali dengan usul Pak Zulfikri diatas.

    Dan sebagai tambahan kiranya satuan kerja pemerintah daerah harus dirombak kembali dengan menggabungkan dinas pendidikan kebudayaan dan parawisata menjadi satu dinas, agar promosi pendidikan dan keperiwisataan untuk Sumatera Barat dapat diprogram dan berjalan sinkron, sehingga terujudnya Padang, Bukitinngi dan kota-kota lainnya di Sumatera barat ini menjadi daerah kunjungan wisata dan pendidikan atau daerah “parawisata pendidikan” kalau istilah lainnya seperti yang disebutkan adalah daerah “industri otak” sebagai masa “doeloe”-nya itu.

    Urusan pemuda gabung dengan dengan tenaga kerja, supaya pemuda dapat dilatih menjadi tenaga kerja terampil dan dilarang mengirim tenaga kerja hanya sebagai babu atau pembantu rumah tangga (PRT) dan kuli, Pilipina tidak ada mengirim pemuda tenaga kerja seperti kita ini, mereka mengirim pemuda yang terampil minimal pendidikan D3 dan S1sehingga mereka tidak di lecehkan oleh negara pemakai. mereka mengirim perawat kesehatan setingkat D3 dan dokter, mereka tinggal mengontrak apartemen dan asrama, tidak tinggal bersama keluarga orang disana, sedangkan kita mengirim babu atau PRT tentunya mereka tinggal bersama keluarga pemakai jasa yang sulit sekali dipantau dan mereka perlakukan sekehendanya saja.

    Di Indonesia pada saat ini satu-satunya daerah menjadi kunjungan pendidikan dan parawisata adalah daerah istimewa Jogyakarta. Banyak sekali orang belajar kesana baik dari dalam negeri maupun manca negara seperti Sabah Malaysia dan Brunei Darussalam, serta dari Australia dan Newzeland dll.

    Untuk promosi pendidikan agar dapat dikenal oleh orang luar atau internasional, salah satunya adalah melakukan “ivent ilmiah internasional” seperti lomba-lomba penelitian ilmiah internasional, seminar bertaraf internasional dan lain-lainya.

    Buat website, yang berisi abstrak-abstrak penelitian, jurnal ilmiah perpustakaan yang dapat diakses dimana saja di dunia ini lewat internet, karena seperti kita ketahui bahwa penilaian atau rangking-rangkingan universitas di dunia salah satu kriteria penilaiannya adalah website seperti yang dimaksukan tsb.

    Beri atau tawarkan beasiswa kepada siswa-siswa atau dosen negara jiran, kalau tidak ada dana untuk itu, alihkan dana penelitian di lemlit (lembaga penelitian perguruan tinggi) kepada beasiswa tsb yang ujung-ujungnya “proyek akhir” atau “thesis” dari mereka adalah sangat berharga dari hasil penelitian dari proyek penelitian di lemlit kita, karena kebanyakan para dosen hanya asal meneliti saja, dimana hasilnya tidak dapat dirasakan manfaatnya sebagai masukkan dalam program pembangunan baik bagi pemerintah apalagi bagi rakyat, karena penelitian tersebut cuma hanya bertujuan untuk mencari kredit point (kum) kenaikan pangkat saja bagi kebanyakan para dosen.

    Demikian tambahan komentar dari saya, kita harapkanlah wakil rakyat yang baru terpilih ini dapat memikirkannya lebih matang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: