Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juni 20, 2009

Paradigma Baru: Menjadi PNS Plus

Paradigma Baru: Menjadi PNS Plus

Oleh Marjohan, M.Pd
Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Marjohan, M.Pd Guru SMA Negeri 3 Batusangkar

Judul artikel ini memberi label “plus”, untuk apa gerangan ? Pertama, karena adanya fenomena bahwa masyarakat sangat peduli pada label atau merek. Keberadaan label cukup mampu dalam menggenjot kualitas dalam berbagai bidang kehidupan. Kedua, bahwa PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah aparatur negara, hidup mereka dibiayai oleh negara, jumlah mereka cukup banyak. Kualitas dan eksistensi mereka menentukan wibawa pemerintah, apakah mereka menjadi PNS yang penuh amanah atau PNS penyedot anggaran negara ?

Shakespeare,tokoh sastra dari Eropa, berkata ”what is the name ?”, apalah arti sebuah nama atau apalah artinya sebuah label ? Bukan demikian halnya, ternyata nama sangat memiliki arti dan nilai yang tinggi. Saat seorang bayi lahir ke dunia, orang tuanya sibuk mencari nama. Ada yang pergi ke internet dan mengklik pass word koleksi nama-nama indah pada mesin google. Sebagian ada yang meminjam, secara diam-iam, nama-nama figur dari kalangan selebriti, atlet, ilmuwan, alim ulama dan negarawan. Bagi yang minder dengan nama dalam budaya dan budaya sendiri, karena kurang mengenal hakikat budaya dan agama, maka mereka memungut nama dari dunia barat. Syukur kalau nama yang dipungut adalah nama tokoh yang baik bukan nama tokoh sindikat kriminal. .

Seharusnya orang tua membei nama haruslah penuh dengan pertimbangan, jangan membuat anak malu dan rendah diri gara-gara nama. Orang tua perlu melakukan koreksi nama sebelum terlanjur, misal nama anak ”maisir atau annar”, walau kata-kata ini ada dalam alquran, tetapi berarti ”judi dan neraka”. Ada lagi orang tua memberi anak nama ”mastur, tanya” maka ditambah menjadi masturbasi, dan tanya jawab. Atau memberi anak nama bernuansa maskulin untu anak perembuan atau nama bernuansa feminin untuk anak laki-laki, ”Mana dia ibu Nurbadri ?” tahu-tahu yag muncul adalah pria tulen bertubuh atletis.

Nama atau label berpotensi dalam mengangkat citra atau kualitas sesuatu. Label lama yang menunjukan kualitas adalah menggunakan kata ”bangko”, sebagai contoh ”ayam bangkok” atau produk alam lain yang bentuk dan kualitasnya prima. Atau label alam lain seperti ”beras solok, rambutan binjai, salak medan, petai lintau, apel wasington, karpet persia, dan lain-lain”. Label produk alam ini selalu dicari orang.

Kemudian orang menggunakan kata ”super” atau ”unggul” untuk produk ternak dan produk alam. Maka orang pasti lebih menyukai ”jagung super, sapi unggul, beras unggul, sayur organik super dan jeruk super”. Kata-kata super berarti menggambarkan suatu produk alam yang berkualitas- sehat, gemuk, segar, gurih, cerah dan bergizi tinggi. Untuk memperolehnya orang tidak segan-segan untk merogoh kocek untuk membayar produk berlabel unggul atau super, kalau itu memang terbukti, kalau tidak ”ya, say good bye”.

Ketika fenomena prestasi dan kualitas pendidikan kita selalu jalan di tempat, maka para pemikir dan stakeholder pendidikan melakukan gebrakan dalam pembaharuan. Untuk institusi pendidikan kemudian munculah label. Label yang menjelaskan bahwa telah terjadi peningkatan kualitas atau pelayanan dalam pendidikan seperti label dengan menggunakan kata-kata ”plus, unggul, alami, akselerasi, satu atap, perintis, dan sekarang dengan program RSN (Rintisan standar nasional) dan SNBI (Sekolah nasional berstandar internasional). Maka bermunculanlah sekolah dengan program dan pelayanan yang sesuai dengan label yang diadopsi seperti; sekolah plus, sekolah model, sekolah perintis, sekolah percontohan, sekolah alam, sekolah satu atap, sekolah unggul, sekolah akselerasi, sekolah standar nasional, sekolah berstandar intenasional, dan belum tertutup kemungkinan untuk muncul label-label yang baru dan unik. Tentu saja penggunaan label-label ini sangat positif dan efektif untuk mendongkrak kualitas pendidikan. Siswa yang belajar di sekolah yang belabel sekolah model tentu akan malu kalau belajar denga gaya santai dan malas.

Setelah kualitas anak-anak bangsa anjlok dan banyak disoroti sehingga lahirlah kata-kata atau label seperti yang telah disinggung dalam kalimat sebelumnya. Kini bagaimana pula dengan kualitas dan ekistensi PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang jumlahnya sangat banyak.

Menurut pantauan masyarakat- dan banyak yang mengatakan- bahwa menjadi PNS itu enak, rajin atau malas atau sakit dan senang tetap menerima gaji tiap bulan. Namun sebagian masyarakat juga banyak yang kritis dan memberikan kritik untuk perubahan. Mereka berpendapat bahwa profesi PNS sebagai profesi yang miskin tantangan dan kurang mengenal kompetitif. Hal ini terlihat pada anggota masyarakat yang minus jiwa kreativitas dan jiwa innovasinya.

Memang, orang jarang melihat PNS yang kreatif. Yang sering terlihat adalah PNS yang suka keluyuran, PNS yang suka makan gaji buta, PNS yang suka menerima amplop, PNS yang kurang bisa untuk merawat diri. Sapai kepada PNS yang suka berselingkuh dan kawin batambuah. Sesungguhny di belakang PNS yang kurang berkualitas tentu ada banyak PNS yang berkualitas dan penuh inovasi. Inilah PNS yang dikatakan sebagai ”PNS Plus”.

PNS adalah corp (dalam bahasa Perancis yang berarti ”tubuh”). PNS adalah kesatuan dari aparatur pemerintah dan ia terdiri dari puluhan jenis profesi. Profesi PNS yang dikenal luas adalah seperti ”dosen, insinyur, hukum, dan guru. Ada lagi orang yang kalau mendengar kata ”PNS” maa bagi mereka adalah orang-orang  yang bekerja di kantor kantor pemerintah, berseragam pemda, berjalan sedikit terkesan santai dan hari-hari penuh enjoy. Mereka tidak melihat dibalik pemandangan yang demikian juga ada PNS yang berkualitas lebih atau PNS plus.

Di seputar diri kita ada banyak PNS yang berkualitas plus. Cerita PNS yang berkualitas plus juga bisa dibaca daam kumpulan biografi orang-orang sukses.  Dalam buku ”Siapa mengapa sejumlah orang Minang” (Zoelverdi,1995) juga terdapat sejumlah tokoh PNS yang tergolong sukses dan mereka adalah seperti Alis Marajo, Averdi, Mochtar Naim, Djoko Syarief, Mohammad Anshar, serta ada beberapa nama lain, mereka adalah PNS berlabel plus.

Alis Marajo ketika kecil memilih cita-cita yang tinggi dan bersitungkin dalam belajar (belajar keras). Anak-anak yang tidak punya budaya belajar keras diragukan akan berhasil. Ia tertarik untuk kuliah di ITB atau Kedokteran dan memilih kuliah di Kedokteran. Menjadi mahasiwa tidak harus terkungkung dengan mencatatat dan menghafal catatan seperti kebiasaan banyak mahasiswa. Arlis juga aktif berorganisasi di HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dan AMPI. Di kemudian hari, karirnya adalah di bidang kedokteran, namun ia bukan dokter yang biasa. Ia adalah dokter yang luar biasa. Ia adalah dokter yang tahu politik dan tahu dengan adat istiadat. Inilah yang membuat Arlis sebagai dokter berlabel plus.

Averdi adalah seorang dokter yang juga dapat dikatakan sebagai dokter plus karena ia aktif dan tahu dengan adat istiadat. Karakter berkualitas plus terbentk karena ia terbiasa dengan disiplin dan sikap jujur.

Mochtar Naim berasal dari orang tua yang berprofesi sebagai pedagang harian dan ia didik dengan agama yang kuat. Waktu kecil ia gemar membaca dan ia mempunyai tokoh idola seperti Soekarno, Hatta, Assa’at dan lain-lain. Ia kuliah di Yogyakarta dan mendirikan study club dan mengundang tokoh terkenal untuk berdialog. Menjadi orang berkualitas plus harus aktif dalam hidup. Ia kemudia menjadi dosen yang berkualitas plus- ahli sosilog dan penulis.

Djoko Sarif juga termasuk kategori orang berkualitas (dosen). Sejak kecil semangat menunut ilmunya sangat tinggi. Saat kuliah, karena susah dengan keuangan maka ia kuliah sambil bekerja- sambil kuliah ya dagang buku– ia jadi agen penerbit luar negeri. Ia mempunyai pustaka pribadi dengan koleksi buku 20.000 judul dan ia sendiri telah menulis 20 judul buku. Inilah yang membuatnya menjadi dosen berkualitas plus.

Mohammad Anshar adalah juga dosen berkualitas plus. Ia mengatakan bahwa di Indonesia banyak pelajar dan mahasiswa yang menggantungkan diri pada guru atau dosen. Di Amerika mahasiswa dan pelajar punya inisiatif- belajar sendiri dan membaca sendiri- karena membaca sudah menjadi budaya dalam keluarga. Ia mempunya semboyan ”tiada hari tanpa belajar”.

Menjadi Pegawai Negeri Sipil adalah keharusan dan bukan paradigma baru seperti judul artikel ini. PNS yang berkualitas plus akan mempunyai martabat lebih tinggi di mata masyarakat. Banyak orang saat kecil sangat rajin dan saat kuliah bisa mengukir berbagai prestasi tetapi begitu lolos menjadi PNS mereka berhenti untuk belajar dan mengembangkan diri. Mereka memilih menjadi orang biasa-biasa saja, PNS yang biasabiasa saja, PNS yang suka dengan istilah enjoy ingin serba senang saja. Rutinitas hidupnya sangat monoton ” dari rumah ke tempat tugas, kerja sedikit kemudian santai dan pulang lagi ke rumah”. Kemudian pandangan di rumah kurang memperlihatkan aktifitas plus atau kegiatan yang berbeda dari orang-orang yang biasa. Maka figurnya juga menebarkan prilaku hidup santai sehingga orang berfikir ”oo begini ya yang namanya PNS itu”. Maka seharusnya jadilah PNS plus lewat budaya selalu belajar dan berkarya  dalam hidup, mengikuti berbagai aktifitas dan memberikan nilai plus bagi orang dan bagi dri sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: