Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juni 26, 2009

Pengembangan SMK Masih Terkendala Jumlah Guru

Pengembangan SMK Masih Terkendala Jumlah Guru

Ilustrasi: Kerja sama dengan industri kini semakin dibutuhkan karena keterampilan guru dan murid mendesak untuk ditingkatkan seiring dengan berubahnya pasar kerja. Keterampilam murid tidak bisa ditingkatkan jika jumlah guru masih kurang, seperti yang dihadapi sejumlah SMK.

JAKARTA, KOMPAS.com — Pengembangan sekolah menengah kejuruan hingga saat ini masih terkendala jumlah guru yang belum memadai. Penyediaan guru yang bermutu bukan perkara mudah karena guru SMK sebagian harus memiliki keahlian khusus.

Kerja sama dengan industri menjadi salah satu solusi permasalahan tersebut. Kerja sama dengan industri kini semakin dibutuhkan karena keterampilan guru dan murid mendesak untuk ditingkatkan seiring dengan berubahnya pasar kerja. Keterampilam murid tidak bisa ditingkatkan jika jumlah guru masih kurang, seperti yang dihadapi sejumlah SMK.

Di SMKN 57 Jakarta, misalnya, kekurangan guru masih terjadi untuk mata pelajaran adaptif, seperti IPA, Bahasa Inggris, dan Matematika, sehingga sekolah tersebut menggunakan tenaga guru honorer. Kepala SMKN 57 Armedi mengatakan, Selasa (23/6), untuk tenaga guru bidang adaptif, terdapat 10 tenaga honorer. Kekurangan itu terjadi lantaran jumlah guru yang pensiun tidak seimbang dengan pengangkatan guru baru.

Untuk mata pelajaran produktif atau pengajar bidang kompetensi keahlian, jumlah guru yang ada telah memadai. Di sekolah tersebut total terdapat 71 guru yang terdiri atas 27 guru bidang produktif serta selebihnya guru bidang adaptif dan normatif (antara lain Agama, Olahraga, dan Bahasa Indonesia).

Harus bertahap
Pengembangan SMK dipandang oleh para pengelola tidak bisa dilakukan secara instan, tetapi harus bertahap. Kurangnya tenaga guru, misalnya, akan berimbas pada jumlah siswa yang dapat diterima.

Kepala SMKN 29 DKI Jakarta H Wurdono berpendapat, demi mutu serta kualitas layanan dan lulusannya, daya tampung siswa SMK tiap rombongan belajar sebaiknya dikurangi. ”Jumlah siswa per rombongan belajar tiap kelas idealnya 24 siswa. Sekarang, kami masih terima 36 orang,” kata Kepala SMKN 29 DKI Jakarta.

Keinginan pengurangan kuota siswa tidak terlepas dari kondisi faktual terbatasnya tenaga guru serta sarana-prasarana di SMK bidang penerbangan ini.

”Kalau terima banyak, siapa yang mengajar?” ucapnya. Sekolah itu mendapat bantuan tenaga guru lepas dari kalangan profesional, yaitu dari Garuda Maintenance Facility (GMF), TNI Angkatan Udara, dan maskapai penerbangan Batavia Air.

Mengingat terbatasnya dana pemerintah, sejumlah SMKN di DKI Jakarta mencari cara kreatif untuk memperoleh dana tambahan demi peningkatan kualitas guru serta pengembangan sarana-prasarana. SMKN 30 DKI Jakarta, misalnya, membuka sejumlah unit produksi, antara lain warung steak, kantin kue-kue, katering, sanggar busana, sampai tempat pencucian pakaian. Sekolah itu termasuk dalam kelompok keahlian pariwisata.

Selain sebagai tempat praktik, unit-unit produksi tersebut menghasilkan laba yang bisa digunakan untuk menambah sarana-prasarana serta alat-alat baru sekolah. Tiap bulan rata-rata diperoleh omzet Rp 10 juta dari unit-unit produksi ini [Kompas.Com]

Iklan

Responses

  1. SMK memang diarahkan untuk pengembangan kompetensi siswa sesuai dengan keahlian yang diikutinya. maka sebenarnya, kebutuhan tenaga guru produktif jauh lebih diutamakan, seharusnya sehingga kompetensi keahlian benar-benar dapat dicapai, serta disediakan alat-alat kompetensi yang benar-benar sesuai dengan rasionya…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: