Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Juli 13, 2009

Gagal Belajar atau Mengajar?

Gagal Belajar atau Mengajar?

Pertanyaan yang menarik untuk kita ajukan kepada kita para orang tua dan pendidik. Mengapa? karena selama ini kita orang tua dan guru tidak pernah merasa gagal mendidik, yang ada selalu anak yang gagal di didik. Begitulah isi salah satu pemaparan dari pemateri seminar tentang Fenomena anak yang gagal belajar. Saya jadi berpikir-pikir … ia juga ya …, kenapa kita selalu berpikir anak yang gagal belajar…, jangan-jangan apa gak sesungguhnya justru kita guru dan orang tualah yang telah gagal mengajar…?

Lama sekali saya termenung, membolak-balik pertanyaan ini dikepala saya…? Kalau anak yang gagal belajar … berartikan anak itu diciptakan untuk gagal … lalu apa iya sang Pencipta Yang Maha Sempurna itu tidak mampu menciptakan semua anak untuk bisa berhasil…, iya juga ya kenapa selama ini kita tidak pernah terpikir pertanyaa itu ya…?

Padahal saya pernah membaca sebuah buku tentang paradigma ilmuan sejati. dimana di kenal dalam dunia ilmuan bahwa apa bila ada sebuah proses uji coba yang gagal atau hasilnya tidak sesuai yang dirapkan maka dia tidak pernah mengatakan materinya gagal, melainkan prosenyalah yang gagal. Untuk itu biasanya para ilmuan akan modifikasi atau melakukan perbaikan pada prosesnya. Lalu mengapa kita selama ini tidak berpikir seperti itu ya…, padahalkan sekolah itukan tempat untuk mencetak para ilmuwan-ilmuwan masa depan…?

Nah … secara kebetulan Tuhan menjawab pertanyaan saya dengan sebuah buku hasil kerjasama penelitian tentang otak dari para Ahli Psikologi dan Neurosaintist.

Disana jelas sekali di gambarkan betapa hebatnya otak setiap anak. Bahkan Komputer super canggih yang pernah di ciptakan manusiapun tidak pernah ada yang mampu menandingi komputer alam yaitu otak anak kita. Dan di sana juga di jelaskan bahwa kemampuan itu tidak hanya di miliki oleh sebagian anak saja, melainkan oleh semua anak.

Tapi mengapa ternyata pada akhirnya seolah-olah kemampuan super itu hanya di miliki oleh sebagian anak saja…, maka sang sarjana psikologi sosial menjelaskan bahwa berdasarkan penelitiannya menjukkan bahwa pada dasarnya kemampuan setiap otak anak hampir sama canggihnya; hanya itu semua masih bersifat kemampuan dasar yang siap di kembangkan (Potential Dorman Gen). Nah yang justru menjadi kunci utama adalah siapa yang mengembangkannya, dan apakah ia tahu persis bagaimana mengembangkan kemampuan otak masin-masing anak; yang meskipun memiliki kemampuan sama hebatnya namun memiliki karakteristik dan pusat-pusat keunggulan yang berbeda-beda.

Ya Tuhan … jantung saya jadi berdebar-debar mendengarkan penjelasan ini…. Jadi ternyata semua anak itu mestinya bisa menjadi anak yang luar biasa bila si pendidiknya mengetahui persis bagaimana cara melakukannya. Sungguh penjelasan tersebut telah membuka mata saya bahwa anak-anak kita itu harusnya tidak ada yang gagal, yang ada adalah para pendidik yang gagal mengembangkan kemampuannya.

Ternyata jika kita kembali ke sejarah, kita bisa melihat betapa anak-anak jenius yang pernah tercata oleh sejarah itu selalu memiliki orang-orang yang hebat di belakangnya sebagai sang pendidik sejati.

Sebut saja Thomas Edison yang memiliki Nancy Alliot, ibu sekaligus motivator bagi anaknya yang berhasil menjadikan Edison dari anak yang gagal di sekolah dasar menjadi Ilmuan Terkemuka dunia dengan lebih dari 1000 temuan yang dipatenkan.

Begitu juga dengan Dr. Arun Gandhi yang miliki ayah dan kakeknya Mahatma Gandhi sebagai pendidik sejatinya, dan Plato memiliki Socrates dibelakangnya.

Mari bersama-sama kita jawab melalui hati nurani kita yang terdalam … sesungguhnya anak yang gagal belajar atau kita yang gagal mengajar…?

Semoga kita masih bisa berpikir dengan logika dan meraba dengan hati nurani kita. [Ayahbundaku.Com]

Iklan

Responses

  1. Beritanya bagus, tapi analisisnya tidak pas, sebab Allah menjadikan manusia ini beraeka ragam baik fisik maupun mentalnya. Ada manusia yang lemah fisiknya dan ada yang kuat, ada yang idiot dan hingga yang sangat jenius. Jangan anda berlogika menggeneralisasi manusia-manusia istimewa. Perlu juga kita pahami sebagai pendidik. Lebih lagi oleh guru disekolah, bawa keberhasilan seseorang tidak selalu terkait dengan proses belajar mengajar seperti layaknya atara guru dan murid.Banyak sekali keberhasilan seseorang dicapai diluar proses PBM. Kembli kepada contoh yang anda buat, yaitu Thomas Alfa Edison, memang disekolah dia dibilang bodoh, tapi di “luar sekolah” dia berhasil. Anda harus ingat bahwa keberhasilan Edison bukan pula karena proses belajar mengajar antara dia dengan orang tuanya. Akan tetapi orang tuanya yang merasa terpukul dengan kondisi anaknya yang dibilang guru-guru di sekolah, bahwa anaknya ediot, ibunya pasrah. Sang ibu Edison banyak
    “membiarkan” apa saja yang dikerjakan oleh anaknya selagi dalam koridor kebaikan.
    Jadi persoalan belajar mengajar sama juga dengan dunia usaha lain. Memang ada anak yang berhasil diajar disekolah dan ada juaga yang tidak. Jangan anda berharap dengan menggunakan metode dan tehnologi pendidikan yang canggih , anak-anak yang anda didik aka berhasil semua sessuai dengan TIU danTIK yang anda siapkan. Sebagai seorang pendidik, kita harus banyak tahu tentang “peran-peran “ manusi dalam kehidupan di bumi atau didalan negeri ini. Semua peran dan fungsi-fungsi mnusia dalam kehidupan ini tidak biasa kita siapkan dengan PBM.
    Cukup demikian untuk sementara, kalau ada keprluan, dapat disambung lagi.Wassalam. Jalius HR.

  2. makasih infonya,…. sangat membantu,.. tak tunggu kunjungan baliknya

  3. Setelah Kami melanglang buana di jaringan Internet dan kebeberapa laman dunia pendidikan, ternyata Jarang Ada Web (blogg) yang sebagus ini, melalui ini pula, kami sangat berharap Bapak/Ibu dapat berkunjung ke Blogg kami di http://sk-wahanamedia.blogspot.com
    Kami yakini, bahwa Dunia Pendidikan sarat dengan berbagai Informasi penting yang perlu kita upayakan bersama untuk dapat diketahui dan diserap yang tidak saja oleh para Praktisi, guru dan siswa, namun juga oleh Media Cetak/Elektronik. Dimana salah satunya adalah Surat Kabar Wahana Media – Koran Khusus Pendidikan Sumbar, Satu-satunya Koran yang mengulas dan Mengangkat Tema seputar dunia Pendidikan yang saat ini telah tengah memasuki Edisi ke 7.
    Bravo Buat pengelola Web ini.
    Salam dari Redaksi Wahana Media – Sumbar

  4. Yth. Redaksi SK Wahana Media.

    Terima kasih atas kunjungannya ke halaman blog pendidikan ini.

    Kami mengucapkan selamat atas terbitnya Surat Kabar Wahana Media.

    Semoga keberadaan surat kabar ini ini dapat menambah wacana pendidikan sehingga akan dapat menambah wawasan kita semua, baik dikalangan guru sebagai praktisi dilapangan maupun dikalangan birokrasi dan masyarakat dengan harapan pendidikan di daerah kita ini meningkat mutu atau kualitasnya.

    Wassalam,
    Redaksi

    NB : Mohon beri kami undangan untuk dapat mengunjungi blog SK Wahana Media tsb agar kami dapat membaca wacana yang disuguhkan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: