Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 5, 2009

Sekolah Gratis Dipertanyakan

Sekolah Gratis Dipertanyakan

Ilustrasi: “Tak ada itu sekolah gratis, yang ada pemerintah hanya masih memberi sebagian bantuan biaya sekolah untuk masyarakat,” ujar Jamaluddin di Medan, Jumat (24/7).

JAKARTA, KOMPAS.com — Penurunan anggaran pendidikan nasional dalam RAPBN 2010 dinilai menunjukkan rendahnya komitmen pemerintah untuk membangun pendidikan. Meskipun persentase anggaran pendidikan nasional diklaim masih sebesar 20 persen dari APBN, anggaran pendidikan tersebut dinilai masih belum bermakna bagi peningkatan mutu pendidikan karena akal-akalan untuk sekadar memenuhi amanat konstitusi.

Sejumlah lembaga swadaya masyarakat pemerhati pendidikan yang tergabung dalam Koalisi Pendidikan di Jakarta menyatakan keprihatinan terhadap pendanaan pendidikan nasional yang masih belum sepenuh hati. Pemerintah menurunkan jumlah anggaran pendidikan dari Rp 207,41 triliun tahun ini menjadi Rp 201,93 triliun dalam RAPBN 2010.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo seusai pembukaan Jambore Usaha Kesehatan Sekolah Nasional II di Jakarta, Rabu (5/8), mengatakan bahwa yang penting pemerintah tetap memenuhi amanat konstitusi 20 persen dari APBN dalam anggaran pendidikan. “Jumlahnya sangat bergantung volume anggaran, bisa naik atau turun,” kata Bambang.

Fitri Susanto, Lembaga Advokasi Pendidikan Anak Marginal, mengatakan, jika pemerintah konsisten untuk mewujudkan rencana strategis pendidikan yang sudah dibuat, anggaran pendidikan mestinya tidak bisa dipotong seenaknya. “Dalam tahun 2010, targetnya kan semua sekolah punya perpustakaan. Sebanyak 50 persen sekolah setidaknya harus sudah mencapai standar nasional. Jika anggaran pendidikan tahun 2010 justru turun, bagaimana mutu pendidikan kita,” kata Fitri.

Jumono dari Aliansi Orang Tua Peduli Transparansi Dana Pendidikan mengatakan bahwa kenaikan anggaran pendidikan saja belum berdampak banyak pada beban orangtua dalam beban biaya pendidikan. Sekolah gratis belum dirasakan semua anak. “Jika anggaran pendidikan turun, jangan-jangan sekolah punya alasan untuk memungut lagi ke siswa,” kata Jumono.

Roy Salam, Peneliti dari Indonesia Budget Center, mengatakan, setelah menelaah dokumen nota keuangan RAPBN 2010 dan RUU APBN 2010 yang dikeluarkan Departemen Keuangan, ada beberapa kejanggalan yang perlu dicermati masyarakat. Dari alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah yang disebutkan Rp 122,79 triliun, dari penelusuran ternyata hanya senilai Rp 28,28 triliun. Total alokasi di bagian belanja pemerintah pusat senilai Rp 79,13 triliun. “Jika temuan ini benar, anggaran pendidikan nasional hanya Rp 108,25 triliun atau sekitar 10,7 persen dari RAPBN 2010,” kata Roy.

Kejanggalan lain yang ditemukan, kata Roy, dalam Bab IV halaman 119 dokumen Nota Keuangan tahun 2010 disebutkan, total anggaran Depdiknas sebesar Rp 51,79 triliun. Namun, di dalam penjelasan Pasal 21 ayat i RUU APBN 2010, total anggaran Depdiknas tahun 2010 hanya Rp 51,51 triliun.

Penurunan anggaran di Depdiknas yang tahun ini berjumlah Rp 61,52 triliun juga dinilai mengkhawatirkan. “Penuruan itu akan sangat berimplikasi pada penurunan belanja pendidikan yang berorientasi langsung pada peningkatan akses dan mutu pendidikan,” kata Roy.

Ade Irawan, Koordinator Divisi Monitor Pelayanan Publik Indonesian Corruption Watch, mengatakan pemerintah jangan lagi menyiasati anggaran pendidikan supaya dianggap memenuhi amanat konstitusi. “Tetapi mesti serius membangun pendidikan dengan memenuhi kebutuhan anggaran untuk mencapai tujuan pendidikan,” kata Ade.

Penurunan anggaran pendidikan bisa menyebabkan tidak tercapainya amanat konstitusi, terutama dalam merealisasikan sekolah gratis. Sebagai contoh, program wajib belajar tahun 2010, dana yang dialokasikan Rp 11 triliun untuk 27,6 juta siswa SD/setara, dan Rp 5,5 triliun untuk 9,6 juta siswa SMP/setara.

“Jika diasumsikan dana itu dibagikan kepada peserta didik, di tingkat SD hanya Rp 398.551/siswa/tahun, sedangkan di SMP Rp 572.917/siswa/tahun. Angka tersebut jauh dari kebutuhan faktual maupun ideal untuk merealisasikan sekolah gratis,” kata Roy.

Iklan

Responses

  1. Eh, kok foto artikel ini siswa-siswinya pakai laptop? sekolah mana ni?

  2. gratis emang…cuma bayar uang gedung sebesar 4,5 jt….itu pengalam temenku ketika menyekolakan anaknya yang masih sd…yang murni gak bayar apa masih ada??????? thankz brow..

  3. Sekolah gratis. memang sangat bagus dijual sebagai menu politik. hampir semua calon pejabat yang akan dipilih oleh rakyat mengusung tema sekolah gratis sebagai iming-iming.
    Sekolah gratis, baik dalam angan-angan maupun dalam realitas sebenarnya tidak bagus. kaqlau kita berada dalam kontek membangun mutu pendidikan. Lebih-lagi dalam kodisi perekonomian negara kita saat ini.
    Persoalan ini akan dijelaskan, pendidikan di Indonesia adalah tanggung jawab semua pihak, yaitu keluarga, masyarakat dan pemerintah. Terkait dengan pembiayaan pedidikan khususnya di sekolah, akan lebih bagus kalau dana yang bersumber dari masyarakat (SPP) ditambah dengan dana yang bersumber dari pemerintah (sep. dana Bos). Bagaimanapun untuk penyelenggaraan dan peningkatan mutu pendidikan diperlukan dana yang cukup besar. Berapapun besarnya dana dari masyarakat dan berapapun jumlahnya dana dari pihak pemerintah kalau digabungkan akan lebih memadai dibandingkan dengan kalau hanya dari satu pihak saja, misalnya dana bos saja.
    Bagi pihak pemerintah, dana masyarakat adalah merupakan sumber keuangan yang harus digali. Dalam hal ini perlu diingat bahwa sebagian besar dari masyarakat ( orang tua murid ) adalah orang yang mampu membayar SPP. Kelompok masyarakat yang mampu membayar dana pendidikan anak- anaknya kenapa harus diperjuangkan untuk digratiskan. Berapapun besarnya (tentu saja harus ada aturanya) dana pendidikan yang berasal dari masyarakat sangat penting bagi keberlansungan dan peningkatan mutu pendidikan di sekolah.
    Hanya saja yang di perjuangkan untuk keringanan biaya pendidikan adalah kelompok anak-anak yang orang tuanya memang miskin. Ingat, jumlah mereka kan tidak banyak. Untuk hitungan kasar dan sementara misalnya kita patok 10 – 20 % kelompok inilah yang memang wajib disubsidi, di beri beasiswa yang memadai. Jangan dalam memperjuangkan kepentingan orang miskin kelompok orang kaya atau mampu ikut membonceng dibelakang. Konsep islam tidak seperti itu.Kalau dalam Islam ” yang mampu atau ada kelebihan harus memberi kepada yang lemah atau berkekurangan”. demikian untuk sementara bila diperlukan bisa disambung lagi, wassalam. jalius.

  4. Sekolah gratis itu bukan gratis segratis-gratisnya, ada bagian masyarakat mampu untuk turut menggendong biaya pendidikan yg tdk sedikit ini. Slogan sekolah gratis di beberapa tempat menjdkn komunitas guru berada pada posisi yg kurang nyaman. Bayangkan di suatu daerah selatan Jakarta ada spanduk di pagar halaman depannya yg bertuliskn;”Awasi terjadi korupsi di sekolahmu, ayo peduli anggaran sekolah”. masya Allah … siapa orang2 yg ada di sekolahmu itu? KepSek, pr guru, Staf TU, caraka, siapa yg akan ‘kamu’ awasi agar tidak korupsi?

  5. pemerintah serius untuk mengratiskan sekolah namun kenyataan dilapangan senantiasa temukan statement sekolah gratis hanya untuk yang memiliki kartu Gakin, padahal untuk mendapatkan kartu itu betapa susahnya lagu bagimana nasib keluarga miskin yang tidak memiliki kartu gakin…? padahal ini memang miskin adanya adakah solusi yang tepat baginya?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: