Oleh: Redaksi e-Newsletterdisdik | Agustus 26, 2009

Cari Duit di Indonesia, Menyumbang Sekolah Singapura. Aduh!

Cari Duit di Indonesia, Menyumbang Sekolah Singapura. Aduh!

Oleh Cardiyan HIS

Perilaku sebagian konglomerat Indonesia memang sering menjengkelkan. Cari duit di Indonesia tetapi kalau membelanjakan uangnya malah di Singapura. Buktinya? Lippo Group dan Mayapada Group secara atraktif menyumbang sekolah Singapura. Ada apa sebenarnya?

Kalau soal koruptor atau para maling kelas kakap dari Indonesia lari ke Singapura itu mah biasa. Maklum saking sering terjadi. Padahal sebenarnya bisa disebut kejadian luar biasa karena korupsi adalah kejahatan luar biasa. Dan biasanya pula, mereka tak pernah berhasil dicokok polisi Indonesia, apalagi sampai diboyong kembali lagi ke Indonesia. Karena meskipun paspor mereka telah dicabut oleh Pemerintah RI, tokh Singapura tetap “belagu bego” tak mengusirnya. Contoh paling gres ya kasus konglomerat Joko Candra, karena gagal dieksekusi oleh Kejaksaan Agung.  Joko Candra dan pencoleng-pencoleng uang milik rakyat Indonesia sebelumnya ini eh malah “dipelihara” terus oleh Singapura. Karena memang mereka punya duit simpanan hasil rampokan dari Indonesia kok, ya bagi pemerintah Singapura pun sangat “bermanfaat” tokh, untuk kemudian dikembang-biakkan oleh bank-bank Singapura. Dan boleh jadi duit rampokan ini sebagian dikucurkan sebagai pinjaman komersial kepada pengusaha-pengusaha Indonesia di Jakarta.Tragis!

Yang menjadi luar biasa adalah kelakuan lain konglomerat.  Meskipun itu namanya perbuatan “mulia” memberikan sumbangan. Sudah tahu sangat banyak rakyat Indonesia kesulitan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi karena tak ada duit. Sehingga mereka sangat pantas dan layak untuk menerima bantuan bea-siswa untuk biaya pendidikan dari para warga negara Indonesia yang kebetulan lebih beruntung hidupnya. Eh, konglomerat seperti  Stephen Riady, President of the Lippo Group of Companies, Indonesia, secara atraktif  malah menyumbang National University of Singapore Business School, sebesar £6.7 juta atau $14 juta. Sejauh ini merupakan sumbangan terbesar pribadi dari pengusaha swasta luar Singapura untuk sekolah kebanggaan pemerintah Singapura ini  bahkan dibanding dengan jumlah sumbangan pengusaha yang berasal dari pengusaha Singapura sendiri. Kemudian perilaku Stephen Riady ini dilanjutkan oleh koleganya sesama konglomerat Indonesia yakni  Tahir, Chairman of  Mayapada Group dengan menyumbang $1 juta untuk NUS Business School pula.

Meskipun kita tak bisa mengatur atau mencegah setiap pengusaha atau siapa pun untuk membelanjakan uang yang dimilikinya apalagi dengan “cap sumbangan pendidikan” ke mana dia mau menyumbangnya. Namun kedua pengusaha Indonesia ini sepertinya tidak memiliki kepekaan atas penderitaan nyata rakyat Indonesia dimana mereka selama ini tinggal menghirup udara oksigen bersih Indonesia, dan menerima sinar matahari gratis sepanjang tahun serta makan nasi “pulen” dengan lauk pauk lezat dan air bersih Indonesia. Padahal mereka menjadi besar karena mencari duit di Indonesia. Eh, malah menyumbangkan keuntungan yang diraihnya untuk sekolah Singapura. Aduh!

Ketiadaan sensitifitas ini sangat-sangat disesalkan. Coba untuk waktu-waktu mendatang Stephen Ryadi dan Tahir bila berniat tulus untuk menyumbang beasiswa hendaknya meniru mantan Presiden RI ketiga, Prof.DR.Ing.  BJ Habibie.  Melalui BJ Habibie Center, semua gaji yang diperoleh BJ Habibie selama puluhan tahun bekerja untuk Rakyat Indonesia dan sebagian keuntungan royalti atas banyak invensinya yang berkelas dunia diberikannya pula sepenuhnya bagi siswa dan mahasiswa cerdas miskin Indonesia untuk bisa melanjutkan sekolah.

Di tengah berbagai kontroversi tentang perilaku konglomerat berikut, tetapi mereka tak mengabaikan prinsip kepekaan dan kepantasan dengan menyumbang pendidikan untuk Indonesia di Indonesia. Sampoerna Group misalnya menggandeng ITB —–yang merupakan perguruan tinggi nomor 90 terbaik untuk bidang Teknologi di Dunia versi the TIME HE QS (UK) —–  untuk membangun dan mengembangkan MBA Sampoerna ITB agar berkelas dunia pula. Sampoerna Group membiayai penuh para mahasiswa cerdas miskin untuk menikmati kuliah dengan kualitas dunia. Atau Bakrie Group yang memberikan beasiswa penuh kepada para siswa cerdas miskin untuk sekolah gratis di Sekolah Bisnis Achmad Bakrie. Atau Tanoto Foundation yang memberikan beasiswa kepada banyak siswa dan mahasiswa cerdas miskin pada berbagai sekolah dan perguruan tinggi yang berada di Indonesia, bukan untuk sekolah yang berada di Singapura.

Bahan-bahan antara lain dari:

http://www2.bschool.nus.edu.sg/corpdev/bizleads/BIZ%20Leads%
http://www.thefinancialexpress-bd.com/2007/11/13/17021.html

Sumber : politikana.com

Iklan

Responses

  1. Itu salah satu sikap yang bagus baik ditinjau dari segi sosial atau politik.
    Dari segi sosial, memang begitu kita hidup berjiran atau tetangga. Sumbangan yang diberikan itu mewakili masyarakat Indonesia. Masyarakat Singapura banyak juga yang mengatakan bahwa di Indonesia banyak orang kaya-kaya.walau negara singapura termasuk negara kaya,tapi sama juga dengan kita, disana banyak juga orang miskin dibandingkan dengan orang kaya. Artinya apa, tidak ada salahnya kita tolong menolong dengan kebaikan.
    Kalau memang ada perilaku pemerintahan Singapura yang tidak baik terhadap DPO alias orang buronan itukan urusan lain dalam berpolitik. Jangan dicampur aduk persoalanya.
    Dari segi berpolitik memang itu seninya, Ingat anda sejarah tempo dou, Ir Soekarno mengirimkan bantuan ribuanton beras ke India, padahal masyarakat kita waktu itu dalam kondisi kekurang pangan ?
    Di Indonesia kan banyak juga pengusaha asing yang menyumbang untuk berbagai kepentingan termasuk bidang pendidikan, Kalau mau menghitung jumlah jutaan dolar, kita senang ????
    Saya berharap walau terkadang pahit, hidup berjiran atau bertetangga harus dibina. wassalam

  2. Setuju dengan pa julius_ hr diatas dengan

    “Saya berharap walau terkadang pahit, hidup berjiran atau bertetangga harus dibina. wassalam”

    Diluar dari kepentingan Lobi para Konglomerat kaya itu.semoga berdampak jangka panjang terhadap perkembangan hubungan antar negara utk saling menolong.walaupun terkadang pertolongannya mencapai titik akumulasi berat dan penghapusan tenaga kerja besar-besaran
    .semoga saja,dampak sosial kedua negara bisa terjalin lebih rukun kedepannya.dengan memanfaatkan posisi Singapore yg memiliki reputasi yg baik di seluruh Dunia Investasi International.
    .wassalam


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: